Pernikahan Kontrak Pak Guru

Pernikahan Kontrak Pak Guru
Tanggal Pernikahan


__ADS_3

Kara berbaring menatap langit langit kamarnya.Adegan lamaran singkat barusan membuat ia sulit tertidur.


Kara gelisah mengganti posisi tidurnya berkali kali.


Mencoba terpejam agar cepat mengantuk.


"Saya dan Kara sudah saling kenal bu,Ibu saya juga sudah mengenal Kara.Ibu juga sudah tau saya meskipun baru dua kali bertemu.Tapi saya serius berniat mau melamar Kara"


Kalimat Pandu yang membuat Kara gemetar berlarian dipikirannya.Kara awalnya ingin menganggap enteng masalah pernikahan ini.Dia yakin pada dirinya bahwa tidak akan terbawa perasaan.


Tapi baru dilamar begitu saja dia sudah bergetar begitu.


"Kara ini hanya pernikahan kontrak,jangan baper dong.Kamu harus mempertahankan benteng pertahananmu"


Gumam Kara.


Kara merasa keputusannya ini gegabah.Pernikahan seperti main main saja.Apalagi mendengar lamaran dari mulut Pandu tadi.


Kara merasa membohongi ibunya.


"Tidak,tidak Ra.Kamu tidak boleh membohongi ibumu.Ibumu terlalu bahagia karena kamu akan menikah.Tapi bagaimana kalau ibuk tau pernikahanku hanya atas dasar kontrak"


Gumam Kara.


"Jadi apa aku harus mencoba mencintai Pak Pandu?"


Kara mengacak rambutnya sendiri.


"Ya benar.Aku akan mengenali pak Pandu lebih dalam.Jika memang dia laki laki yang benar benar baik aku akan berusaha membuatnya jatuh cinta padaku.Aku tidak boleh ikut dalam permainan pak Pandu.Tapi aku bisa bercerai jika dia ternyata laki laki yang membahayakanku seperti Arya"


Kara menggerutu.


Sementara disebuah apartemen.


Pandu juga merasa gelisah namun tidak seperti Kara.


Karena disini Pandu lah dalangnya.


Selesai membuat secangkir kopi lalu duduk bersandar di sofa favoritnya.Memandang gemerlap lampu kota jogja yang rerlihat dari apartemennya.


"Auhhh..panas.Bagaimana aku bisa menyesap kopi sepanas ini"


Pandu sampai tidak sadar bahwa kopinya masih sangat panas baru saja ia membuatnya.


Pandu berniat menelpon ibunya untuk membicarakan rencana pernikahannya.


"Assalamualaikum bu,ibu sedang apa?"


Sapa Pandu berbicara melalui telepon.


"Walaikumsallam le,ibu baru masuk kamar mau tidur.Ada apa le malam malam begini telpon?"


Suara lembut Yunda pada Pandu.


"Bu,Pandu mau minta doa restu dari ibu.Tadi Pandu melamar Kara"


"Alhamdulillah Pandu.Ibu senang sekali mendengarnya.Ibu merestuimu le,apa kamu sudah rundingkan ini dengan Mas mu?"


"Belum bu,Pandu bilang ke ibu dulu"


"Oh baiklah kalau begitu.Le ibu mendukung apa yang sudah jadi keputusanmu.Maaf ya Le dulu ibu selalu ingin menjodohkanmu dengan anak teman ibu.Ibu tau kamu sangat terbebani"


"Nggak apa apa bu,Pandu maklum kok.Terima kasih ya bu,ibu menghargai keputusan Pandu.Ibu pasti ingin cepat aku menikah kan?"


"Iya dong Ndu,ibu kepikiran sudah berapa usiamu.Ibu nggak mau kamu jadi bujang lapuk.Ndu,nanti jangan lupa telpon Mas Saka.Minta pendapat soal pernikahanmu,baiknya kapan gitu ya.Via dan Vio biar ibu yang kabari nanti.


"Iya bu,Pandu kan ganteng bu.Masa jadi bujang lapuk"


Pandu terkekeh,dia senang jika bercanda dengan ibunya.Padahal semua orang sulit sekali untuk sekedar bercanda dengannya.


"Halah..PD nya kamu Le"


"Bu,menurut ibu baiknya Pandu menikah tanggal berapa ya bu?"

__ADS_1


"Sebentar Ndu ibu lihat kalender"


Telepon hening menunggu jawaban dari Yunda yang sedang melihat tanggal yang ia rasa pas sebagai hari pernikahan Pandu.


"Ndu,bagaimana kalau tanggal 8 Januari?"


Pandu pun mengecek Kalender.


"Bu,ibu tidak salah lihat.Tanggal 8 kan sepuluh hari lagi bu.Apa tidak terlalu cepat?"


"Eeehh ya nggak dong Ndu.Kalau bisa lebih cepat dadi itu lebih baik.Lagi pula itu kan berdekatan dengan hari ulang tahunmu"


Pandu menghela nafas.


"Baiklah bu,coba Pandu minta pendapat sama Mas Saka dulu.


