
Adzan maghrib telah berkumandang.Mereka bersiap siap untuk sholat maghrib berjama'ah dirumah.
Kali ini mas Saka yang menjadi imamnya.Para makmum menata merapatkan posisinya.
Kembali Kara dibuat bahagia sore ini.Benar benar keluarga yang hangat.
Mas Saka sebagus itu suaranya,padahal keliatannya orangnya slengekan gitu.Sama bagusnya dengan mas Pandu.Terima kasih ya Allah,KAU telah menempatkanku diposisi ini.Aku tidak tau apa yang akan terjadi lagi di pernikahanku ini.Yang jelas aku bangga berada ditengah tengah mereka.Kehangatan keluarga yang nggak pernah aku dapatkan di keluargaku.
Ibu yang selalu sibuk,tak lain dengan ayah.Aku hanya selalu ditemani sama mbok Inah pengasuh sekaligus asisten rumah tangga dirumah.
Bahkan aku nggak pernah melihat apalagi merasakan sholat berjama'ah dengan orang tuaku.Dan sepetinya tidak akan pernah terjadi.Apalagi aku sudah menikah.Bersyukur banget mas Pandu menikahiku meskipun..
Batin Kara,hatinya terasa hangat.Bahagia.
Namun ucapannya dalam hati menggantung,Kara pun saat ini tidak ingin menganggap pernikahan ini kontrak.Biarlah ia merasakan kebahagiaan untuk sementara.Yang bisa ia lakukan adalah pasrah.
Jika dalam waktu dekat ini Pandu akan menceraikannya.Hanya keikhlasan yang ia pinta pada sang pencipta hatinya itu.Tidak berharap banyak.
Setelah sholat berjamaah ibu menuju ke dapur.Disusul oleh Dewi,dengan cepat tanggap Kara pun ikut menyusul mereka.
Sedangkan Via dan Vio bertugas menemani para bocil bermain sambil merapikan sajadah dan mukena.
Kara tersenyum tipis.
Bahkan dirumah ini mereka berbagi tugas tanpa diperintah.
Dan Pandu mengobrol dengan Saka di ruang tengah,tak jauh dari meja makan.Yang disana para menantu wanita mondar mandir mempersiapkan makan malam.
"Mas seharusnya mas nggak perlu beliin aku tiket"
Pandu merasa sungkan menerima hadiah dari Saka.Tiket Jogja ke Belitung tidaklah murah apalagi ini PP untuk dua orang.
"Udah lah Ndu,nggak apa apa"
Ucap Saka tampak kali ini dia tidak sedang bercanda.
"Tapi mas,harga tiket Jogja Belitung PP itu nggak murah lho.Apalagi dua orang lho.Aku tau kebutuhan mas udah banyak.Apalagi susunya Naira sama Sadewa pasti mahal"
Ucap Pandu merasa sangat sungkan menerimanya.Berusaha menunjukan ketidak enakan hatinya itu.
__ADS_1
"Kamu pikir ini gratis apa Ndu?"Timpal Saka.Raut wajahnya serius tampak sedang tidak bercanda.Tapi bagaimanapun ini mas Saka.Yang bisa merubah raut wajahnya namun intinya tetap ngelawak.
Jika tidak bisa hati hati menanggapi bakal bisa kena prank.
Pandu terkejut.Ternyata dugaannya salah.Mas Saka bakal minta ganti uang untuk membeli tiketnya.Tapi itupun tidak masalah.Malah justru Pandu akan tidak merasa terbebani.
"Iya nggak apa apa,nanti uangnya aku transfer aja buat ganti buat beli tiketnya"Ucap Pandu.
Dewi datang untuk memanggil suami dan adik iparnya segera menuju meja makan.Makan malam sudah siap.Namun tampaknya Pandu dan Saka sedang asik mengobrol.Jadi Dewi ikut menyumak dulu,nggak enak kalau memotong pembicaraan mereka.
Dewi pun duduk disebelah Saka.
"Nggak perlu transfer transfer.Bukan itu yang aku mau Ndu"Saka masih terlihat serius.
"Apa yang ditransfer sih mas?"Dewi ingin tau.
"Itu lho uang beli tiket bulan madu mereka.Katanya mau dituker,nanti Pandu mau transfer ke aku.Tapi ku bilang nggak usah"Ucap Saka menjelaskan pada Dewi yang baru saja bergabung.
Dewi manggut manggut paham.
"Oh itu,iya iya"
Dewi pun tidak paham dengan maksud Saka.
"Iya mas,tapi Pandu mau transfer nggak mau"
"Maksudku tiketnya nggak usah dituker uang,tapi pulang harus bawa oleh oleh.Buat tambah temen Naira sama Sadewa"
Saka menyampaikan maksudnya dengan penuh teka teki.
"Masudmu itu opo sih mas.Nggak ngerti aku"Ucap pandu bingung.
Dewi yang sudah paham dengan maksud Saka itu senyum senyum.
"Maksudnya kamu itu dikasih tiket gratis buat bulan madu.Biar sepulang bulan madu nanti,Kara terus hamil.Gitu aja bingung to Ndu"
Pandu berdecak,menipiskan bibirnya.Tampak kesal.
Yang membuatnya kebingungan sejak tadi rupanya menyangkut kehamilam Kara.
__ADS_1
Mana mungkin Kara hamil mas,mbak.Bahkan sampai saat ini Kara belum pernah kusentuh secara intim.Bikin aku pusing aja.
Pandu berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
"Mas kayaknya makan malam udah siap"
"Helehh,isin Pandu isin"Ledek Saka.
"Wis mas wis.Jangan ngledek Pandu terus,mukanya udah merah tu"Dewi menahan tawanya karena melihat Pandu yang salah tingkah mengalihkan pembicaraan.
Pandu tidak menanggapi kedua kakaknya itu.Terlalu sering mengerjainya.Dan Pandu tidak suka banyak basa basi.Sedangkan Kakak dan iparnya itu sama sama suka bercanda.
Pandu memutuskan untuk lebih baik menuju meja makan.Perutnya sudah sangat lapar.Membayangkan bahwa ibunya pasti masak makanan yang selalu memanjakan lidahnya.
"Kamu mau bulan juga nggak?"Ucap Saka menggoda Dewi.
Dewi langsung melotot.
"Saka Yudistira"Satu tangan Dewi dipinggang dan satu tangan lagi untuk mengarahkan wajah Saka pada kedua anaknya yang sedang bermain.
"Lihat,anakmu masih se krucil krucil gtu kok mau bulan madu"
Saka nyengir.
"Cuma nawarin,mau syukur nggak mau ya udah kok"
Ucapnya lirih dengan pandangan menggoda Dewi.
Dewi menipiskan bibirnya.
"Ra umum"Dewi bergumam langsung meninggalkan Saka yang ngelantur.Tapi Saka pun langsung mengikuti Dewi menuju meja makan.Dewi paham sekali bahwa Saka memang suka sekali menggodanya,bercanda hampir di setiap suasana.
(Ra umum\=Tidak lumrah)
*bersambung.
Jangan lupa untuk terus dukung author dengan cara vote dan rate bintang 5 ya.
Terima kasih ya bagi yang udah selalu dukung author agar author tambah semangat nulisnya.
__ADS_1
Sampai ketemu di part selanjutnya😍😘😘