Pernikahan Kontrak Pak Guru

Pernikahan Kontrak Pak Guru
Menjaga Rahasia


__ADS_3

Suasana riuh siswa siswi SMA Harapan. Banyak sekali aktifitas yang mereka lakukan,sangat beragam.


Ya benar acara Harapan Fair sedang berlangsung.


Ada live musik yang tak lain adalah anak didik Kara dan Farhan. Sementara itu puluhan stan bazar. Yang isinya berbagai pameran hasil karya siswa siswi SMA. Beberapa temuan yang meng edukasi.


Dan banyak sekali lomba. Mereka juga mengundang siswa siswi SD,SMP untuk melihat dan mengenal sekolah SMA Harapan secara lebih dekat.


Agar banyak orang tau tentang isi dari sekolah tersebut. Seberapa menariknya jika suatu saat mereka bersekolah disini.


Acara ini mereka adakan setiap satu tahun sekali menjelang kenaikan. Dan bertujuan untuk mengasah bakat siswa siswi di SMA itu.


"Ra,makan yuk. Daritadi kamu cuma makan roti sepotong aja lho" Ajak Radit dengan penuh perhatian.


Kara yang sedang memperhatikan penampilan anak didiknya. di sudut panggung.


"Apa?" Kara tidak begitu jelas mendengar suara Radit. Dengan spontan Kara mendekatkam telinganya ke arah Radit.


"Aku nggak denger Dit" Jelasnya.


Ya tentu saja gemuruh musik menganggu pendengaran orang disekitar.


Raditpun mendekatkan wajahnya ke arah telinga Kara.


"Ayo makaaann..Kamu baru makan sepotong roti tadi pagi" Raditpun juga menambah volume suaranya.


"Aku belum lapar" Sahut Kara bergantian mendekatkan mulutnya ke telinga Radit agar suara tetap terdengar oleh soundsystem yang berdentum itu.


"Hei,kamu harus makan" Teriak Radit lagi ke telinga Kara.


"Nanti kalau aku sudah lapaaar" Kara tak kalah berteriak.


Kara sedang merasa antusias karena pertama kali ia mendampingi anak didiknya tampil.


Seakan pandangan matanya lekat ke arah panggung.


Dari sudut gedung itu ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka berdua. Tentu saja itu Pak Guru tampan yang bernama Pandu.


Pandu terus mengawasi kedua orang yang sedang berada di tepi panggung.


Dengan wajahnya yang datar namun tampak memendam perasaan. Perasaan apa itu?


Entahlah..


"Sedang membicarakan apa mereka,kenapa Kara sesekali tergelak setelah Radit mengucapkan sesuatu dekat telinganya?"


Sampai Pandu tak sadar bahwa disampingnya sudah ada Pak Guntur.


"Kalau memang suka,dekati saja" Guntur bersidekap berdiri disamping Pandu. Suaranya lirih Guntur tak mau ada yang mendengar.


Karena Guntur paham pada sifat temannya yang satu ini. Sangatlah tidak ingin jika urusan pribadinya diketahui oleh banyak orang.


Sekejap Pandu mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Tugasmu sudah selesai?" Tak mau menanggapu ledekan Guntur,justru Pandu menodong Guntur dengan pertanyaan.


"Tentu sudah beres,Guntur" Guntur sambil menepuk dadanya,membanggakan diri dengan sikap jenakanya itu.


"Eh tapi salah satu dari kalian harus ada yang mengalah" Guntur tak menyerah memprovokasi Pandu.


Pandu berdecak "Kerjakan tugasmu dengan benar"


Pandu terlihat kaku.


"Tugasku ngasih tau kamu pak Pandu,daripada salah satu dari kalian dipecat?mending keluar duluan to?" Tandas Guntur seakan mengerti benar perasaan Pandu.


Glekk..


Pandu sedikit khawatir.


"Apa Guntur rau hal ini?ah pasti hanya sebuah kebetulan"Pandu menepis kecurigaannya.


"Itu lihat ada rombongan SMP 1 datang,bantu handle" Pandu mengalihkannya.


Agar Guntur berhenti mencecarnya. Ya bisa bisa bocor rahasia ini.


pandu menunjuk ke arah pintu masuk gedung.


