
Genggaman tangan keduanya masih bertautan.
Tak terasa cukup begitu lama tak terlepas. Kara dan Pandu menatap luasnya pemandangan dihadapan mereka. Sangat luas dan lepas.
"Ra,aku mau minta maaf"Pandu memberanikan diri.
"Maaf untuk apa?"Jawab Kara tenang.
"Untuk semuanya"Pandu menelan ludahnya.
"Semua yang sudah kulakukan padamu.Sehingga kamu jatuh dalam kubangan kehidupanku"
Ada apa dengan mas Pandu,apa yang akan dia katakan.Apa mas Pandu ingin mangakhiri semua ini?Iya benar,dia pasti sudah tidak tahan dengan pernikahan yang aneh ini.
Kara menoleh ke arah Pandu.Seakan dia sudah siap mendengarkan keputusan Pandu.
Baiklah mas aku akan bersedia kau ceraikan.
Seakan raut wajah Kara menyimpulkan.Siap atau tidak.Kara akan menerima kepahitab itu kan?
Memangnya akan berharap seperti apa lagi pada lelaki dihadapannya ini.Bisa jadi genggaman tangan mereka saat ini adalah genggaman terakhir mereka. Genggaman terhangat selama Kara hidup saat ini.Bahkan hangatnya hingga merasuk kedasar hati.
"Aku sudah persiapkan itu kok mas"Tandas Kara.
"Untuk?"Tanya Pandu menoleh.Sehingga wajah mereka beradu meskipun tak terlalu dekat.
Namun berhasil membuat mereka tegang satu sama lain. Bukan,bukan tegang yang seperti apa.
Tegang soal pembicaraan mereka.
"Untuk apa lagi kalau bukan soal perceraian?Aku sudah mulai mempersiapkan jika kamu meminta bercerai dariku"Kara tersenyum penuturannya tenang.Meskipun ada luka didalam sana.
Dan menghela nafas semata mengurangi sesak dalam dadanya.
Yaa sesak sangat sesak. Jika patut untuk berteriak dihadapan pria ini. Maka Kara akan melakukannya. Agar merasa lega,lepas tanpa beban.
"Bukan itu"Jawab singkat Pandu.
"Maksudmu bukan?Lalu apa?"Kara bingung.Apa maunya pria satu ini.
Tidak mungkin dia akan mengatakan cinta padaku secepat ini.Mus Ta Hil....
"Aku berterima kasih untuk kedua kalinya atas perasaanmu padaku. Dan aku memutuskan untuk.."Ucapan Pandu menggantung.
Kata kata ini sudah ia persiapkan sejak beberapa hari yang lalu. Ia menimbang segala sesuatunya dengan matang. Dan Pandu akan mencoba membuka hati untuk Kara.
Pandu menyerongkan tubuhnya,kedua tangannya memegang satu tangan Kara.Seakan memohon padanya.
Mereka pun berhadapan.Namun tatapan bingung Kara terhadap Pandu.
"Aku akan belajar mencintaimu"
Kara tercengang tanpa kata. Saat ini dia sedang kesulitan menerima pernyataan Pandu.
__ADS_1
*Ada angin apa.Dan kapan pria ini memikirkan perasaanku?secepat itu kah?rasanya sulit dipercaya.
Ya,memang itu inginku.Tapi aku pikir tak secepat ini.Tidaakk... Ini pasti hanya mimpi. Iya benar ini mimpi*.
"Aawww"Pandu melepas kedua tangannya yang sedang menggenggam tangan kara.Beralih mengusap pipinya.
Karena Kara mencubit pipinya.Memastikan bahwa ini bukan mimpi.
Dengan tanpa rasa berdosa.
"Aku pikir mimpi mas" Celetuk Kara seenaknya.
Pandu berdecak.
"Sakit tau"
"Aku serius bicara malah kamu bercanda"Gerutu Pandu masih mengusap usap pipinya.
Kara tersenyum.Tapi tidak bisa PD begitu saja.Pandu kan bilang mencoba.Berarti sesuatu yang dicoba bisa saja gagal kan.
"Kalau gagal gimana percobaannya?"Kara terkekeh.
"Aneh ya mas kita ini.Jatuh dalam perangkap yang kita buat sendiri"Tandas Kara.
"Aku nggak pernah kebayang bakal serumit ini Ra"Tutur Pandu.
