Pernikahan Kontrak Pak Guru

Pernikahan Kontrak Pak Guru
Membawa Air Mata ke Sekolah


__ADS_3

"Ra"


Pandu menyusuri ruang apartemen mencari istrinya. Tampaknya Kara tidak mendengarnya.


Lalu ia dapati Kara sedang menyetrika baju di ruang belakang. Tentu saja baju yang akan dikenakan Pandu siang ini pergi mengajar.


Karena mbok Mi sedang sangat sibuj sehingga Kara lah yang harus melakukannya sendiri.


"Ra"Sekali lagi ia panggil istrinya itu.


"Iya mas"Suara lembutnya menyaut.Wajahnya menoleh ke arah suara bas itu berasal.


"Sudah selesai?"Tanya Pandu.


"Sudah mas"Kara bergegas menyudahinya.Beres dan sudah rapi.


Memberikan kemeja berwarna biru muda pada suaminya itu diiringi senyum yang manis.


Lalu Pandu mengenakan baju yang baru saja Kara berikan dengan hati hati. Tidak mau bajunya kusut lagi


Sambil mengenakannya.Kara masih berada disamping meja setrika sambil mengamatinya.


"Bagaimana wisudamu sudah beres semua keperluannya?"Tanya Pandu.


"Iya sudah semuanya.Lusa sore bisa diambil kebayanya.Sudah jadi katanya jadi sudah bisa diambil"


"Aku pakai apa nanti?jas atau baju batik?"Tanya Pandu sambil mengancingkan kemejanya.


"Mas Pandu nyaman pakai yang mana?kalau bajuku warna pink dusty.Kira kira yang cocok sama warna pink dusty apa mas.Tapi yang sekiranya mas Pandu nyaman aja"


"Menurutmu?bagus mana?"Balas Pandu.


"Boleh aku liat baju baju mas Pandu di lemari?"Kara meminta ijin.


"Boleh lah"Jawab Pandu. Seakan menjelaskan 'masak gitu aja nggak boleh'.


"okey"Jawab Kara tersenyum lucu.Lalu menuju kamar diikuti oleh Pandu.


Kara membuka lemari besar milik Pandu.Ia menebarkan pandangan ke arah gantungan deretan kemeja dan jas.


Koleksi kemeja Pandu terhitung banyak. Kemeja batik,bergaris dan polos putih serta berbagai warna pastel.


Kara menjentikan ujung telunjuk pada pipinya sembari memilih kemeja.


Lalu ia tunjuk satu warna baju batik yang warnanya cocok jika dipasangkan dengan kebayanya.


Kara maraihnya namun tak sampai.


Pandu mengulum senyumnya sembari meraih kemeja yang Kara maksud.


Kara nyengir.Malu karena tinggi badannya tak sampai.Tepat seperti sedang menelungkup tubuh Kara. Kara hampir tidak rerlihat..hahaaa lucu sekali.


Lagi lagi Kara dibuat terlena.


Apalagi kalau bukan aroma tubuh Pandu. Pandu pandai menjaga kebersihan.Sehingga dia memiliki aroma tubuh yang khas. Bukan,bukan karena wewangian. Ini beda..


Ya Tuhan apa ini?nyandu bangeettt wanginya..Gilak yahh.Mas Pandu terbuat dari apa sih? Bukan,ini bukan parfum. Mana ada parfum wanginya kek begini. Mas Pandu kan belum menyemprotkan apapun ke badannya.


Pikiran Kara menjalar kemana mana.


Dasar Kara,kondisikan otakmu.


Umpatnya dalam hati.


"Yang ini?"Pandu memantaskan kemeja batik itu pada tubuhnya sendiri.


Kara mengoreksinya bak sudah profesional soal fashion.


"emhm..Bagus mas"Ujar Kara senyum.


Sambil membenahi posisi kemeja batik di tubuh suaminya itu. Ya,suami yang tidak mencintainya itu.


Mungkin saja belum,belum mencintai. Tapi sedang berusaha.


"Ya udah,pakai yang itu saja"Ekspresi apalagi yang bisa ditunjukan oleh Pandu.Selain kaku dan datar.


Pandu membuka laci lemari di paling bawah.


Kara mengamatinya Pandu sedang mengambil barang barang yang dulu pernah ia ambil. Lalu Pandu pernah marah besar sehingga membuat Kara hampir ketakutan dan sekaligus bingung.


Dari laci itu,Pandu mengeluarkan sebuah jaket.


Ya benar,jaket yang dulu Kara ambil saat akan melakukan perjalanan ke Kulon Progo.Kerumah mertuanya.


Tak hanya jaket,sendal,sarung tangan dan barang barang lainnya. Lebih tepatnya perlengkapan touring.


Kara menatap dengan bingung.


Tampaknya Pandu juga sudah menutup kembali laci itu.


Diletakannya barang barang itu kedalam kardus.

__ADS_1


Sepertinya Pandu memang sudah mempersiapkannya.


"Mau dikemanakan barang barang ini mas?"Tanya Kara lembut dan penuh keheranan.


