
"Bu,ibu.Kayaknya pengantin baru udah dateng"Ucap Saka pada Ibu yang sedang sibuk di dapur.Sampai tak mendengar suara motor Pandu.
"Hey,yang bener.Mana mana?"Bu Yunda pun bergegas membasuh tangannya.
"Alhamdulillah anak anakku udah sampai rumah,udah kangen banget aku lama nggak ketemu"Cerocos Yunda.Sampai mengabaikan Saka.Dan berjalan cepat menyambut Pandu dan Kara.
Sedangkan Saka memang sudah sejak tadi siang tiba dirumah.
Dewi yang sedang ada diruang tengah bersama anak anaknya.Tersenyum melihat ibu mertuanya bahagia menyambut kedatangan putra dan menantunya.
"Assalamualaikum"Kara mengucapkan salam.
Yunda yang pertama kali keluar,antusias menyambut mereka.
"Walaikumsallam nduk cah ayu"
Kara pun tersenyum,senang mertuanya menyambut dengan sangat ramah.Kara langsung dipeluk oleh Yunda,dan Yunda pun mencium kedua sisi pipi Kara.
"Woalah,baju kalian basah?"
Kara mengangguk.
"Bu"Pandu menyusul dibelakang Kara.
"Assalamualaikum"
"Walaikumsallam le"Jawab Yunda.
Pandu memeluk ibunya,sudah menjadi kebiasaan.
"Ibu sehat kan?"
"Alhamdulillah sehat"Mereka melepas pelukan.
"Ayo masuk,cepat ganti baju.Nanti kalian masuk angin"
Yunda membimbing mereka masuk.
"Heyyy,manten anyar"Seru Saka dengan watak jenakanya.
(manten anyar\=pengantin baru)
Kara tersenyum sangat tulus dan menunjukan bahagianya.Keluarga suaminya menyambut kedatangannya dengan sangat baik.
"Mas,mbak.Kalian udah dari tadi?"Ucap Kara.Kara menghampiri mereka dan menyalami.
"Udah dari tadi siang Ra,apa kabarmu?"Ucap Dewi istri Saka.Cipika cipiki dengan Kara.
"Woalah kalian kehujanan.Ya udah cepet ganti baju nanti masuk angin lho"
Disusul Pandu menyalami kakak dan iparnya.
"Iya mbak,ya udah aku ganti baju dulu ya"Ucap Kara berpamitan.
"Iya,nanti kita lanjut ngobrol lagi ya"Ucap Dewi.Dewi sosok yang cukup menyenangkan.
Pandu dan Kara pun menuju kamar mereka.
__ADS_1
Bingung?Canggung?iya mereka merasakan itu.Malam ini terpaksa mereka sekamar.
Sesampai di depan kamar mereka saling melempar pandangan.
"Aku mau ke kamar mandi dulu,ganti bajumu"Ucap Pandu lirih dan pergi ke kamar mandi.Kamar Pandu tidak ada kamar mandi dalamnya.
"Ya mas"Kara menurut tanpa membantah.
"Keringkan rambutmu,handuknya ada lemari paling bawah"Ucap Pandu sebelum benar benar pergi ke kamar mandi.
Pertama kali Kara masuk ke kamar Pandu yang di rumah ibunya.Dengan type kamar yang sama.Tertata rapi,warna dominan abu abu,tidak banyak hiasan dikamar.Tapi ukuran kamarnya sangat kecil,ukuran 3x3m.Namun terasa sangat nyaman.Itu kesimpulan Kara saat sekilas memindai kamar ini.
Kenapa Kara merasa bahagia,bisa berada dirumah ini sekarang.Karapun senyum senyum sendiri.
Lalu Kara dengan cepat mengganti pakaiannya yang basah.
Tak lama ia selesai berganti pakaian ada suara pintu yang diketuk.Lalu kenapa ada suara ibu.Sedang ngobrol dengan mas Pandu.
Kara tidak langsung membuka pintunya.Namun malah ingin tau yang diobrolkan mereka berdua di depan pintu.
"Ndu,kamu ngapain?"Ibu memergoki Pandu sedang mengetuk pintu kamarnya sendiri.
"Egh,anu bu.Mau masuk kamar"Pandu terkejut membuatnya gelagapan menjawabnya.
"Ndu,masuk tinggal masuk aja lho.Kalian berdua kan sudah jadi suami istri.Kenapa harus ngetok sebelum masuk?"Ibu merasa aneh melihatnya.
Pandu hanya bisa nyengir.Sempat bingung memikirkan alasannya.
"Oh iya bu.Pandu masih sering lupa kalau Pandu udah menikah"
Ohh ternyata mas Pandu kepergok sama ibu.
Ingin sekali menertawakan Pandu.
