Pernikahan Kontrak Pak Guru

Pernikahan Kontrak Pak Guru
Pasar Nanggulan Part 2


__ADS_3

Kara tampaknya senang mendengarnya.Senyumnya pun menyambut sangat lebar.


"Oh ya?saya Kara bu"Senyum Kara manis sekali.


Begitu juga dengan Wanti.Menurut Kara tampaknya bu wanti orang yang baik dan ramah.Pertemuan pertamanya saja cukup menyenangkan.Senyumnya cantik sekali.Meskipun usianya sudah tak muda lagi.Namun Kara yakim waktu muda dulu,bu Wanti pasti sangat ayu.


"Hallo nduk cah ayu"Wanti menyambut uluran tangan Kara.


"Ya bu"Kara tersenyum sangat manis.Sedikit membungkukan tubuhnya wujud sikap sopannya terjadap Wanti.


Tiba tiba muncul seorang gadis berhijab.Parasnya ayu fan terlihat kalem.Gadis itu menyandang jilbab berwarna biru muda.Wajahnya berseri meskipun tanpa polesan tebal.Gincu yang tipis merah muda yang terlihat samar samar.


"Bu,udah dapet ceker ayam nya?"Gadis itu bertanya pada Wanti.


"Oh iya,keasikan ngobrol jadi lupa kesini mau ngapain"Wanti terlalu asik rupanya.


"Oh ya mas biasa,ceker tiga kilo"Seru Wanti pada penjual ayam.


Semur ceker ayam adalah salah satu menu favorit di angkringan milil Wanti.


"Bu Yunda apa kabar?"Sapa gadis itu,bersalaman dengan Yunda dan mencium punggung tangan Yunda.Gadis itu tampak sangat sopan.Tutur bahasanya santun dan lemah lembut.


"Halo nduk,kabar ibu baik.Kamu sendiri gimana?"Ucap Yunda ramah dan menepuk lembut pundak gadis itu.


Lalu gadis itu tersenyum mengangguk pada Kara.


Apa i**ni istrinya mas Pandu?


Masyallah,cantik banget.Mas Pandu memang tidak salah memilih mbak ini.Aku yang perempuan saja suka sekali melihat wajahnya.Matanya,senyumnya,rambutnya indah sekali.


Batin gadis itu.


Ramah tamah pun berlangsung beberapa lama.


Jalinan hubungan merekapun terlihat begitu hangat.


"Yowis Wan,aku duluan ya"Yunda menyudahi pembicaraan mereka.


"Nduk,kalo lewat mampir lho"Ucap Yunda pada gadis itu.


"Njih buk.Hati hati ya bu"Ucap lembut gadis itu.


"Iya,yowis Assalamualaikum"Yunda berpamitan.


"Walaikumsallam"Jawab keduanya.


Wanti pun melanjutkan belanjanya.Yunda dan Kara pun belum jauh.


Suara riuh pedagang bersahutan menawarkan dagangannya.


"Dek Risty mau beli apa?nggak beli ati dek?"Tawar seorang pedagang laki laki muda.Penawarannya itu tentu saja hanya untuk modus agar ada topik untuk berbicara dengan Risty.Suaranya keras tidak mau kalah saing dengan suara pedagang lain.


Sambil lalu Kara mendengarnya.


Oh mbak yang tadi itu namanya Risty.Kok ibuk nggak ngenalim ke aku?


Batin Kara merasa tak biasa.Dengan ibunya dikenalkan tapi dengan anaknya tidak.


Namun Kara tidak mau ambil pusing.Kara tetap melangkah mengikuti Yunda.


Kedua genggaman Kara


Dan suara obrolan Risty terdengar semakin tak terdengar.


Ramai riuh penjual dan para pengunjung pasar.


Tiba tiba Pandu muncul dari samping kanan Kara.


"Sini belanjaannya"


Suara bas milik Pandu tiba tiba mengejutkan lamunan Kara.


"Mas,kamu ngagetin"


Kara tersenyum dan barang barang belanjaan ditangannya diambil alih oleh Pandu.


