
Di teras.
"Ini kopinya pak,silahkan diminum"
Kara meletakkan kopi di meja.
"Terima kasih Miss"
Ucap Pandu terasa canggung.
"Pak,bapak tidak perlu memanggil saya Miss.Itu kan panggilan saya disekolah.Panggil Kara saja"
"Oh.Baiklah Ka..Kara"
Pandu sedikit gugup.
"Kenapa dia,sepertinya gugup sekali"
Batin Kara tertawa dalam hati.
"Diminum pak kopinya?"
Pinta Kara.
"Ehhh kenapa suasananya jadi canggung begini ya,perasaan pas di bukit bintang tadi kami malah berdebat"
Batin Kara.
Pandu pun sedikit malu meminum kopi buatan Kara.
"Kau yang membuatnya?"
Pandu sedikut mengangkat cangkirnya.
"Iya,kenapa pak?pahit ya?atau kemanisan.Maaf kalau tidak enak.Itu kopi pertama buatan saya"
Kara nyengir.
"Tidak,sudah pas"
Jawab singkat Pandu.
"Pandu.baru saja kau membuatnya GR.pakai memuji kopinya segala.Nanti dia ke GR an.Dasar bodoh"
Batin Pandu mengutuki dirinya sendiri.
Kara tersenyum mengelus dadanya.
"Oh begitu,syukurlah"
"Memangnya kamu tidak pernah membuat kopi sebelumnya?"
Kara menggelengkan kepala.
"Seumur hidupmu ini kopi pertama kali yang kau buat?"
Pandu memastikan.
"Hehehhe iya pak.Biasanya Mbok Inah yang membuatkan kopi untuk kami ataupun tamu"
Jawab Kara malu.
"Emm...Kara.Apa aku boleh mengatakan soal pernikahan kita ke ibumu sekarang?"
Pandu sedikit canggung menelan ludahnya.
"Pak Pandu sudah siap?"
Pandu pun mengangguk.
"Kamu gimana?sudah siap kalau aku mengatakannya sekarang?"
"Terserah pak Pandu saja,kapan baiknya"
"Eh kenapa aku sepasrah ini sih.Pasti dia pikir aku sangat gampangan.Ohh bodohnya kau Kara.Harusnya Kau mengulur waktu biar terkesan jual mahal.Huhhh dasar bodohnya"
Batin Kara mengutuki dirinya.
__ADS_1
"Oh iya kamu jangan panggil aku pak ya kalau diluar lingkungan sekolah"
"Lalu aku memanggil apa?"
"Kamu boleh panggil aku seperti panggilanmu waktu dirumah ibuku"
Kenapa tiba tiba hati Kara berdebar saat Pandu memintanya memanggil Mas Pandu.Seperti waktu pura pura pacaran dirumah ibunya.
Kara menjawab dengan senyum dan mengangguk.
Tak lama Ranti keluar.
"Hey ada Pandu.Sudah lama?"
Pandu pun segera beranjak berdiri dan bersalaman serta menciun punggung tangan Ranti penuh hormat.
"Belum bu,Maaf pulang malam lagi.Tadi kami makan dulu"
"Eh tidak apa apa,Ibuk percaya pada kalian.Kalian pasti bisa jaga diri"
"Jelas bisa jaga diri lah bu.Kami ini kan hanya pacaran pura pura.Lagian kenapa sih pak guru ini ramah sekali pada ibuku.Pantas saja ibuku menyukaimu sebagai calon mantu"
Batin Kara.
Pandu hanya tersenyum.
"Oh ya bu,jadi maksud saya kesini selain mengantar Kara pulang,saya juga ingin membicarakan sesuatu"
"Iya boleh,mau ngomong apa Mas Pandu?"
Timpal Ranti bersiap mendengarkan.
Pura pura tidak tau bahwa Pandu akan melamar Kara.
Kara pun serius menunggu kalimat dari mulut Pandu.
"Saya dan Kara sudah saling kenal bu,Ibu saya juga sudah mengenal Kara.Ibu juga sudah tau saya meskipun baru dua kali bertemu.Tapi saya serius berniat mau melamar Kara"
Semua terdiam Ranti takjub dengan keberanian Pandu melamar Kara secara langsung padanya.
Begitu juga Bude Nani yang baru datang dan sempat mendengar pembicaraan Pandu.Tercengang mendengarnya.
Pertama kalinya menerima lamaran.
"Eh jantungku,ya ampun.Deg deg kan begini.Hey hey tanganku gemetar juga.Aduh Kara kendalikan dirimu jangan memalukan dong"
Umpat Kara pada dirimu.
"Oh"
Ranti menelan ludah,tersenyum lebar.
"Mas Pandu,ibu terima kasih sekali dan ibu merasa senang Mas Pandu melamar Kara dengan cara yang baik.Ibu mewakili Kara menerima lamaran Mas Pandu dengan senang hati"
Ranti menatap Kara tersenyum.Dan Kara yang tersenyum kaku.
