Pernikahan Kontrak Pak Guru

Pernikahan Kontrak Pak Guru
Diet


__ADS_3

Meskipun olah raga sebentar namun cukup melelahkan terutama bagi Kara. Si pemalas olahraga.


Pandu berwajah masam. Ia sangat tidak suka jika Kara meledeknya.


Tidak suka atau karena malu?beda tipis.


Pandu sendiri tidak bisa menjelaskan perasaannya sendiri.


Mungkin lebih tepatnya merasa malu. Karena gengsinya terlalu tinggi.


Pagi ini Kara sangat menjengkelkan...


Masing masing telah membersihkan diri. Keduanya tentu saja terlihat sangat tampan dan cantik.


Bayangkan saja jika mereka memiliki anak. Anak anak mereka bakal mengalahkan anak anak artis yang ngetop karena rupawan.


Tapii...itu sepertinya hanya khayalan semata...


Mereka kan pasangan suami istri yang tidak seperti pada umumnya.


Saatnya sarapan.


Mereka berdua menyiapkan sarapan berdua.


Kara bagian menyiapkan makanan,sedangkan Pandu menyiapkan minuman.


"Iihh geser kenapa sih mas. Aku mau cuci sayur nih"Tubuh Pandu yang besar ternyata menghalangi sink bak pencuci piring.


Pandu sedang mencari susu protein miliknya yang ia taruh di kitchen set tepat diatas sink.


"Iya sebentar aku lagi ambil sesuatu"Jawab Pandu.


Tampaknya toples susu yang Pandu maksud terdorong kedalam sehingga Pandu sedikit kesulitan menemukannya. Meskipun tubuh Pandu cukup tinggi. Karena susu protein itu berada di rak paling atas.


Pandu mengedarkan pandangan di sekelilingnya.


Kursi..


Pandu mencari kursi..


Tapi sayang kursi yang terbuat dari fiber itu pasti tak kuat jika Pandu menaikinya.


"Tangga mana tangga?"


Tanya Pandu sambil mencari cari letak benda itu. Berniat bergegas pergi keruang belakang.


"Mas"


"Hmm"


"Tangganya kan patah mas,mas lupa ya belum ambil ditukang las" Ucap Kara menghentikan langkah Pandu.


"Ya Tuhan,kenapa aku bisa lupa"Pandu menghela nafasnya kesal.

__ADS_1


Pandu mendekat pada Kara.


"Naik"Titah Pandu.


Kara bingung "Aku?naik?" sambil menunjuk mukanya sendiri.


"Memangnya ada siapa lagi dirumah ini selain kamu"Ketus Pandu.


Pandu memang memiliki karakter yang tak pandai ramah dengan orang lain.


Sekarang Pandu sedang jongkok tepat dibawah letak barang yang ia cari.


"Naik cepat"


"Egh..iii...iya..emhh tapi" Kara tampak canggung.


Pandu berdecak mulai kesal Kara tak cepat memenuhi perintahnya.


"Jangan mas,aku naik di zink aja.Mas jagain aku disini" Kara memutar otak agar ia tak jadi naik di pundak Pandu.


"Kalau sampai aku naik dipundaknya, trus dia merasa keberatan. Apa dia bisa tidak cerewet memakiku karena aku berat..Tidak tidak jangan sampai itu terjadi"


"Yasudah cepat,aku sudah lapar"


Kara perlahan menaiki zink yang kerangkanya terbuat dari semen itu. Jelas kokoh namun Kara sangat berhati hati menaikinya.


Tidak lucu kan jika Kara terpeleset.


"Kelihatan nggak?" Nada Pandu mengotoriter.


"Bentar bentar Mas aku kurang ke kanan" Kara perlahan menggeser posisinya. Sebentar ia melihat ke bawah arah pijakan kakinya. Lalu kembali fokus pada pegangannya. Agar tidak terjatuh.


Kara merasa tegang.