"Lama banget to Ndu.Kamu kemana aja?"


Sahut Yunda swtengah mengomeli Pandu.


"Kasian Kara berat bawanya"


"Maaf bu,di depan pasar penuh.Jadi harus antri"Alasan Pandu

__ADS_1


Jelas jelas bukan itu penyebabnya.Hanya saja Pandu tidak ingin membuat mereka canggung kecuali Kara


Jika Pandu muncul diantara ke empat wanita tadi.


Yunda,Wanti dan Risty akan merasa tidak nyaman.


Pandu memilih untuk menghampiri Kara diwaktu yang tepat.Ketika Kara dan ibunya jauh dari Wanti dan Risty.


"Ya sudah ayo beli gethuk dulu.Masmu pasti nanyain gethuk langganannya"


Ajak Yunda pada anak dan menantunya itu.


"Bu,aku duluan aja ya.Pandu bawakan semua belanjaannya"Ucap Pandu.


"Yowis sana,nanti kalau udah beli gethuk ibu sama Kara langsung ke parkiran"


Tutur Yunda dan menggandeng Kara.


"Ayo Nduk"


Kara pun menurut.


Sesekali Kara menoleh kebelakang ke arah Pandu.


Dan tersenyum karena merasa lucu.


Seorang Pandu Yudistira yang kaku dan galak.Ternyata punya sikap manis.


Lihat saja,dia begitu sweet.Mau berdesakan bawa belanjaan banyak.Rela berdesakan ditempat yang bercampur aduk aromanya.


aroma ikan,sayur dan bau keringat.Hahahaa..


Mas Pandu,mas Pandu.


Dan Kara menggelengkan kepalanya pelan.


"Nduk,kamu tu kenapa?kok senyum senyum gitu?"


Yunda memergoki Kara tersenyum yang sedang memikirkan Pandu.


"Ogh"


Kara gelagapan.Tidak menyangka ibu mertuanya ternyata melihatnya


"Egh,anu buk.Mas Pandu ternyata mau ya kepasar tradisional begini"


Jelas Yunda sambil berjalan membelah keramaian pasar.


Kara pun terkejut dan senang.


"Oh ya?So sweet ya buk"


Yunda tersenyum menatap Kara.


"Very sweet meskipun dia terlalu kaku nduk.Kamu jangan capek sama kekakuan Pandu ya nduk"


"Tentu enggak lah buk.Mas Pandu orang yang baik"


Puji Kara setulus hati.


"Makasih lho nduk.Pandu pasti bangga sekali punya istri sepertimu"


Yunda kembali melontarkan pujian untuk menantunya.


Yunda memang tidak pernah ragu untuk memuji anak maupun menantunya.Yunda sangat menghargai kebaikan orang lain padanya dan keluarganya.


Tak lama mereka tiba di kios yang menjajakan makanan jajanan pasar.Disana banyak sekali macam jajanan dan khususnya gethuk.


Gethuk langganan Yunda.Seorang nenek tua yang masih semangat berjualan.


Gethuk buatan beliau sangatlah legendaris.Banyak penggemarnya.Pembeli harus mengantri untuk mendapatkan gethuk.


Penjualnya namanya mbah Tarmi.Dulu beliau seorang diri melayani pembeli.Kini karena usianya yang sudah sepuh.Mbah Tarmi harus dibantu oleh cucunya.


Seorang gadis cantik berambut panjang.


Sekitar lima belas menit Yunda dan Kara mengantri.


"Mbah Tarmi"


Sapa ramah Yunda.


"Dalem bu Yunda.Pripun kabare?"Sahut mbah Tarmi ramah.Gigi depannya yang sudah tak lengkap lagi namun tak menyurutkan senyum ramahnya.

__ADS_1


(Iya bu Yunda.Gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah baik.Mbah apa kabar?"Sahut Yunda.


"Alhamdulillah juga.Mau ngersakke nopo niki?"


Lanjut mbah Tarmi menawarkan.


(Alhamdulillah juga.Mau beli apa ini?")


