Pernikahan Kontrak Pak Guru

Pernikahan Kontrak Pak Guru
Siapa Dia?


__ADS_3

Hampir satu minggu ini Pandu secara tidak disadari sudah kehilangan keceriaan Kara.


Suasana rumah menjadi hambar.Pandu yang biasanya dibuat kesal karena tingkah Kara.Ternyata sosok Kara yang asli lah yang dirindukan.Kara yang ceria dan cerewet ternyata lebih menyenangkan daripada diam sepanjang harinya.Senyum hampir tidak pernah Pandu lihat lagi.


Pandu sibuk dengan pikirannya.


Bagaimana caranya membuat Kara luluh dan kembali ceria lagi.


"Pak"


"Pak Pandu"


"Pak"Panggilan ketiga kalinya pak Guntur baru direspon oleh Pandu.


"Eh ya Ra"Pandu terkejut.Dan keceplosan memanggil ujung nama Kara.Wajahnya pucat dan gugup.Namun berusaha menutupinya.


Lamunannya pada masalah dengan Kara rupanya memberi efek pada kesehariannya.


Apakah Pandu sudah memasukan peran Kara di pikirannya?Sudah ada tempat khusus di hidupnya?


"Ra siapa pak?"Tanya Guntur penasaran.Guru laki laki yang super ingin tau.


"Ra?Rapat maksud saya rapat.Pak Guntur mau bicara soal rapat kan?"Dengan ceoat Pandu mencari alasan.


"Iya tapi bukan sekarang bicaranya.Saya cuma mau ajak Pak Pandu ke kantin.Ini sudah jam istirahat,ada hal lain yang mau saya bicarakan.Soal bisnis saya"


Tutur guru laki laki itu.


Guntur memang sering meminta pendapat Pandu soal tokonya.Pandu adalah sosok inspirasi pagi dirinya.Bekerja sebagai guru namun memiliki sampingan yang hasilnya melebihi gaji seorang guru.Guntur membuka minimarket juga karena Pandu.Pandu tidak pelit ilmu.Ia mau berbagi dan mendukung Guntur.


Pandu melihat jam tangannya.


"Ya sudah kalau begitu tunggu sebentar"Pandu membereskan beberapa buku dimejanya yang tampak tak beraturan.Setelah menatanya kembali rapi.Pandu dan Guntur menuju Kantin untuk makan.


Kantin yang terletak diujung sekolah.Bukannya khusus diatur meja siswa dan guru agar terpisah.Namun dengan natural para siswa enggan bercampur dengan guru yang sedang di kantin.


Pandu dan Guntur memesan makanan.Pandu memesan segelas kopi,air mineral dan setangkup beef burger.


Sedangkan Guntur lebih suka memesan gado gado.


Mereka duduk di kursi pojok Kantin.Lrtaknya agak tinggi sehingga area kantin dapat terlihat jelas oleh pandangan mereka.


"Pak,saya jadi ikutin saran bapak itu lho.Buat ganti model rak di minimarket saya.Tapi saya bingung,rak mana yang cocok buat toko saya"


Guntur menunjukan beberapa foto dari ponselnya.


"Ini pak"


Pandu pun melongok melihat foto di ponsel Guntur.Sementara Guntur perlahan menggeser slide demi slide foto.


"Bagus,tapi saran saya lebih fungsional yang ini"Pandu menujuk salah satu model rak.


Bersamaan dengan minuman yang datang diantar oleh petugas kantin.


"Monggo pak Pandu,Pak Guntur silahkan diminum.Makanannya sebentar lagi datang"Ucapnya ramah mempersilahkan.


"Ya makasih mbak Ningsih"Jawab Guntur ramah pula.Sedangkan Pandu hanya tersenyum dan mengangguk.


"Ada yang ingin dipesan lagi?"Ucap Ningsih sengaja berlama lama.


Ningsih termasuk salah satu penggemar Pandu.Selalu ceria dan keramahannya meningkat jika Pandu yang datang ke kantin.

__ADS_1


"Tidak ada mbak,burger sama gado gadonya saja kami tunggu ya"Ucap Pandu.


Hati Ningsih serasa taman yang bunganya mekar berwarna warni.


