
Pandu berhenti disebuah tempat yang membuat Kara terpana melihat keindahannya..
"Waoowww,indah bangettt"
Kara mengedarkan pandangannya yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata.
(Tebing Breksi Yogyakarta)
"Pak Pandu ini indah sekali"
Kara tak menyangka bahwa pak Pandu mengajaknya ke tempat ini.
"Kamu belum pernah kesini?"
Kara menggelengkan kepalanya.
"Belum pernah,ternyata aslinya lebih indah dari fotonya"
Sinar senja membuat pesona tebing breksi lebih memukau.
Pandu melangkahkan kakinya menuju tebing batu itu.Yang dihiasi redupnya lampu malam.
Kara pun mengekor dibelakang Pak Pandu.Senyum tipis dibibir Kara.
Sudah lama ia ingin mengunjungi tempat ini.
Lalu Kara duduk dikursi yang terbuat dari batu yang dipahat dengan indahnya.
Pandu memberikan satu botol air mineral yang ia beli di penjaja makanan tadi.
Kara tersenyum.
"Terima kasih"
"Pak,Pak Pandu kenapa mau menolong saya?"
Lanjut Kara setelah menenggak minuman.
"Aku prihatin denganmu"
Kara membulatkan matanya.
"Apa aku sememprihatinkan itu pak?"
"Selain memprihatinkan tapi juga bodoh,masih mau bertahan dengan lakilaki kasar.Kamu merasakan sakit tapi masih bertahan"
"Tapi kan..eegh.."
Kara enggan melanjutkan alasannya.
"Alasan cinta?"
"Hahahha masih percaya dengan cinta?"
Lanjut Pandu.
"Sial,dia mentertawakanku"
Batin kara sedikit kesal.
Mereka berdua terdiam sama sama melihat keindahan tebing dengan sinar senjanya.
__ADS_1
"Kenapa aku jadi terjebak jadi penghibur begini,aku kan mau pulang kerumah ibu.Ah sial gara gara cewek aneh ini"
Batin Pandu tiba tiba teringat tujuan awalnya tadi.
"Pak,tapi aku heran kenapa bapak tiba tiba memberiku tumpangan?"
"Aku melihat orang itu berkeliaran di depan sekolah sejak kau datang"
"Jadi ternyata dia peduli padaku"
Batin Kara.
Kara tersenyum mengingat kelantangannya tadi.
"Saya kenapa bisa seberani itu ya tadi"
Gumamnya lirih.
Pandu melirik Kara yang sedang bergumam sendiri,cukup terpana melihat wajah Kara.Pipi chuby,hidung mancung dan bibir merah jambu.Lucu karena bergumam sendiri.
Pandu tersadar dan mengalihkan pandangannya ke lain objek,sebelum Kara menyadarinya.
"Sial kenapa aku melihatnya si,cewek ini kan aneh"
Batin pandu.
"Pak apa boleh mulai hari ini kita berteman?"
Ucap Kara.
"Apa apaan cewek aneh ini,berteman saja pakai keputusan dulu"
Batin Pandu heran.
Kara memanggilnya karena tidak merespon.
"Terserah kau saja"
Jawab Pandu singkat.
Kara terkekeh.
"Baiklah,berarti mulai hari ini kita berteman.Akan aku catat hari bersejarah ini.Berteman dengan Pak Guru yang...."
Ucapan Kara menggantung.Enggan meneruskan takut Pandu marah.
"Apa?"
Bentak Pandu.
Kara menggeleng kepala.
"Tidak,maksudku guru yang sudah menolongku.Ya benar yang sudah menolongku"
Kara menjawab asal saja.
"Waaa ternyata benar apa kata Farhan,dia tidak mudah diajak bercanda"
Batin Kara.
"Ya hallo bu"
Sapa Pandu menjawab telepon dari ibunya.
__ADS_1
"Iya bu nanti Pandu datang,ini masih ada urusan sebentar"
"Iya bu,ibu tunggu dirumah ya"
"Ya bu Walaikumsallam"
Pandu menyimpan ponselnya kembali kedalam sakunya.
Kata kata Pandu begitu ramah saat berbicara dengan ibunya.
"Ibumu menelpon ya Pak?"
"Seharusnya aku makan malam dirumah ibu,tapi karena kau aku akan sedikit terlambat"
"Aku akan mengantarmu pulang"
Pandu berdiri dan berniat meninggalkan tempat itu.
"Pak,memangnya rumah ibumu dimana?jauh ya?"
Tanya Kara.
"Di Kulon Progo,satu jam lebih dari sini.Kalau tidak pergi sekarang aku akan terlambat.Ayo aku akan mengantarmu pulang"
Ucap Pandu sedikit ketus.
"Pak tunggu!"
Kara menghentikan langkah laki laki tampan yang ingin segera beranjak dari tempat itu.
"Pak,rumah saya kan jauh dari sini.Biar saya naik taksi saja"
Pandu menghawatirkan tentang Kara yang sedang dalam ancamam Arya.Bisa datang kapan saja yang membuat Kara tersakiti.
Pak Pandu menghela nafas.
"Sudah ikut aku saja kalau kau mau,tapi jangan buat masalah dirumah ibuku"
"Memangnya tidak apa apa jika aku ikut?"
"Yang penting kau harus patuh denganku"
"Ya siap pak"
"Tidak perlu banyak berbicara jika tidak ditanya,turuti apa perintahku.Mengerti"
"Iya iya siap pak Guru"
Jawab Kara sambil meledek.
Pandu berdecak dan melanjutkan langkahnya.
Pada akhirnya Kara ikut dengan Pandu kerumah orang tuanya.Pandu mengendarai motornya cukup kencang sehingga Kara tegang ketakutan.
Tangan Kara berpegang erat jaket Pandu.Tidak peduli apa anggapan Pandu yang terpenting keselamatan dirinya.
"Ini sih Pak Guru gila namanya,main ngebut saja.Tidak tau apa aku ketakutan"
Gumam Kara lirih tak terdengar oleh Pandu.
Setelah menempuh jarak yang cukup melelahkan,mereka tiba sebelum jam tujuh malam.
Tiba disebuah rumah besar namun bangunan klasik,cocok sekali jika penghuninya adalah orang tua.
__ADS_1
Terlihat bersih dan rapi,dipenuhi bunga bunga ditaman yang tampak terawat.