
Setelah makan Kara menonton Tv dan Ranti ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Namun sedari tadi Kara menekan memindah saluran tv tidak ada yang ia minati.
Merasa bosan lalu masuk ke kamar.Kara mengecek ponselnya rupanya ada pesan masuk dari Arya.
^Kara maafkan aku,tapi aku harap kamu menjaga jarak dengan Farhan^
^Kara jawab telponku^
^Kara kau dimana?^
^Jawab telponku^
^Jawab Kara^
Begitu pesan yang dikirimkan pada Kara.Dan beberapa panggilan tak terjawab.Ya,Arya begitu posesif.
Kara menghela nafas,mulai merasa muak dengan sikap Arya.Berada jauh dari sisinya namun seakan raga ini terikat.Sengaja ponselnya ia silent sejak Arya pergi.Kara tidak mau bising dering telpon dari Arya.
Semua yang dilakukan Kara harus sepengetahuan Arya.Arya yang selalu melarang Kara berteman dengan teman laki lakinya.
Selama ini hanya Farhan yang bisa berteman dekat dengan Kara,itu karena Farhan tetangga dekat dan teman sejak kecil Kara.Lagi pula Farhan juga rekan kerja Kara.Mau tidak mau Kara tidak bisa menjauhi Farhan.
Dan Arya tidak menyukainya.
Pesan dari Arya pun hanya dibacanya saja,tidak ada niat untuk membalas pesan.
Kara ingat kata kata Mbok Inah tadi.
Harus berani harus berani harus berani harus berani.
Kara mensugesti pikirannya sendiri.
Dan memutuskan mematikam ponselnya.Malam ini Kara ingin tidur dengan nyenyak.
Lalu menaruh ponselnya di meja riasnya.
Kara menghilangkan penatnya mengambil biola kesayangannya.Duduk di atas tempat tidur.
Dimainkan lagu lagu melow malam itu untuk menghibur hatinya sendiri.
Kara memainkan dari lagu ke lagu tanpa henti tatapannya tajam menatap biolanya.
Sampai sampai Ranti masuk kekamarnya Kara tidak menyadarinya.
Ranti tersenyum mengamati putrinya luwes memainkan biola.
Ranti duduk di kursi yang berada didepan meja rias.
Kara menghentukan permainannya karena sadar ibunya sudah duduk di hadapannya.
"Kenapa berhenti Ra?"
Ucap Ranti.
"Egh ibuk,ibuk belum tidur.Ada apa kesini buk?"
Tanya Kara.
"Mau menemani anak ibuk main biola,masa tidak boleh sih?"
Ucap Ranti tersenyum.
Kara tersenyum.
"Ya tidak biasanya ibuk kesini,biasanya ibuk banyak kerjaan kan."
__ADS_1
Jawab Kara,heran memang tak biasanya Ranti mengobrol dengan Kara.Kerja kerja dan kerja yang menjadi prioritasnya.Ranti merasa sudah ada mbok inah yang membantu merawat dan mengawasi Kara.
"Jangan begitu,ibuk kerja keras kan juga buat Kara.Eh bagaimana kerjamu?Masih partneran sama Farhan?"
Tanya Ranti.
"Masih,memangnya ada apa bu."
Jawab Kara lembut.
"Ya tidak apa apa.Kenapa sih kamu pilih kerja disana,kan gajinya juga tidak seberapa.Ibuk bisa carikan kamu kerja paruh waktu yang lebih menjanjikan."
Tutur Ranti.
"Ibuk ih,tidak mau."
Tolak Kara.
"Jadi marketing properti juga lumayan lho Ra,apa kamu tidak mau punya gaji yang lebih.Itu bisa kamu lakukan sampai kau lulus nanti."
Tutur Ranti.
"Ibuuk,Kara tidak mau buk.Kara kan ingin melatih anak anak biar terlahir seniman seniman hebat dari SMA Harapan.Kota kita kan sangat lekat dengan seni."
Kara sedikit cemberut.
"Ya ya,ibuk tau itu cita cita kamu dari dulu.Yasudah kalau begitu ibuk tidak mau memaksamu.Ibuk dukung kamu saja.Buat harum nama Jogja nantinya ya."
Ucap Ranti.
"Nah gitu dong buk."
Kara tersenyum.
Ranti pun juga tersenyum.
