Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 10


__ADS_3

Ayah dan Ibu beberapa hari ini sedang sibuk memesan catering dan menyebarkan undangan di rekan kerja serta kerabat dekatnya, sehingga Tamara belum sempat mengatakan tentang masalahnya saat ini. Sementara urusan MUA dan dekorasi sudah dipilih Tamara bersama Reza ketika ia masih bisa di hubungi.


 


 


Keesokan hari.


 


Tamara berlari menuruni tangga rumah megah itu, ia memeluk ibunya yang sedang berada di dapur. Ibunya menatap dengan penuh keheranan melihat anak gadisnya itu menangis terisak.


 


“Ada apa, sayang?”


 


“Tamara baru saja terima telepon dari ibu Reza, Bu..” ucapnya terbata dengan mengusap air matanya.


 


“Lalu apa yang kamu tangisi, nak?”


 


“Dia pergi dari rumah, Bu. Ayah dan ibunya bilang Reza meninggalkan rumah dengan seorang wanita. Sudah lima hari dia tak pulang, dia juga tak bisa di hubungi. Mungkin pernikahan ini akan batal, Bu...” Tangisnya kini benar-benar pecah membasahi pipi.


 


“Maksudnya bagaimana? Ibu tak mengerti, dia pergi dari rumah karena apa? Apa dia tak akan kembali? Dia pasti akan tetap menikahimu kan, nak....”


 


Tamara memotong pertanyaan ibu.


 


“Buu... Tamara tak sanggup menjawab pertanyaan ibu. Yang pasti pernikahan Tamara gagal, Bu.” Isak tangisnya semakin menyesakkan dada.


 


“Tidak bisa begitu! Reza harus menepati janjinya. Ibu tidak akan rela dia menyakitimu seperti ini. Ibu akan menghubunginya.”

__ADS_1


 


Ibu mengambil telepon genggam Tamara, beliau memencet nomor Reza lalu menghubunginya. Terdapat di riwayat panggilan Tamara telah mencoba menghubunginya ratusan kali sejak terakhir dia tak bisa di hubungi.


 


Ibu semakin geram, terakhir kalinya ibu mencoba menelepon laki-laki itu dengan pasrah. Namun kali ini dapat terhubung. Sebelum ibu mengatakan apa pun terdengar di ujung sambungan telepon ada suara Reza yang seperti sedang mabuk.


 


“Hallo, ini siapa?” suara Reza samar


 


Sari masih belum berbicara apapun, ia merasa Reza sedang dalam keadaan tak sadar terdengar dari suaranya. Kemudian ada suara lain yang ikut bergabung pada sambungan itu. Sebelumnya Ibu telah mengeraskan volume speaker gawai Tamara. Sehingga Tamara ikut mendengar.


 


“Halloo, ini tunangannya Reza, ya? Gue kasih tahu ya, Reza tidak akan pernah menjadi milikmu. Saat ini Reza sedang bercinta bersamaku. Dan satu lagi, Reza tidak akan pernah menikahimu,” kata seorang wanita asing di ujung telepon.


 


“Saya tidak butuh omonganmu. Berikan pada Reza! Katakan saya ingin bicara,” gertak Sari.


 


 


“Reza! Apa yang kamu lakukan, Za. Kamu sedang mabuk kan, Za? Sadarlah sayang, kembalilah padaku. Kita akan menikah minggu depan.”


 


“Aku dengan sadar melakukan ini. Suaraku memang terdengar lemah itu karena aku kelelahan setelah melakukan hubungan terlarang dengan wanitaku. Dan semua yang dikatakannya tadi benar. Aku tidak akan pernah menikahimu, Tamara. Pasang telingamu baik-baik. Jangan mencariku lagi. Aku sudah tidak mencintaimu,” jawab Reza memutuskan panggilan itu sekaligus memutus hubungannya dengan Tamara secara sadis.


 


“Rezaaa.....” Tamara berteriak dengan isak tangisnya. Telepon genggamnya jatuh berkeping. Air mata yang menggunduk di kelopak matanya kini berderai mengaliri pipi.


 


Hujan telah berpindah di bawah mata yang bergelayut mendung itu.


 

__ADS_1


Bagaimana bisa Reza bersikap seperti itu. Hati Tamara sangat tertohok dengan ucapan Reza yang begitu menyakitkan di dengar. Badannya melemas seperti tidak ada kehidupan lagi dalam tubuhnya.


 


Tamara masih tak percaya dengan kenyataan ini. Begitu pahit ia telan. Baru kemarin gadis itu menjadi orang istimewanya, sekarang Tamara harus menjadi sampah yang dibuangnya. Di buang dengan mudah, serta disia-siakan begitu saja.


 


 


“Za, apa maksudmu, Za!” Tamara meremas rambutnya yang tertutupi hijab penuh amarah. Ibu mencoba menenangkan dengan menahan tangannya dan membawanya ke dalam dekapan terhangat.


 


“Bu, apa yang harus Tamara katakan kepada Ayah,” ucapnya yang masih di derai air mata.


Tak lama ayah datang dari arah kamar karena mendengar sedikit keributan di dapur.


“Kenapa ini? Ada apa?”


 


“Reza sudah mengkhianatiku, Yah.“


 


“ Apa maksudnya?”


 


Sari mencoba menjelaskan semuanya kepada suaminya. Permana menggedor meja dapur di depannya dengan sangat keras setelah mendengar cerita istrinya. Wajah tampan Permana kini berubah menjadi amarah dan geram level sepuluh. Ia memeluk tubuh anak gadisnya yang sudah tidak bisa lagi dikatakan baik-baik saja.


 


Apa yang harus dia katakan kepada semua tamu undangan jika pernikahan itu gagal. Persiapan sudah memasuki sembilan puluh persen. Tapi apa daya, semua tak ada gunanya lagi, perjuangan kelulusannya seakan tersapu badai. Reza menghancurkan semua dengan sangat mudah.


 


Beberapa jam kemudian saat semuanya sudah tenang, Ayah membuka pintu utama karena ada suara yang mengetuk.


 


Permana berusaha keras mengubah raut wajah amarahnya menjadi ramah tiba-tiba ketika melihat tamu tersebut adalah salah satu ustad di tempat Tamara mondok bersama keluarganya datang ke rumah. Ayah Tamara mempersilakan masuk.

__ADS_1


U**stad siapakah yang datang dan apa keperluannya??


Terimakasih yang sudah setia membaca novel ini 😍😍😍😘😘😘😘😘 Jangan lupa like dan komen yaaa lop uuu 😘😘😘🥰🥰🥰**


__ADS_2