
Beberapa menit berlalu dalam keheningan.
Kara sibuk dengan ponselnya bermain game.
Begitu pula dengan Pandu yang sedang membalas chat soal pekerjaan di sekolah.Beberapa chat dari murid menanyakan soal tugas tugas.
Tak jarang para murid perempuan chat dengan alasan tugas.Padahal mereka hanya modus agar bisa chatt dengan guru tampannya itu.Ahhh anak muda jaman sekarang punya seribu cara untuk pendekatan.Tak peduli itu adalah gurunya.Bagaimana bisa dilewatkan guru setampan itu.
Pandu juga sempat menerima telepon dari orang toko.
Iya,Pandu memiliki sebuah minimarket.Entahlah ini usaha sampingan atau malah usaha utamanya.Yang jelas gajinya sebagai guru tak sebanding dengan pendapatan dari minimarket 24Jam nya itu.
Kara mulai bosan.Meletakkan ponselnya mendekat ke arah jendela.Terhibur bisa melihat lalu lalang kendaraan dari lantai 4.Memandang luas pemandangan pinggiran kota yang padat penduduk.
Lama Kara tertegun melihat pemandangan itu.
"Ehm"
Pandu berdehem membuyarkan pandangan Kara.
"Egh Pak.Sudah telponnya?"
"Sudah"
Pandu mendekat ikut memandang ke jendela.
"Kamu lihat apa?"
"Lihat orang lewat"
Kara tersenyum jarinya menunjuk ke arah jalanan yang padat merayap.Sore hari saatnya orang orang pualng bekerja.
Pandu ikut duduk dipinggir jendela.
Sejenak ikut melihat kearah luar.Ya memang mengasikan melihat semangat orang orang yang bergegas pulang menemui keluarganya.
Sore itu jogja lumayan macet.
Krucuuuukkkk.....
Wajah Kara memerah karena suara itu berasal dari perut Kara.Seenaknya alarm itu berbunyi tanpa diminta.
Pandu menahan senyum ketika mendengarnya.
Kara sangat malu.
Pak Pandu sudah pasti mendengarnya.
Ingin rasanya melompat diketinggian gedung ini saking malunya.
Perut nakal,jangan sekarang donk protesnya.Iya tau kau belum diisi sejak siang tadi.
"Kau lapar"
"Ti tidak pak"
Kara berbohong menyembunyikan rasa malu nya.
"Tidak perlu berbohong,perutmu sudah protes"
Kara hanya nyengir wajahnya merah padam.
__ADS_1
"Dilemari dapur ada mi instan,ada telur juga dikulkas.Kalau kau mau kau bisa memasaknya"
"Tidak usah pak,biar saya makan dirumah saja nanti"
"Kau mau merepotkanku karna pingsan kelaparan disini?"
"Bukan begitu maksud saya pak"
"Lalu tunggu apa lagi?tidak masalah jika kau ingin makan disini.Kalu kau keluar sekarang mantan pacarmu itu pasti masih ada disekitar sini"
Kara diam tidak mematuhi perintah Pandu.Sebenarnya dia sangat lapar.Kenapa Pak Pandu tidak mau membuatkan mi instan untukku sih.Ini kan rumahnya.Seharusnya dia menjamu tamunya.
Ehh bukan tamu,tapi semacam anak kucing yang sedang ia selamatkan.Tapi anak kucing biasanya dikasih makan juga kan?
Lagipula aku tidak bisa bagaimana cara memasak mi instan.Aku mau jika sampai Pak Pandu tau aku tidak bisa masak mi instan.
Jika kami menikah nanti Pak Pandu tidak akan menyuruhku memasak kan?Kami akan menjalani hidup kami masing masing meskipun tinggal satu atap.
Lama terdiam dengan segala pikirannya.Perut Kara kembali berdering bagaikan jam weker.Sangat nyaring ditelinga mereka berdua.
"Ayo kedapur,kutemani kau memasak mi instan"
Pandu menarik tangan Kara yang sedang kelaparan itu.
Entahlah Kara sudah tak punya cara lagi mengatasi rasa malunya.
Lagi lagi Kara bingung bagaimana harus memulai.
Ahh iya panci,Kara mencari panci.Sedangkan Pandu mengambil sebungkus mi instan dan sebutir telur.Beberapa potong sayuran,bakso sebagai pelengkap.