Suara Pandu tampak terdengar indah.Meskipun sebatas membicarakan menu makanan.


Apalagi saat Pandu bicara juga menatap ke arahnya.Meskipun langsung menatao ponselnya setelah selesai berbicara pada Ningsih.


Senyum lebar terkembang di gadis berusia 30tahun itu.Cukup menarik dan cantik.


"Ehm,ya sudah kalau begitu ditunggu ya pak"Ucap Ningsih disertai senyuman manis dan tampak gugup.Dadanya berdegub begitu kencang saat pria tampan mengeluarkan suaranya.Suara yang bakal terngiang dipikirannya.Apalagi senyum tipis yang akan terukir disetiap ingatannya.Ingatan sepanjang hari.


Pandu dan Guntur lanjut mengobrol tanpa memperdulikan Ningsih yang pergi dengan wajah bahagia yang tidak terperi.


Setelah Ningsih jauh berada dari meja.


"Pak,Pak Pandu tidak tertarik sama Ningsih?cantik lho dia pak.Sepertinya naksir dirimu tuh"Canda Guntur sambil menyesap minumannya dengan sedotan plastik.


Pandu menipiskan bibirnya pertanda ia tidak tertarik sama sekali.Lalu menikmati kopinya yangvterasa menenangkan.


"Tidak mau.Kenapa tidak kamu saja?"Balas Pandu.


"Enak saja,tunanganku mau dikemanakan?"Jawab Guntur sewot namun ia tau Pandu hanya bercanda.Meskipun bercandanya Pandu terlihat sangat serius dan membuat lawan bicaranya merasa kesal.


"Tunangan belum tentu jodoh juga"Ucap Pandu santai tanpa beban.


"Benar juga,yang menikah juga belum tentu awet.Banyak yang bercerai"Guntur mengangkat kedua bahunya.


"Tapi pak,komitmen tidak bisa untuk main main.Kalau memang tidak berjodoh ya mau bagaimana lagi.Yang penting kita usaha untuk serius.Belum tentu juga Ningsih mau sama saya pak.Saya sudah bersyukur punya tunangan yang mau sama saya.Sedangkan saya banyak kekurangan"


Seketika Pandu merasa tertampar.Seakan omongan Guntur menyindir dirinya.Padahal Guntur sama sekali tidak tau apa apa yang Pandu alami.


Tak sempat berkomentar,makanan yang mereka pesan datang.Tentu saja Ningsih lagi yang mengantarnya.


"Iya sama sama pak.Ini gado gado pedasnya untuk pak Guntur,beef burger spesialnya buat pak Pandu"Ningsih berkata ramah.


"Loh saya kan pesan beef burger yang single?"Protes Pandu pelan.


"Mau pesan krupuk saja kalau yang pesan pak Pandu semuanya jadi spesial pak"


Ningsih tersenyum nyengir.


"Ya sudah selamat makan.Saya permisi dulu"Ningsih pun pergi begitu saja dihiasi senyum berseri.


Melihat tingkah ningsih kenapa Pandu jadi teringat yang dirumah.


Guntur menahan tawa.Pandu dan Guntur saling melempar pandangan.Pandangan Guntur yang mengolok,namun pandangan Pandu yang tiba tiba kehilangan selera makannya.


Mereka pun menyantap makanannya sambil mengobrol ringan.


Saat jeda mengunyah Pandu tertuju pada pemandangan di kantin ujung.Jaraknya lumayan jauh.


Kara,apa yang dia lakukan dijam sekolah?


Pandu mengingat jadwal mengajar Kara.Ia pastikan hari ini Kara tidak ada jadwal.Kara sedang bersama Farhan disana.Juga tiga siswi lainnya.


Ada keperluan apa mereka?


Pandu terus mengamati dari kejauhan dengan tenang.


"Kamu lihat apa?"Tegur Guntur yang memergoki Pandu sedang menatap pada kejauhan.Entah matanya tertuju pada siapa.Guntur tidak bisa memastikannya.