Pandu menutup sambungan teleponnya.


Lalu berlanjut menghubungi Mas Saka.


"Hallo Assalamualaikum Ndu,ada apa kamu telpon malam malam?"


Suara Saka di ujung telepon.


"Walaikumsallam mas,lagi apa mas?Maaf ganggu malam malam"


"Ini,lagi ngecek toko.Baru selesai direnovasi.Gimana tokomu?Lancarkan?"


"Lancar Mas,aku malah sudah hampir seminggu tidak ngecek kesana"


"Eeeee...Kamu ini gimana sih Ndu.Dicek tokonya siapa tau butuh di upgrade"


"Baru juga seminggu lho Mas"


"Memangnya kamu sibuk banget ya,kok sampai toko nggak ke urus"


"Mas,Aku baru seminggu nggak ke toko.Lagpula aku lagi ada urusan penting"


"Urusan opo?"


"Mas,aku mau nikah"


"Nikah?Sama siapa?"


Saka terkejut.


"Kamu jadi nikah sama anaknya Bu Wanti itu?Yang ibu jodohkan sama kamu"


"Bukan Mas,aku nggak mau dijodohkan.Aku punya pilihan sendiri"


"Wah,aku ketinggalan berita ini.Ibu juga nggak bilang sama aku lho.Trus rencananya kapan?"


"Nah itu dia mas,aku nelpon kamu mau minta pendapat kapan hari baiknya"


"Ohh,kamu sudah tanya ibu belum?"


"Sudah"


"kapan kata ibu"


"Kata ibu tanggal 8 mas.sepuluh hari lagi"


"Lhooooo.Kelamaan itu.Menurutku tanggal 5 saja.Kan pas sama ulang tahunmu.Harinya juga pas hari Jumat"


"Loh.Kok malah dimajukan mas?"


Pandu terkejut.


"Pandu Pandu,kamu ini belum merasakan menikah.Memang menikah itu enaknya cuma 2%"


"Trus yang 98% apa mas?sengsara ya?"


"Dasar bocah nggak peka,yang 98% ya enak banget.Ndu Ndu gitu aja nggak tau"

__ADS_1


"Halah Mas Saka ngomong apa si"


Jawab Pandu kesal karena Saka yang punya watak jenaka beda dengan dirinya.


Disana masih terdengar suara tawa Saka.


"Oh ya mas,pulang kejogja ya.Nemenin ibu kerumah calon istriku besok"


"Sabar Ndu sabar,tadi protes tanggalnya dimajukan.Sekarang sudah nggak tahan aja pengen cepet cepet"


"Udahlah mas jangan bercanda rerus,aku serius ini"


"Yasudah demi adikku lanang satu satunya,besok pagi aku kejogja langsung jemput ibu baru ke apartemenmu"


(Lanang:Laki laki dalam bahasa jawa)


"Yasudah mas terimakasih kalau begitu"


"Ya ya.."


Sambungan telepon berakhir.


Pandu menghela nafas dan meminum kembali kopi yang agaknya sudah mulai dingin.


"Repot juga mengurus pernikahan"


Gumam Pandu.


Pandu bermain dengan pikirannya,mengolah kembali rencana yang ia buat.


Membayangkan bagaimana jika pernikahan kontrak ini tak sesuai rencananya.


Bagaimana kalau ibu tau soal ini.


Bagimana kalau dia jatuh cinta dengan Kara.


Memikirkan hal itu sekelebat wajah Kara melintas dipikirannya.


"Aarghhh.Nggak Nggak"


Pandu merasa risih pada khayalannya sendiri karena Kara yang muncul dipikirannya.


"Aku hanya menikah kontrak"


Pandu menegaskan kembali pada dirinya.


"Baik,aku akan tidur agar tidak stres memikirkan hal ini"


Namun Pandu tak kunjung bisa terpejam.


"Kenapa serumit ini sih.Ini kan hanya nikah sementara.Apalagi nikah beneran"


Pandu terdiam berfikir kembali.


"Tapi jika menikah atas dasar cinta apa juga serumit ini"


Bergumam tidak jelas,kacau sesuai yang ada di otaknya.


Waktu menunjukan pukul 12malam.Pandu meraih ponsel di nakas samping tempat tidurnya.


Memeriksa pesan masuk,beberapa rekan kerja dan group chat bermunculan.


Lalu Pandu membalas beberapa pesan paling penting.Mengecek di status terbaru ia lihat tiga menit yang lalu Kara mengunggah foto di status terbarunya.


Dengan caption "CAN'T SLEEP"



(Visual Kara Mahika author ambil dari foto selebritis asal Thailand.Semoga kalian suka.hehehhe)


"Apa yang dia lakukan jam segini belum tidur"


Gumam Pandu dan mengklik lalu zoom foto Kara.

__ADS_1


Tak sadar Pandu memandangi foto Kara untuk beberapa saat.Menggeser layar ketika Pandu tersadar dari tatapannya pada foto Kara.


__ADS_2