
Pernikahan yang baru mereka jalani selama tiga bulan ini memang sangatlah singkat kedengarannya.
Namun polemik didalamnya cukup menguras air mata. Melibatkan hati yang tersayat. Sakit dan amat dramatis. Tenaga yang mereka keluarkan untuk melalui ini lumayan terkuras.
Pandu dan Kara tak menyadari bahwa mereka mampu melewati ini. Tiga bulan mereka hidup satu rumah dalam ikatan pernikahan.
Pernikahan kontrak yang entah kapan ujungnya.
Apakah benar benar sesuai kontrak atau akan berakhir dengan kebahagiaan?
Keduanya menjalankan perannya masing masing dengan baik.
Meskipun sampai saat ini mereka belum menjadi pasangan suami istri seutuhnya.
Ya benar, Pandu belum pernah menyentuh Kara secara intim. Layaknya suami istri pada umumnya
Tiga bulan ini belum berhasil membuat Pandu seutuhnya mencintai Kara. Pandu tidak ingin menyentuh Kara sampai Natasha benar benar hilang dari mimpinya itu.
Keajaiban yang sulit ia pecahkan solusinya.
Ajaib...
Gumam Pandu dalam hati.
Pandu rindu,rindu ingin bertemu Natasha. Entahlah ini rindu atau sekedar ingin bertemu.
Sedangkan saat membuka mata tadi, yang ia lihat sesosok Kara. Gadis cantik yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin rias dikamarnya itu.
Rupanya Kara sudah mandi. Bersiap untuk sholat subuh.
"Kamu nggak bangunin aku" Ucap Pandu sambil menggeliatkan tubuhnya. Dengan suara parau akibat baru bangun tidur.
"Maaf,aku pikir mas Pandu gak perlu dibangunin. Adzan subuh masih 20 menit lagi kok mas. Yaudah sana kamu mandi dulu"
Kara menyiapkan sajadah dan perlengkapan lain untuk mereka sholat berjama'ah.
Tak lama Pandu bergegas ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Bersiap untuk sholat subuh berjama'ah bersama istrinya.
Hari ini,tepat tiga bulan pernikahan mereka. Baru kali ini Pandu memohon pada yang Kuasa. Memohon untuk kebaikan pernikahannya ini. Sebelumnya dia tidak pernah meminta apapun pada Penciptanya. Toh ini hanya pernikahan kontrak yang tidak ia inginkan kelanggengannya.
Saya mohon yaa Alloh, berikan petunjuk padaku atas pernikahanku ini. Saya tidak tau apakah saya bisa mencintai istri saya dengan seutuhnya. Bayangan masalalu saya yang terus hadir membuat saya berat mencintai wanita lain. Hati ini milikmu ya Alloh. Kau sang maha pembolak balik hati manusia. Saya titipkan hati ini sebagaimana mestinya, begitu pula saya titipkan pernikahan ini sesuai kehendak-Mu. Hamba mohon ampun yaa Alloh. Tunjukan mana yang baik untuk hamba. Hamba mohon..
Terasa sesak di ulu hati Pandu. Kali ini ia meminta benar benar pada sang Panciptanya. Pandu merasa tak kuasa. Mengolah hati dan pikirannya soal percintaannya.
"Aku pasrah ya Alloh..RABBANAA AATINAA FIDDUNNYAA HASANAH, WA FIL AAKHIRATI HASANAH, WAQINAA ADZAA BAN NAAR..Aamiin aamiin aamiim yaa Rabbalallamiin.."
Pandu mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya usai menengadah pada sang Khaliq. Berharap Tuhannya mengabulkan apa yang menjadi pintanya.
Usai itu ia membalikan badannya ke belakang dan istrinya segera bersalaman dengannya. Mencium punggung tangannya dengan sopan.
Dan seperti tanpa diperintah Pandu sembari mengusap kepala istrinya yang sedang menunduk itu.