"Nah sudah mas ketemu..yeeaayy" Kara girang menemukan benda cariannya.Bersorak sendirian.


Jelas sendirian karena wajah pria yang dibawah sana tampak datar dan biasa saja.


Sambil mengamati gadis itu memastikan tidak akan terjatuh.


Susu protein yang dimaksud sudah berada di tangan Pandu.


Giliran Kara berusaha turun dari ketinggian yang menegangkan itu. Takut terpeleset karna yang ia pijak dekat dengan air bekas cucian piring.


"Bisa nggak?" Nada bicara yang datar tanpa senyum.Pandu memastikan Kara,karena Pandu melihat Kara cukup ketakutan.namun yang ia lihat Kara berusaha sangat hati hati.


"Tenang aja mas,Aku bisa kok" Ucap Kara berusaha tenang.


Eehh eehh eehhhh......Mas...Mas....Mas....


Aaaarrgghhhhhhhhhhh.......


Gubrakkkk.....

__ADS_1


Baru saja Kara bilang bahwa ia bisa.


Seperti yang ia takutkan. Kara jatuh terpeleset percikan air bekas cuci piring.


Sialnya Kara jatuh menimpa Pandu hingga terjengkang.


Pandu jatuh terlentang,dan tubuh kurus gadis itu menimpanya. Wajah mereka beradu sangat dekat. Bukannya segera bangun namun keduanya dibuat tercengang oleh situasi.


Dekat sekali, mungkin jaraknya hanya sekitar lima centimeter. Hembusan nafas mereka pun saling beradu. Hangat menyentuh kulit.


Tak usah ditanya. Sudah pasti detak jantung mereka berdegub lebih cepat dari biasanya. Seperti akan loncat dari dalam sana.


Wajah Kara yang terkejut dan gugup.


Sementara Pandu tak kalah gugupnya. Namun gengsi yang teramat tinggi. Pandu berusaha biasa saja.


Benar benar mereka bertatapan. Tanpa mereka sadari terjadi beberapa waktu.


"Apa yang kamu makan setiap hari?"Ketus Pandu,suara basnya membuyarkan situasi tegang canggung dan samar samar romantis itu.


"Apa?"Seru Kara sewot mendegar seruan Pandu. Kesal. Wajahnya terlihat kesal.


"Berapa piring kamu makan sehari?" Tandas Pandu lagi. Gadis diatas tubuhnya itu belum segera sadar juga. Bahwa tubuhnya membebani pria dingin itu.


"Aku makan biasa saja, tidak banyak" Masih saja kesal menjawab. Merasa Pandu mengejeknya karena banyak makan.


"Berat, turun sekarang"


"Ohhh..yak ampun" Kara segera turun. Malu sejak tadi ia tak menyadarinya.


Ya ampun bodoh sekali aku. Malu aduh malu aku... Dia akan berfikir apa ya. Apa dia pikir aku nyaman dipelukannya? Ehh enak saja... Awas ya kamu mas kalau berfikiran seperti itu. Aku tidak sembarangan bisa kau peluk peluk. Sebelum kau benar benar mencintaiku.


"Maaf"lirih Kara. Dan beringsut menjauh.


"Nggak ada kepikiran untuk diet?" Pertanyaan Pandu yang mengandung perintah sekaligus ejekan.


Sembari bangun dan membuat susu sendiri.


Kara terpaku atas kejadian yang baru saja ia alami.


Malu,kesal bercampur jadi satu.


Sambil bangun dari duduknya dan meneruskan pekerjaannya.Kara menggerutu lirih.


"Memangnya aku tambah gendut banget ya"Kara sembari mengaca di dinding dapur berbahan granit yang mengkilap itu.


Perasaan berat badanku nggak tambah.


Umpat Kara dalam hati sambil meraba pipi kanan dan kirinya.


Pandu yang sempat melirik tingkah Kara seakan ingin tertawa keras.


Hanya mampu mengulum senyumnya saja.

__ADS_1


__ADS_2