
Jam satu dini hari Kara terbangun dari tidurnya.
Berusaha mengerjapkan mata,tenggorokannya terasa kering.
Setelah tersadar dimana posisinya sekarang.Kara cukup terkejut.Hampir saja dia berteriak.
Sosok Pandu yang sedang tertidur pulas disampingnya.
Matanya ngantuk berat tapi tenggorokannya yang tidak bisa diajak kompromi membuatnya harus beranjak menuju dapur.
Dengan langkah sempoyongan Kara melangkah keluar kamar.
"Egh,ibu.Ibu belum tidur?"
Kara terkejut ketika keluar kamar bertemu dengan Yunda ibu mertuanya.Kara mengucek matanya agar pandangannya lebih jelas.
"Tadi udah sempet tidur,nanti lanjut tidur lagi.Dari kamar adek"
Ibu Yunda tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Mereka kebiasaan nggak pakai selimut.Padahal nyamuk banyak.Makanya ibu selimutin mereka kalau malam"
Kara tersenyum mengangguk paham.
"Ohh,ya udah kalau gitu Kara mau ke dapur dulu ya bu.Kara haus"
"Iya nduk.Ibu juga mau ambil air wudhu dulu"
"Oh"Kara sangat terharu.Ada secuil kekaguman pada ibu mertuanya itu.
"Iya bu"
Kara pun terharu mendengarnya.
Ternyata ini yang dimaksud mas Pandu.Ibu punya kebiasaan ke kamar adek pas tengah malam.Ibu so sweet banget sih.
Mereka bersama menuju dapur.Kara mengambil air minum dan Yunda menuju kran untuk melakukan wudhu.
Kebiasaan Yunda,melaksanakan sholat tahajud.
Kara meneguk perlahan air putih yang ia tuang di gelas kaca.Mendengar gemericik air yang berasal dari kamar mandi.
Kara terdiam,seakan susah sekali meneguk air yang sudah berada di mulutnya itu.
Tahajud?
Apa aku tahajud saja ya.
Kara bergumam dalam hatinya.
Belum tau apa yang pasti akan dia minta nanti.Tapi kondisi saat ini Kara sedang bimbang.
Sedang bimbang dengan pernikahannya.
Dengan cara kami seperti ini,apakah baik atau buruk?
Pernikahan kontrak?
Itu bisa saja terjadi sih.
__ADS_1
Tapi dimata Tuhan pernikahan kami berdua hukumnya sah.Kwajiban dan hak dalam pernikahan sudah berlaku.
Dosa?
Apakah akan menjadi dosaku?berani menjalani satu janji suci di hadapan Tuhan.Namun berjalan tidak semestinya.
Tapi kamu ini emang murni bodoh Kara.Bagaimana kamu punya keberanian untuk mengiyakan tawaran mas Pandu.
Dan apa sih yang ada di otak mas Pandu waktu itu.
Aku jadi penasaran seperti apa sih wanita yang mau dijodohin sama mas Pandu.Kok mas Pandu sampai nggak mau dijodohin.Apa orangnya jelek?
Atau wanita nakal?
Ahh kalau itu nggak mungkin.Ibu juga pasti punya pandangan yang baik untuk calon mantunya.
Kara menggelengkan kepalanya,tidak mau menebak nebak yang tak pasti.
"Nduk"
Suara bu Yunda mengejutkan Kara.
"Egh"Kara terkejut.
"Ibu,sudah bu?"
"Udah,kamu udah minumnya?"
"Sudah bu"Jawab Kara dengan senyuman.Lagi pula mata Kara jadi tidak terasa mengantuk lagi.
"Kara ke kamar mandi dulu ya bu"
Kara pun tersenyum malu.
"Iya bu berani kok"
Setelah bu Yunda pergi meninggalkan Kara sendiri.Kara mengikuti kata hatinya,ia memutuskan mengambil wudhu dan melaksanakan sholat tahajud.
Dingin air yang membasahi wajah tangan dan kaki Kara membuatnya terasa lebih segar.Bahkan kesegaran itu merambah ke hatinya.