Ada rasa yang berbeda di subuh kali ini.
"Egh,,mas Pandu mengusap kepalaku?"
Kara sedikit terkejut namun ada bahagia yang membuncah.
"Ini beneran?"
Kara yang heran sudah pasti bertanya tanya dalam hatinya.
Kara mendongak dan tersenyum setelah selesai bersalaman.
Keduanya sama sama tampak canggung tak biasanya Pandu mengusap kepala Kara.
"Egh,,anu mas" Kara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.Gugup entahlah dia pun bingung. Sambil senyum tampak grogi sekali.
"Ada apa Ra?"Pandu yang masih dihadapannya itu bertanya semakin menambah gugup gadis itu.
"Anu egh,,maksudku mau dibuatkan sarapan apa?"Jawab Kara sekenanya.
"Aduhhh kenapa sih aku malah aa eee aa eee..keliatan gugup kan jadinya"
Batin Kara.
"Belum pengen sarapan sekarang,Kalau untuk nanti telur rebus dan susu boleh?"
Pinta Pandu yang masih terlihat santai di handapannya. Pandu terlihat tenang duduk bersila.
"Iy..iya mas aku buatin ya.."Jawab Kara terbata. Lagi lagi dia sangat terlihat gugup dihadapan Pandu.
Kara bergegas melepas mukenanya dan saking gugupnya ia hampir terjatuh.
"Ee,,eehh"Celetuk Kara.Kara nyengirr...
Sialll...
"Hati hati Ra,nggak usah buru buru" Ucap Pandu sambil mengamati tingkah istrinya itu. Ekspresi wajah Pandu yang biasa saja tanpa merasa bahwa sudah membuat Kara salah tingkah.
Kara pun dengan cepat membereskan mukena pada tempatnya.
Lalu pergi meninggalkan kamar serta Pandu sendirian di dalam sana.
Setelah Kara benar benar sudah jauh.
Pandu terkekeh,lucu melihat istrinya yang salah tingkah.
Pandu merasa tergelitik. Ia tertawa kecil sehingga barisan gigi rapi nya itu terlihat.
Lucu,,lucu sekali dia..
__ADS_1
Pandu cukup terhibur dengan tingkah istrinya.
Lalu setelah ia sadari dia menengadahkan kedua tangannya.
Apa?lucu?sejak kapan dia selucu ini sih?Perasaan kemarin kemarin biasa saja.
Pandu pun tidak tau. Kenapa Kara bisa bertingkah yang membuat ia tertawa.
Pandangan Pandu tertuju pada sepasang pakaian yang tergantung.
Ya,baju kemeja batik miliknya dan sebuah kebaya modern milik Kara.
Membuat Pandu merasa tergelitik hatinya.
Entahlah melihat baju miliknya dan Kara berjejer kenapa terasa berbeda.
Tidak terbayang oleh Pandu sebelumnya.
Dua hari lagi Kara wisuda. Tentu saja ini akan menjadi hari yang istimewa untuk Kara.
Pandu baru menyadarinya bahwa sejak seminggu terakhir ini ia tidak bermimpi soal Natasha.
*Natasha?
Aku baru ingat,dia sudah tidak ada di mimpiku.Apa ini petunjuk bahwa aku siap mencintai istriku*?
Hati Pandu bergejolak.
Benarkah?ini sulit dipercaya. Bertahun tahun kamu membayangiku lewat mimpi mimpiku sha..
Pandu segera membuyarkan lamunannya. Berusaha untuk tidak mengingatnya lagi.
Ia pun bergegas berganti pakaian olah raga.
Tiba tiba ia memutuskan ingin berolah raga dengan istrinya.
Cepat cepat ia menuju dapur,memberi tau istrinya agar cepat berganti pakaiannya.
"Raaa...."
"Iya maass..."sahut Kara dari dapur sedikit berteriak khawatir suaminya itu tidak mendengarnya.
