
Semuanya terdiam setelah rentetan pernyataan dari mulut Pandu.Kara pun berusaha mengontrol dirinya.
Saka mencoba mengolah ucapan Pandu.
Memang ada benarnya apa yang Pandu katakan.Dan Saka pun timbul sedikit rasa penyesalan dan welas asih.Telah menghajar adiknya.Namun berpura pura menikah,membohongi keluarga juga tidak bisa dibenarkan.Itu tetap suatu kesalahan besar dan sembrono.
Dan setelahnya Kara memutuskan memberanikam diri untuk angkat bicara.
"Mas,boleh aku bicara?"Suara Kara yang lirih dan sepertinya diliputi rasa takut.
Suara itu membuat dua pria didepannya mendongak dan bersamaan menatap Kara.
Tatapan Saka yang bersedia mendengar apapun yang akan diucapkan Saka.
Lain hal nya dengan Pandu.Pandu lebih kawatir,apa yang akan Kara ucapkan.Pandu menatap Kara penuh kekawatiran.Meskipun berusaha tampak biasa saja.
"Mas ijinkan aku bicara"Kara memohon pada Pandu.
"Mas,Kara mewakili kami berdua minta maaf karena kami sebenarnya menikah kontrak.Kami berdua telah sama sama sepakat untuk itu.Kara nggak tau kenapa mas Pandu tidak mau dijodohkan sama pilihan ibu.Hanya alasan itu yang Kara dengar.Dan saya pun juga merasa mempunyai hutang pada mas Pandu.Mas Pandu yang menyelamatkan saya dari mantan pacar saya.Yang mantan pacar saya itu melakukan kekerasan saat pacaran pada saya.Mas Pandu melihatnya sendiri kejadiannya.Saya cukup bersyukur bertemu dengan mas Pandu,karena saya udah lelah berhubungan toxic yang sulit saya lepaskan."
Pandu menghela nafas,pikirnya kenapa Kara segamblang itu menjelaskan pada Saka.Bukankah lebih baik diselesaikan berdua.
"Kami berdua sepakat untuk,,
mm..untuk berpisah beberapa bulan kemudian.Mungkin ini terdengar sangat sembrono.Tapi kami berdua punya alasan masing masing.Mas Pandu juga sudah jelaskan tadi kenapa dia tidak mau dijodohkan.Dia hanya mau menentukan keputusan besar dalam hidupnya untuk kali ini saja.Mungkin ini bentuk protesnya.Meskipun harusnya tidak seperti ini"
Kara menoleh ke arah Pandu.
Lalu melanjutkan penjelasannya.
"Tapi saya memutuskan untuk keluar dari perjanjian awal kami"
Kara mengucapkan dengan takut takut.
"Saya mencoba menjadi istri yang baik.Bagaimanapun juga pernikahan kami sah dimata Tuhan.Saya hanya mau pernikahan yang sebentar ini ada maknanya.Dan,,dan saya sudah mulai cinta dengan mas Pandu.Saya yakin mas Pandu orang yang baik,dia pasti akan menilai bijak apa yang ada dihadapannya"
Pandu yang awalnya menatap jendela lalu dengan cepat beralih menatap Kara.
Jadi Kara benar benar sudah mencintaiku.Dia mengingkari perjanjian awal.Nggak,ini nggak mungkin.Secepat itu dia menaruh hati padaku.
Batin Pandu bergolak.Seakan tidak percaya.
Tatapan Kara sangat berbeda.Disana seakan menggambarkan harapan yang sangat besar pada Pandu.
"Saya permisi dulu"Kara berpamitan dan menuju Kamar.
Kedua pria itu terdiam.Saka merasa kasian dengan Kara.Dia menyesal telah memakinya juga tadi.
Satu satunya makhluk keparat itu adalah Pandu.
__ADS_1
"Kamu dengar tadi?Kara cinta sama kamu.Kamu mau apa sekarang?benar benar mau pisah dengan dia?"
Saka membombardir pertanyaan.
"Jika kau tetap teguh dengan tujuan awalmu.Kamu benar benar laki laki pengecut"
Pandu menatap Saka tampak ingin marah dituduh pengecut.
"Nggak usah emosi Ndu,memang benar kan?kamu nggak bayangin kalau Via atau Vio yang ada diposisi Kara.Kamu punya adik perempuan Ndu.Jaga perilakumu terhadap perempuan.Bisa jadi karma itu terjadi pada adik adik kita"Saka menasihati Pandu yang masih memanas ini.
"Coba pikir Ndu.Apa kamu bisa terima kalau adikmu diperlakukan begitu"
***
Kara bergegas masuk ke kamar.Rasanya tidak tahan menahan emosinya.Ia ingin menangis sejadi jadinya.
Kenapa mencintai suami sendiri harus sesakit ini.
Dewi yang sedang duduk diranjang lalu berdiri saat melihat Kara memasuki kamar.Dewi sangat pengertian,lalu ia segera membentangkam tangannya untuk menawarkan pelukan.
"Mbak"Kara pun langsung menghambur pelukan dengan Dewi.Isak tangis terdengar jelas.Dan dari suara itu Dewi bisa turut merasakan.
Bahwa Kara sangat sesak didadanya.Hatinya sedang sakit.
"Nangis aja Ra kalau kamu mau nangis.Luapkan semuanya biar kamu lega"Ucap Dewi menenangkan.Tangannya mengusap pundak Kara.
"Kenapa cinta sama suami sendiri sesakit ini mbak"Suara Kara lirih terdengar sakit dan memilukan.