"Lah,mengalihkan pembicaraan" ucap Guntur meledek. Namun kenyataanya memang seperti itu. Guntur terkekeh sambil melangkah meninggalkan Pandu yang masih berdiri disana.


Setelah lima langkah Guntur kembali membalikan badannya ke arah Pandu.


"Eh inget pak Pandu, jangan sampai miss Kara direbut temannya itu si Radit. Sepertinya mereka sangat dekat" Dan segera menjauh pergi,sebelum Pandu memarahinya.


Sambil terkekeh.


Raut wajah Pandu tampak jengah dengan Guntur.


Dan tak lupa berdecak kesal dengan ulah Guntur.


"Guntur?apa sebenarnya dia tau?" Pandu sibuk dengan pikirannya sendiri. Sementara ia kembali menujukan pandangannya ke area panggung.


"Loh dimana mereka?"Pandu cemas,karena dua orang yang sejak tadi ia amati sudah tak berada di tempatnya. Itu karena Pandu meladeni Guntur.


"ahh siall. Dimana mereka?mau ngapain?kemana perginya?Apa mereka pergi berdua?" Pandu tampah gelisah menyusuri kerumunan orang mencari apa yang dia cari. Seperti kehilangan jejak.


Tiba tiba ada yang menepuk pundaknya.


Seseorang membisikan,dipastikam orang lain tidak ada yang mendengar. Ia adalah Farhan.


"Lagi makan di kantin,sama anak anak yang lain juga"

__ADS_1


Dari raut wajah Pandu terlihat lega meskipun ia selalu menunjukan wajah yang seakan tak peduli.


"Siapa?"Tanya Pandu mempertahankan gengsinya.


"Istri bapak lah,siapa lagi?" Tandas Farhan. Farhan menyeringai.


Farhan menertawakan tingkah Pandu yang jelas jelas kawatir mencari orang di kerumunan. Tapi masih saja gengsi tidak mengakuinya.


"Bisa pelankan suaramu? Bagaimana jika ada yang mendengar?Siapa juga yang mencarinya,aku tidak mencarinya" khawatir Pandu.


Perasaan Pandu sedikit marah. Entahlah marah karena Kara hilang dari pandangannya,atau karena Farhan membahas soal istri di sekolah ini.


Farhan mencibirkan bibirnya. Seakan tidak percaya pada ucapan guru tampan bergengsi tinggi itu.


Harapan Fair berjalan lancar. Acara demi acara terlewati dengan baik. Tampaknya acara ini berhasil terlaksana sesuai harapan.


Dari hasil penilaian yang dituliskan oleh tamu di diselembar kertas. Dan dimasukan ke dalam kotak. Setelah di bacakan sembilan puluh persen mereka sangat menyukai acara ini.


Para panitia penyelenggara sangat senang. Lelahpun seakan terbayar oleh hasil kerja keras mereka yang sudah membuat banyak orang terhibur. Dan juga banyak mengedukasi bagi siswa siswi yang berkunjung.


Sebagian peralatan mulai dibereskan. Semua tenaga dikerahkan untuk membuat kondisi tempat kembali rapi seperti semula.


Pandu sedang sibuk mengatur kerja panitia dan ikut membereskan peralatan. Apalagi Pandu sebagai ketua penyelenggara. Harus bertanggungjawab atas hal ini.


Banyak siswa siswi yang bukan panitia pun juga ikut membantu. Semua orang sibuk dan berlalu lalang.


"Wah kasian ya miss Kara"


"Untung mas Radit ada disitu jadi cepat ditolong"


Dua siswi berjalan sambil mengobrol.


Deg.. Seketika dada Pandu seperti dihantam.


"Kara" Pikirannya langsung tertuju pada istrinya itu.


*Ada apa?


Kenapa dia*?


Tak pikir lama Pandu bergegas menuju UKS.


Jika ada yang sakut pasti dibawa kesana.


Pandu pun perasaannya berkecamuk.


Apa aku sedang marah?ahh kenapa jantungku terasa sesak sekali. Seakan darah mengalir naik hingga ke kepala. Kepalaku rasanya menjadi kaku dan panas.


Pandu berjalan cepat sesekali berlari kecil menuju ruang UKS.


Beberapa orang melihatnya sedikit aneh. Namun tidak memikirnya lebih lagi.