Pandu pikir bakal mudah dijalani.Ternyata begitu kompleks permasalahn pernikahan jadi jadiannya ini.Dia pikir sekedar menjadi rahasia atas pernikahannya ini semua akan baik baik saja.
Ternyata rumit.
"Terima kasih Ra,kamu bisa mengerti kondisi ini"
Jelas Pandu.
"Tapi kalau atas dasar kasihan.Lebih baik jangan ya mas.Masalah pernikahan nanti bisa kita pikirkam caranya bagaimana cara kedua keluarga kita menerima atas perceraian kita"Tandas Kara yang terang terangan.
*Kenapa kamu masih bisa senyum Ra.Ini itu sangat menyakitkan buatmu. Apa kamu sudah kebal dengan penghianatan?Ra tolong jangan jadi seperti ini.Kamu layak dicintai.Siapapun yang bisa mencintaimu nanti semoga menjadikanmu ratu dalam hidupnya.
Akan aku coba semampuku.Meskipun saat ini merasa sulit untuk mencintaimu seutuhnya*.
Pantai Parangtritis rupanya menjadi saksi kesaksian Pandu pagi ini.
Pasir,rumput,ombak dan angin yang meniup.Mereka semua mendengarnya.
"Jangan bilang begitu,tolong hargai aku"Tutur Pandu halus.
"Ya,baiklah.Aku akan memberimu kesempatan.Tapi tolong jangan dipaksa.Aku nggak mau ada paksaan di hati kamu mas"Kara berkata sambil menepuk dada Pandu yang bidang.
Gemuruh ombak mengiringi. Matahari mulai tinggi menunjukan kegagahannya. Jam menunjukan pukul delapan pagi.
Terpaksa mereka harus segera pulang.
Pandu yang hari ini ada jam pelajaran jam 11.Dan Kara pun harus ke kampus mesti ada yang ia urus perihal wisudanya.Ya sebentar lagi Kara akan wisuda. Tak menyangka dirinya akan ditemani suaminya.Jika beruntung.
__ADS_1
Mereka bergegas meninggalkan pantai yang indah itu.
Sedikit kelegaan dalam hati mereka.
Kara yang mungkin sedikit lebih senang karena Pandu akan berusaha mencintainya.Meskipun masih mengganjal sampai benar benar Pandu murni mencintainya atau menceraikannya.Ini masih menggantung.
Pandu pun tak ubahnya.Dalam hatinya mengalami sesuatu yang berbeda.
*Apa yang harus aku lakukan pada Kara.Dalam proses usahaku mencintainya.
Bagaimana caranya?
Memeluknya?
Belajar menciumnya?
Memeluknya saat tidur?
Mengecup keningnya?
Mengatakan "Aku cinta kamu" setiap hari kah?
Tidak,aku tidak mengerti.Bagaimana awal orang mencintai*?
Pikiran bodoh Pandu menyelimuti.
Ia sangat bingung bagaimana cara belajar mencintai?
Aku tidak tau akan berhasil atau tidak dalam percobaan ini Ra.Semoga kamu bisa mengerti aku.
Yang aku rasakan saat ini hanya kawatirku padamu Ra.
Kenapa aku selalu kawatir setiap kamu tidak ramah padaku,kenapa aku kawatir kalau kamu pergi jauh.Kenapa kawatir kalau kamu diluaran sana tidak aman.
Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu diluar sana saat aku tidak bisa ada untukmu.
Kenapa aku selalu tidak suka melihatmu menangis,sedih.
Kenapa aku tidak mau dan tidak suka saat kamu jutek.
Kenapa aku Ra kenapa ini?
Ini bukan cinta kan?ini hanya sebatas ingin melindungimu saja kan Ra?
Bukankah cinta itu....
Ahhh entahlah apa itu cinta..
Ya Tuhan tolong beri petunjukmu.
Pikiran Pandu berkecamuk seiring lajunya mobil.Mereka berdua tidak banyak berbicara.Sibuk bergelut dengan pikiran mereka masing masing.
Kapan Pandu akan benar benar sadar bahwa ada cinta dihatinya untuk Kara?
__ADS_1
Sementara Kara,semakin hari rasanya semakin tumbuh rasa cinta dihatinya.
Entah pengaruh apa.Begitu erat tertanam dalam dasar hati Kara.Bahwa ia mencintai Pandu.Bertumbuh setiap hari.