
Pandu menenangkan Via dan Vio agar mereka menutup telinga dan matanya.Agar tidak terdengar jelas suara guntur yang menggelegar dan cahay Kilat menyambar mengerukan itu.Gemuruh air hujan bercampur angin menambah traumatis pada diri Via dan Vio.
Kembar namun tetap memiliki perbedaan.Vio lebih mudah ditenangkan,Vio lebih pemberani.
Vio lekas merasa tenang ketika Pandu menasihati agar tak perlu takut,karena mereka aman berada di dalam rumah.
Sementara Via,gadis manja perasaannya lebih lembut.Belum hilang ketakutannya jika hujan belum benar benar berhenti.Tubuhnya masih gemetar,tangannya mencengkeram erat memeluk Pandu.Agar mendapat perlindungan dari kakaknya itu.
Pandu memaklumi dari segala hal.Via dan Vio memiliki sifat yang berbeda.Setelah Vio bisa tertidur karena Pandu telah berhasil menenangkannya.
Sekarang tinggalah Vio.Matanya masih terpejam rapat rapat.Tangannya masih menutup erat telinganya.Jangan sampai sedikit suara guntur itu terdengar olehnya.
"Mas Pandu,Via takut mas.Bapak kok nggak pulang pulang sih"Via merengek mengoceh dengan mata terpejam.
"Iya sebentar lagi pulang,kamu nggak usah takut.Disini ada Vio sama mas yang jagain.Kamu tidur aja ya.Vio juga udah tidur tuh"Tenang Pandu pada Via.Merasa kasian melihat Via,apalagi mendengar tangisannya yang mengiris hati.Via benar benar ketakutan.
"Nggak mau mas,Via takut"Via berbicara sambil menangis.
"Ya udah,jangan dibuka mata sama telinganya.Tapi jangan nangis ya.Nanti kamu tambah merasa takut.Tenang ya,mas kan jagain Via disini.Kita tunggu sampai ibu sama bapak pulang"Pandu terus berusaha membuat via tenang.
Saat hujan sudah reda.Tinggal gemericik air hujan yang tersisa mengalir lamban dari atas genting rumah keluarga Pandu.
Via tetap tidak bisa tertidur.Sampai orang tua mereka pulang.
Via pun langsung berlari memeluk bapak yang baru saja masuk kerumah.
Via mengadu pada bapak.Bahwa ia sangat ketakutan sekali.Meskipun Via mengakui Pandu sudah menenangkan Via.
Bapak paham,Via paling takut dengan kilat dan guntur.Bapak lalu menggendong gadia kecilnya,memeluknya dan memberi penenangan.
"Iya,kamu takut ya.Bapak tau,tapi kamu harus tenang.Sekarang kilatnya udah nggak ada.Bapak sama ibu juga sudah dirumah,ada mas Saka.Semuanya akan melindungi Via.Vio mana?"
Ucap bapak dengan lembut.
Mendiang bapak adalah sosok bapak yang sangat penyayang.
Beruntung Pandu dan saudara lainnya dibesarkan di keluarga yang penuh kehangatan.
"Vio tidur dikamar mas Pandu"Ucap Via masih ada sisa isak karena terlalu lama menangis.
"Via,Via juga tidur ya.Ayo ibu temenin"Ajak Ibu dan bapak mengantar Via ke kamar Pandu.Lalu ibu menemani Via.Mendongeng cerita pendek untuk menenangkan Via dan akhirnya Via tertidur.Menyusul Vio ke alam mimpi.
**
"Bu,apa Via selalu begitu kalau ada kilat dan guntur?"Tanya Pandu saat dimeja makan.Sedangkan ibu sedang menyiapkan lauk dan sayur untuk makan malam mereka.
