
Pandu benar benar ingin membantu Kara.Meskipun ia mengakui bahwa belum ada rasa cinta dihatinya untuk Kara.Namun jiwa kemanusiaan Pandu tergugah.Dirinya tumbuh dikeluarga yang sangat harmonis.
Meskipun Pandu memiliki ayah yang sangat keras,namun perhatian mereka kepada anak anaknya sangatlah penuh.
Ibu Yunda dan suaminya adalah sosok yang penyayang.Selalu ada untuk anak anaknya.Soal kasih sayang dan perhatian Pandu mendapatkan yang terbaik dari keluarganya.Namun karena soal perjodohan membuat Pandu memiliki ikatan pernikahan yang yak biasa.
Jika alurnya normal,bukan karena pernikahan kontrak.Pandu bisa menjadi sosok pecinta keluarga yang baik.Pandu memiliki cara mencintai yang baik dan setia.Namun karena masalah perjodohan,entah ide darimana waktu itu.Pikirannya sudah buntu sehingga menyeret Kara ke dalam hidupnya.Yang tak diduga membuat goresan goresan luka di hati Kara.
Tibalah disebuah parkiran luas yang belum terlalu banyak pengunjung.Itu karena ini masih terlalu pagi untuk berwisata.Saat pagi hari orang orang datang untuk terapi pernafasan.Katanya udara pantai sangat bagus untuk terapi.
Kara tampak berusaha mengendalikan dirinya.
"Yuk"Ajak Pandu.
Kara tersenyum kaku "I,,iya"
"Sudah,saya percaya kamu bisa.Tidak perlu dipikirkan ya"Ucap Pandu lembut.
Pagi ini Pandu tampak lebih lembut daripada biasanya.Meskipun wajahnya kaku dan terlihat dingin.
"Apa kita mau minum kopi dulu?"Ajak Pandu agar Kara lebih rilex.
"Itu disana ada warung kopi,sepertinya tidak ramai.Jadi kamu bisa lebih nyaman"Tunjuk Pandu disebuah warung kopi yang masih tampak sepi.
Kara menggelengkan kepala.
"Kita beli kopinya aja mas,kita minum dipinggir pantai.Mumpung mataharinya baru muncul"
"Ya,boleh"
Mereka mendatangi sebuah warung kopi itu.Dan memesan secangkir kopi hitam dan segelas susu coklat hangat.
Dipinggiran pantai mereka duduk bersebelahan.Dingin sejuk merasuk hingga ke tulang.Matahari yang sinarnya belum terlalu terang.Masih berwarna kuning keemasan teramat indah ciptaan yang Kuasa.
Sepasang suami istri yang sedang menikmati sinarnya,ikut terhanyut dalam romantisme cahayanya.Indah seharusnya sama indahnya dengan moment mereka pagi ini.Tapi sayang cinta mereka tidak saling membalas.Hanya satu hati saja yang mencinta.
Pandu perlahan menyesap kopi panas yang aromanya wangi.
Sedangkan Kara sedikit merasa dingin dan memeluk dirinya sendiri.
"Mas"
"Ra"
Ucap mereka bersamaan.
Kara tersenyum "Mas dulu saja"
"Biarlah kamu dulu saja"Ucap Pandu.
"Tidak mas dulu aja mau bicara apa?"Ucap Kara sedikit canggung.
"Kamu dulu tidak apa apa"Balas Pandu.
"Mas mbak,maaf mengganggu.Boleh titip anak saya.Saya mau ke toilet sebentar"Tiba tiba seorang ibu menitipkan anaknya kepada mereka berdua.
Pandu dan Kara terkejut.Baru saja mereka duduk,sudah didatangi dan dititipi anak.
"Oh,iya boleh bu"Jawab Kara dan ibu itu pun buur buru pergi ke toilet setelah mengucapkan terima kasih.
Pandu dan Kara saling melempar pandangan dan tersenyum,lalu mengangkat kedua bahunya.Secara kebetulan sekali kejadian pagi ini.
"Hey hallo,nama kamu siapa ganteng?"Sapa Kara ramah kepada bocah kecil laki laki itu.Bocah berumur sekitar empat tahun.
Bocah itu tersenyum manis dan sedikit malu.
"Yudistila tante"Ucap bocah itu dengan polosnya dan belum fasih mengucap huruf R.
Kara langsung melihat ke arah Pandu dan tersenyum.Nama bocah ini sama dengan nama belakang Pandu.
