Pernikahan Kontrak Pak Guru

Pernikahan Kontrak Pak Guru
Beri Aku Waktu


__ADS_3

Setelah mendengar jawaban Kara.Tidak kasar juga tidak terdengar marah meledak ledak.


Namun suara itu menunjukan bahwa puncak kemarahan seorang wanita.


Ya benar,Kara tipe wanita yang marahnya tidak meledak ledak.Melainkam diam seribu bahasa,atau hanya menjawab seperlunya.Kara bukan tipe yang mengomel sepanjang kemarahannya.


Pandu pun menghela nafas kasar.Ia menyesal karena tidak berkabar pada Kara terlebih dahulu.


Seharusnya sebelum menemui kepala sekolah tadi,ia menghubungi Kara dulu.


Pandu juga tidak menyangka bahwa pertemuannya dengan kepala sekolah tidak sebentar.Beberapa hal yang memang sangat penting untuk dibicarakan segera.


Pandu tidak bisa menyela pembicaraannya dengan kepala sekolah menyangkut pentingnya hal itu.


"Pak Pandu cari siapa pak?"Tanya penjaja angkringan yang berjualan diarea gang.Cukup mengejutkan Pandu yang saat ini sedang tegang.


"Oh pak Karman.Saya tadi janjian sama teman saya pak.Tapi sepertinya terlalu lama nunggu.Jadi dia sudah pulang lebih dulu"Jawab pandu.


"Guru seni musik?"Tandas pak Karman yang asal ucap.Karena pak Karman sempat dengar saat Kara mengobrol dengan kedua siswinya.


Pandu pun tampak terkejut.Pak Karman ternyata mengamati.


Tak ingin berbohong akhirnya Pandu mengiyakan.


"Iya,bapak tau darimana?"Ucap Pandu diiringi pikirannya yang cemas.


"Lama sekali dia nunggu di kursi itu tadi,sempat beli minum di warung saya.Mungkin sejam lebih"Tutur pak Karman.Seorang laki laki tua yang ramah dan baik hati.


Pandu pun semakin resah.Merasa bersalah karena membuat Kara menunggu terlalu lama.


"Ya sudah kalau gitu terima kasih ya pak,saya pulang dulu"Ucap pandu terburu buru dan pergi setelah Pak Karman mengucapkan 'hati hati pak'.


Pandu menaikan kecepatan kendaraannya.Untung saja,jam setelah maghrib jalanan tidak terlalu ramai.Jika lambat sedikit saja.Kota Jogja akan oadat dipenuhi para masyarakat yang hendak jalan jalan keluar rumah.


Namun kesalnya beberapa kali Pandu berhenti karena terhenti di lampu merah.Pandu mengumpat dirinya sendiri.Uring uringan sepanjang jalan.


Pandu tiba di basement gedung apartmen.Memarkirkan kendaraannya dan berjalan cepat agar segera tiba di unitnya.


Saat tiba di unit,Pandu pun tergesa gesa membuka pintu dan mengedarkan pandangannya.Tak ia temukan Kara di ruangan depan.


Pandu melihat makan malam sudah tertata di meja dibalik tudung saji.Namun Panud mengabaikannya langsung saja bergegas menuju kamar.


Pandu masuk setelah mengetuk pintu namun tidak ada jawaban.


Istrinya sedang tertidur diranjang.Menghadap ke arah berlawanan daripada dirinya.


Meringkuk berbalut selimut hanya ujung rambutnya saja yang terlihat.


"Ra,kamu tidur?"Tanyanya lirih.Duduk ditepi ranjang.


Pandu ingin segera memberi penjelasan.Ingin membalikan tubuh Kara agar menghadapnya.


Hampir ia sentuh bahu Kara namun Pandu mengurungkannya.


"Maaf ya Ra,aku tidak ada maksut membuatmu nunggu lama"Pandu bergumam lirih.Lagi pula Kara sedang tidur.Jika Kara tidak tidur mungkin kata maaf sulit keluar dari mulutnya.


Tapi sayangnya dugaan Pandu salah.Kara hanya berpura pura tidur.Perasaannya terluka,marah dan rapuh.Air mata yang mengalir terus tanpa ia minta.Ingin berhenti menangis tapi getaran sakit dari hati membuat air mata tak kunjung berhenti alirannya.


