
Perjalanan sore yang cukup jauh.Akhirnya mereka tiba di parkiran apartmen.
"Mas,aku mau beli sesuatu dulu ya.Mas naik dulu aja nggak apa apa.Aku cuma sebentar kok"Ucap Kara ijin akan ke minimarket di basement apartmen.
"Ya udah,aku duluan.Mana tas nya biar aku yang bawa"Meskipun Pandu sosok yang kaku,egois dan sebenarnya sangat jahat pada Kara.Melihat Kara menggendong ransel besar itu,Pandu tetap merasa kasian.
Kara tentu saja sangat senang atas perhatian Pandu padanya.Senyum lebarnya terkembang menghiasi wajah cantiknya.
"Baik sekali,terima kasih suamiku"
"Apaan sih?"Pandu risih.
"Siapa coba?emang iya kan?"Jawab Kara tentu saja mengandung candaan.Tapi itu kenyataannya kan?
Pandu menghela nafas kasar.Dan meninggalkan Kara.
Lalu menggerutu disetiap langkahnya.
"Kara apaan sih?hmmh"
"Tapi emang bener sih,aku suaminya"
Pandu menyeringai.Berjalan menuju lift lalu menekan tombol.
Tak menunggu lama pintu lift terbuka,hanya beberapa menit saja telah sampai di lantai empat.
Pandu menekan nomor kode di smartlock.
Saat Pandu masuk dan melepas sepatunya.Terkejut disana ada alas kaki yang bukan miliknya atau pun Kara.
Saka sudah berada di dalam.Kini ia sedang duduk di sofa seorang diri.
Mvak Dewi dan anak anaknya sepertinya ada di ruang kerja Pandu.Terdengar suara mereka dari sana.
"Mas?kok ada disini?"Tanya Pandu penuh penasaran.Tak heran jika Saka bisa masuk ke dalam.Karena keluarga Pandu tau berapa kode smartlock pintu apartmen nya.
Yang Pandu heran.Tumben sekali Saka ada disini.Apakah ia akan membahas soal semalam?
Ya tentu saja.Pasti mas Saka tidak tinggal diam.
Rupanya pertanyaan Pandu dijawab dengan pukulan.Kepalan tangan Saka mendarat di wajah Pandu.
Saka sengaja tidak berteriak memaki Pandu.Karena di sisi ruang lain ada anak anaknya.
Pandu jatuh tersungkur di tepi sofa.Pandu tidak melawan,cukup diam.
"Keparat kamu Ndu!"Maki Saka lirih.
"Maksudmu opo?"
Sekali lagi Saka mendaratkan kepalannya ke wajah Pandu.
Pandu meringis menahan sakit.Namun tetap saja tak mau melawan.
"Kamu mau bikin ibu jantungan?kamu sengaja mau mempermalukan keluarga kita?"
Saka tampak jengah menatap wajah keparat ini.
Dewi sekilas melihat,dia merasa ngeri.Namun tetap tidak beranjak dari posisinya.Demi anak anaknya agar tidak melihat kemarahan ayahnya.
Dewi sangat kasian pada Pandu.Dewi pun tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.Tiba tiba suaminya memukul adik iparnya itu.
__ADS_1
Pandu tetap tidak menjawab sepatah katapun.
"Dengar Ndu,kamu ini pengecut.Laki laki macam apa kamu ini.Berani beraninya mempermainkan pernikahan.Hah!jawab keparat"
Saka geram karena Pandu tak kunjung menjawabnya.
Dewi pun tercengang mendengarnya.Masih terdengar meskipun Saka melirihkan suaranya.Dewi terkejut kedua telapak tangannya menutup mulutnya.
Sungguh Dewi sulit mempercayai ini.Apa yang dilakukan Pandu terhadap pernikahannya?
bukankah Pandu dan Kara tampak baik baik saja?
Saka benar benar habis kesabaran.
Ia sudah mengepalkan tangannya lagi untuk siap mendaratkan kepalannya ke wajah Pandu lagi.
Namun teriakan Kara menghalangi.
"Mas Saka,udah!"
Kara bergegas berlari mendekati Pandu.
Sementara Dewi cepat cepat membawa Naira dan Sadewa masuk ke kamar.
Tidak baik jika anak anak menyaksikan pertengkatan.
Kara menatap Pandu penuh rasa kasian.Nafasnya ikut terengah engah.Tak sanggup rasanya melihat sudut bibir Pandu mengeluarkan darah.Tak sadar air mata Kara menetes saat hati tak mampu menahan rasa sakit atas perlakuan Saka.
"Kalian berdua memang sama saja.Sekarang aku tanya sekali lagi.Untuk apa kalian menikah?"Saka tampaknya lebih marah dari sebelumnya.
Kara pun terdiam tak sanggup menjawabnya.Hanya bisa melempar pandangannya pada Pandu.Dan disana Pandu sedang menahan kesakitannya.
Kara pun mendengarnya secara jelas perkataan Saka dengan penuh kemarahan.
Kara hanya bisa menangis.
Tampaknya kesabaran Saka sudah habis.Tangannya kembali mengepal,bersiap kembali menghajar Pandu.
