Pernikahan Kontrak Pak Guru

Pernikahan Kontrak Pak Guru
Kekawatiran


__ADS_3

"Ra"


"Ra,kamu dimana?"Panggil Pandu sembari menjelajahi setiap ruangan.


Tidak ada didapur,diruang tv.


Dan akhirnya Pandu menemukan Kara sedang menata baju uang sudah disetrika oleh mbok Mi di belakang.


Sekeranjang besar pakaian yang siap ditata di lemari.


"Ra"


Tetap tidak ada jawaban.


Namun Pandu tersenyum tipis.Kara tidak menjawab bukan karena dia masih merajuk.Tapi Kara menggunakan earphone ditelinganya.


"Ya ampun pantes tidak jawab"Gumam Pandu.Pandu lalu mendekati Kara dan sengaja berdiri di belakangnya.


Kara terlihat lucu ia menata pakaian sambil berjoget pelan.


Kara masih belum menyadari.Mulutnya bergumam lagu yang ia dengar.Sewaktu ia akan membalikan badan,berniat membawa keranjang itu.


Ternyata malah menabrak Pandu yang sedang dibelakangnya.


Dan hampir saja terjatuh.Tapi untung saja Pandu dengan cepat menangkapnya.


Sekarang tubuh Kara sedang dalam pelukan Pandu.Kembali sepasang mata berserobok.


Kara terkejut dan jantungnya berdebar seperti mau lepas dari dalam sana.Kedua bola mata pria yang ia tatap begitu indah.Pesona hidup menggugah hati Kara,dan aroma tubuh Pandu terendus oleh penciuman Kara.


Wangi yang melemahkan otak Kara seketika.


"Jantungku kenapa ini?tulangku rasanya lemas semua.Ada yang tidak beres.Besok aku harus check up ke dokter"


Batin Pandu yang secara tak sengaja menatap lekat kedua bola mata Kara.Bulu matanya yang lentik.Lekuk kelopak mata yang terukir mempesona.


Tiba tiba mereka menyadari dan ingin saling menjauh.


Namun Pandu yang saking gugupnya justru ia bergegas mengambil alih keranjang yang dibawa Kara.


Sialnya Kara yang terjatuh kakinya terkilir.


"Maaaaaaaaassssssssss"Pekik Kara.


"Kenapa aku yang dilepas sih.Sakiiiiiiittttttt"


Kara merengek merasakan sakit.


Pandu menahan ketawanya.


"Ya ampun maaf Ra maaf"Pandu segera meletakan keranjang itu.Lalu bergegas menolong Kara.


"Aduh aduhh aduhh sakit mas"Jerit Kara.Saat Pandu mencoba mebolong Kara untuk berdiri.


"Yang mana yang sakit"Pandu tampak panik.


"Kakiku sakit mas"Kara melenguh kesakitan.


"Jalan pelan pelan ya.Aku bantu"Ucap Pandu membimbing Kara agar berdiri perlahan dan berjalan beranjak dari tempat itu.


Namun sayangnya Kara teramat sangat kesakitan.Pandu juga melihatnya sendiri,membuat Pandu merasa kasian.


Tidak pikir panjang Pandu akam menggendong Kara.


Kara menatap Pandu yang sedang berusaha mengangkatnya.Kara tau nyeri bekas pukulan mas Saka masih terasa.Sehingga Pandu meringis menahan sakit saat berusaha menggendong Kara.


Kara terperangah melihat Pandu.Menatap pria itu dalam pelukannya.Tangan Kara yang melingkar di leher Pandu.Pandu dengan langkah pasti membawa Kara ke kamar.

__ADS_1


"Aku bingung sama kamu mas.Kamu bilang tidak cinta tapi kamu begitu kawatir aku kesakitan begini.Kamu masih belum pulih tapi masih berusaha gendong aku"


Batin Kara setitik kebahagiaan yang membuncah dihatinya.Paling tidak Pandu tulus peduli atas kondisinya.


"Bisakah cinta itu tumbuh karna terbiasa mas?"


Perlahan Pandu membaringkan Kara diranjang.


"Mana yang sakit?"Ucaoan sederhana dari mulut Pandu.


Tapi Kara merasa ia sedang diperhatikan dengan cara istimewa.Meskipun saat ini dia sedang menahan sakit di kakinya.


"Sebelah sini mas"Kara perlahan menujukan bagian sakit di kakinya.


"Ya ya,tunggu sebentar"Pandu membuka minyak gosok dengan sangat segera.


"Yang ini ya?"Tanyanya sembari mengoles minyak gosok itu.


"Ya"Jawab Kara lirih.Kara terpaku melihat Pandu yang sedang tampak panik merawatnya.Pandu sedang mengoles memijat ringan di pergelangan kaki Kara.


Tidak Pandu sadari,kini dirinya telah sangat kawatir dengan kondisi Kara.Teramat sangat kawatir.Yang ada dipikirannya sekarang.Jangan sampai kaki Kara terjadi sesuatu yang fatal.


"Masih sakit?"Tanya Pandu lirih.


"Sedikit"Jawab Kara dan senyum tipis dibibirnya.Pandu yang melihat Kara tersenyum pun juga ikut tersenyum.


Akhirnya dengan kejadian Kara terjatuh.Kara tampaknya mampu memaafkan Pandu.


"Mas"


"Ya"Jawab Pandu singkat.


"Terima kasih ya"Ucap Kara tersenyum.


Pandu pun juga tersenyum.


Pandu keluar kamar tak lama ia membawa keranjang yang tadi menjadi perantara akurnya mereka.