Setelah kara menemukan panci dengan sangat percaya diri Kara membuka kemasan mi instan.Lalu memasukannya kedalam panci.
Setelah itu Kara mengisi air dalam panci itu.Namun sebelum ia memutar keran tangan pandu menahannya.
Tanpa berkata apapun Pandu mengambil alih panci.
Mengeluarkan mi dari panci dan mengisi airnya.
Dan proses seterusnya dilakukan oleh Pandu.
Kara menatapnya bingung dan malu.
"Kau sudah pernah masak mi instan sebelumnya?"
Tanya Pandu sambil menunggu air mendidih.
Kara menggelengkan kepala.
"Sekalipun?"
Tatapannya keheranan.
Kara menganggukan kepala menatap Pandu yang tampak heran melihat kebodohannya.
Pandu terkekeh.Kara pun takjub melihat pria dihadapannya tersenyum.Ketampanannya mengalihkan dunia Kara.
Apa dia malaikat,senyumnya mematikam sekali.Pantas saja dia jadi idola di sekolah.
Aku baru sadar dia se tampan ini.Bahkan terlalu tampan.
"Kau sedang tidak berbohong kan?Apa kau juga belum pernah melihat tutorial memasak mi instan?"
__ADS_1
"Pernah melihat video di instagram"
Jawab Kara lirih dan malu.Apalagi pria dihadapannya ini masih tampak terhibur atas kebodohannya ini.
"Kenapa kau tidak bisa?Caramu tadi salah"
Pandu pun masih terkekeh.Masih ada manusia sebodoh itu.Memasak mi instan saja tidak bisa.Jelas jelas dikemasannya juga sudah ada cara memasaknya.
Pandu berdecak menggeleng gelengkan kepala.Sungguh kebodohan gadis ini sangat menghiburnya.
"Egh..iya.Mungkin sudah terlalu lapar"
Entah apa motif Kara membuat alasan ini.Sudah tidak ada alasan yang keren melintas dikepalanya.Alasan yang justru memalukan.Sudahlah seakan Kara jatuh pada lumpur dan semakin tenggelam.
Aaaargghhh Kara ingin berteriak.
"Ck.Yasudah aku akan membuatnya untukmu"
Kara memperhatikan cara Pandu membuat mi instan.Sepertinya dia memang sudah terbiasa membuatnya sendiri.Tentu saja karena dia tinggal disini sendiri.
"Pak saya ke toilet dulu ya"
Rasa malu masih menyelimuti.Kara berniat buang air kecil dan membasuh wajahnya.Berharap malu diwajahnya akan hanyut bersama air di lubang pembuangan.
Setelah beberapa menit lamanya Kara kembali.Pikiran dan wajahnya juga tampak lebih segar sekarang.
"Makanlah,sebelum dingin"
Semangkuk besar sudah ada dimeja makan.Pandu memutuskan membuat untuk dua porsi.Untuknya dan Kara.
Pandu mengambilkan mi instan kedalam mangkuk yang lebih kecil untuk Kara.
Aur liur Kara hampir saja menetes.Mi instan kuah panas dengan banyak toping,asap dan aroma sedap mengepung penciuman Kara.Sangat menggiurkan sekali dalam posisi kelaparan seperti ini.
"Terima kasih"
Kara menerima mangkuk pemberian Pandu.
Mereka mulai makan.Sama sama lahap.
Pandu juga sedang merasa lapar.
"Sayurnya juga harus kau makan"
Pandu kembali menyendokan sayur ke mangkuk Kara.
"Egh,iya"
Kara menatap Pandu dengan ragu.Pandu cukup perhatian dalam hal ini.
Ternyata kau sangat peduli pada orang yang kelaparan.
Ehh bukankah dia memang peduli sejak awal kami bertemu.
Karena kepeduliannya kan yang membuat kami berkenalan.
Tapo sayangnya Pak Pandu pernah melihatnya dimana Kara sedang tidak Keren.Ya Pak Pandu melihat Kara tersungkur ditampar Arya.
Ahhh pertemuan yang tidak romamtis.
Kara menyantap mi instan dengan segala pikiran di kepalanya.Menebak lebih dalam bagaimana seorang Pandu Yudistira.
__ADS_1