
Kara memutuskan untuk belajar memasak dengan Mbok Inah.Karena ia hanya sebentar urusan dikampus jadi Kara ada banyak waktu untuk kerumah ibuk.
Setelah urusan kampus selesai kurang lebih hanya dua jam saja dikampus.Kara langsung menuju kerumah ibunya menggunakan ojek online.Dan sesampai Kara disana Mbok Inah membukakan pintu dengan wajah yang berbinar.
Mbok inah senang Kara berkunjung kerumah.
"Mbak Kara,mbok senang sekali Mbak Kara kesini"Sambut Mbok Inah senang,dengan khas logat jawanya yang kental.
"Oh ya,simbok sehat kan?ibuk belum pulang mbok?"Timpal Kara.
"Alhamdulillah mbok sehat mbak,hmm mbak Kara ini kayak ndak tau aja.Ibuk jam segini ya belum pulang to"
Kara tersenyum tipis.Ya memang ibunya selalu begitu dari dulu.Sampai sampai sering merasa kangen meskipun tinggal serumah.Karena sangat jarang bertemu.
"Ibuk sampai kapan ya mbok berhenti gila kerja begitu?"
Kara mengerucutkan bibirnya.
"Mbak Kara jangan terlalu memikirkan ibuk,ibuk dari dulu memang pekerja keras.Mungkin kalau sudah punya cucu ibuk bisa jadi ngurangin kesibukannya"Ucap Mbok Inah dan senyum penuh arti menatap Kara.
"Mboook.Mulai deh"Wajah Kara seketika merah padam karena malu.Dalam hatinya berkata.Lagipula tidak mungkin punya cucu.Pernikahan anaknya saja hanya secara kontrak.Tidak ada sentuhan fisik secara intim diantara mereka.
"Mbak Kara memangnya ada yang perlu diambil dirumah?Memangnya sudah pamit sama Mas Pandu?"Mbok Inah memberondong Kara dengan pertanyaan.
"Sudah pamit kok Mbok.Iya ada beberapa barang yang mau aku ambil.Mmmm sama mau belajar masak,ajari donk mbok"Ucap Kara dengan nada rayuan.
"Woalah mau belajar masak.Ya sudah ayo mau masak apa?"Mbok Inah segera menuju dapur.
"Udah jadi istri ya harus bisa masak to mbak.Biar nggak banyak jajan diluar,selain irit juga masak dirumah lebih higenisis"Mbok Inah terus menerocos memberi wejangan pada Kara.
"Higienis maksudnya?"Olok Kara.
"Ya itu maksud simbok"Mbok Inah tersenyum malu karena salah ucap.
"Apa coba yang bener?"Kara tak henti hentinya meledek wanita yang usianya tak muda lagi.Wajar saja jika sering salah ucap.
Mbok Inah pun berusaha mengingat kata yang benar.
"Higisinis,eh hisiginis.Higinesis aduh higiesis.Ahh itulah pokoknya mbak simbok nggak tau"
Mbok Inah meringis.
"Coba mbok ikutin Kara.Hii"Ucap Kara membimbing.
"Hi"Mbok inah menirukan.
"Gi"
"Gi"Mbok Inah benar benar mengamati bibir Kara berucap
"E"
"E"Mbok Inah sambil manggut manggut seolah sudah sangat paham.
"Nis"Kara menekan nadanya agar mbok Indah mengingat.
__ADS_1
"Nis"
"Hi,gi,e,nis"Kara mendikte lengkap.
"Higiesis"Namun mbok Inah tak juga bisa mengucapkannya.
Membuat Kara tertawa terbahak bahak.
"Sudah to mbak.Simbok capek mau bilang higinisis nggak bisa terus"Mbok Inah senyum senyum dan sambil menyiapkan bahan bahan yang diperlukan untuk belajar masak.
"Sudah ayo kita masak"
"Hahaha,iya iya mbok.Jadi kita masak apa nih?"Sisa tawa Kara tak henti hentinya.
"Mas Pandu sukanya apa?"
"Nggak tau mbok,aku kan baru menikah jadi belum hafal makanan kesukaan mas Pandu"Kara mengangkat kedua bahunya.Sambil memcoba berfikir apa makanan yang sering dimakan oleh Pandu.
"Ah iya mbok.Pernah waktu aku diajak kerumah ibunya mas Pandu.Kata ibunya mas Pandu suka makan sayur brongkos"
"Oke oke.Simbok siapin dulu bahan bahannya ya mbak"Mbok Inah bergegas menujuk lemari es dan selanjutnya mempersiapkan segala rempah rempah yang diperlulan untuk brongkos.
Tidak perlu menunggu terlalu lama mbok Inah sudah bisa menyiapkan semuanya.Karena kebetulan semua bumbu dan bahan sudah tersedia dirumah.
Mbok Inah mengajari Kara dengan telaten.Mengenalkan Kara nama nama bumbu dan rempah yang sudah pasti Kara tidak pernah tau sebelumnya.Membedakan jahe dan lengkuas,ketumbar dan merica.Dan ada satu bumbu yang khas digunakan untuk membuat brongkos.Yaitu Kluwak.
