Pernikahan Kontrak Pak Guru

Pernikahan Kontrak Pak Guru
Ku Usap Wajah di Fotomu


__ADS_3

Sore ini Risty tidak ikut ke alun alun untuk membantu orang tuanya berjualan angkringan.


Badannya kurang sehat.Bagaimanapun juga pikiran yang sedang kalut akan berimbas pada kesehatan tubuh.


Maka dari itu banyak sekali penyakit yang berasal dari pikiran yang terlalu sesak.


Risty merasakan sakit dikepalanya.Ia meraba laci dimeja samping tempat tidurnya.Tak kunjung ia dapatkan obat pereda sakit kepala.Lalu Risty terpaksa duduk untuk melihat jelas isi laci itu.


Ia sibak isi laci,dan melihat semua isinya.Tak iya temukan juga obat pereda sakit kepala.


Risty terdiam terpaku,seonggok foto ada didalam sana.


Foto Pandu dan dirinya.Bukan karena Pandu dan dirinya menjalin hubungan khusus.Namun ini foto foto waktu mas Saka menikah.


Risty sempat menjadi pagar ayu.Dan Pandu menjadi pagar bagus.Ada beberapa teman lainnya juga yang menjadi pagar ayu dan pagar bagus.


(Pagar ayu/bagus adalah pengiring manten.Dengan berpasang pasangan.Pagar ayu/bagus mengawal kedua mempelai menuju pelaminan.Dalam adat jawa)


Risty mengambil foto itu.Menilik satu persatu foto itu.Ada foto yang hanya mereka berdua.Karena saat itu Pandu dan Risty dipasangkan.Pandu tampak tersenyum dalam foto itu.Tampan sangat tampan,dan masih terlihat lebih kurus daripada sekarang.


Risty pun ikut tersenyum saat memindai goto dirinya yang sedang tersenyum juga.


Senyumnya menyurut seiring rasa sakit hati yang mendera.


Ini hanya sebuah potret Ris.Siapa saja bisa duduk berdampingan dan berpasang pasangan,lalu diabadikan.Bahkan bukan kekasihnya sekalipun.


Kamu jangan terlalu berharap untuk dapat berdampingan dengan pria tampan ini.


Batin Risty bergolak.Tak sadar jemarinya mengusap wajah pria di foto itu.


"Risty pikir,Risty akan benar benar mendampingimu mas.Ternyata hanya sebatas pagar ayu dan pagar bagus itu saja.Risty sadar Risty bukan apa apa dan bukan siapa siapa.Nggak tau kenapa Alloh kasih perasaan ini singgah dihati Risty,kalau kamu pun tak membalasnya"


Ristu melamun masih memindai wajah tampan difoto itu.


"Mas kamu bahagia nggak sama pernikahanmu?pasti bahagia sekali kan?Tadi aku lihat istrimu sangat cantik.Senyumnya manis sekali.Aku pun setuju kalau istrimu benar benar cantik.Pasti dia sangat mencintaimu ya.Pasti cintanya lebih dari rasa yang Risty punya buat mas Pandu.Mas Pandu beruntung punya istri seperti dia.Kamu pasti juga sangat mencintainya bukan?


Iya mas aku tau.Jatuh cinta memang nggak bisa milih.Kalau mencintaimu sesakit ini,lebih baik aku akan jatuh cinta dengan pria lain,bukan kamu mas"


Bibir Risty perlahan berucap lembut.Namun air matanya yang mengalir tanpa diminta.


Risty segera menghapus air matanya dan membuang foto Pandu ketempat sampah.Saat akan melepaskannya dari tangan lalu terhenti.


Risty mengurungkan niatnya dan menarik lagi tangannya bersama foto foto itu.


Ada rasa tidak tega didalam hati Risty.Biarlah disimpan dulu.Jika benar benar siap akan segera dibuang bersama perasaannya.