Pandu memutuskan untuk mandi setelah beberapa saat menilik punggung Kara.


Suara pintu kamar mandi pun terdengar saat Pandu membuka dan menutup kembali.


Lalu Kara terisak,setelah susah payah ia tahan.


Jika hanya Pandu tidak jadi menjemputnya.Mungkin terlalu menyakitkan.Bisa jadi hanya kesal sesaat.Tapi kenapa Ra?


Apa kamu sangat ingin perasaanmu dibalas oleh Pandu?

__ADS_1


Kamu ingin sekali Pandu mencintaimu juga?


Tapi bagaimana perasaan Pandu?Dipaksa mencintaimu.


Apakah Pandu bisa membuat perasaannya mencintaimu juga?


Kara benar benar tidak tau apa yang harus ia lakukan.


Keinginan bersama dengan Pandu terus tumbuh di hatinya.Namun semakin ia dekat justru ia semakin banyak tertusuk duri.Itu teramat sakit dan menyesakan.


Apakah harus terus seperti ini?Cinta sepihak?


Memutuskan untuk membuat secangkir teh mungkin ide yang bagus.Kara keluar dari kamar menuju dapur.


Membuat secangkir teh hangat dan menikmatinya di pinggir jendela besar.


Ia duduk tepat dipinggiran jendela.Melipat kedua kakinya didepan dadanya.Dan ia memeluk kakinya itu.Menyandarkan kepalanya diatas lutut.Menatap keluar ke jendela.Lampu kelap kelip kota Jogja yang seharusnya tampak romantis.


Namun malam ini sama sekali tidak terasa romantis.Romantisme kota Jogja hilang begitu saja bagi Kara.


Kara paling suka melihat pendar cahaya cahaya lampu kelap kelip yang ia lihat dari kejauhan.Seperti waktu Pandu mengajaknya di bukit bintang.


Tiba tiba ia memiliki jalan keluar dipikirannya.


'Aku harus pergi,dari pada terus sakit seperti ini'


Namun terkadang mental juangnya muncul.Ingin bertahan meski harus berdarah darah.


Sedikit demi sedikit teh hangat yang ia sesap.Tampaknya memiliki sedikit peran untuk memperbaiki pikirannya yang sedang kalut.


Terdengar suara Pandu membuka tudung saji.Bunyi sendok beradu dengan piring.Pandu mengambil makanannya kesebuah piring.


Namun Kara tak menoleh sedikitpun.


"Kamu belum makan kan?Ayo makan dulu"Hibur Pandu.Meskipun suara yang terdengar dingin.


Pandu duduk dihadapan Kara.Beberapa saat suasana hening.Hingga akhirnya Pandu membuka suara.


"Katanya mau menuai pahala.Kamu tidak makan,kamu nanti sakit.Bagaimana caramu menuai pahalanya?"


Bukan suara yang lirih dan lemah lembut.Dengan sifat Pandu yang kaku jauh dari kata romantis lemah lembut.


Kara tetap tak bergerak dari posisinya.


Pandu menarik perlahan tangan Kara.


Pada akhirnya Kara mau mendongakan kepalanya.


Mata mereka beradu pandangan.Tatapan Kara yang menggambarkan hatinya yang sedang rapuh kesal setengah mati.


Tapi Pandu tampak biasa saja.


Pandu menyerahkan piring itu ke pangkuan Kara.Membimbing tangan Kara agar memegang pring itu dengan benar.


Pandu lalu pergi begitu saja.Tentu saja membuat hati Kara sangat kesal.


Enak sekali dia.Seperti tidak berbuat salah.


Batin Kara kesal bukan main.Pandangan sinis pada pria yang sedang berjalan pergi membelakanginya.


Ingin sekali piring ditangannya ini dilempar tepat dikepalanya.


Tapi Pandu tidak setega itu.Pandu justru mengambil sepiring lagi untuk dirinya dan dibawanya pula ke tempat Kara duduk.


Pandu sekarang sudah dihadapan Kara.Dengan sepiring nasi untuknya.Meletakannya dihadapan Kara lalu pergi lagi untuk mengambil dua gelas air putih untuknya dan Kara.