Dengan begini minimal Kara bisa mengenal dan bisa membedakan beberapa jenis rempah.Mbok Inah juga memberikan beberapa tips memasak.Kara type orang yang cepat mengerti jika belajar dengan sistem langsung praktek.Dengan begitu Kara lebih cepat mengingat dan paham.Meskipun memasak brongkos tergolong tidak sesimpel memasak tumis.
Sambil bercanda dan mengobrol sana sini.Kara rupanya menyukai kegiatan ini.Memasak ternyata cukup mengasikan baginya.
"Nah ini tinggal nunggu mateng aja mbak"Mbok Inah mengaduk brongkos dalam panci.
"Mmm.Iya deh.Aku kekamar dulu ya mbok"Kara pergi meninggalkan Mbok Inah.
Saat akan menuju kamar tampak dari laca jendela.Mobil Ranti memasuki halaman.
"Loh ibuk sudah pulang,tapi kok nggak langsung masuk.Ibuk ngobrol sama siapa sih?"
Kara mendekati jendela dan melongok melihat ke arah luar.Terdengar ibunya bercakap cakap dengan seseorang.
"Pak Pandu.Ngapain dia kesini?"
Kara melihat Ranti mempersilahkan Pandu untuk masuk.
"Masuk Ndu.Sepertinya mbok Inah lagi masak tuh.Hmmmm wanginya kecium dari sini"ajak Ranti pada Pandu dengan sangat ramah.
"Egh.Iya bu"Pandu dengan sopan menjawab.Dan menuruti kata mertuanya itu masuk kedalam rumah.
"Mas Pandu"Kara menyapa,menyalami Pandu dan mencium punggung tangannya sebagai tanda hormatnya kepada suami.
"Mas Pandu kok nyusul kesini?"
Kara lalu memeluk singkat ibunya dan mencium pipi kanan dan kiri.Pandu tersenyum tampak memperlihatkan ketulusan di depan Ranti.
"Ibuk juga tumben jam segini sudah pulang"
__ADS_1
"Ibu kan tau kamu kesini"Jawab Ranti.
Kara bingung padahal tidak memberitau ibunya kalau ia akan kerumah.
"Aku yang kasih tau"Pandu yang menjawabnya.
"Ohh gitu ya.Hmm kalau mas Pandu nggak ngabarin pasti ibu pulang malam ya kan?"Ucap Kara sambil memeluk manja pada ibunya.
Dia tidak malu bermanja dengan ibunya meskipun ada Pandu di sebelahnya.
"Mas,,Mas Pandu jemput aku ya?"
"Iya sayang"Pandu berucap lembut.
Kara terpaku.Diam seperti habis disambar petir.'apa?Pak Pandu apaan sih pake panggil sayang segala'.Gumam Kara dalam hati
"Kara kan bisa bawa motor Kara sendiri mas"
"Motormu sudah macet macetan.Biar diservice dulu"
"Iya Ra,lagian kenapa sih nggak ganti yang baru aja.Motormu tu udah saatnya pensiun"Ranti tampaknya berpihak pada Pandu.
"Hmm..Iya lah buk.Nanti Lara pikirin lagi"Kara senyum dan langsung mengalihkan pembicaraan.
"Kita makan aja yuk,Kara tadi belajar masak sama mbok Inah"Mata Kaea lalu melirik penuh arti ke arah Pandu dan diiringi dengan senyum termanis.
"Sayur brongkos kesukaan kamu mas"
Pandu sedikit terkejut.
Kara masak?apa karena tegurannya pagi tadi Kara langsung berinisiatif belajar masak?Cepat sekali actionnya.
Pandu hanya tersenyum dan mengangkat kedua alisnya.
Dan langsung menuruti ajakan Kara.
***
Dimeja makan sudah tersedia nasi,sayur brongkos,sambal dan lalapan.Tidak ketinggalan krupuknya.
Dengan telaten Kara mengambilkan nasi,sayur brongkos dan yang lainnya.
Ranti pun senang melihat Kara melayani suaminya dengan baik.Begitupun Ranti juga melihat Pandu tampak lembut menerima perhatian Kara.
Kegembiraan dalam hati Ranti membuncah.Baru melihat Kara mulai belajar menjadi istri yang baik.Ranti pun membayangkan jika nanti sudah memiliki cucu dari Kara.Ya Tuhan betapa bahagianya hidupnya terasa lengkap.
"Buk,ayo dimakan donk"Kara membuyarkan lamunan Ranti.Lamunan yang disertai senyum.
"Ibuk kok malah senyum senyum sendiri sih"
"Oh.Ya ampun Ra.Maaf ibuk seneng aja liat kalian seromantis ini"Ranti mengungkapkan alasan dia melamun dan tersenyum sendirian.
Kara tersenyum nyengir.Lalu saling melempar pandangan ke arah Pandu,berusaha senatural mungkin.
"Ah ibuk bisa aja deh.Mas Pandu orangnya emang gitu buk.Mas Pandu baik juga perhatian"Kara rupanya sedang melancarkan sandiwaranya.
__ADS_1
Pandu pun tersenyum senatural mungkin.Dalam hatinya merasa kurang nyaman.Tidak enak hati karena Kara menutupi kecanggungan mereka dengan menyebut suaminya sebagai suami yang perhatian.
Tapi semua ini memang harusnya yang dilakukan sebagai pasangan kontrak kan?