
Kara mulai menyiapkan baju miliknya dan juga Pandu.
Pertama ia siapkan baju miliknya.Kara menyiapkan beberapa stel baju untuk sejari semalam menginap dirumah mertuanya.
Lalu Kara membuka lemari besar yang didalamnya adalah semua baju milik Pandu.Pandu memang tidak memberi larangan pada Kara untuk membuka dan tau isi lemari.
"Sekarang giliran baju mas Pandu"Kara membuka pintu lemari besar yang berada di tengah.Yang ternyata isinya baju kemeja,jas celana bahan.
Sisi lemari ini adalah tempat baju baju resmi milik Pandu.Karapun membuka sisi lemari lain.
Dan benar,baju baju santai terletak disana.
Kara menjentik jentikan jari dipipinya.Berfikir baju mana yang akan ia pilihkan untuk Pandu.
"Yang biasa dipakai mas Pandu yang mana ya?"
Kara bergumam.
"Ahh,mending aku telpon mas Pandu dulu deh"
Di dering pertama Pandu mengangkat telpon dari istrinya itu.
"Halo"Jawabannya tegas tidak menunjukan keramahan sama sekali.
"Assalamualaikum mas" Lain dengan Kara yang sangat ramah mengucap salam.
"Walaikumsallam,ada apa?" Tetap belum terdengar ramah didengar telinga Kara.Tapi Kara memakluminya.
"Mas,aku mau siapain baju kamu.Tapi nggak tau yang mana yang biasa kamu pakai" Suara yang terdengar bersemangat.
"*Terserah mau yang mana"
"Mmm ya sudah kalau begitu.Mma,,ss*"
Ucapan Kara menggantung saat telepin tiba tiba putus sambungan.Tentu saja Pandu melakukan pemutusan sambungan telepon secara sepihak.
"Nggak sopan banget sih,kan aku yang telpon.Tapi kenapa dia yang mutusin telponnya?"Kara bergumam menatap memaki ponsel digenggamannya.
Namun Kara tak mau ambil pusing.Mas Pandu mungkin sedang sibuk.
Lalu Kara mulai menelusuri isi lemari Pandu.
Memilih dan mencocokan baju dan celana yang akan dibawa.
__ADS_1
"Nah kayaknya yang ini pas"Kara bergumam dengan dirinya sendiri.
Kara mengerjakannya sembari bernyanyi lagu lagu kesukaannya.Suara merdu mendayu dayu memenuhi ruang kamar itu.
Kara menarik laci bawah tiba tiba dia menjerit.
Akh....
Kara menemukan tempat dimana Pandu menyimpan pakaian dalamnya.
"Ya ampun,aku harus siapin ini juga?"Kara merasa malu dan merasa asing dengan benda benda itu.
Kara pun terheran dan melongo.Ngeri dan sempat menggelengkan kepalanya.Mengacak rambutnya pelan merasa frustasi.Tidak terpikir bahwa dirinya akan menyentuh pakaian dalam laki laki untuk pertama kali.
Pikiran Kara kacau.Setelah cukup lama Kara memutuskan untuk mulai terbiasa menyentuh benda asing itu.
Kara berulang kali mencoba mengatur nafasnya.Perlahan ia ambil satu celana dalam milik Pandu yang tertata rapi didalam laci itu.
"Kara ayo Kara,ini hanya sebuah celana dalam saja.Hanya kain saja Ra,bukan apa apa yang bisa menggingitmu"Kara menyemangati dirinya sendiri.
Dan terambilah satu helai.Lalu ia ambil dua helai lagi.Kara pun menatap dengan bingung.
Lalu cepat cepat ia masukan ke dalam tas ransel.
"Kara Kara,katanya mau jadi istri yang baik.Pegang celana dalam saja kayak habis maraton"Umpat Kara pada dirinya sendiri.
Setelah semuanya beres.Ada benda jatuh dari dalam lemari saat Kara akan menutup pintu lemari itu.
"Eh apa ini?"Kara mengambilnya di lantai.Danengamati dengan seksama.