"Eh ada ibu"Kara yang cepat tanggap.Segera menyelamatkan Pandu dari gugupnya menghadapi ibu.
"Hey Kara,ini lho Pandu mau masuk kamar aja pake ketok dulu.Katanya lupa kalau sudah jadi suami istri"Jelas ibu sambil tertawa merasa lucu.
"Iya bu,mas Pandu kadang lupa gitu"Kara menjawab dengan santai.
"Ya udah ibu mau ke dapur dulu ya"Ibu pamit.Pandu pun menghela nafas lega.
Ibu berlalu pergi menuju dapur.
"Lain kali nggak usah ketuk pintu dulu mas"Olok Kara sambil menahan tawa.
"Udah sana,saya mau ganti baju"Pandu mengusir Kara yang masih bersandar di pintu.
"Ikut"Rengek Kara lirih meledek Pandu.
Kara pun langsung bergegas pergi setelah melihat tatapan Pandu.Tidak bersuara namun tatapannya membuat lawan bicaranya lari terbirit birit.
Kara pun berlalu pergi menyusul iparnya diruang tengah.Sebelum Pandu benar benar masuk ke kamar untuk berganti pakaian.
Apaan sih Kara.
Batin Pandu kesal campur malu.
__ADS_1
"Eh Ra,sini Ra"Sapa mbak Dewi.Lalu menungkan secangkir teh yang sudah tersedia dimeja.Dan menyodorkannya dihadapan Kara.
"Lagi ngapain mbak?hey halo?"Sapa Kara pada kedua anak Dewi dan Saka.
"Makasih mbak"Ucap Kara menerima secangkir teh.
"Halo tante Kara"Ucap Dewi membimbing kedua anaknya untuk menyapa Kara.
Dengan tersenyum malu si sulung bersalaman.Maklum mereka baru kedua kalinya bertemu dengan Kara.Lagipula keduanya baru saja bangun tidur.
Naira putri pertama mereka berumur empat tahun.Dan Sadewa putra kedua mereka yang berumur satu tahun.Baru belajar berjalan.
"Kayaknya Naira masih malu,maklum mereka juga baru bangun tidur"Ucap Dewi.
"Kalian tadi kehujanan dimana?"Sahut Saka yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya.
"Kara nggak tau daerah mana mas,disawah sawah gitu mana nggak ada rumah buat neduh.Untung saja ada warung angkringan disitu"Kara masih merasa canggung dengan mereka.Ini pertemuan ketiga sejak acara lamaran,pernikahan dan hari ini.
Bagi Kara,mbak Dewi dan mas Saka orang orang yang sangat ramah.
Maka dari itu sangat membantu Kara untuk cepat akrab dengan mereka.Obrolan mereka terlihat asik.
Apalagi ibu juga sudah bergabung dengan mereka.Sambil meminum teh dan camilan seadanya.Ibu terlihat bahagia.Naira juga sudah kembali mood setelah bangun tidur.Mengelendot manja dengan Kara.
Sedangkan Sadewa mengocek dan minta titah berkeliling ruang tengah.
Suasana diruang tengah menjadi lebih hidup karena bertambah kedatangan Kara.Kara pun sangat senang dengan suasana seperti ini.
Kara merasakan keluarga yang hangat disini.
Akrab dan tak ada saling menyinggung.Kara bersyukur sekali.
Suasana yang sudah lama ia rindukan.
Berkumpul dengan keluarga.
Mereka bukan ibu kandung,ataupun bukan saudara kandung.Tapi Kara sangat merasakan kebaikan dan kasih sayang mereka pada Kara.
Pandu yang sudah selesai berganti pakaian.Hanya bisa menatap dari jauh.Ingin segera bergabung.Tapi tak sadar tawa Kara yang tanpa beban itu mengalihkan pandangannya.
Baru kali ini saya lihat kamu tertawa lepas begini.Jadi gitu wajahmu kalau lagi ketawa.
Tanpa Pandu sadari ia tersenyum tipis.
Dan sudah cukup memindai keakrab an mereka.Dan segera menyusul bergabung bersama mereka.Duduk di sebelah Kara.Sejajar sangat dekat bahkan bersentuhan.
Kara terkejut,jangan ditanya bagaimana perasaan Kara.Tentu saja sangat senang.
Ya ampun mas,kamu wangi banget.Kenapa aku suka banget wangi kamu mas.Ini sumpah wanginya,hmmmhhh ya Tuhan parfum apa yang dipakai sama makhluk tampang disampingku ini Tuhan?
Batin Kara,wanginya mengacaukan pikirannya.
"Ada apa?"Ucap Pandu lirih.
"Nggak mas,nggak apa apa kok"Ucap Kara mengalihkan bermain dengan Naira yang ada dipangkuannya itu.
Tentu saja karena Kara merasa malu.
__ADS_1