__ADS_1
"Namanya sama seperti nama kamu mas"
Pandu hanya mengangkat kedua bahunya sambil menyesap kopinya.
"Namanya kok sama"Ucap Kara.
"Sama siapa tante?"Jawab Yudistira kecil.Nampaknya bocah ini cerdas,dia selalu menjawab jika diberi pertanyaan.
"Sama suaminya tante"Jawab Kara tersenyum sambil menunjuk ke arah Pandu.
"Oh ya?Hallo om Yudis"Sapa bocah itu.
Pandu tidak terlalu ramah hanya tersenyum tipis membalas sapaan anak itu.
Kara pun menahan tawanya karena anak itu memanggil Pandu dengan sebutan Yudis.
Kara mengobrol dengan bocah itu,memberi beberapa pertanyaan ringan.Yudistira bocah yang lucu dan cerdas.Meskipun lidahnya belum bisa mengucap huruf R,justru itu yang membuatnya sangat lucu.
"Mbak maaf"Tiba tiba ada seorang bapak bapak datang.
"Ini mainan anaknya jatuh ya?saya lihat tadi"Ucap bapak itu yang mengira bahwa Yudistira adalah anak Pandu dan Kara.
Kara dan Pandu hanya saling melempar pandangan.
_anak?ini bukan anak kami pak?memangnya kami sudah terlihat seperti keluarga kecil ya?_
Batin Kara atas kejadian yang menggelituk itu.
Yudistira menyahut "Iya itu mainanku" ia mengaku karena memang mainan itu miliknya.
Bapak itu langsung memberikan mainan itu dan pergi.Setelah mereka mengucapkan terima kasih pada bapak itu.
Kara menahan senyumnya.Menatap Pandu dengan penuh arti.
"Sepertinya memang sudah mirip ya mas?"Ucap Kara tersenyum malu mengoda Pandu,ingin tau bagaimana reaksi Pandu.
"Mirip apanya?"Balas Pandu.Sama sekali tidak peka dengan yang dimaksud Kara.
Namun sorot Pandu menunjukan bahwa perkataan Kara terdengar aneh olehnya.
Ibunya Yudistira sudah kembali dari toilet.Kembali menjemput Yudistira yang telah ia titipkan pada Kara dan Pandu.
Ibunya Yudistira tampak ramah sekali.Mereka pun pergi meninggalkan Kara dan Pandu setelah beramah tamah dan mengucapkan terima kasih.
"Yudistira lucu sekali ya mas"Ucap Kara.
"Masih kecil tentu saja lucu"Jawab Pandu datar.
"Kamu tidak mau mas?"Canda Kara.
"Mau apa?"Pandu tidak peka terhadap maksud Kara pandangannya penuh teka teki.
Kara hanya nyengir malu untuk menjelaskan.Dan wajahnya pun memerah karena malu.
"Mau eemmmm,,,mau sarapan.Ya sarapan,kamu sudah lapar belum mas?"
Kara mengalihkan maksudnya.Karena sungguh Kara merasa malu terhadap dirinya sendiri.
Ya ampun,Kara jangan kecentilan begitu.Kan malu sendiri kamu Ra.Untung mas Pandu nggak ngehh sama maksud kamu.
"Belum,kamu sudah lapar?"tanya Pandu.
"Belum juga"Kara menggelengkan kepalanya.Kara merasa geli didalam hatinya.Jika Pandu mendengar isi hatinya,pasti Pandu akan menertawakannya.Meskipun Pandu tertawa tidak bersuara.Melainkan tertawa dalam hatinya.Mengolok olok Kara dan merasa jijik.
Mereka mengobrol hal hal remeh yang tidak mereka sadari.Membicarakan pasir,air,ikan dan hal yang mereka lihat didepan mata.
Pandu sengaja memilih topik pembicaraan sepele.Pandu tidak ingin jika mereka membicarakan hal yang serius.Kara akan kembali sensitif.Dalam hal ini,Pandu sangat memahami apa yang dirasakan oleh Kara.
Membuat Kara nyaman berada dikeramaian adalah tujuannya.Pandu mengamati Kara diam diam.
__ADS_1
Pandu melihat ada binar kesenangan di wajah Kara.Tapi ini belum berakhir.Mereka baru belasan menit di pantai.
Dalam hati Pandu berharap Kara tidak mengajak pulang sebentar lagi.