"Pak Pandu buru buru banget" gerutu salah satu murid pada temannya.


Namun semua teralihkan karena pekerjaan mereka belum juga selesai.


Sesampai di UKS. Ada Radit disana,dua guru perempuan. Bu Asti dan Bu Heni.


"Oh,pak Pandu" Sapa bu Asti pada Pandu.


Pandu harus menjaga sikapnya. Meskipun rasa jantungnya masih tak normal. Masib terasa sesak.


Kedua guru perempuan sedikit heran. Pak Pandu mau menjenguk miss Kara. Tampaknya nafasnya juga terengah engah. Sepertinya pak Pandu menuju kesini dengan berlari. Itulah isi pikiran mereka.


Ahh pak Pandu pasti kawatir dengan miss Kara karena ini adalah event yang dia pimpin. Jadi pak Pandu harus bertanggung jawab penuh atas hal ini.


Tidak mau ambil pusing mereka berdua berusaha menyadarkan Kara yang tak sadarkan diri. Dengan memberikan aroma minyak kayu putih pada hidung Kara. Berharap Kara cepat sadar.


Semuanya panik.


"Apa yang dialami miss Kara?" Pandu semakin mendekat ke ranjang UKS.


Entahlah kenapa dadanya semakin sesak melihat istrinya tergolek lemas tak sadarkan diri. Namun Pandu tidak mau gegabah, dia harus masih tetap menjaga sikapnya.


Tahan Ndu tahan...ini di sekolahan.


"Tadi dia terpeleset saat turun dari tangga,saya yang lihat. Untung ada mas Radit yang langsung bawa kesini pak"sm Sahut bu Heni.


Ya,Radit dengan sigap menggendong Kara ke UKS.


"Miss Kara,bangun miss"Pandu menepuk pipi Kara. Namun Kara tak bangun.


Tak lama kepala sekolah datang dan guru lain juga Farhan.


"Bagaimana keadaannya?"


Kepala sekolah pun tak kalah kawatir.


"Miss Kara belum sadar juga pak"


Farhan segera mendekat ditepi ranjang.


"Ra bangun Ra,ini aku Farhan" Farhan menepuk wajah Kara.


Ya Tuhan kamu kenapa Ra..


Farhan amat sangat kawatir. Sahabat kecilnya itu tidak mau bangun juga.


"Miss Kara bangun miss,Miss Kara. Tolong dengar saya. Ini saya Pandu. Dengarkan saya miss. Miss Kara bangun,bangun miss"Pandu terus berusaha membangunkannya. Terlihat panik, dadanya begitu sesak melihat istrinya tak kunjung sadar.


Agak terlihat tak biasa. Pandu terlihat sangat kawatir disana. Bagi mereka yang tidak mengetahui bahwa mereka sepasang suami istri. Ini adalah hal yang tidak biasa. Pak Pandu sangat menunjukan pedulinya pada wanita.

__ADS_1


Tak lama Pandu berusaha menyadarkan.


"Eh.." Kara melenguh lirih.


Tampaknya ia sudah sadar. Terlihat lemah dan menahan sakit. Setelab beberapa waktu tak sadar dan membuat semua khawatir. Terutama suami yang ia cintai itu.


Ya,mungkin ada bagian yang terluka ditubuhnya.


"Ya Tuhan aku sangat ingin memeluknya,Tapi egh..."


Wajah Pandu seketika tampak lebih lega. Dari sisi lain Farhan hanya bisa sesekali memperhatikan Pandu yang sedang khawatir itu


"Kamu sangat khawatir pada istrimu pak. Terima kasih."


Dalam hati Farhan.


Farhan pun tak kalah lega melihat sahabatanya sadar.


Kara perlahan membuka matanya. tampak sangat lemas.


"Ke..kenapa semuanya disini?" lirih Kara. Dia merasakan tubuhnya seperti tak bertulang.


Dan sedikit pusing.


"Miss Kara jatuh tadi,mas Radit yang bawa miss Kara ke UKS. Miss Kara pingsan. Syukurlah sekarang sudah sadar" bu Heni senyum. Karena ikut lega Kara sudah sadar.


"Pingsan?aku pingsan?" ucap kara lirih.


"iya Ra,apa yang kamu rasakan?"tanya Farhan.


"Aku,,lemas"ucapnya lirih.


