
Pandu merasa gelisah.Ia memutuskan masuk ke kamar.Ia berpikir bahwa Kara pasti sudah selesai mandi.
Ia masuk setelah mengetuk pintu dan ada jawaban dari dalam.
Kara menoleh,melihat sekilas Pandu memasuki kamar.Sudah tidak telanjang dada.
Tapi Kara kembali digelitik hatinya.
Ada apa dengan dirinya hari ini?
Apa dirinya sedang sakit mata?
Kenapa melihat Pandu berakhir salah tingkah seperti ini.
Tadi melihatnya telanjang dada.Sekarang melihat Pandu mengenakan celana boxer dan kaos slim fit berwarna abu abu tua.Kenapa membuat Kara berdebaran lagi?
Kara tolonglah,jangan mudah tergoda.
Suamimu tidak mencintaimu.Jangan rendahkan dirimu hanya terbuai pesonanya.
Kara mencoba mensugesti pikirannya.Agar mampu berpikir normal.Agar jantungnya tidak copot dan berceceran kemana mana.
Dan yang terjadi pada Kara ternyata terjadi pula pada Pandu.
Pandu melotot melihat pakaian yang dikenakan oleh Kara sore ini.
Kara mengenakan baju tidur pendek.Bermotif tokoh kartun.Ya Kara masih menyukai hal yang lucu lucu seperti kartun.
Handuk membalut rambut basahnya keatas,sehingga leher putih bersih itu terlihat jelas terpampang didepan mata.
Celana pendek setengah paha berwarna kuning kunyit.Sehingga mempertontonkan kaki Kara yang jenjang sedang duduk menyilang didepan meja rias.Terlihat lucu dan gemes,seharusnya.
Ditambah lagi kulit Kara yang cerah putih dan begitu mulus.Ini kali pertama Kara mengenakan busana seminim ini didepan Pandu.
Namun Kara tidak menyadarinya bahwa tampilannya telah mengundang daya tarik yang tak biasa.
Seharusnya jika ini terjadi pada sepasang suami istri normal.Si suami pasti akan segera mendekat dan memeluk gemas dari belakang.Karena melihat istrinya yang usianya jauh lebih muda berpenampilan menggemaskan seperti ini.
Dan si suami merasa beruntung mendapatkan istri daun muda.
Namun ini beda cerita.Si suami tidak mencintai istrinya.Sekilas terperangah oleh penampilan istrinya hanya sebuah tragedi angin lalu.
Dengan kata lain suami yang tidak tau diri.
Pandu berusaha mengontrol dirinya.Agar tidak khilaf.
__ADS_1
"Mau cari sesuatu?"Tanya Kara.
Pandu tersenyum kaku.Bingung mencari alasan yang tepat.Sejak awal Pandu pun tidak tau apa yang akam ia lakukan di kamar.Ia menjawab sekenanya.
"Tidak cari apa apa"
Padahal yang ada dikepala Pandu saat ini adalah kulit Kara.Warna kulit yang terpampang jelas bersih,putih dan mulus.Meskipun Pandu tidak mengamati secara seksama.Tapi Pandu pastikan hampir seratus persen kondisinya sesuai dengan bayangannya.
Otak nakal Pandu kenapa tidak bisa hilang begitu saja.Pandu laki laki normal.Wajar jika merasa terusik saat melihat sesuatu yang seharusnya membuatnya khilaf.
"Terus kenapa masuk kamar?"Ketus Kara.
"Dari tadi sewot terus sih.Ini kan kamar saya"Pandu tak kalah ketus.
Sesungguhnya Pandu merasa kesal karena ia sudah berpikiran liar.Otaknya sudah mulai kotor.Namun Pandu memiliki akal sehat.Ia tidak bisa seenaknya berbuat semaunya.
Lagi pula ini sangat akan tidak adil jika sampai ia menyentuh Kara.Sedangkan ia hanya bermodal nafsu tanpa cinta.Meskipun sesungguhnya laki laki akan sangat mudah melakukannya meskipun tanpa cinta.
Tidak,Pandu tidak ingin itu terjadi.Pandu sudah berjanji akan melindungi Kara.Salah satunya menjaga harta Kara yang paling berharga.
Pandu bukan laki laki bejat yang seenaknya meniduri wanita tanpa cinta.