"Ra"
Jawab Kara menoleh ke arah Ranti.
"Kamu masih berhubungan dengan pacarmu itu?siapa itu namanya?"
Ranti berlaga lupa karena tidak suka dengan Arya.
Tidak tau kenapa Arya tidak bisa mengambil hati Ranti.
Seperti kurang pas di hati Ranti jika Arya menjadi calon menantunya.
Namun selama ini Ranti tidak tahu kalau Arya sering berlaku kasar pada Kara.
"Arya buk."
Jawab Kara mengingatkan namanya.
"Iya Arya."
"Memangnya ada apa buk?"
Kara takut Ranti mengetahui perlakuan Arya padanya.Karena pasti Ranti akan marah dan sakit hati.
"Kenapa ya ibuk masih belum sreg sama si Arya itu,ibuk kurang suka.Ibu juga tidak tahu kenapa,mungkin ibuk salah menduga saja."
Ucap Ranti.
"Kenapa sih ibuk feelingnya selalu bener."
Batin Kara.Tidak menanggapi apapun hanya tersenyum kaku.
__ADS_1
"Ra,ibuk pesen sama kamu.Mungkin sekarang kamu masih belum serius sama Arya.Tapi tolong kalau untuk yang serius cari yang bener bener bisa mengerti kamu ya.Bener bener yang bisa bikin kamu nyaman,bikin kamu merasa bahagia kalau dekat dengannya."
Tutur Ranti.
"Buk,ibuk tumben kesini trus nasihatin Kara begitu."
Ucap Kara sebenarnya dia masih malas membicarakan soal Arya.
"Kamu ih,ibuk ini meskipun terlalu sibuk tapi ibuk sayang sama kamu Ra."
Ranti berpindah duduknya disamping Kara.
"Jadi ibuk tidak mau kalau Kara menikah dan nasibnya seperti ibuk."
Kara mengangguk.
"Iya buk Kara mengerti,Kara juga sayang sama ibuk."
Kara memeluk manja Ranti.
"Ra,maafkan ibuk ya kalau selama ini ibu kurang perhatian sama kamu.Karena ibuk terlalu sibuk bekerja,kita jadi jarang sekali ngobrol seperti ini."
Ucap Ranti lirih.Mengusap lengan Kara yang melingkar di bahunya.
"Buk,apaan si.Justru Kara yang minta maaf belum bisa jadi anak baiknya ibuk."
Ucap Kara bersandar dibahu Ranti.
Ranti menyeka sudut matanya yang hampir saja air matanya terjatuh.
Sudah lama sekali bahkan ia lupa kapan terakhir mengobrol dengan Kara seperti ini.
"Iya,tapi ibuk juga terima kasih banyak,karena Kara sudah mau hidup sama ibuk disini.
Coba kalau kamu ikut abi mu,ibuk disini sendiri.Paling sama Mbok inah.Pulang kerja tidak ada yang dilihat.
Ada kamu disini kalau ibuk pulang kerja larut malam kan bisa datang ke kamar kamu,liatin kamu lagi tidur.
Begitu saja ibuk sudah seneng banget Ra."
Ucap Ranti terasa mendalam.
"Ibuk sering ke kamar Kara malam malam?kok Kara tidak tau."
Tanya Kara sedikit terkejut,dia pikir selama ini ibunya tidak pernah memperhatikannya.
"Uhh kamu ini."
Ranti mencubit hidung mancung Kara.
"Jelas kamu tidak tau,kamu kan sedang bermimpi entah ke negara ujung mana."
"Benarkah buk?"
Kara menatap Ranti dengan penuh haru.
"Ternyata ibuk perhatian dan sayang banget ya sama Kara."
"Dasar anak nakal.Kalau ibuk tidak sayang padamu sudah dari dulu ku tukar berlian di toko sana."
Ucap Ranti bercanda.
"Aaa ibuk,Kara kan lebih mahal dari berlian.Nanti ibuk rugi."
Jawab Kara tersenyum.
Mereka cukup lama mengobrol dari hati ke hati.
__ADS_1
Momen langka dikehidupan mereka meskipun tinggal satu atap.
Kara merasa Ranti datang di waktu yang tepat.Saat ia butuh sandaran kebetulan Ranti bisa meluangkan waktu mengobrol dengannya, tanpa disengaja.