Tinggal beberapa senti lagi kepalan Pandu mengenai bagian wajah lain dari Pandu.
Namun beruntung Kara dengan cepat memeluk Pandu.Kara melindungi Pandu dari hantaman Saka.
"Sudah mas Saka hentikan"Kara berteriak diiringi isak tangis.Dan ada Pandu dalam pelukannya.
Kara turut merasakan bagaimana sakit luka Pandu.Ada rasa berdesir dihatinya,bedesir perih sangat perih.
Melihat Pandu terluka,berdarah seperti ini.
"Jangan pukul mas Pandu lagi mas,Kara mohon hentikan.Kasian mas Pandu,dia kesakitan"
Meskipun lantang berucap namun air matanya terus mengalir.Bibirnya bergetar bercampur rasa takut.
Pandu kehilangan banyak energinya.Rasa lelah setelah perjalanan jauh.Ditambah pukulan Saka beberapa kali sehingga dirinya harus sekuat tenaga menahan sakit.Wajahnya,perutnya terkena pukulan Saka.
Kara memeriksa Pandu yang sedang berada dipelukannya.
"Mas,sakit ya.Yang kuat ya mas"
Kara merasa kasian dan prihatin melihat dari mata Pandu yang mulai sayu.Sakut yang ia rasakan pasti teramat sangat menyiksanya.
Namun Pandu justru menyeringai.
__ADS_1
"Mas?"Kara meminta Pandu menjelaskan,kenapa sikapnya seperti ini.
Kini Pandu bersandar dipaha Kara yang duduk bersimpuh.Tangan Kara menahan kepala Pandu.
"Jangan nangis,aku nggak apa apa"
Rintih Pandu.
Kara menatap Pandu dengan bingung.Pandu pun perlahan beringsut dari tubuh Kara.Kara membantu Pandu untuk menegakan duduknya.
Pandu berhasil duduk diatas sofa.
"Apa yang mas Saka katakan tadi?orang tua kita tidak pernah mengecewakan kita?"
Pandu menyeringai.
Saka pun menatap Pandu angkuh,kesal masih diliputi kemarahan.Saka duduk di sofa sisi lain.
"Itu kan untukmu.Bukan aku."Pandu menatap Saka.
"Mas Saka tau apa yang jadi impianku?mas Saka tau kan apa yang aku cita citakan?"
Saka mengalihkan pandangannya dan bersidekap.Menunggu kelanjutan penuturan Pandu.
"Nggak pernah sedikitpun bapak dan ibu tau dan mengerti apa mauku.Sampai aku terpaksa menjadi guru,semuanya sudah aku turuti kemauan mereka mas.Apa aku harus menurut juga untuk dijodohkan?"
Saka rupanya paham apa yang dirasakan Pandu.Dirinya hanya diam tanpa kata.
"Lihat mas,kamu yang sekarang.Kamu jadi diri kamu sendiri.Kamu jadi pengusaha sesuai keinginan kamu.Sampai aku membuka minimarketpun juga karena aku menurutimu mas.Atas nama ibu kamu menyuruhku membuka usaha.Aku tau meskipun pada akhirnya usaha itu sangat membantu ekonomiku.
Aku menikahi Kara memang bukan atas dasar saling cinta.Aku tidak mau dijodohkan,aku nggak mau lagi menuruti kemauan orang tua untuk masalah jodoh.
Dan kami pun sama sama sepakat untuk itu.Kara pun menikah denganku juga ada alasannya.Dan sama,tidak ada cinta"
Tutur Pandu menggebu gebu.
"Tapi mas"Sanggah Kara.
Ingin sekali menentang kalimat terakhir yang Pandu ucapkan.Dalam hati Kara tidak terima jika perasaan yang ada dihatinya ini tidak dianggap.
Pandu lalu menatap Kara.Bermaksud agar Kara tidak mengatakan satu patah kata pun.
"Diam"Ucap Pandu pelan.
Kara pun menurut tanpa membantah.
"Lalu mas Saka pikir semua jalan hidupku harus orang lain yang tentukan?oke semua studiku aku patuh sama kemauan bapak sama ibu.Tapi untuk jodoh,biar aku yang tentukan.Jujur aku tidak pernah bilang menolak perjodohan secara terang terangan sama ibu.Tapi aku ingin menunjukan bahwa aku berhak menentukan pilihanku sendiri"
Kara baru sekali ini mendengar Pandu bercakap panjang lebar.Suaranya lantang dan kali ini bukan sosok Pandu yang pendiam.
Jadi selama ini Pandu selalu memilih diam karena tidak mau membantah pada orang orang terdekatnya.
Jadi ini bentuk protes mas Pandu pada keluarganya.
Selama ini mas Pandu hanya bisa menuruti semua perintah orang tuanya.
Mas alangkah sangat bahagia jika dihatimu tumbuh cinta untukku.Kamu berjuang memilih aku sebagai pendampingmu.Tapi tidak begitu kenyataannya.
Ini cukup menyakitkan untukku.Tapi inilah konsekuensinya.Kenyataannya memang kita hanya menikah pura pura.
Hati Kara menangis,air matanya juga mengalir sukarela begiti saja.Tak mampu ia tahan.
__ADS_1