Lalu ditemukannya obat pereda sakit kepala.Tak menunggu lama Risty meminumnya.Menyimpannya kembali sisa obat itu dan menutup laci itu itu rapat rapat.


Beberapa saat Risty membaringkan tubuhnya.Dan beristirahat,sakit kepala Risty mulai reda.Dering ponsel pun berbunyi.Ternyata ibunya menelpon.


Ibunya melupakan sesuatu,sehingga Risty harus mengantarnya ke alun alun.Lokasi dimana kedua orang tuanya berjualan.


Karena sakit kepalanya sudah mulai berkurang.Risty bergegas mengantar barang yang Wanti maksud.


Menuju alun alun,dengan menggunakan sepeda motor.Disty mengendarainya dengan pelan dan berhati hati.Sesuai nasihat ibunya.


Sore itu cuaca tampak cerah,cerahnya mengalahkan suasana hati Risty saat ini.Meskipun begitu Risty merasa sedikit terhibur oleh semburat jingga mentari yang hampir menenggelamkan diri di peraduan.


Sebelum menuju alun alun Risty bertujuan mengisi bahan bakar terlebih dahulu untuk motornya.

__ADS_1


Tak terlalu lama mengantri.Risty masih duduk diatas motornya sambil menunggu antrian berikutnya.


Dan dibelakang Risty juga sudah ada yang mengantri.


Brumm..brummm...


Suara motor sport bergemuruh dibelakang Risty.


Sepertinya hari ini belum cukup hukuman untuk Risty.


Tepat dibelakangnya adalah Pandu tentu saja dengan Kara.


Setelah Pandu lebih tenang,mereka melanjutkan kembali perjalannnya.


Penasaran Risty melihat dari kaca spion.Suara motornya besar sekali.Pasti motornya bagus dan gagah.


Penasaran seperti apa motor itu.Malu jika langsung terang terangan menengok ke belakang.


Perlahan Risty mengintipnya dari kaca spion.Awalnya memuji motornya.Setelah diamati seperti mengenali motor itu.


Dan tentu saja Risty sangat mengenali motor itu.Pengendaranya adalah Pandu.Tentu saja dengan istrinya yang cantik itu.


Ingin sekali Risty melarikan diri.Tubuhnya gemetar,degub jantungnya berlarian kesana kemari tak beraturan.


Sedangkan antriannya tinggal satu lagi motor didepan Risty.


Lagipula jika Risty kabur,bensin yang ada didalam motornya mungkin tak sampai lima ratus meter akan habis.


Siall,,siall siall..


Ya Tuhan,kenapa tega seperti ini padaku.Kuatkan aku ya Alloh.Beri aku kekuatan setidaknya sampai aku mengisi penuh bahan bakar motorku.


meskipun Pandu menggunakan motor sport.Kara selalu turun jika saat mengisi bahan bakar.dan menunggu ditempat twduh setelah pengisian.


Kara berdiri menunggu Pandu selesai mengisi bahan bakar.Masih ada dua motor lagi didepannya.Sambil melihat lihat suasana sekitar.


Risty diam diam mengamati Kara.Postur tubuhnya yang menarik.Kakinya yang jenjang.Istri Pandu memiliki selera fashion sederhana namun terlihat tidak urakan.Dengan jaket merah muda yang sangat cocok ia kenakan.


Menunggu selesai stu motor saja rasanya seribu tahun bagi Risty.


"Hey,mbak"Suara itu mengejutkan Risty.


Risty tergeragap.


"Egh,saya?"Risty memastikan bahwa yang dimaksud Kara adalah dirinya.


Kara mengangguk dan mendekati Risty.


"Iya"


"Kalau tidak salah mbak anaknya bu wanti kan?yang ketemu di pasar tadi pagi"


Kara tampak senang bisa bertemu kembali dengan gadis ini.


"mmm Risty?"Kara ingat namanya Risty saat tidak sengaja pedagan ayam itu menyebut nama gadis itu.Meskipun ibu mertuanya tidak memperkenalkannya.