"Ganti bajumu.Kita Jogging pagi ini" Ajak Pandu bersemangat.
Tidak biasanya Mas Pandu sesemangat itu.
"Hahahaaaa...ada apa ini?"
Kara tersenyum dengan diliputi rasa heran.Sambil melirik jam dinding disudut ruangan. Pukul 5.30 WIB.
"Jogging?"
Tentu saja heran.Menikah selama tiga bulan biasanya Pandu pergi olahraga sendiri. Bahkan pernah tidak memperbolehkan Kara ikut olah raga bersamanya.
"Tapi mas"
"Kenapa?"
"Nanti kalau ada yang lihat kita gimana mas?"
Tampaknya Pandu sedikit berfikir.
"Sudah nanti biar aku yang jawab"
Lalu Pandu pergi ke kamar bersiap siap. Sementara Kara membereskan telur rebus yang baru saja matang.
Merendamnya dengan air es sebentar lalu ia tiriskan. Agar mudah dikupas kulitnya.
Tak lupa ia mengisi dua botol minum untuknya dan untuk Pandu.
Setelah beres dan Pandu pun juga sudah keluar dari kamar.
Sekarang giliran Kara berganti pakaian olahraga.
Tak lama Kara kembali dengan mengenakan pakaian olahraga berwarna merah muda. Warna pink pastel yang soft. Cocok sekali dengan warna kulit Kara. Membuat Kara tampak manis dan lucu dilihat.
"Cantikk..."
Batin Pandu yang tiba tiba memuji istrinya dalam hati. Pandangannya lekat pada sesosok gadis cantik itu.
Rupanya Pandu baru menyadari bahwa istri kecilnya itu cukup menarik dipandang. Butuh waktu tiga bulan bagi Pandu menyadari itu.
"Mas"Kara sambil melambai lambaikan tangannya dihadapan wajah Pandu. Karna Pandu melongo.
"Mas Pandu kenapa sih?"
Kara sama sekali tidak merasa bahwa dirinya mengalihkan dunia Pandu pagi ini.
Begitu cepat Tuhan mengabulkan. Mungkin karna Pandu telah ikhlas memintanya. Tuhan tidak ragu ragu segera memberinya arah.
"Helloo... bapak Pandu Yudhistira bin Herman Sudarwanto" Panggil Kara lengkap dengan nama ayah kandungnya.
"Iya,,ehh"Pandu gelagapan. Malu sangat malu.
Rasanya ingin menenggelamkan dirinya kedasar laut.
"Seriuuss...aku malu"
"Mas Pandu kenapa?kok bengong?"Ucap Kara terkekeh.
Konyol ini konyol sekali.
__ADS_1
"Nggak kenapa kenapa,kamu lama sekali. Ayo cepat keburu siang"Saking buru burunya botol minum Pandu tertinggal di meja.
Mereka berdua bergegas mendatangi sebuah stadion sepak bola. Yang area luar nya biasa dipakai lari pagi. Banyak orang disana. Dan banyak pula yang menjajakan dagangannya.
Ramai dan banyak pengunjung. Maklum ini akhir pekan. Sehingga bagi yang lima hari kerja akan menyempatkan ber olahraga disini.
Tak menunggu lama semangat orang orang ditempat itu menular pada mereka berdua. Mereka memulai lari kecil mengelilingi stadion itu.
Lima belas menit mereka berlari.
"Mas,istirahat yuk. Aku capek"Nafas Kara sudah ngos ngosan. Keringatnya sudah bercucuran membasahi badan dan wajahnya.
Keringatnya mengalir dipelipisnya.Kara menfelapnya dengan handuk kecil yang ia bawa. Rambutnya yang mulai lepek karna keringat.
"Yasudah kita duduk dulu" Pandu berjalan menuju bawah pohon yang cukup rindang diikuti dengan Kara.