__ADS_1


"Tidak lihat apa apa"Jawab Pandu.Tetap berusaha pura pura tidak merasa gugup.Namun Guntur merasakan keanehan itu,dan memilih tidak mengatakannya.Guntur hanya ingin memastikan dan terus mengamati Pandu.Tidak biasanya Pandu bersikap begini.Dia selalu cuek dengan sekitarnya.Saat dikantin tujuannya hanya makan dan minum saja,juga sambil mengobrol.Tidak lebih dari itu.


"Pak,kamu kenal sama guru seni musik itu?"Tandas Guntur yang tidak bisa menahan rasa penasarannya.Itu dikarenakan Pandu terus mencuri curi pandang.


Meskipun Pandu enggan mengakui.


Pandu tidak menjawab segera.


"Kalau aku tebak ya .Kamu tidak kenal dia,tapi kamu naksir diam diam kan?"Cerocos Guntur tidak tau bahwa perkataannya itu membuat Pandu salah tingkah.


"Habiskan makananmu,kita bukan sedang main tebak tebakan"Jawaban Pandu terdengar sewot.


"Ya sudah kalau tidak benar jangan sewot begitu.Nanti jatuh cinta beneran.Pantes tidak mau sama Ningsih.Guru seni musik itu lebih cantik dan modis sih"Elok Guntur yang sesudahnya mendapat tatapan membunuh dari Pandu.


"Hheeheh,,saya bercanda pak"


"Kalau itu benar juga tidak masalah"Gumam Guntur lirih bertujuan agar Pandu tidak mendengar.


Namun naas nasib Guntur.Pendengaran Pandu masih berfungsi dengan baik.


"Jangan mengada ada"Sentak Pandu lirih.


Tak lama dari sesi olok mengolok.Tibalah seorang pria muda.Kira kira seumuran dengan Farhan dan Kara.Pria muda itu menghampiri Kara.Dilihat dari kejauhan pria itu tampak kenal dekat dengan Farhan dan Kara.


Pandu bisa melihat dengan jelas wajah pria itu.Karena posisi duduknya berhadapan dengan Kara.Sementara Kara posisinya membelakangi pandangan Pandu.


Mereka tampak sangat asik mengobrol.Sesekali gelak tawa terdengar.Kara juga kelihatannya sangat terhibur.


Yang mengejutkan lagi pria itu memberikan sebuah paperbag kecil kepada Kara.


Apa isi tas itu?


Kenapa pria itu memberikannya pada Kara.Kalau itu sebuah oleh oleh,kenapa Farhan tidak diberi?


Pandu sibuk dengan pikirannya.


Pandu sangat kesal melihat pemandangan yang tersuguh siang ini.Kenapa Pandu tidak suka melihatnya?


Bukannya seharusnya ia biasa saja.Pandu tidak mencintai Kara.


Kalaupun pria muda itu adalah kekasih baru Kara.Bukankah itu baik,dengan begitu Pandu akan lebih mudah membuat Kara rela bercerai.


"Loh mau kemana?"Ucap Guntur yang hampir menghabiskan makanannya.


"Makanmu belum habis"


Guntur melihat burger yang hanya dimakan beberapa gigut saja.Dan Kopi yang masih hampir penuh karena baru disesap sedikit.


Guntur menebak ada yang tidak beres dengan Pandu.


Tapi apa?


"Sudah tidak berselera,saya mau kembali ke ruangan"Ucap ketus Pandu.


Tidak sedang marah pada Guntur.Namun Guntur terkena imbasnya.


"Ada apa sih?eh tunggu dulu pak"Guntur buru buru menelan makanannya dan menyesap minumannya.Lalu menyusul Pandu yang berjalan pergi lebih dulu.


Tidak ada jalan lain.Pandu melewati meja Kara.Karena kasir terletak tidak jauh dari meja Kara dan teman teman berkumpul.


Dihadapan Kasir Pandu bisa dengan jelas menatap wajah Kara.

__ADS_1


Wajah Kara tiba tiba terlihat menjengkelkan.Bisa bisanya tertawa begitu bahagianya saat ia bersama teman temannya.Apalagi dengan pria muda yang tidak Pandu kenal.


Pandu melirih mengarahkan bola matanya ke arah Kara.Hatinya kesal dibuat Kara.


__ADS_2