
Pandu menutup pintu kamarnya.Sementara Kara sudah lebih dulu masuk dan duduk ditepi ranjang.
Lalu Pandu pun juga duduk disisi lain tepi ranjang.
Malam ini terpaksa mereka tidur sekamar.
Gugup,canggung menyelimuti diri mereka masing masing.
"Mas,biar aku tidur di kamar adek"Usul Kara.Bingung hanya itu yang ada dipikiran Kara.Tidur bersama Via dan Vio adalah jalan keluar satu satunya.
"Jangan"Larang Pandu.
"Mau bilang apa kalau ibu liat?ibu punya kebiasaan masuk ke kamar mereka kalo malem"
"Tapi ini udah malem kan mas,ibu juga udah tidur"Sanggah Kara ingin mempertahankan idenya.
Pandu berdecak.Tatapannya tajam menatap Kara.Pertanda bahwa Kara mau tidak mau menurutinya.
Kara lalu menunduk otomatis patuh.
"I,,Iya mas tidur disini aja"
Suara Kara lirih,namun menahan senyum.
"Kenapa?ada yang lucu?"Ucap Pandu datar namun ketus.Melihat Kara menahan senyumnya.
"Nggak ada mas"Kara dengan cepat menjawab dan menggelengkan kepalanya.
Pandu benar benar kaku.Diam bersandar di sandaran tempat tidur.
Mas mas,coba ngobrol kek.Apa ngelawak kek.
"Mmm..Mas,mas Saka pasti marah banget?"Kara membuka obrolan.Memecah keheningan dikamar itu.Kamar yang tidak luas,bagai dipenjara.
"Iya"Jawab singkat Pandu dan lirih.
Ya Ampun mas Pandu.Memangnya nggak ada jawaban lain.Masak cuma 'iya' aja sih.
"Mas,nanti apa yang mau kamu omongin ke mas Saka tentang pernikahan kita.Kita harus gimana mas"
Kara cukup takut karena mas Saka sudah tau rahasia mereka berdua.
"Mas,jawab donk mas.Aku juga ngomong apa nanti kalau mas Saka tanya sama aku"Kara bertanya kembali karena beberapa saat Pandu tak menjawab juga.
Pandu hanya memijat keningnya sendiri.Pertanda Pandu cukup pusing memikirkan ini.
"Jawab apa adanya"Ucap Pandu datar.Lalu menatap Kara.Helaan nafasnya seolah ingin melepas bebannya.
Beban yang ia buat sendiri.
"Iya mas"Jawab Kara singkat.
Mereka benar benar sedang dikuasai rasa canggung.
Tidur bersebelahan?Bagaimana kalau tidak sengaja berpelukan?
Kebetulan Pandu dan Kara memiliki hobi yang sama.Yaitu memeluk guling saat tidur.
"Tidur udah malem.Mau nggak mau kita tidur di tempat tidur yang sama.Jangan jempalitan tidurnya"Ucap Pandu lantang,padahal dadanya berdegub.Canggung sekali rasanya.
"Enak aja,aku kalau tidur nggak jempalitan ya mas"Kara mengerucutkan bibirnya.Dan menata bantal dan akhirnya memutuskan berbaring,memeluk bantal yang berada diatas tubuhnya.Matanya belum terpejam melirik ke arah Pandu.Yang masih bersandar di sandaran tempat tidur.
Pandu tak mengatakan apapun.Menipiskan bibirnya dan mengangkat kedua bahunya.Lalu memejamkan matanya.
Dengan kata lain 'entahlah,nggak ada yang bisa jamin sama polah tingkahmu waktu tidur'
__ADS_1
Mereka berdua sama sama memutuskan untuk tidur.Memejamkan mata meskipun sulit sekali untuk terlelap.Kara gelisah belum bisa tidur,berusaha memejamkan matanya yang tak kunjung lelap ke alam mimpi.
"Mas"Ucapnya lirih.
"Maas"Kara lalu menusuk nusuk lengan Pandu dengan jarinya.
"Keras banget lengannya"Gumamnya lirih dan mengerucutkan mulutnya.
Pandu menghela nafas kasar.Ternyata Pandu juga belum tidur.
"Apa sih?"
"Kirain udah tidur"
Kara nyengir setelah Pandu membuka mara dan menatapnya.
"Mas aku nggak bisa tidur"Kara merengek manja.
"Merem aja,lama lama juga tidur"Paksa Pandu dengan ucapan lirih.
"Nggak bisa,dari tadi aku juga udah merem merem terus"Kara mengucapkan dengan takut takut,takut Pandu melotot tidak setuju.
"Mas temenin aku dulu,ngobrol kek.Apalagi aku susah tidur ditempat baru"Ucap Kara penuh permohonan.
Memang kebiasaan Kara,saat susah tidur biasanya ditemani mbok Inah mengobrol.
Sejak kecil mbok Inah membiasakan mendongeng jika Kara susah tidur.Dan terbiasa sampai besar.
Bikin ketawa aja nih anak,kayak anak kecil.
Dia pikir aku bapakknya?
Batin Pandu dalam hatinya ingin menertawakan gadis dihadapannya ini.
"Mau ngobrol apa sih?"Ketus.