Matahari sudah semakin tinggi. Sinarnya hangat menaungi manusia yang ada di bumi ini. Membakar semangat orang orang yang sedang berolahraga pagi ini.
Ramai..
Orang orang yang jogging,para lansia yang berjalan sambil menggerak gerakan tangannya.Bocah bocah kecil berlarian.Tak sedikit bayi bayi yang didorong orang tuanya menggunakan stroller.
Pemandangan yang menyenangkan,semua orang disini adalah orang orang yang beruntung.
Semangat untuk bangun pagi menghirup udara segar. Yang akan menyejukan jiwa mereka.
Dan satu lagi. Apalagi kalau bukan penjaja makanan. Sepertinya banyak orang kelaparan setelah berolah raga. Ramai dikerumuni pembeli.
Kara dan Pandu mengedarkan pandangan. Menikmati suasana pagi yang penuh dengan semangat.
Kara meminum hampir setengah dari isi botolnya. Maklum,Kara jarang berolahraga. Lain dengan Pandu,agaknya ia terlihat biasa saja.
Keringatnya yang bercucuran pun tampak tidak mengganggunya.
"Mas mana botolmu?"Kara lihat dari tadi Pandu tidak minum.
Pandu mengingatnya.
"Ya ampun,aku lupa"Tersenyum.
Jarang sekali Kara melihat senyum diwajah suami tampannya itu.
Lalu mengangkat botol minumnya. Seakan ragu menawari botol berisi air minum itu. Lagipula ada bekas bibirnya disitu.
Memangnya mas Pandu mau minum di botol yang sama denganku. Apalagi ada bekasku disitu...
Gumam Kara dalam hatinya.
"Mau?"Ucap Kara. Ia tidak yakin Pandu akan mau minum di boto bekasnya.
Tak perlu menghitung detik. Botol itu segera diraih oleh Pandu.
Kara melongo melihatnya.
Mas Pandu beneran minum dari botolku?..
Kara heran.
Glekk...glekkk...
Tampaknya Pandu kehausan.
"Mas Pandu nggak apa apa minum bekas aku?"Tanya Kara polos.
Kara nyengir meledek.
"Kenapa memangnya?"Tuntas Pandu. Ia malu dan sebenarnya tak ingin diprotes.
"Selama ini bukannya mas Pandu jijik kalau minum bekas orang?"Kara terbahak.
"Aku juga pernah minum teh di gelasmu" Jawabnya datar.
"Itu dulu kan kamu minum dari sisi lain gelasku. Jadi nggak ada bekas bibirku"Kara meledek.
"Tapi ini?"Hahaaa...Kara tertawa.
"Itu ada bekas ludah aku mas"Ucap Kara seperti menakut nakuti.Kara kembali tertawa.
Pandu mengelap bibirnya dengan handuk kecil miliknya. Kara menyebalkan.
"Kenapa dia meledekku..menjengkelkan..."
Ahaahaa...hahaaa....
Kara tak henti hentinya tertawa.
"Sudah ayo pulang"Jawab Pandu ketus. Mukanya merah padam. Menurunkan topinya dan beranjak dari tempet itu. Tak peduli Kara mengikutinya atau tidak.
"Ehh mas tunggu,aku jangan ditinggal"Pekik Kara dan ikut menyusul langkah lebar Pandu.
Siall... Kenapa aku tidak merasa jijik. Apa aku benar benar sudah terbiasa dengan Kara. Apakah aku memang sudah menginginkannya..
Batin Pandu berkecamuk. Sibuk dengan pikirannya..
*Aahh sial sial... dia pasti akan meledekku terus menerus sampai rumah nanti.
Dasar bocah tengil*...
Umpat Pandu dalam hati..
Dalam perjalanan pulang pun Pandu tak banyak bicara. Hanya diam karena malu.
__ADS_1
Untung saja topi hitamnya sedikit menutupu wajah merahnya.