"Ehm..miss Kara harus dibawa kerumah sakit"Sela Pandu.


"Biar diperiksa dokter,jadi kita tau kondisi miss Kara yang sebenarnya"


"Baik,aku setuju"Sahut Farhan segera.


"Aku ikut"Radit menyeru tak mau ketinggalan ikut andil.


Farhan melempar pandangan ke Pandu seakan bilang "Aku akan atasi anak ini"


"Dit,bisa tolong kamu membantuku cek murid muridku. Apa mereka sudah selesai bereskan alat musikny?" Farhan membuat Radit supaya tidak perlu ikut ke rumah sakit.


"Tapi Han" Radit agaknya ingin memprotes. Namun tak ada yang bisa ia lakukan selain menurut. Malu jika akan berdebat disaat di ruangan itu sedang banyak orang.


Setelah melihat isyarat Farhan agar ia menuruti. Mau tidak mau Radit menurut.


"Ra,maaf aku tidak bisa ikut. Semoga kamu cepat sembuh. Nanti sepulang dari sini aku hubungi kamu. Aku akan menjengukmu dirumah"


Ucap Radit menyemangati temannya itu.


Seketika raut wajah Pandu tampak berubah. Ya tentu saja karena omongan Radit yang akan menjenguk dirumah.


Kara membalas senyuman.


"Terima kasih ya Radit"


"Pak,bu biar saya dan pak Pandu saja yang membawa miss Kara ke rumah sakit" Farhan segera memotong pembicaraan,dan mengatakan demikian pada kepala sekolah dan guru.


"Ya benar,ini event yang saya pimpin. Jadi saya yang harus bertanggung jawab atas ini" Pandu membuat alasan yang paling logis.


"Emm,saya boleh ikut?kan kalau sama sama perempuan biat nyaman nanti kalau miss Kara perlu sesuatu" sahut bu Heni.


"Baiklah,bu Heni ikut dengan pak Pandu dan pak Farhan. Kalau ada apa apa langsung hubungi saya"


"Aduh kenapa ikut sih" batin Pandu.


"Tentu saja bu,ayo" sahut Farhan lalu melijat ke arah Pandu.


Memberi isyarat bahwa semua akan baik baik saja.


Namun Pandu masih tak bisa mencerna.


"Kalau bu Heni ikut,berarti aku harus berpura pura bukan suami istri,ahh sudahlah berpura pura terus.."


Mereka membantu Kara untuk bangun dari tempat tidurnya.


Lalu duduk di kursi roda.


"Biar aku saja,Dengan ini orang tidak merasa aneh" ucap Farhan lirih pada Pandu. Sembari mendorong kursi roda tanpa persetujuan Pandu lebih dulu.


"Baiklah"


Sikap Pandu seakan mengatakan demikian.


"Kenapa aku kesal,harusnya aku yang mendorongnya. Harusnya aku yang turun tangan langsung" dalam hati Pandu berkecamuk.


Tak lain Farhan hanya bertujuan untuk menjaga sikap dihadapan orang banyak. Farhan ingin membantu mereka menyembunyikan hubungan mereka. Meski entah sampai kapan.


"Semoga kau segera mencintai Kara. Aku tau kau mulai menyukainya" Batin Farhan sambil mendorong sahabat kecilnya itu di kursi roda.


"Ayolah pak,buang gengsimu jauh jauh.Lihat dirimu sekarang tampak seperti kebakaran jenggot melihat Kara kondisinya seperti ini"


Sementara Pandu sibuk menjaga sikapnya. Meskipun sesak didadanya sudah mulai mereda. Tapi entah kenapa sekarang bertambah perasaan penasaran.


Tentu saja penasaran akan kondisi Kara. Rasanya ingin cepat sampai kerumah sakit. Ingin segera tau kondisi Kara yang sebenarnya.


Pandu hanya ingin memastikan bahwa tidak ada cidera yang serius pada Kara.


"Apakah Kara akan baik baik saja? Tapi bagaimana jika terjadi sesuatu padamu. Bagaimana jika kau akan mengalami akibat yang serius karena kecelakaan ini? oh tidak aku tidak ingin itilu terjadi.Karaa.."

__ADS_1


Pikiran Pandu terus saja bergelut. Seakan mulutnya ingin berteriak.


__ADS_2