Dan sekarang Pandu mengambil alih tugas Kara.Memasukan pakaian ke dalam lemari.


Kara yang sejak tadi mengamati suaminya hanya bisa tersenyum.Ada bahagia yang membuncah dihatinya.Kalau melihat yang sedang terjadi sekarang seperti rumah tangganya yang sungguhan.Suami yang sedang melakukan pekerjaan istrinya karena dia tidak ingin istrinya terlalu lelah.


Ya,mungkin akan terasa romantis sekali.


Meskipun bukan itu yang sebenarnya terjadi.Namun Kara tetal merasakan bahagia.


Dia kembali tidak peduli lagi Pandu mencintainya atau tidak.Yang terpenting sekarang perlakuan Pandu terhadapnya.


"Egh mas.Baju bajuku tidak usah dimasukan.Biar aku saja"Kara mengingat bahwa dikeranjang itu ada pakaian dalamnya.


Tapi Kara terlambat,semuanya sudah diselesaikan oleh Pandu.


Meskipun tadi Pandu juga cukup asing dengan pakaian dalam milik Kara.Awalnya ragu menyentuhnya namun Pandu menepis pikirannya.


Lalu ia letakan sekenanya.Karena Pandu malu jika menyentuhnya berlama lama.Ini pertama kali ia menyentuh pakaian lawan jenis.


"Sudah selesai,saya bilang istirahat.Kenapa masih melek?"Ucap Pandu kembali ke sifat asalnya yaitu dingin dan kaku.Pandu pun pergi membawa keranjang kosong.Dan tampak menggelitik lucu bagi Kara.


Seorang Pandu yang maskulin,kaku dan sikap dingginnya membawa sebuab keranjang kosong,lagipula keranjang yang berwarna merah muda.


Hal sepele itu membuat Kara terkekeh setelah Pandu benar benar keluar meninggalkan kamar.


Malam sudah hampir larut.Pandu menyusul Kara di kamar setelah menyelesaikan membaca buku.


"Belum tidur?"Tanya Pandu.


"Mas,kamu sudah lama tidak mengajakku jalan jalan"Ucap Kara sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?"Balas Pandu sambil merebahkan dirinya.


"Terserah kemana saja"Ucap Kara.


"Kalau sudah tidak uring uringan nanti ku ajak jalan jalan"Jawab Pandu sambil memejamkan matanya.


"Aku sudah tidak uring uringan kok"Jawab Kara cepat seperti takut Pandu berubah pikiran.


"Kakimu kan masih sakit"


Kara menghela nafas kecewa.


"Iya ya,ya sudah.Lagi pula tidak akan tahan naik motor kalau masih sakit begini"


Lalu Kara kembali menarik selimutnya agar menutup tubuhnya hingga kebahu.


****


Esok harinya.


Setelah subuh.


"Bagaimana kaki kamu Ra?"Tanya Pandu penuh perhatian.


"Sudah jauh lebih baik mas.Sedikit nyeri sih.Tapi baik baik saja kok"Jawab Kara.


"Yakin sudah tidak sakit lagi?"


"Iya sedikit nyeri saja mas"


"Kalau buat pergi ke pantai bisa?"Ucap pandu menawarkan.


"Hm pantai?"Jawab Kara terkejut.


"Iya,katamu ingin jalan jalan"Ucap Pandu sambil mencari hoodie di lemari.


"Yang bener mas?"Kara tampak antusias.


"Ya,ya sudah cepat siap siap.Saya tunggu diluar"Pandu sudah membawa sebuah hoodi ditangannya.


Kara pun dengan sedikit pincang bergegas mempersiapkan diri.Menggunakan celana panjang,jaket tebal.Diperjalanan menuju pantai pasti akan sangat dingin.


Pandu sengaja mengajak Kara ke pantai pagi pagai sekali.Udara pantai di pagi hari sangatlah segar.Pandu biasa melakukannya bersama beberapa temannya ataupun hanya sendirian saja.


**


"Mas,ini mobil siapa?"Kara bingung saat sampai di basement.Pandu bukannya menghampiri motornya tapi justru sebuah mobil berwarna hitam.Mobilnya baru tapi masih sangat bagus dan mengkilap.


"Ayo naik"Perintah Pandu.


Kara pun menurut tanpa membantah.


Pandu dan Kara pun duduk diposisinya masing masing.


"Mas ini mobil mas Saka juga?"Kara sudah kemai ke sifat aslinya.Yang super ingin tau.Semua hal ditanyakan.


"Ibu kan menyuruhku beli mobil,ya aku beli"Jawab Pandu santai sambil menhidupkan mesin mobil.


"Memangnya uangnya sudah cukup buat belinya?"Tanya Kara lagi.


"Ya kalau belum cukup belum dibeli"


Pandu segera melajukan mobil yang baru ia beli.Sudah sejak beberapa hari ia hunting mobil bekas yang kondisinya masih sangat bagus.Mesinnya juga masih berjalan dengan baik.Sesuai perintah ibunya,hal sekecil atau sesulit apapun Pandu berusaha segera mewujudkannya.


Bukan tidak ada tujuan khusus Pandu mengajak Kara ke pantai.Namun ada sesuatu yang harus Pandu sampaikan kepada Kara.


Pandu sudah merencanakan sedemikian rupa sejak semalam setelah Kara terjatuh.

__ADS_1


Melihat Kara yang sudah tidak lagi uring uringan.Mungkin ini waktu yang tepat.


__ADS_2