"Iya,Via Vio takut banget sama kilat apalagi bunyi guntur.Tapi Vio lebih gampang ditenangin.Kalau Via dia bener bener takut banget.Kamu liat kan sampai ibu pulang aja dia masih ketakutan.Tadi juga peluk ibu kenceng banget.Ibu dongengin baru dia bisa tidur"Ibu menghela nafas.Memaklumi kondisi putrinya itu.
Pandu tiba tiba mengingat kejadian itu semua.Membuat Pandu merasa prihatin.
Jeglerrr...
Petir kembali menunjukan kegarangannya.
Dengan spontan Kara memeluk erat Pandu.
"Mas aku takut"Pekik Kara.Kara tidak menangis lagi tapi matanya yang tertutup rapat.Kedua bahunya mengerut mendekat ke telinga.
__ADS_1
Pandu langsung menunduk memindai Kara.
Persis,persis sekali dengan Via.Itu berarti Kara sama takutnya dengan Via saat mengalami hal semacam ini.
Nafas Kara yang terengah engah.Pandu merasa sedang dengan Via adiknya yang sedang ketakutan.Nurani kemanusiaannya muncul dan langsung memeluk Kara dengan tanpa ragu lagi.
"Jangan takut"Pandu mengucapkan kalimat dengan maksud menenangkan Kara.
"Sudah,jangan takut ya"Ucap Pandu lagi.
Kenapa Pandu seperti mengalami hal ini dua kali.Pandu lalu mebayangkan.Bagaimana jika ini dialami oleh Via,yang pobia dengan kilat dan guntur.
Sedang bersama orang lain.Dan bagaimana jika tidak ada yang peduli saat dia dilanda ketakutan yang teramat sangat.
Pelukan Pandu pada Kara semakin mengerat,karena dirasakannya Kara masih gemetar ketakutan.
Kamu janji akan melindungi Kara.
Bisikan hati kecilnya berkata.Membuat Pandu terbesit rasa bersalah.
Kamu harus tanggung jawab Ndu,ini istrimu.Nyawa anak manusia yang berhak mendapat perlindungan.Jika bukan rasa cinta yang mendorongmu untuk melindunginya.Setidaknya kamu manusia yang masih memiliki hati nurani.
Hati Pandu bergolak.
Kilat,guntur dan petir tampaknya sudah lelah memberi sentuhan pada makhluk bumi.Hilang bersama surutnya hujan.
"Hujannya udah mulai reda.Kamu jangan takut lagi"Ucap Pandu,sudah tidak memeluk Kara lagi.Tampaknya Kara sudah mulai tenang.
Itu karena Kara nyaman berada dipelukan Pandu.Untuk pertama kali mereka berpelukan.
Sayangnya bukan ditempat yang bagus.Namun suasana yang bagus.
Kara beringsut dari pelukannya terhadap Pandu.Wajahnya merah padam.Ada bercampur rasa malu.Kara sadar bahwa dia sangat ketakutan tadi.Dan tidak tau malu memeluk tanpa ragu.Justru sangat erat.Baru pertama kali Kara mengalami hujan deras dan petir menyambar nyambar saat ia berada diluar rumah seperti ini.
Kara sangat takut.Sehingga jendela kamarnya tidak pernah terbuka lebar saat hujan turun.Jika hujan deras turun.Mbok Inah selalu bergegas menghampiri Kara.Menutup jendela kamar Kara.Menutup tirai dan menutupnya dengan kain tebal lainnya,seperti sprei atau selimut.Agar meminimalkan terlihat cahaya kilat masuk juga bunyi guntur yang menggelegar.
Dan sekarang berbeda.Ini hujan yang paling mengerikan yang pernah ia alami.Tapi Kara cukup bisa tenang dalam pelukan Pandu.Meskipun luar biasa takut dengan cuaca yang sedang tak bersahabat ini.
"Kamu dari kecil takut petir?"Tanya Pandu.Memastikan bahwa Kara pobia petir.
Dulu melindungi adiknya dan sekarangvl ternyata istrinya juga sama pobianya.
Kenapa bisa mirip?