"Sini duduk dulu"Dewi menepuk ranjang disebelahnya ia terduduk.
Disana ada Naira yang tertidur.Dan sadewa kesana kemari berjalan.
"Maaf ya tadi mbak nguping pembicaraan kamu,abisnya mbak pengen tau apa yang terjadi sama kalian"
"Nggak apa apa kok mbak.Jadi mbak denger semuanya yang aku bilang tadi?"Ucap Kara memastikan.
Dewi mengangguk.
"Aku turut prihatin sama pernikahan kalian.Tapi aku nggak nyalahin kalian sepenuhnya.Karena alasan kalian masuk akal.Pandu ingin menentukan kehiupannya untuk kali ini,dan kamu ingin lepas dari pacaran toxic.Jadi keduanya punya alasan yang benar.Tapii yang mbak sayangkan.
Kenapa kalian mau menikah secara kontrak.Apakah tidak ingin kalian menjadi pasangan yang saling mencinta.Meskipun awalnya pernikahan kalian tanoa cinta tapi kalau saling mau berusaha,kalian pasti bahagia dan bakal tumbuh cinta satu sama lain"
Tutur Dewi lembut menenangkan.
Memang Dewi tak sempat mendengar ucapan Kara yang bagian akhir.Yang dirinya sudah mencintai Pandu.
"Kara udah cinta mbak sama mas Pandu"Ucap Kara lirih,terselubung rasa malu.
Dewi terkejut.Dan jujur senang mendengarnya.
__ADS_1
"Mbak senang dengernya,trus Pandu sendiri gimana?"
Kara menggelengkan kepalanya.
"Nggak tau mbak.Mas Pandu entah bisa atau enggak cinta sama Kara"
"Kok gitu?"Suara Dewi menunjukan keterkejutan.
"Iya,nggak tau kenapa mas Pandu nggak mau cinta sama Kara.Apa mbak Dewi tau,mungkin ada perempuan yang sangat dicintai mas Pandu.Mungkin mas Pandu lagi nunggu perempuan itu"Suara hati Kara seolah berkata seperti demikian.
Walau memang sebenarnya begitu adanya,tanpa Kara ketahui.
"Dalam waktu dekat ini setauku nggak ada Ra"
Dewi tidak menyebutkan Risty,karena Pandu memang tidak menyukai Risty.Jadi tidak mungkin karena Risty alasannya.Lalu siapa?
Dewi mencoba mengingat kejadian kejadian yang lampau.Mengingat sekuat tenaga,apakah Pandu pernah tampak dekat dengan perempuan lain di masa lalunya.
"Natasha"Dewi langsung menyebut nama itu begitu ia mengingatnya.
Kara terkejut penasaran.
"Siapa itu mbak?"
"Seingatku Pandu pernah dekat dengan perempuan yang bernama Natasha.Iya bener Ra namanya Natasha"
"Pacarnya mas Pandu?Apa mereka belum putus?"Tanya Kara penasaran.
"Bukan,mereka nggak pacaran.Setauku perempuan pertama yang dikenalkan sebagai pacarnya ke keluarga iti ya cuma kamu Ra.Dulu nggak pernah ada kayaknya.Soalnya aku kenal Pandu kan udah lama.Aku pacaran sama mas Saka aja hampir enam tahun.Kalau Pandu punya pacar,ibu pasti cerita.Apapun pasfi ibu cerita.Kayak pas kamu dikenalin Pandu ke ibu.Ibu langsung telpon aku abis kamu pulang.Bilang kalau Pandu datang sama pacarnya"Tutur Dewi.
Entah kenapa jawaban Dewi sedikit menenangkan hati Kara.Tapi tak merubah kenyataan bahwa Pandu tidak mencintai Kara saat ini.
"Ra,mbak tanya.Kenapa kamu mau sih terikat perjanjian gitu sama Pandu?"Dewi bertanya sangay santai.Agar Kara tidak merasa sedang di introgasi.
"Nggak tau ya mbak kenapa aku segampang itu.Awalnya aku nyaman sama mas Pandu,dia bolongin aku lepas dari mantan pacarku.Cuma mas Pandu yang bisa melindungi aku,jadi aku terlanjur nyaman.Jadi aku pikir,dengan menikah dengan mas Pandu aku bakal terlindungi.Tapi ternyata justru hatiku yang nggak bisa dilindungi.Sesakit ini mencintai mas Pandu mbak"Mata Kara sayu.Dia tampak lelah sekali.Lelah perjalanan juga masalah ini.
Dewi mengusap pundak Kara wujud dukungan terhadap Kara.
"Ra,pertahankan perasaanmu.Aku tau Pandu orang yang baik.Cuman belum waktunya dia mencintaimu.Pandu orangnya kaku,tapi kalau aku lihat pribadimu cukup menyenangkan.Melengkapi kejurangan Pandu.Biasanya yang begitu malah langgeng.Soalnya melengkapi kekurangan satu sama lain Ra.Pandu pasti lama lama luluh.Inget kata kata mbak"
Ucap Dewi memberi harapan pada Kara.
Entahlah ucapan mbak Dewi ini hanya sekedar menenangkan atau benar benar membuatnya tenang.
Kara mengangguk.Dan mematuhi Dewi.
"Ya udah kamu mandi dulu sana biar seger"
Titah Dewi pada Kara.
__ADS_1
"Ya mbak,aku siap siap ambil baju ganti dulu.Makasih ya mbak udah dukung aku"
Dewi pun mengangguk.