"Sebenarnya ini punya siapa?"


Kara memberanikan diri atas pertanyaan itu.Mengingat Pandu pernah marah besar karena barang barang itu.


Sebenarnya apa arti barang barang ini bagi mas Pandu??


"Punyaku"Jawab singkat Pandu.Sembari menata bahasa yang akan ia ucapkan yang akan menjadi penjelasan. Tak lupa menghela nafas lembut.


"Punyamu?lalu untuk apa mas taruh dalam kardus ini?apa udah nggak dipakai lagi?"Kara tak berhenti ingin tau.


"Duduklah"Titah Pandu pada istrinya itu.


Kara menurut tanpa banyak tanya.Tentu saja diselimuti rasa penasaran .


Mereka duduk berdampingan disisi ranjang dan kardus itu berada dihadapan mereka teronggok dilantai.


"Beberapa barang itu salah satu kenanganku dengannya"Jujur Pandu pada Kara tanpa banyak basa basi.


Teg...


Hati Kara berdesir mungkin ini yang namanya cemburu atau apalah.Entahlah,hatinya semakin sensitif jika ada hal lain yang lebih prioritas dibanding dirinya dalam rumah tangga ini.


"Dia?Natasha maksudmu mas?"Kara memastikannya lagi. Sekilas menatap pandu namun kembali tatapan Kara melihat kearah lain.


Jawabannya mendapat anggukan dari Pandu.


"Ya"Jawab Pandu lirih.


Kara tersenyum konyol.


"Beruntung sekali Natasha itu,kamu secinta itu padanya" Nada bicaranya tidak menunjukan kebencian. Justru lembut dan lemah.


"Tapi aku ingin menjauhkannya dariku sekarang"Tandas Pandu.


Kara diam sejenak mengolah perkataan Pandu.


"Apa mas yakin?tidak ingin memperjuangkannya lagi?mungkin bisa jadi dia sedang menunggumu mencarinya?"Kara ingin benar benar yakin Pandu ingin melepas Natasha di kehidupannya.


"Aku sudah berjanji untuk mencoba mencintaimu.Itu berarti tidak boleh ada wanita lain di rumah tangga kita kan?"Entahlah Pandu dengan gampang mengucapkan kata kata ini. Tuturnya lembut namun diiringi degub jantung yang tak beraturan. Pandu merasa lemah sekarang.


Seakan percaya diri bahwa ia akan bisa lupa dengan Natasha. Sebuah nama yang bertahun tahun tak mudah ia lupakan sedikitpun.


Tidak pernah terganti,sekalipun banyak wanita yang menginginkannya. Bahkan sampai saat inipun masih sering hadir dalam mimpi tidurnya.


Ya,Natasha sering muncul dalam mimpinya. Itu yang membuat dirinya sulit untuk lupa.


Suasana kamar saat ini sedang sunyi dan kaku. Sepi sekali hanya suara lirih mereka yang diselingi diam. Tentu saja ini pembicaraan sangat sensitif menyentuh hati keduanya.


Bagaimana tidak, sepasang suami istri berada didalam kamar. Namun yang dibahas benda kenangan masa lalu.


Bukankah sama sekali tidak menyenangkan?


"Berikan pada orang yang membutuhkan. Kalau perlu buang saja juga tidak apa apa Ra" Jawaban Pandu membuat Kara sedikit mulai mempunyai tempat di hidup Pandu. Tapi tidak bisa sepenuhnya yakin.


"Kamu yakin mas?Tapi ini kan masih bisa kamu pakai"


"Sudahlah,tidak sesederhana itu. Jangan biarkan barang barang ini masuk kedalam rumah ini lagi"Jelasnya.


"Kalau itu memang keputusanmu dan sudah yakin. Okey, nanti biar dibawa pulang Mbok Mi aja"Jawab Kara.


"Terserah kamu saja,yang jelas aku tidak ingin melihatnya"


"Maafkan aku Ra, barang barang itu membuatku selalu mengingatnya. Meskipun aku berusaha, entah kenapa rasa itu bertahun tahun menyiksaku"Jawab Pandu sembari menatap ke arah Kara. Yang terlihat olehnya sisi sebelah bagian wajah Kara.


Kalau dibilang cemburu pasti Kara cemburu,sakit terasa sakit. Laki laki yang ia cintai saat ini sedang menceritakan wanita lain. Dan sedang bercerita bahwa sedang sulit melupakan.


Kara merasa menjadi rumput pengganggu. Yang seharusnya dibuang saja. Mengganggu pemandangan.


Ya Tuhan sakit sekali Tuhan.


Batin Kara menangis. Tak kuasa ia tahan, kristal bening keluar dari pelupuk matanya.


Cairan yang tak mampu ia tahan dalam bendungan yang disebut mata. Mengalir begitu saja.


Ya itulah wujud nyata rasa sakit didalam sana. Di dalam hati Kara.


Jaket dan barang barang itu sangat mengingatkan Pandu pada Natasha. Natasha sudah berjanji pada Pandu bahwa mereka akan touring ke Medan bersama. Jaket itu pilihan Natasha. Natasha bilang,dia akan mengenalkan Pandu pada orang tuanya.


