Pernikahan Kontrak Pak Guru

Pernikahan Kontrak Pak Guru
Menuang air garam pada luka


__ADS_3

Pandu sudah menunggu dan bersandar diluar mobil.Yang ia tunggu sudah terlihat berjalan menuju ke arahnya.


"Sampun buk?"Tanya Pandu pada ibunya sambil membukakan pintu.


(sudah buk?)


"Uwis,ayo ndang bali"Sahut Yunda lalu masuk kedalam mobil.


(sudah,ayo cepat pulang)


"Njih buk"Jawab Pandu santun.


(baik bu)


Pandu pun juga membukakan pintu untuk iatri cantiknya itu.Istri cantik yang belum ia cintai.


Belum?


Atau mungkin tidak akan pernah.


"Masuk"Ucap Pandu lirih memerintah.


Tanpa senyum.Namun tampaknya bukan sedang marah.Ya Pandu memang sosok yang kaku dan dingin,tetapi sangat sopan.


"Makasih ya mas"Jawab Kara tersenyum memindai wajah suaminya.Menatap begitu merayu.


"Mau pulang nggak?"Ketus Pandu pada Kara yang sedang berusaha memancing dirinya.Sayangnya Pandu sangat tidak tertarik.


Justru aneh dan kesal.


Kenapa tidal langsung masuk.Malah melihatku seperti itu.


Kara menahan senyumnya dan bersikap tegap.


"Yes mas,kita pulang"Ucap Kara tegas mengandung candaan.


Setelah Kara masuk dalam mobil,pintu ditutup oleh Pandu.Pandu pun jalan menuju pintu pengemudi.


Tak mereka sadari bahwa peristiwa yang baru saja terjadi ada enam pasang mata yang sedang mengamati.


Salah satunya adalah Sari,yang hatinya kini hancur berhamburan.


Sulit untuk memungut dan menyusun kembali untuh kembali.Serpihan hatinya tercecer kemana mana.


Jika diibaratkan seperti kelapa parut yang ditaburkan diatas lopis.Tak beraturan dan tak bisa kembali utuh menjadi sebuah kelapa bulat.


Sari sengaja menyusul Yunda dan Kara setelah beberapa saat mereka meninggalkan kiosnya.


Sengaja ingin melihat Pandu.Siapa tau mampu mengobati lukanya.Namun justru rasanya semakin remuk hati Sari.


Tak mudah bagi Sari untuk menerima ini.


Tanpa mampu ia cegah.Bulir bulir bening jatuh dari ujung matanya.Akhirnya tumpah sudah ketahanan Sari.


Sari menangis dibalik pagar pasar.Berusaha cepat menyeka agar tidak ada bekas basah dipipinya.


Sedangkan di posisi lain ada Risty dan Wanti.Mereka tengah berada di parkiran motor.


Risty sedang mengamati peristiwa yang tak ingin ia lihat.Sedangkan wanti yang awalnya sedang menata belanjaan di motorpun ikut menilik peristiwa itu.


Wanti pun tau bagaimana perasaan putrinya.

__ADS_1


Wanti mengelus pundak putrinya.


"Nduk,kamu nggak apa apa?"


Suara Wanti mengejutkan Risty.


"Egh"Risty mengalihkan pandangannya lalu kembali mengurusi belanjaan.Berusaha menutupi perasaannya.


"Nggak,Risty nggak apa apa buk.Memangnya Risty harus apa"


Risty menata belanjaan sekenanya.


"Nduk itu telur puyuh jangan ditumpangi kentang,nanti telurnya pecah"Ucap Wanti yang melihat Risty tidak fokus menata belanjaan.


"Egh,Astaghfirullah maaf Risty lupa buk.Maksud Risty nggak tau"Risty berseru gugup.Ingin hati menutupi rasa sakit hatinya.Namun sikapnya tak mampu berbohong.Matamya sudah berkaca kaca.


"Nduk biar ibu aja yang tata belanjaannya"


Wanti mengambil alih posisi Risty.Sebelumnya ia mengambilkan sebuah botol air mineral untuk putrinya.


Wanti tidak ingin membahas apapun karena ini bukan tempatnya.


"Minum dulu nduk,duduk dulu sana dikursi itu"


Wanti tampaknya sangat paham kondisi putrinya.Dan Wanti merasa ikut prihatin dan ikut merasakan sakitnya.