Alhamdulillah,adem banget rasanya.
Kara merasa lebih baik.
Kembali masuk ke kamar lalu Kara terdiam bersandar dipintu yang baru saja ia tutup.
Wajah tampan yang sedang tertidur pulas.
Hei,wajahmu tampan sekali mas.
Kamu tidurnya nyenyak banget.Apa kamu lagi mimpi?
Kalo iya,kamu mimpi apa malam ini.Malam ini pertama kali kita tidur seranjang mas.
Mas aku harap apa yang aku rasain sekarang.Yang sekarang sedikit demi sedikit tumbuh.Semoga kamu juga rasin hal yang sama ya mas.
Aku sayang kamu mas.
Senyum diujung bibir Kara.Jantungnya berdebar.
__ADS_1
Dalam hatinya merasa sedang bergejolak.
Semakin hari justru Kara tak bisa menepati.
Pernikahan yang sementara baginya kini adalah sesuatu yang berat baginya.Semakin berat menerima bahwa bisa jadi sesegera mungkin mereka akan berpisah.
Kara memutuskan dan masih meyakinkan dirinya untuk berbuat yang terbaik selama waktu ini belum berakhir.
Sajadah panjang yang ia bentangkan.Sebagai tumpuan sujudnya.Mukena berwarna putih bersih menjuntai membalut tubuh Kara.
Dan hati yang mulai mereda kekacauannya.
Kara berharap petunjuk pada sang penciptanya.
Sebuah nama yang ia sebut.Yang ia mintakan hatinya.Yang ia mohonkan cintanya hadir dalam mahligai pernikahan ini.
Satu nama yang akan sering ia sebut dalam doa.
***PANDU YUDISTIRA.
Ya Allah kusebut satu nama yang kini ada dalam hatiku Pandu Yudistira.
Entah ini cinta atau sekedar sayang.Namun rasa ini semakin tumbuh dan berkembang di dalam hati ini.
Aku sudah ingkar tapi rasa ini tidak bisa aku tolak.
Berilah hambamu pertolongan.Peliharalah dan tumbuhkanlah rasa ini jika memang semestinya.
Dan kutitipkan satu hati yang bernama Pandu Yudistira suamiku.Jika memang kami berjodoh kumohon lembutkanlah hatinya.Untuk belajar menyayangiku.
Dan mudahkanlah urusan kami dalam menjalani pernikahan ini.
Jika benar pernikahan ini hanya sementara.Kumohon ikhlaskanlah hati ini untuk melepas rasaku pada mas Pandu.
Kumohon ya Alloh,Engkaulah yang memiliki hati kami.Hamba pasrahkan padaMu.
Aamiin.Aamiin.Aamiin*..
Air mata menetes terus menerus membasahi wajah ayu gadis itu.
Merasa lega,air mata deras mengalir.Entahlah apa karena rasa ini bertepuk sebelah tangan.
Atau karena berharap sangat besar Tuhan menjodohkan Kara dengan Pandu.
Atau Kara merasa prihatin atas keadaan pernikahannya sekarang.
Kara kembali membereskan sajadah dan mukenanya.Hampir satu jam ia mencurahkan segala isi hatinya pada sang Maha Kuasa.
Kini Kara merasa lebih lega.Kara menoleh ke arah Pandu.
Memastukan bahwa Pandu masih tertidur pulas dan tidak mendengar doanya.Berharap juga Pandu tidak mengetahui bahwa Kara sholat dengan menangis sesenggukan.
Baru saja selesai membereskan sajadah dan mukena.Rasanya Kara sudah rindu ingin melakukannya lagi.
Lalu ia memutuskan untuk kembali tidur disisi suaminya.Yang baru saja ia sebut dalam doa**.
Selamat malam mas.Sampai ketemu besok pagi.
Tidur yang nyenyak ya.Semoga ada aku dimimpimu.
__ADS_1
Kara menyunggingkan senyumnya lalu menyusul lelap dalam mimpi.