"Iya mbak saya Risty,mbak?"Risty memilih pura pura tidak tau kalau dihadapannya ini adalah istri mas Pandu.


Dengan sangat ramah Kara mengulurkan tangannya bertujuan berkenalan.Senyumnya lebar sangat bersahabat.

__ADS_1


Dengan sikap Kara yang seperti ini membuat Risty tidak sungkam untuk berkenalan.


"Kenalkan,saya Kara yang tadi sama bu Yunda.Saya mantunya bu Yunda"


Kara dengan senang memperkenalkan dirinya tanpa tau siapa gadis ini sebenarnya.


Risty pun tersenyum meskipun sedikit kaku.Kara berniat baik,bukankah harus dibalas baik juga.Riaty juga membalas uluran tangan Kara.


"Senang bisa kenalan sama mbak"


"Kamu mau kemana?sendirian?"


Tanya Kara,suaranya yang ramah.


"Iya saya sendiri mbak.Ini mau ke angkringan ibu,Ada yang ketinggalan"Jawab Risty disertai senyum kaku nya.


"Oh gitu.Kalau aku mau perjalanan pulang.Besok mas Pandu udah mulai ngajar.Kamu kenal juga sama mas Pandu kan?Tuh orangnya"


Kara sembari menjuk ke arah belakang Risty.


Karena Risty merasa tidak enak,Risty pun menoleh ke belakang sebentar.Dan sempat tersenyum dan mengangguk.


Begitu juga dengan Pandu yang membalas anggukan.


"Iya mbak,tentu saya kenal mas Pandu"Ucap Risty sambil mendorong motornya untuk giliran mengisi bahan bakar.


"Kapan kapan main kerumah kami kalau pas lagi ke jogja.Nggak jauh kok dari Malioboro"


Ucap kara.Kara memang humble mudah kenal dengan orang baru.


"Iya mbak insyallah"Jawab Risty yang ingin segera meninggalkan tempat itu.Entah kenapa pelayan SPBU malah sedang berbicara kepada atasannya.Sepertinya karena baru ganti sift.


Risty pasrah dengan posisi sekarang ini.Untung saja Kara sosok yang ramah.Tidak menambah rasa sakit dihatinya.


"Mas,ada Risty.Katanya mau ke angringan"Ucap Kara sedikit menaikan nada bicaranya.Tampak senang bertemu dengan Risty.


"Iya,kok baru berangkat jam segini Ris?"Ucap Pandu.Setau Pandu biasanya mereka bersiap siap sebelum jam tiga sore.


"Iya mas,tadinya nggak mau ikut.Ini cuma mau antar ada yang ketinggalan"Jawab Risty.Yang tampak baik baik saja.Saat ini Risty menahan gugup,takut,cemburu dan apapun itu yang menguras emosi.


Tahan Ris Tahan.


Risty terua mensugesti pikirannya.


"Oh gitu,yaudah hati hati lho.Jalanannya ramai kalo udah sore begini"Pandu menjawab sekedarnya.


Tapi jawaban yang menurutnya sekedarnya adalah suatu perhatian yang berharga bagi Risty.


Ristu tersenyum dan mengangguk ke arah Pandu.


"Iya mas terima kasih"


"Mbak saya duluan ya"Risty lanjut berpamitan dengan Kara.


"Tunggu dulu Ris,boleh minta nomer hp?biar kalau aku kesini ada temennya"Kara benar benar senang bertemu teman baru.Dan tanpa tau bagaimana kondisi hati si gadis dihadapannya itu.


Kara mengulungkan ponselnya pada Risty,agar Risty menekan nomor ponselnya.


Pada akhirnya Kara menyimpan nomor Risty.

__ADS_1


Entah kenapa perasaan takut,cemburu yang menggebu gebu tadi sedikit surut.


Risty melanjutkan perjalannya.


__ADS_2