Kara tersenyum karena keberhasilannya.Pandu mau dibangunkan dan menanggapinya.
Aku pikir kamu bakal marah mas.Trus kamu bakal bilang 'udahlah tidur aja nggak usah bawel'.
"Makasih ya mas"Kara pun juga menegakkan duduknya.Dan tersenyum senyum terus.
"Kamu nyuruh orang nemenin ngobrol apa suruh nemenin orang senyum senyum?"Ucap Pandu nadanya sedikit naik.
"Mas,emangnya mas dari dulu galak gitu ya?"Ucap Kara menahan senyum.Takut disemprot lagi sama Pandu.
"Apa sih?siapa yang galak?"Sangkal Pandu.Seolah nggak menyadari bahwa tutur katanya nggak ada yang lembut.
"Mas,kalau nggak galak pasti ngomongnya bukan gitu"Kara senyum dengan sabar menghadapi sikap Pandu yang dingin itu.
"Kenapa nggak bisa tidur?yaudah ayo sini aku temenin ngobrol"Kara berucap memberi contoh pada Pandu dengan tutur kata yang lembut.
Pandu menatap Kara dengan tatapan tajam.Tanpa mengatakan 'diam jangan bawel' Kara pun tau maksud tatapan itu.
Kara mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
Lalu kembali melihat wajah Pandu yang sudah tak lagi menatapnya.
"Mas"Panggil Kara.
"Hemm"Pandu mengambil ponselnya.
"Apa?"Menjawab tanpa menatap.
"Mas,jadi gimana?kita harus menjelaskan sebaik mungkin sama mas Saka lho.Kita harus persiapkan kalau nanti berhadapan sama mas Saka"
__ADS_1
Ucap Kara memeluk guling.
"Kalau kamu mau jawab gimana kalau seandainya mas Saka tanya ke kamu?"Pandu ingun tau.
"Nggak tau mas,aku ngikut mas aja.Apa yang mau mas Pandu jelaskan sama mas Saka?"Suara Kara lirih.
Hening,tampaknya Pandu sedang memikirkan jawabannya.Tentu saja dampak dari ucapannya nanti.
"Kita nggak mungkin bilang sama mas Saka kalau pernikahan kita nggak lama.Trus kita bilang mau pisah setelah beberapa bulan"Ucap Pandu.
Memang kebohongan akan terus muncul untuk menutupi kebohongan sebelumnya.
Kenapa kalimat terakhir Pandu itu terasa nyeri di hati Kara.
"Trus bilangnya gimana dong?"Kara tampak khawatir,takut.Entahlah pokoknya hatinya tidak karuan.
Pandu dan Kara pun mengobrol.Membahas bagaimana mereka harus menghadapi Saka.
Entah kapan Saka akan menyidang mereka berdua.Atau entah dengan cara apa Saka akan menghukum mereka.
Mereka mencari alasan jawaban yang tepat untuk mereka ungkapkan pada Saka.
Sempat beberapa pendapat yang mereka rencanakan.Dan akhirnya mereka memutuskan esok atau entah kapan waktu mas Saka akan mentidangnya.Mereka menetapkan pada satu jawaban.
Setiap arahan dan pesan Pandu Kara dengan patuh menjawab dengan penuh ketulusan.
"Iya mas"
"Siap mas"
"Iya iya mas"
"Oke mas"
Pokoknya jawaban singkat itu mewakili hati Kara yang bersedia sepenuhnya mematuhi Kara.
Lalu setelah itu rasa kantuk yang teramat sangat pun dirasakan oleh Kara.
"Pokoknya besok tetep bersikap biasa,anggep aja nggak ada apa apa.Nanti kalau udah pulang dari rumah ibu baru kita bahaa,,,ss"
Suara Pandu perlahan lirih.Dilihatnya ternyata sudah terlelap tidur memeluk bantal dan menghadap kearah Pandu.
Pandu pun menghela nafas perlahan.
"Pantesan diem,ternyata udah tidur"
Lalu Pandu memutuskan berbaring menengadah,menjadikan kedua tangannya menjadi bantal.
Menatap langit langit kamarnya sejenak.Lalu menoleh ke wajah Kara.
Didengar dari hembusan nafas Kara yang pelan teratur.Itu pertanda Kara sudah lelap tertidur hanyut kedalam alam mimpi.
Pandu tersenyum tipis.
Bibirmu jelek banget kalo tidur.
Batin Pandu melihat bibir Kara yang sedikit manyun karena pipinya terdesak oleh guling yang disandarinya.
Hari ini kamu bantu aku banyak banget Ra,bersikap baik di depan keluargaku.Apalagi sampai hujan hujanya pas kita berangkat tadi.Ternyata kamu takut banget sama petir ya.Kasian kamu Ra,sampai ketakutan gitu.Maaf ya Ra,nggak seharusnya aku bersikap kasar sama kamu.Maaf ya tapi aku kadang masih belum biasa ngadepin orang bawel kayak kamu.
Pandu menatap wajah polos yang tertidur pulas itu.
*Maafin aku ya Ra.
Dan Pandu pun perlahan tidak sanggup menahan rasa kantuk.Terpejam dan lelap terbang ke alam mimpi yang terdalam*.
__ADS_1