
Ndu,kamu nggak bulan madu po?"Ujar mas Saka,sudah mulai menggoda adik laki lakinya itu.
"Nggak mas,aku masih banyak kerjaan.Toko banyak yang harus diurus"Pandu memberikan alasan yang paling masuk akal.
"Walah,yo ditinggal dulu to ya.Manten anyar kok ora bulan madu"Omel Saka tentu saja sambil bergurau.Meskipun ucapannya berharap ditanggapi serius oleh Pandu.
"Nggak bisa mas,toko harus direnovasi secepatnya"Ucap Pandu berusaha mencegah Saka meneruskan obrolan bulan madu.
"Wis Ndu,serahkan sama mas mu aja.Mas Saka yang akan ngurus semua.Pokoknya kalau diserahkan sama mas Saka semua bakal beres"Imbuh Ibu.
"Material udah dibeli mas,aku pengen liat langsung pengerjaannya"Pandu kembali beralasan.
"Welahh,jangankan baru beli material.Mau aku desainkan tokonya sekalian aku sanggup Ndu"Mas Saka pun nggak mau kalah.
Kara hanya diam,tersenyum tipis dan sesekali melirik dengan ekor matanya ke arah Pandu.Tidak bisa berkata apa apa selain senyum.
"Iya Ndu,lagian paling bulan madu cuma seminggu kan.Nggak sampai berbulan bulan.Biar sementara mas Saka nanti yang nungguin tukangnya.Mbak bisa kok ngurus toko kami sendiri.Naira sama Sadewa kan ada yang ngasuh"Imbuh mbak Dewi.Mbak Dewi ikut ikutan mendukung mereka.
Saka melihat gelagat Pandu yang akan terus menolak.
"Ra,kamu suka liburan kemana?"Saka langsung menodong Kara.
Kara pun terkejut.Kenapa aku?
"Liburan mas?"Jawab Kara dengan bingung.
"Ee,nggak tau mas.Nggak pernah liburan"
"Masak sih kamu nggak pernah piknik kemana gitu"Ucap saka.
"Ee"Kara bingung melirik kearah Pandu bahwa ia butuh pertolongan menjawab.Rupanya Pandu tak mau tau,hanya menaikan kedua bahunya.Yang berarti 'Aku juga nggak tau'
"Mmmm kemana ya mas"
"Ke Bali?Ke Lombok?atau Karimunjawa?"Ucap Saka memberi pilihan dan meraih ponselnya.Berusaha mencari sesuatu.
"Liat ini"Saka menunjukan sebuah foto dari ponselnya.Menunjukan pada Kara dan Pandu lalu kepada ibu.
"Bagus kan bu?menurut ibu gimana?"
"Wah,iya bagus banget itu.Kalau aku ditawarin aku langsung mau Ndu.Tempatnya bagus banget gitu.Udahlah nurut aja apa kata mas mu"Imbuh ibu yang mendukung seribu persen ide Saka.
"Ndu,lihat Kara.Lagian dia juga keliatan banget sayang sama anak anak"Dewi menunjuk Kara karena posisi Naira sedang nyaman berada dipangkuan Kara.
Sindiran yang mengandung dukungan agar nereka segera mempunyai anak.
Pandu tak bisa berkata apa apa.Menghela nafas kesal,namun berusaha ia tutupi.Sebenarnya Saka,Dewi dan Ibu sangat tau bahwa Pandu kurang menyukainya.
Tapi kenapa?
Namun mereka menganggap mungkin Pandu masih malu malu.Pandu terkenal tidak mudah bercanda.Sosok pribadi yang kaku tidak seperti Saka kakaknya.Sangat berbanding terbalik.
Tiba tiba kedatangan Via dan Vio mengagetkan mereka.
"Assalamualaikum"Via dan Vio serentak mengucapkan salam.Padahal mereka masih ada di teras.Terdengar mereka sedang bergurau.Entah apa yang mereka bicarakan sehingga terdengar tertawa geli.
"Walaikumsallam"Sahutan salam dari dalam pun juga yak kalah kompaknya.
Lalu Via dan Vio muncul dari pintu.Mereka histeris karena melihat Kara sudah ada di dalam.Via dan Vio sangat senang Kara bisa disini.Sudah lama ingin berkumpul bareng.Lagipula mereka juga sudah lama menantikan kakak ipar yang tak lain adalah istri Pandu.
Maka dari itu akhirnya yang mereka nantikan kini menjadi kenyataan.Mereka mempunyai kakak ipar perempuan satu lagi.
Jika dengan Dewi mereka sudah lama kenal.Karena usia yang terpaut jauh.Dewi sudah terlalu dewasa jika diajak mengorbol tentang anak jaman sekarang.
Apalagi Via Vio tau Kara memiliki bakat musik yang bagus.Mereka ingin sekali belajar musik.
__ADS_1
"Mbak Kara"Seru mereka sangat senang.
"Aaaarrgggghhh"
Via dan Vio bergegas menghampiri Kara dan memeluknya.
"Haayyy,,kalian darimana sih?"Ucap Kara yang juga merasa senang.
"Dari beli krupuk disuruh ibu"Jawab Via.
"Vio,mana krupuknya kasih ke ibu"
Vio pun nyengir hampir melupakan krupuk ditangannya.Lalu memberikannya pada ibu.
"Kalian beli krupuknya di Mekah ya?"Sahut Saka.Karena hampir satu jam mereka baru kembali.
"Perjalanan macet mas"Vio menyahut.Tentu saja bukan itu alasan sebenarnya.
"Vio ketemu mantan pacarnya tuh"Olok Via.
"Siapa sih dek?"Ucap Dewi.