"Alhamdulillah mbah nderek bingah.Kulo gethuke gangsal welas ewu.Lopis e campur cenil gangsal welas ewu"


Jawab Yunda.


(Alhamdulillah mbah ikut senang.Saya gethuknya lima belas ribu.Lopis dan cenilnya lima belas ribu)


Sambil meracik pesanan mereka mengobrol.


"Loh kok tumben banyak bu?"


"Iya semua pada pulang mbah.Lha ini lho mbah mantu saya"


Ucap Yunda sambil memperkenalkan Kara sebagai menantunya.


Mbah Tarmi langsung melihat Kara dan senyum.


Kara pun juga membalas senyuman dan mengangguk.


"Masyallah ayune.Bu Yunda pinter cari mantu.Mantunnya ayu ayu"


Uhukk..uhukkk..


Tiba tiba cucu mbah Tarmi yang sejak tadi sibuk membantunya seperti terbatuk setelah mendengarnya.


"Ohh,jadi ini istrinya mas Pandu"


Yunda yang melihat gadis itu terbatuk.


"Eh mbak,kenapa?minum dulu mbak.Biar lega tenggorokannya"


Yunda memperhatikam cucu mbah Tarmi.Yang Yunda pikir sedang dilanda sakit tenggorokan.


Gadis itu pun tersenyum.


"Nggak apa apa kok buk"Gadis itu beralasan.


"Sekarang itu lagi musim bu,hujan pada batuk.Banyak debu juga bisa batuk"


Sahut mbah Tarmi yang sama sama tidak tau apa yang sebenernyaa terjadi.Sambil meracik pesanan bu Yunda.


"Bener mbah.Harus pinter pinter jaga kesehatan"


Ucap Yunda yang terus memperhatikan mbah Tarmi meracik.Tangan mbah Tarmi masih sangat gesit terampil meracik makanan dagangannya.


Sari adalah cucu mbah Tarmi.Saat Pandu SMP kelas tiga dan datang ke SDnya untuk keperluan tugasnya.


Sari melihat Pandu untuk pertama kali.Waktu itu Sari adalah murid baru di SD kelas lima.


Tampan,cuek,senyumnya tipis dan sangat jarang terlihat.Membuat Sari penasaran.Saat itu meskipun masih kelas lima SD Sari sudah tau membedakan paras tampan atau tidak.


Sejak itu Sari selalu ingin bertemu dengan Pandu.


Dan waktu Sari sudah SMP Sari sudah sangat jarang melihat Pandu.Karena Pandu sudah sekolah di kota.


Sari pikir perasaannya hanyalah sesaat karena terpesona pada pandangan pertama.Lagi pula dulu dirinya masih sangat kecil untuk urusan perasaan dengan lawan jenis.


Ternyata hingga sekarang perasaan itu bertahan bersarang di jauh dalam hatinya.


Dan hari ini,baru ia dengar.Perasaan yang terpendam sejak lama dihatinya harus ia kubut dalam dalam,sangat dalam.


Pandu sudah menikah.Dan wanita yang paling beruntung itu sekarang ada dihadapannya.


Pandangan Sari tertuju pada sebuah pisau yang berada digenggaman neneknya.


Yang saat itu tengah beliau gunakan memotong gethuk.Cara potongnya begitu lihay tandas hingga kedasar baki.


Sari membayangkan bahwa hatinya adalah getuk itu.


Teriris,sakit namun tak berdarah.


Ingin tergeletak lemas lunglai tak berdaya.Namun posisinya sekarang mengharusnya Sari untuk tetap berada disamping neneknya.Membungkus pesanan para pelanggan yang telah mengantri.


Hambar sudah hati Sari.Setiap akhir pekan yang ia tunggu kehadirannya.Kini harus ia lupakan.

__ADS_1


Setiap akhir pekan yang selalu ia nanti,hanya untuk melihat sekilas wajah Pandu saat menjemput belanjaan ibunya.


Harapan Sari kini sudah kandas dalam diamnya.


__ADS_2