Ada perasaan tidak terima.Sekarang putrinya sedang sakit hati.Namun Wanti sadar jodoh tidak bisa dipaksakan.Sekuat apapun manusia berusaha,ketetapan takdir hanyalah milik Sang Pencipta.


Wanti pun juga tidak bisa menyalahkan Pandu ataupun Yunda.


Meskipun saat ini dirinya merasakam tidak terima jika putrinya merasakan kesakitan dihatinya.


Membuat putrinya merasa lebih baik.Membantu putrinya menyembuhkan luka hatinya.


Sedangkan Sari sedang terduduk lemas dibalik pagar pasar Nanggulan.


Untung saja dirinya terhalang baju baju dagangan yang digantung sehingga tak nampak oleh banyak orang.


Hanya kakak iparnya yang tau dirinya disana.Meskipun kakak iparnya tak tau apa yang sedang Sari lakukan disana.


Kakak laki lakinya dan iparnya berdagang baju di pasar itu.


Tangisannya sudah mereda.Sari berusaha lebih tenang agar bisa kembali membantu neneknya.


Namun ia dikejutkan.


"Sar,kamu ngapain disitu?"Ida kakak iparnya tiba tiba menyingkap baju yang bergantung menghalanginya.Suara mengejutkan lamunan Sari.


"Sssttt"Jari telunjuk Sari mengisyaratkan Ida untuk tidak berisik.


"Mana mas Eko mbak?"Sari pun menyelinguk sekitar kios.Memastikan Eko kakaknya tidak ada ditempat.Sari tidak mau Eko tau.


"Dia lagi ambil barang dirumah ada yang ketinggalan"Sahut Ida.


"Kamu nangis Sar?"


Tatap Ida bingung.


"Jangan bilang mas Eko ya mbak"Sari berucap takut.


"Memangnya kenapa sih?Kamu nangis,trus mas Eko nggak boleh tau"Ida sangat penasaran dan juga khawatir.

__ADS_1


"Aku lagi patah hati mbak.Aku liat gebetanku lagi sama istrinya"Ungkap Sari pelan kejujurannya pada Ida.


"Astaga Sari"Ida menoyor kepala Sari.


"Kamu jangan gila.Suami orang kok ya digebet to Sar.Nggak boleh Sar,dosa besar kamu"


Ucap Ida tampak marah.


"Sembarangan kamu mbak.Dulunya dia belum punya istri.Baru tadi aku tau dia udah menikah belum lama ini.Dan aku liat sendiri istrinya dihadapanku"


Ucap Sari tampak sekali dari wajahnya,bahwa Sari sedang sakit hati dan kecewa.


"Ohh ya ampun Sar Sar.Ku kira kamu naksir suami orang.Lha trus kamu mau gimana sekarang?"


Tatap Ida pada Sari.


"Selain sabar dan ikhlas gak ada lagi yang bisa kamu lakukan.Sudah sudah,doakan aja buat kebahagiannya"


"Aku belum bisa ikhlas mbak.Masih sakit banget.Apalagi tadi istrinya senyum senyum sama dia.Kemayu banget bojone"


Ucap Sari cukup kesal.


(kemayu adalah sok cantik)


"Loh ya biar to.Kemayu sama bojone dewe.Kamu cari yang lain aja.Tuh sama Agus juragan kelapa juga ganteng.Apalagi dia udah lama naksir kamu"


Bujuk Ida.


"Agus?Nggak nggak.Aku belum bisa move on sama gebetanku itu"Sahut Sari kesal.


"Hmm,Ya sudah.Nanti kalau udah bisa move on si agus juga keburu ngrabeni prawan liyane"Ketus Ida tentu saja mengandung candaan.


(ngawinin gadis lain)


Mata Sari langsung memelototi Ida.Seolah Ida tidak menyelesaikan masalah justru menuang air garam diluka hatinya.


Cukup lama Sari menenangkan diri dibalik baju bergantung.


Ia baru beranjak pergi setelah mendengar Eko kembali ke kios.


Sari kembali menuju kios gethuk milik neneknya.Menenangkan hatinya disetiap langkahnya.


Dirinya merasa lebih baik setelah bermili mili air matanya tumpah bersama lukanya.


Dan kembali membantu neneknya berjualan gethuk.


Lalu dengan Risty?


Apakah Risty melakukan hal yang sama dengan Sari?


Menangis?


Marah?


Tunggu episode selanjutnya ya.


Jangan lupa beri dukungan pada author.


agar author semakin semangat nulisnya.


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2