Via membisikan sesuatu kepada Dewi.Namun masih terdengar oleh Vio.
"Lukman,anaknya Pak Gofur"Via pun tertawa kecil meledek Vio.
"Heh,jangan nyebar gosip kamu"Vio kesal mengerucutkan bibirnya.Karena Via meledeknya dengan Lukman.
Tentu saja bukan Lukman alasan mereka lambat pulang.Mereka mampir kerumah teman SMAnya yang ada disebelah warung.
"Mbak Kara,Vio tu deket deket mbak mau minta diajarin main gitar tuh"Celetuk Via tak henti hentinya membuka perlawanan pada Vio.
"Oh ya?boleh boleh"Kara bersemangat.
"Via,udah lah jangan ngledek adekmu terus"Cegah ibu.
"Bibirnya jelek banget"Ketus Pandu.Tentu saja bercanda mengolok Vio yang masih manyun.
"Wis wis.Nggak usah pada berantem.Nanti Lukman sama Vio,Nanti Via sama Darmaji cucunya mbak Darmo"Saka ikut ikutan jadi kompor dari mereka berdua.
Vio yang tadinya cemberut kini bisa tertawa terbahak bahak karena candaan mas Saka.
Darmaji adalah pemuda yang malang,dirinya depresi karena cita cita yang tidak tercapai menjadi aparat.
Mereka mengobrolkan hal hal remeh lainnya yang membuat mereka tertawa.
Kara disini merasa betah,merasa keluarga ini keluarga yang seru.
Tapi kenapa mas Pandu paling beda sendiri.Mas Pandu sama sekali nggak humoris.
Hanya sesekali ikut tersenyum saja.
"Oh ya,ini gimana acara bulan madunya.Jadi to Ndu?"Saka kembali membahas tentang bulan madu.
"Nanti aja lah mas,gampang"Ucap Pandu berusaha menolak secara halus.
"Ra siapa nama lengkapmu?"Tanya Saka.
"Kara Mahika mas"Jawab Kara polos.Tidak tau kenapa Saka menanyakan nama lengkapnya.
Setelah diselingi obrolan mereka.Saka mengirim pesan ke ponsel Pandu.
"Wis Ndu,liat hapemu.Aku ngirim WA ke kamu"Ucap Saka senang.
"Ngirim opo to mas?"Ucap Pandu dengan raut wajah yang datar.
__ADS_1
Pandu mengecek ponselnya.
"Mas,apa sih ini?"Pandu kesal.Saka memesankan dua tiket pesawat ke Belitung.Meskipun Belitung adalah tempat yang ingin ia kunjungi.Tapi bukan begini caranya.
"Apa mas?"Kara penasaran dan melirik hape Pandu.Kara melihat E-tiket yang dikirim oleh Saka.
Kara terkejut,melongo menatap Pandu.Meminta penjelasan.
Kita harus bagaimana ini?
Pandu hanya bisa menghela nafas.
"Batalin tiketnya mas,kalau aku udah sempet aku bakal pesen tiket sendiri kemanapun aku mau pergi"
Pandu menolaknya.
Namun disini justru Kara yang merasa tidak enak dengan Saka.Saka sudah bersemangat mendukung acara bulan madu ini.Niat mas Saka baik.Karena mas Saka mengira pernikahan mereka didasari rasa cinta.Jadi untuk berbulan madu itu sangat menyenangkan bagi pengantin baru.
Kara menyentuh lutut Pandu.
"Mas,niat mas Saka baik.Anggap aja itu kado pernikahan untuk kita"Kara mencoba menenangkan Pandu.
"Iya kan mas Saka?"Ucap Kara pada Saka.
"Betul apa kata istrimu.Udahlah berangkat sana"Imbuh ibu.
"Biar cepet tambah cucu,tambah rame"
"Iya Ndu,ibu kan seneng banget kalau rumahnya rame banyak anak anak"Dewi pun ikut memojokan Pandu.
"Iya kan bu?"
"Lho ya jelas to Ndu.Masalah toko nanti sementara Saka yang urus.Wis nggak usah khawatir"
Ibu merasa senang sekali.
"Aku juga setuju"Via dan Vio serentak.
"Apa kamu?"Ucap Pandu menatap dingin kedua adiknya.
Via dan Vio menciut tapi tak mengurungkan niatnya berbicara.
"Setuju mbak Kara punya anak sama mas Pandu"Ucap Vio.
Via menyenggol kaki Vio,tanda merasa sedikit takut jika Pandu akan marah.Kakak laki lakinya yang satu ini kan memang nggak bisa diajak bercanda.
"Iya kan Via?"Vio malah meminta persetujuan Vio yang sudah mulai keringetan.
"I,i,iya"Via mengangguk dan senyum kaku.
Tapi Dewi justru tersenyum.Dia yakin jika ibu sudah mendukung Pandu tidak akan menolak.
Pandu menatap ibunya.Dan ibu pun mengangguk.
"Sana berangkat"Senyum ibu begitu tulus bahagia dan ada harapan banyak disana.
Sementara Kara mengamati kondisi saja.Dia akan ikut apa kata Pandu.
Pandu menghela nafas panjang sebelum memutuskan.
"Ya nanti ku atur lagi gimana baiknya"Jawaban Pandu yang seperti itu sudah bisa dipastikan.Bahwa 99persen setuju.Jika ia meneolak pasti Pandu terang terangan berkata tidak.
Via Vio bersorak,Naira dan Sadewa ikut tertawa melihat tingkah tante kembarnya itu.
Ibu sangat senang.Begitu juga dengan Saka dan Dewi merasa puas melihat ibu tersenyum.
__ADS_1