Diletakan juga di samping piringnya.

__ADS_1


Ponsel yang tadinya di dalam sakunya juga ia letakan bersebelahan.


Pandu menatap Kara,sebenarnya Pandu menatap kasian pada Kara.Melayani Kara bentuk penebusan rasa bersalahnya.


"Sudah,jangan lihat aku terus.Makan dulu"Ucap Pandu.


Pandu yang lebih dulu memasukan sendok demi sendok makanan ke dalam mulutnya.


Kara langsung mengalihkan pandangannya.


Dan perlahan menyuapkan makanannya meskipun hanya seujung sendok.


Bagaimana bisa nafsu makan jika hati yang masih luar biasa kesal itu.Dan penyebabnya ada dihadapannya sekarang.Menelan makanan yang sudah ia kunyah saja terasa berat menyangkut di tenggorokan.


Pandu membereskan piring dan gelas bekas makanan mereka.


Menyuci piring juga dilakukan oleh Pandu.


"Maafin aku"Ucap Pandu yang sudah berada disisi Kara.Masih ditempat yang sama dipinggiran jendela.


"Harusnya saya kasih kabar kamu dulu"


"Aku yang harusnya membiasakan diri untuk tidak bergantung sama kamu.Harusnya aku tidak menerima tawaran kamu tadi pagi"Ucap Kara,seiring dadanya yang nyeri.


"Jangan begitu"Sanggah Pandu.


"Jangan begitu bagaimana maksud kamu mas?aku sudah bilang kan,kamu yang mau kita urus urusan kita masing masing.Harusnya kamu tidak heran kalau aku mau lakukan apa apa sendiri.Justru aku yang melanggar janji awal kita.Aku yang mau urus keperluan kamu"Kara sudah tidak tahan menahannya.


"Ya aku tau.Termasuk perasaan kamu?"Ucapan Pandu yang terlalu terus terang.Tampaknya terdengar menyentuh hati Kara.Sentuhan perih terasa.


"Terima kasih sudah mencintaiku.Aku tidak menyalahkan kamu"


Kalimat Pandu membuat Kara mendongakan kepala menatap Pandu.


"Boleh aku minta waktu sama kamu Ra?"Pinta Pandu.


"Waktu untuk apa mas?"Kara berkata tegas.Tidak ingin tampak lemah didepan Pandu.


"Untuk"Pandu ragu mengatakannya.Sempat diam beberapa saat.


"Untuk memutuskan sesuatu yang selama ini masih aku genggam.Aku tau ini menyakitkan buat kamu.Tapi kamu tau kan cinta tidak bisa memilih.Aku tidak bisa begitu saja mencintaimu setelah kamu menyatakan perasaanmu"


"Sudahlah mas aku tau itu kok.Aku juga sudah putuskan untuk pasrah.Terserah kamu mau cinta sama aku atau tidak.Sekarang aku sedang tidak ingin bicarakan itu"Kara langsung beranjak dan pergi meninggalkan Pandu.


Pandu memang tak memikirkan waktu yang tepat untuk membahas ini.Padahal dirinya sendiri sudah pernah rapuh saat Natasha meninggalkannya tanpa kabar.


Pandu merasa frustasi kepalan tangannya meninju jendela.


Seketika dia pun terpikir oleh ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya.Melihat kondisi Kara saat ini Pandu merasakan betapa sakit di dalam hatinya.Meskipun dihadapan Pandu,Kara berusaha sebaik mungkin.Seolah Kara sedang tidak sedang rapuh.


**bersambung.


Mohon sabar,ini ujian🥰disaat author lambat up.


Dikarenakan aktifitas kehidupan nyata author itu udah kayak manager artis😂


Saya harap para readers tercinta sabar menunggu.


Terima kasih yang sudah mendukung vote.


Eitsss jangan bosen bosen dukung saya yups.


Rajin vote buat novel ini.


Karena vote dari kalian menjadi pembakar semangat buat author.


Semoga yang sudah berkenan vote rejekinya dimudahkan.

__ADS_1


Aamiin😘😘


__ADS_2