Perihal ini Pandu sangat menghargai Kara.
Ngambek lagi,tadi sudah mau dibonceng.Sekarang ngambek lagi.Mau bagaimana lagi aku bujuk kamu Ra.Biar kamu luluh lagi.Lama lama gila aku mikirin kamu.
Batin Pandu frustasi.
Pandu mencekal lengan Kara.Mencegahnya pergi dari kamar dengan kondisi uring uringan.
Mereka saling tatap.Pandangan mata mereka berserobok.Jarak wajah mereka begitu dekat kurang dari sejengkal.
"Kok kamu cantik sekali sih Ra.Wajahmu mulus,kulit yang kusentuh ini juga halus sekali.Tapi aku yakin,ini cuma nafsuku saja.Tidak mungkin aku secepat ini menyukaimu.Hatiku masih milik Natasha"
Batin Pandu.
"Kenapa menatap aku begitu mas.Tolong jangan menatapku seperti itu.Hatiku semakin sakit melihatnya.Jangan buat aku terbuai dengan pesonamu.Aku tau yang mengharapkanmu banyak termasuk aku.Tapi aku tidak bisa paksa kamu mencintai aku.Biar sisa waktu pernikahan kita akan ku gunakan sebaik mungkin untuk mengukir kenangan di kehidupan kamu"
Batin Kara.
Mereka saling salah tingkah dan menjauh satu sama lain.Mereka pun juga tidak berani saling menatap lagi.
"Ra,tunggu"Cegah Pandu saat Kara akan kembali pergi dari kamar.
__ADS_1
"Jangan uring uringan terus.Kamu pengen apa sih?pengen kemana?"Ucap Pandu tulus.
"Kami tanya aku pengen apa mas?kalau boleh meminta,aku meminta hati kamu mas.Apa kamu bisa berikan itu?"
Kara menatap Pandu namun tidak berani menatap matanya.
"Terima kasih tawarannya,aku tidak pengen apa apa mas"Jawab Kara.
"Tapi sudah seminggu ini kamu uring uringan terus Ra"Pandu tampak jengah.
"Mau kamu aku harus apa mas?"Jawaban justru sebuah pertanyaan.
"Jangan uring uringan.Aku lelah kalau kamu seperti ini terus terusan sepanjang hari"Pinta Pandu.
"Kalau itu mau kamu,oke aku nurut.Itu kan yang kamu mau dari aku.Kamu yang ingatkan aku untuk menuai pahala dari pernikahan ini.Iya oke aku usahakan lakukan semua kemauan kamu"Ucap Kara tampak pasrah.
"Kamu kok kesannya jadi lemah begitu sih Ra"Pandu mulai resah atas sikap Kara.
"Ya aku memang seperti itu kan mas.Aku selalu lemah dihadapan orang yang aku cintai.Kamu sendiri pernah lihat.Tapi syukurlah"
Kara menyeringai.
"Tapi sekarang aku lebih beruntung.Aku tidak mendapatkan perlakuan kasar secara fisik dari orang yang aku cintai.Meskipun hatiku selalu dilukai.Tapi tidak masalah.Lagipula luka hati kan tidak terlihat.Iya kan mas?"
Aura wajah Kara seolah menggelap meskipun tersirat senyum yang terpaksa diujung bibirnya.
Kara berucap sangat berani.Membuat Pandu merasa sangat tertampar.
"Ra,aku mohon jangan katakan itu"Pinta Pandu.
"Kenapa mas?kamu merasa menjadi pelaku atas sakit hatiku?Tenang saja mas,aku tidak akan paksa kamu mencintai aku kok"Kara lalu pergi meninggalkan Pandu yang diam terpaku.
"Kalau kamu tau cinta tidak bisa dipaksa.Tolong beri aku waktu untuk menggali cinta itu"Ucap Pandu cepat.
Kara menghentikan langkahnya.Hatinya seperti dipukul.Entah rasa apa yang sedang ia rasakan setelah mendengar ucapan Pandu.
Apa maksud Pandu?
Ucapan itu apakah bisa dipercaya?
Lalu apa kabar nama yang masih terukir di hatinya mas Pandu?
Kara merasa semakin risau.
***bersambung lagi yups.
__ADS_1
jangan lupa dukungan vote nya dear.
😘😘😘😘😘