"Tapi Mas Pandu,Kara dan keluarganya ya hanya begini adanya.Tidak ada yang bisa kami banggakan.Semoga mas Pandu bisa menerima Kara apa adanya"
Pandu tersenyum,tampak sangat tampan dengan balutan jaket berwarna hitam.
"Iya buk,begitu juga dengan saya.Tidak ada yang bisa saya berikan lebih untuk Kara.Kami meminta restu dari ibuk dan juga bude.Pandu harap Kara dan keluarga juga menerima saya se adanya seperti ini"
"Weehh..Pak Guru ini ciamik sekali kata katanya sudah seperti bapak bapak saja gaya bahasanya"
Batin Kara terkejut.
"Pandu,bude senang sekali mendengarnya.Bude juga senang bisa besanan dengan teman bude"
Sahut Bude Nani.
Pandu menjawab dengan senyum dan mengangguk.
"Kalau berkenan dalam waktu dekat nanti ibu dan kakak saya akan kesini bersilaturahmi"
Lanjut Pandu.
Ranti sangat senang mendengarnya.Ada laki laki sesopan ini melamar putri semata wayangnya.
__ADS_1
"Tentu saja,kami tunggu dengan senang hati"
Jawab Ranti dengan tak henti hentinya tersenyum.
"Oh iya bu,jika memang nanti saya dan Kara berjodoh.Saya hanya ingin acara keluarga saja.Mengingat saya dan Kara sama sama mengajar di sekolah yang sama"
Jelas Pandu
"Tidak masalah Mas Pandu,meskipun ibu sendiri ingin mengadakan pesta.Mas Pandu tau sendiri Kara anak ibu satu satunya.Jadi kalau salah satu dari kalian sudah bisa mengundurkan diri dari sekolah.Ibu harap bisa mengadakan pesta meskipun sederhana"
Harapan ranti,meskipun ia menyebut sederhana tapi dalam bayangannya adalah pesta yang megah untuk putri kesayangannya itu.
Kara dan Pandu saling melempar pandangan karena tidak mau diadakan pesta.
"Egh anu buk"
Sahut Kara gugup tak tau akan berbicara apa.
"Baik bu,tidak masalah.Nanti kalau waktunya sudah tepat kami juga menginginkan resepsi yang berkesan untuk kami"
Sahut Pandu cepat.
"Wah bude tidak sabar menunggu hari bahagia kalian"
"Ra,kamu kenapa kok seperti gugup begitu.Sudah Ra santai saja.Dulu waktu bude dilamar pakdhemu,bude juga grogi"
Ujar Nani lalu diikuti tawa.
Kara ikut tertawa garing.
"Kalau begitu saya pamit dulu buk,terima kasih untuk semuanya.Nanti saya kabari Kara kalau keluarga saya sudah berencana datang kemari"
Pandu beranjak dan bersalaman kepada Ranti Nani dan juga Kara.
"Iya tentu saja.kami tunggu kedatangannya ya Mas Pandu"
Ucap ranti ramah.
Pandu merasakan dingin dan gemetar tangan Kara.
Lalu Pandu meninggalkan rumah Kara dengan jantung yang tak kalah berdebarnya.
Ini jelas kali pertama ia melamar seorang gadis.Tanpa ditemani keluarganya.Ia berbicara langsung menghadap calon mertuanya.
Laki laki mana yang tidak berdetak jantunya ketika berbicara soal ini.
Canggung dan malu campur jadi satu berusaha melawan dengan secuil keberanian.
Karena dulu waktu Mas Saka menikah masih ada bapak yang melamarkan Mbak Dewi untuk Mas Saka.
Sekarang tidak ada bapak,Pandu memberanikan diri meskipun pernikahan kontrak.Jantung Pandu berdegub kencang.
CHHIIIIITTTT......
Pandu mengerem kendaraannya mendadak berhenti di pinggir jalan di sebuah halte.Ternyata halte itu tempat pertama kali Pandu menjemput Kara.
Nafas Pandu terengah engah.
Tangan kanan Pandu menyentuh dadanya.Degub jantung yang begitu keras membuat konsentrasi berkendaranya terganggu.
Pandu berulang mengambil dan membuang nafasnya.Berharap jangungnya berdetak normal.
"Apa ini.Aku kan hanya akan menikah kontrak dengannya"
Gumam Pandu.
"Ahhh pasti ini hanya karena aku pertama kali berbicara serius tentang pernikahan.Tidak tidak aku tidak mencintainya.Ini semua kulakukan demi ibu"
Pandu terus saja bergumam.Tak peduli kendaraan yang berlalu lalang disekitarnya.
Setelah beberapa saat dan merasa lebih baik,Pandu kembali melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.
Pandu kembali ke apartemennya.Hari ini sangat lelah ia rasakan.
*****Jangan lupa tinggalkan jejak like,komen,vote dan beri rating terbaikmu ya.
terima kasih sudah mengikuti cerita novel PKPG.
__ADS_1
selamat membaca