Pernikahan Kontrak Pak Guru

Pernikahan Kontrak Pak Guru
Brongkos Khas Yogyakarta


__ADS_3

"Assalamualaikum"


Ucap Pandu memasuki rumah ibunya dan Kara mengekorinya.


"Walaikumsallam"


Sahut Yunda ibu Pandu dari dalam.Sambil bergumam keras sehingga terdengar dari luar.


"Pandu,lama sekali ibu sudah menunggu dari tadi.Ibu kepikiran kamu takut terjadi apa apa,apalagi kalau naik motor sudah seperti pembalap saja"


Yunda mengomel sambil berjalan cepat menemui Pandu.


Kara tertawa kecil namun menutupi mulutnya dengan tangan.


"Kenapa tertawa?"


Bentak lirih Pandu.


"Tidak,saya tidak rertawa"


Cekleekkk..suara pintu terbuka.


"Akhirnya kamu datang juga"


Suara pecah lalu anak dan ibu itu pun menghambur pelukan rindu,memang sudah dua minggu Pandu tidak mengunjungi ibunya.


"Ndu,ini siapa?"


Tanya Yunda asing dengan Kara.


Kara tersenyum ramah.


"Saya Kara bu,temannya pak Pandu"


"Oh Kara,saya ibunya Pandu.Cantik sekali dik Kara ini"


Puji Yunda pada Kara sehingga Kara tersipu malu.


"Ndu?"


Yunda menantap Pandu seolah menanyakan siapa sebenarnya Kara.


"Kami hanya berteman bu kebetulan Kara mengajar di SMA Harapan juga,sudah ayo masuk bu aku lapar"


Pandu berusaha mengalihkan perhatian ibu pada Kara.


Yunda tertawa.


"Ya ampun ibu sampai lupa,ayo ayo masuk.Ayo dik Kara silahkan masuk.Maaf tempatnya berantakan"


Kara hanya tersenyum menerima ajakan Yunda.


Sesuai perintah Pandu agar tidak banyak bicara.


Yunda pun sibuk menyiapkan piring dan mengambilkan makan untuk Pandu.


"Dik Kara,ayo nambah lagi.Jangan malu malu"


Ucap Yunda ramah.


Kara tersenyum.


"Iya bu,makanannya enak sekali"


"Ahhh masak sih?"

__ADS_1


Ucap Yunda.


Kara mengangguk dan memasukan makanan ke mulutnya.


"Pandu paling suka kalau ibu masak brongkos"


Jelas Yunda antusias.


"Buu.."


Pandu harap Yunda menghentikan cerita tentang dirinya.



(sayur brongkos khas Yogyakarta)


Hayo siapa yang suka atau pernah makan sayur brongkos?komen dibawah ya.hemmmm cabenya mantull deh..


"Oh ya bu?"


Tapi tampaknya Kara tertarik cerita Yunda tentang Pandu.


"Ehhh kamu ini nggak percaya,setiap pulang ke Kulon Progo pasti bawa sayur brongkos.Nanti di rumahnya diangetin lagi.Sayur brongkos itu semakin diangetin semakin top markotop"


Yunda yang usianya tak muda lagi namun jiwa mudanya masih hidup dalam dirinya.


Kara pun antusias mendengarnya.


"Seperti gudeg ya bu,tambah diangetin semakin enak"


"Betul sekali,makanya ayo nambah.Ibu sengaja masak banyak.Nanti kamu juga bawa pulang ya"


Kara hanya tersenyum sambil menikmati makanannya.


Mereka sangat menikmati makan malam yang diselingi obrolan.Namun Pandu banyak diam,sedikit tidak suka jika ibunya terlalu banyak menceritakan tentang dirinya.


Kara menyusul Pandu yang sedang duduk di teras,setelah Kara membantu Yunda membereskan sisa makan malam mereka.


Kara duduk kursi disebelah Pandu.Membawakan secangkir teh hangat atas perintah Yunda.


Pandu tidak menjawab hanya melirik Kara namun kembali memandang halaman yang bisa disebut taman.


Kara dan Pandu lalu sama sama terdiam.Pandu menyesap teh yang Kara bawakan.


"Apa kau merasa lebih baik?"


Kata Pandu setelah beberapa saat hening tanpa kata.


Kara tersenyum dan mengangguk.


"Mungkin bisa dibilang begitu,terima kasih ya Pak"


"Aku sudah menolongmu bukan?"


Kata Pandu.


"Iya"


"Boleh aku minta bayarannya?"


Kata Pandu.


Kara terkejut menjauhkan dirinya dari Pandu.


"Maksud Pak Pandu apa?"

__ADS_1


Kara merapatkan kaki dan menutup tubuh bagian depan.


"Hey kau ini kenapa?Kau pikir aku guru cabul"


Kara pun nyengir dan malu.


"Hehheee..saya tidak mengira bapak seperti itu"


Kara merasa malu sekali.


"Lalu saya harus bayar apa?"


"Mengaku jadi pacarku didepan ibuku"


Pandu terpaksa mengatakannya.


Kara membulatkan matanya.Sangat terkejut.


"Pak,bapak yakin.Untuk apa saya harus mengaku jadi pacar bapak?"


Pandu melotot dan membungkam mulut Kara.


"Jangan keras keras nanti ibu dengar"


Kara melepaskan tangan Pandu dari mulutnya.


"Jadi ibu menjodohkan aku dengan anak temannya,aku tidak mau dijodohkan dengan gadis itu"


"Pak,apa bapak tidak akan melukai hati bu Yunda jika bapak berbohong?"


Tutur Kara.


"Ini untuk sementara saja sampai aku menemukan gadis yang pas bagiku"


"Tapi pak"


"Mau menolongku tidak?"


Timpal Pandu sinis.


Kara sejenak terdiam.Mengingat jasa yang dilakukan oleh Pandu.


"Baiklah kalau hanya sementara,tapi apa bu Yunda akan setuju jika bapak memacari saya?"


"Ini kan hanya pura pura"


"Iya pak saya tau,tapi apa Bu Yunda tidak sakit hati jika bapak berniat menolak perjodohan dengan gadis pilihan ibu?"


"Ibu akan menghargai keputusanku jika beliau sudah melihat ada kamu disini,selama ini ibu hanya butuh bukti bahwa aku sudah menentukan pilihan.Jika belum terlihat aku memiliki pacar,ibu pasti terus melancarkan perjodohan ini"


"Ohh begitu,baiklah"


"Yasudah,nanti aku akan bilang sama ibu kalau kau pacarku"


Kara tersenyum nyengir.


"Sampai kapan?"


Bisik Kara,karena mendengar langkah Yunda menuju teras.


"Sampai suasana membaik"


Bisik Pandu.


"Oke deal ya?"

__ADS_1


"Siap pak"


__ADS_2