"Mas,ayo pulang"baru saja Pandu berharap dalam hatinya.Seolah Kara tau apa isi hatinya.
Wajah Kara tampak gelisah.
"Ini baru hampir dua puluh menit kita duduk disini Ra.Kamu sudah pengen pulang?"Tutur Pandu penuh perhatian.
"Iya"Rengek Kara.
"Apa yang kamu rasakan sekarang?"tanya Pandu.
"Aku merasa nggak suka aja disini"raut wajah Kara pun juga sudah berubah melas.
"Tapi tahan,jangan nangis ya.Lawan rasa nggak nyaman kamu Ra.Tarik nafas"Tuntun Pandu memindai Kara yang tampak sudah gelisah ingin pergi.
Kara mengambil nafas panjang dan menghembuskan melalui mulut.
Hemmmmhhhhhh....hhhuuuufffhhhhh.....
Kara masih terlihat gelisah,kedua telapak tangannya saling bertautan untuk mengalihkan perasaannya.
"Sugesti diri kamu sendiri,kamu bisa biasa dikeramaian"Pandu terus membimbing Kara.
"Mas"Ucapan Kara seolah mempertanyakan,bisakan dirinya menghilangkan perasaan aneh ketika dikeramaian ini.
Pandu tampak sedikit kawatir.
"Ada saya disini Ra,bukannya yang didepanmu ini suamimu?"
Kara perlahan menganggukan kepala.Terpaku menatap bingung Pandu.Asing ditelinga Kara,Pandu mengakui dirinya sebagai suaminya.
Bahkan pengakuan seremeh ini membuatku lebih baik mas.Meski aku tau,dihatimu tidak ada tempat lagi untukku.Aku bukan siapa siapa bagimu kan mas?kamu hanya kasian padaku kan?Tapi kenapa Tuhan kasij rasa ini di hatiku mas.Aku ingin menolaknya jika aku bisa.Karena mencintai tanpa dicintai itu menyakitkan.Seharusnya aku marah sejadi jadinya mas.Tuhan menghinggapkan rasa ini tapi ternyata Tuhan juga memurahkan rasa ikhlas dalam hatiku.
"Kenapa bengong"Ucapan Pandu mengejutkan Kara.
"Egh,anu mas"Kara menjadi salah tingkah.Gugup dan merasa malu.Sudah terbayang saat ini Kara sedang tidak fokus.
"Kamu mau pulang sekarang?"tanya Pandu,ada rasa kawatir disudut hatinya.
"Boleh?"ucap Kara takut takut.
"Ya,nanti lain kali kita coba lagi"Pandu berdiri lebih dulu dan mengulurkan tangan agar Kara meraihnya.
Namun dengan bingung Kara malah menonton telapak tangan yang kekar menengadah itu.
Mas Pandu menawarkan genggaman tangan?serius kah?
Dengan takut takut dan perasaan yang tak tertata.Kara menautkan tangannya dengan tangan Pandu.Memang benar,Pandu berharap Kara mau meraih uluran tangannya.
Kara merasa kenyamanan luar biasa.Ia tak mampu mengucap apapun.Mereka berjalan bergandengan tangan.
Hangat dan merasa terlindungi.Bahkan hangatnya menyusup ke pori pori dan menjalar keseluruh aliran darah Kara.Itulah perasaan Kara saat ini.Degub jantungnya kencang berpacu dengan deburan ombak pantai parangtritis.
"Duduk disitu mau?"tanya Pandu sambil menunjum sebuah bangku kayu dibawah pohon cemara,tak jauh dari parkiran.
"Katanya mau pulang mas?"
"Duduk disini dulu sebentar"pinta Pandu terus saja menggandeng Kara menuju bangku itu.Mau tidak mau Kara menurut.
Mereka pun duduk bersebelahan.Bangku yang tak cukup panjang.Membuat posisi duduk mereka menjadi rapat.
Mas Pandu mau apa sih kok malah ngajak duduk disini?aku kan pengen pulang.
Rengek Kara dalam hatinya.
"Ra,aku mau tanya sesuatu sama kamu"Tanya Pandu yang tiba tiba sangat membuat Kara merasa cemas.
__ADS_1
Apa sih mas Pandu kok serius banget?
Perasaan Kara tak kunjung membaik.Mendengar Pandu berbicara tadi rasanya Kara semakin ingin pulang.Yang jelas Kara tidak betah disini.