Saat itu Pandu sangat berharap, benar benar berharap. Karena Pandu sulit sekali jatuh cinta pada wanita. Natasha satu satunya wanita yang mempu membuatnya mabuk kepayang.


Natasha oh Natasha.


Sebenarnya dimana kamu?


Mampukah Kara membuat Pandu sedemikian cinta pada istri ini?


Keduanya hening..

__ADS_1


Lalu tiba tiba tangan kekar menghampiri wajah Kara yang basah. Dengan selembar tisu untuk menghapus air mata Kara. Karna semakin lebat air itu membanjiri wajah cantik Kara


"Maafkan aku Ra maaf" Mohon Pandu lirih sembari menghapus air mata Kara.


Menyakitkan namun Pandu ingin lega dan tidak ada yang ia sembunyikan dari Kara.


Kara masih terdiam dengan linangan air matanya. Benar benar Kara ingin membuang kesakitannya bersama air mata itu. Ia harap jangan kembali dan menghadirkan air mata yang menyakitkan ini.


Tak kuasa melihat wanita dihadapannya menangis. Pandu memberanikan diri untuk..


"Ra" Pandu meraih tubuh Kara mendekat padanya.


Ya Pandu memeluk istrinya. Pelukan diliputi rasa kasihan dan merasa bersalah,sangat merasa bersalah.


Erat sekali pelukannya.


Kara pun menjadi semakin ingin menangis lagi. Yang awalnya cemburu menyakitkan. Namun juga ada haru bahwa suaminya ini sedang mengusahakan perasaannya terhadap dirinya.


Isak tangis Kara terdengar. Pandu memeluknya erat sambil berulang mengucapkam kata maaf.


Hikss...hikss...


Bagaimana bisa racun dan penawarnya berada dalam raga yang sama.


*Ya Tuhan tolong,bagaimana ini?bagaimana jika penawar racun itu tidak bisa aku dapatkan?


Ini teramat sakit ya Tuhan. Aku mohon kesembuhan pada hatiku ini*.


Isak kara masih terdengar air matanya masih tidak mau berhenti. Sehingga membasahi dada suaminya itu.


*Maafkan aku Ra


Maafkan aku.


Menangislah sepuasmu.


Maafkan aku.


Kata itu terdengar lirih sering Pandu ucapkan.


Suasana dikamar itu sungguh dramatis. Hingga cukup lama tak terasa lebih dari tiga puluh menit mereka berpelukan.


Tak sadar Kara tertidur kelelahan di pelukan suaminya.


Pandu membaringkan tubuh istrinya itu perlahan. Tidak ingin Kara terbangun.


Pandu tau, Kara pasti lelah. Menangis dengan kondisi hati yang perih. Pasti banyak sekali tenanga yang ia kuras siang ini.


"Aku kerja dulu"bisik Pandu lirih.


Ia pandangi untuk beberapa saat. Ada hasrat yang mendorongnya 'cium keningnya'


Hampir saja Pandu mendaratkan bibirnya di kening gadis malang itu. Namun dengan cepat ia mengurungkan niatnya.


Tidak,aku tidak bisa..


Pandu meninggalkan Kara yang tertidur lelap.


Berpamitan pada Mbok Mi yang masih membereskan rak sepatu disamping pintu apartmen.


"Saya berangkat dulu Mbok" ucap Pandu sambil mengenakan sepatunya.


Sedikit terburu buru karena jam mengajar lima belas menit lagi akam dimulai.


"oh njih mas,ati ati" Mbok Mi segera bersikap sopan. Berdiri dan setengah terbungkuk tanda hormat pada majikannya itu.


Pandu pun bergegas keluar segera menuju pada kendaraannya.


Ada yang aneh.


Mbok Mi melihat dengan jelas.


"Baju mas Pandu kok basah ya?"


"Kok nggak ganti?"


"Mas Pandu kan paling anti dengan noda sedikitpun pada bajunya?"


Mbok Mi penuh bertanya tanya..


"Ono opo to jane karo ndoro ndoro ku ki..?ora koyo biasane"Mbok Mi menggerutu sendirian*.


(ada apa sih sebenernya majikan majikanku ini? Tidak seperti biasanya")


Sedangkan diluar sana.


Pandu yang sudah tiba di sekolah. Memarkirkan mobilnya dan sebelum ia turun ia memantas wajahnya di kaca dalam mobil.


Rupanya ia tersenyum tipis. Saat melihat tampilannya dikaca mobil. Terpampang jelas bagian dadanya,kemaja yang sekarang dikenakannya basah.


Tidak tau kenapa Pandu membiarkannya. Tidak berusaha menelapnya agar air itu kering.

__ADS_1


Pandu tersenyum tipis dan merasa konyol. Dan merasa lucu jika ingat wajah sang pemilik air mata ini. Tiba tiba teringat saat Kara cerewt dan banyak bicara.


"Sekolah sambil membawa air mata" Gerutunya sambil keluar dari mobil.


__ADS_2