Sebuah pouch berwarna hitam ada tulisan cetak merk produk.
Karena penasaran Kara membukanya.
Kara tersenyum melihat isinya.
"Bagus,sepertinya jarang dipakai"Ucap Kara setelah tau isi pouch itu adalah sebuah sarung tangan berwarna hitam.Sarung tangan yang biasa dipakai para pengendara motor.
Kara pun berinisiatif menyiapkan sarung tangan itu juga untuk dipakai untuk Pandu saat perjalanan kerumah ibunya nanti.
Kara jadi kepikiran,perlengkapan apalagi yang harus ia bawa.Yang harus ia siapkan untuk dipakai Pandu saat perjalanan nanti.
Jogja kota ke Kulon Progo cukup jauh dan melelahkan.Jadi keamanan berkendara harus lengkap.
__ADS_1
Kara pun mencari masker,mungkin dia juga akan menemukan pelindung dada untuk dipakai Pandu.
Kara menarik laci laci lain untuk menemukan barang barang yang ia cari.
Sebuah masker telah ia temukan,tak lama pelindung dada.
Tapi pelindung dada berada di tumpukan paling bawah.Dan sepertinya juga hampir tidak pernah dipakai.Di tumpukan itu juga terdapat masker lagi,jam tangan dan masih banyak perlengkapan lainnya.
Kara memutuskan mengambil sebuah pelindung dada yang terbuat dari kulit berwarna coklat gelap.Sebuah kaca mata berwarna hitam.Kara membayangkan pasti akan cocok jika Pandu yang memakainya.Lalu meletakkannya bersama sarung tangan hitam yang masih terbungkus pouch.
Dilihatnya juga ada sebuah sendal gunung yang masih terbalut pouch jaring berwarna hitam.Kara juga mengambil sendal tersebut.
Karena dirasa sudah lengkap semua.Kara melanjutkan menata kamar.Mengganti sprei dan sarung bantal.Membuka jendela kamar yang pemandangannya mengarah ke Utara.
Kara pun takjub dengan pemandangan yang terpampang jelas dihadapannya.
Gunung Merapi memperlihatkan kegagahannya dengan jelas.Berwarna abu kebiru biruan dihiasi gumpalan awan putih disisi sampingnya.Dan angin sepoi yang meniup membuat rambut Kara mengayun sesuai irama angin.
Sungguh luar biasa indah dan sangat terasa mebahagiakan.
"Alhamdulillah bisa nikmatin ini semua"Kara terpejam menghirup udara dalam dalam.Merasakan udara menyejukan merasuki pernafasannya.
Cukup lama Kara menikmati sapaan alam yang lembut.Angin sepoi sepoi yang memberi sentuhan pada kulitnya.
Lalu ia memutuskan menyiapkan makan siang.Sebentar lagi mas Pandu pasti pulang.Kara harus menyiapkan makan siangnya.
Kara menuju dapur,tidak ada Mbok Mi disana.Ternyata mbok Mi sudah pindah membersihkan ruang kerja.
Kara menyiapkan semua bahan yang ia butuhkan.Sesuai panduan resep yang ia lihat di sosial media.
Kara memilih menu yang mudah di buat.Hanya tumis buncis dan telur dadar.Tak lupa ia menggoreng tahu dan tempe.
Tidak seberapa sulit,namun bagi Kara ini butuh konsentrasi dan keahlian yang cukup.Untung saja Pandu tidak cepat pulang.Kara cukup lama memasak.Karena dia tidak pernah melakukannya sehingga harus banyak belajar untuk terbiasa menyiapkan semuanya.
"Tidak terlalu buruk"Kara tersenyum mengamati hasil masakannya.Menatanya dimeja makan.
Membersihkan dapur dan menunggu suaminya pulang.
Ya benar,Kara meamang sangat berniat menjadi istri yang baik.Perihal perasaan itu masalah belakangan.
Baik aja dulu,dan kebaikan akan selalu datang pada kita.
Itu yang Kara tanamnkan pada dirinya.Mempengaruhinya dirinya sendiri dengan kebaikan.
__ADS_1