Kara mengangguk.
"Iya mas,aku takut banget"
"Kalau udah nggak hujan kita lanjut jalan lagi"Ucap pandu dengan datar.
Baru kali ini Kara mengharap hujan turun lagi.Dan petir akan menyapa lagi.Meskipun merasa takut tapi Kara merasa ini adalah hal paling romantis semenjak mereka menikah.
Aku ingin kamu mengulanginya lagi mas.Aku sangat merasa nyaman.Nggak pernah aku senyaman ini dipeluk,dilindungi.Aku baru saja sangat merasa disayangi.
Tak dipungkiri,rasa sayang Kara selalu tumbuh setiap hari.Itu karena memang kara berusaha memupuk rasa ini dan berharap benih yang ia tanam akan tumbuh.
Kalau kamu sering bikin aku nyaman begini,aku nggak perlu berusaha keras untuk menumbuhkan cinta diantara kita mas.Aku tau kamu melakukan ini karena kasian sama aku.
__ADS_1
Tapi aku tetap menyukainya aku bahagia sekali,meskipun bukan karna rasa cintamu padaku.
Terima kasih untuk sosok arogan yang sudah melindungiku.
Hujan pun sudah reda.Menyisakam tetes tesan air dari dedaunan persawahan.
"Mas,hujannya udah mulai reda.Kita lanjut jalan lagi yuk.Ibu pasti udah nunggu dirumah"Ajak Kara pada Pandu.
"Ya"Pandu menjawab lirih dengan nada tegas.Lalu bersiap untuk melanjutkan perjalanan.Pandu juga sempat memindai Kara.
Baju gadis ini cukup basah.Dia pasti sangat merasa kedinginan.
Biarlah,dia sudah besar bukan anak anak lagi.Lagipula tinggal tigapuluh menut lagi sampai kerumah.
"Mas"
"Apa?"Pandu menoleh ke arah Kara.
Kara pun tersenyum terlihat sangat manis dan tulus.
"Sleting jaketnya ditutup,nanti kamu kedinginan"Ucap Kara.
Sebenarnya Pandu merasa malu.Lalu menutup sleting jaketnya.
Baru saja Pandu berpikir tega membiarkan gadis itu kedinginan.Dengan alasan Kara kan sudah besar.
Sementara Kara justru memperhatikan keadaan Pandu.
Mengingatkan sleting yang terbuka,agar dirinya tidak kedinginan.
Hey Pandu Yudistira untung saja Kara tidak bisa membaca isi hatimu.Jika Kara bisa kau akan malu,pasti kau akan segera tenggelam didasar laut.
Bahkan kau sudah mendzolimi dia dalam hati.Tapi lihat dia masih bisa tersenyum.
Pandu Pandu,dimana hati kamu.
Suara hati kecilnya selalu bergolak menampar dirnya.Malu sungguh merasa malu.Namun Pandu tetaplah Pandu yang bisa dibilang keras kepala.
"Oh ya mas"Ucap Kara lagi.
"Apa lagi sih?"Ucapan Pandu pelan namun penuh penekanan.
"Terima kasih ya,udah lindungi aku tadi"Kara mengucapkannya dengan tulus dan senyum yang menyejukan hati.
"Ya,sama sama"Jawaban yang lugas.Pandu tanpa berani menatap Kara.
Ia langsung bersiap untuk mengendarai motornya.
"Lain kali kalau takut nggak nangis"Omel Pandu.
Kara tersenyum.
"Iya mas"Disertai dengan anggukan.Patuh dan tanoa perlawanan.
Tak berlama lama mereka melanjutkan perjalanan.Ingin sekali segera sampai kerumah dan mengganti pakaian.Sudah dipastikan juga ibu sudah menyiapkan makanan yang lezat.
*Terima kasih sudah menjadi pembaca novel PKPG.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan komen positif,like dan vote.Agar author lebih semangat lagi nulisnya.
😘😘😘