Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 32


__ADS_3

Esok Hari.


 


Masih sama di malam kemarin. Tidak terjadi apa-apa pada pasangan itu. Tidur masih dibatasi guling sebagai jarak keduanya di ranjang.


 


Sebenarnya Tamara sudah mau memberikan hak suaminya jika ia meminta. Tetapi melihat kaki dan badan Ziddan yang masih sedikit tersisa luka menjadi tak enak mengatakannya.


“Nanti dia kira aku yang ngebet minta,” gerutunya tiba-tiba yang masih dalam kegiatan memasak sarapan.


“Ngebet apa?” tanya Ziddan heran. Dia sudah ada di meja makan sejak tadi Tamara memulai memasak. Wanita itu juga sudah mengetahui keberadaan Ziddan. Namun ia tidak menyangka ocehannya bakal di dengar Ziddan.


“Kok denger?”


“Punya kuping.”


“Nguping ya?”


“Nguping gimana, orang kamu keras ngomongnya.”


“Masak?” Melirik curiga.


“Hooh,” jawab Ziddan santai sambil menyeruput minuman di ujung bibir mug antik bercorak bunga.


“Kamu ngebet apa sih, sayang?”


“Bukan aku yang ngebet.”


“Lalu?”


“Kamu kan.”


“Hahaha... Aku udah sembuh nih, ini obat terakhirku. Jadi nanti malam kamu udah siap?”


Pertanyaan itu seperti membungkam mulutnya. Tidak bisa ia mengiyakan atau pun menolak. Bukan masalah Reza. Tetapi kepolosannya yang tak tahu menahu urusan ranjang. Bagaimana nanti kalau dia salah dalam melayani suaminya. Dan bagaimana jika mentalnya belum siap.


 


Tamara menghela nafas lumayan panjang kali ini. Satu kali lagi bertambah panjang. Mencoba membuyarkan pikiran mencari teori tentang hal itu.


Tidak dapat dipungkirinya. Ia sudah mencintai Ziddan jadi ia siap untuk melakukan apapun permintaan suaminya itu. Hanya saja perasaan cintanya itu masih di tebali gengsi.


 


Gengsi dan malu. Ia menelan air liur yang sudah ia keluarkan dulu sewaktu awal menikah dengan Ziddan.


‘Tidak akan pernah terjadi, Ziddan dapat menggantikan posisi Reza dihatinya’


 


Ucapan yang selalu terbayang di kepalanya. Satu kalimat yang membuat dirinya di tebali rasa gengsi.


 


“Hei.. Sayang. Kamu ngelamunin apa sih. Itu masakanmu gosong.”


“Astagfirullah...”


Tamara kaget melihat omlet-nya kini sudah persis terlihat seperti ‘brownies’. Segera ia matikan kompor.


“Kamu kenapa, Sayang? Lagi mikirin apa? Coba cerita.”

__ADS_1


“Gak ada kok. Kepikiran omongan kamu aja, Mas.”


“Sampai segitunya. Siapin diri aja, jangan dipikirin nanti ngeri,” ucap Ziddan yang terus menggoda hingga melihat pipi wanita itu memerah bagai tomat.


 


Tamara tidak berani menatap Ziddan yang sedang menertawai dirinya. Padahal jika pria itu sedang tertawa ketampanannya muncul dipadu manis wajahnya.


 


Tak lama bel rumah berbunyi yang bersumber dari pintu utama. Dia mengira itu sahabatnya datang. Ternyata bukan. Dibukalah pintu itu oleh Ziddan yang nampak sudah bisa berjalan sendiri dengan tegap.


 


“Siapa, Mas? Meli ya?” teriaknya dari dapur.


“Paket,” jawab Ziddan berjalan menuju wanita itu.


“Siapa yang pesan?”


“Aku yang pesan dua hari lalu.”


“Oh yasudah.”


“Tapi, untukmu,” sambungnya cepat ketika di depan Tamara.


“Untukku?”


“Buka aja.”


Cepat-cepat Tamara membuka kardus yang di bungkus buble wrap itu. Dibacanya tulisan di atas kertas pada bungkus terakhir.


‘Bajunya nanti malem dipake ya.’


Rasa penasarannya memuncak, baju apa yang dibelikan suaminya itu. Setelah di dapat ia kaget melihat isinya. Baju yang tak jadi dibelinya ketika di mal ternyata dikirimkan ke rumah. Ada juga beberapa baju dinas malam untuk melayani suami.


 


“Makasih, Mas.” Tamara memeluk Ziddan semringah.


“Sama-sama, sayang. Kamu suka?”


“Iya mas. Sudah lama aku ingin memilikinya. Tapi kenapa ada baju seksi juga yang bukan pilihanku ya?”


“Itu hadiah dariku.”


“Hadiah apa kode?”


“Keduanya.”


Suasana di dapur menjadi bertambah hangat sejak kedatangan kurir pembawa paket itu. Tamara selesai menghidangkan sarapan. Lalu Ziddan pamit ke ruang kerjanya. Ada meeting melalui jaringan pagi ini, karena ia belum bisa masuk kerja. Esok hari baru berangkat kerja.


Dapur sudah kembali bersih. Tak lupa setiap ruangan ia bersihkan juga. Dia malu jika tampak berantakan dan kotor. Karena Ziddan, pria yang sangat menjaga kebersihan dan kerapian. Tidak terasa waktu yang ia gunakan untuk bersih-bersih sudah memakan setengah hari. Kemudian ia cepat-cepat beranjak untuk mandi, gilirannya sekarang untuk membersihkan badannya.


 


Ritual mandi Tamara memang sangat lama. Ya begitulah wanita. Banyak sabun ini itu yang dipakai di satu tempat yang sama. Sampai-sampai suara nyaring bel, ketukan pintu, dan jendela seperti di gerebek polisi tak di dengarnya juga Ziddan.


 


Meli datang membawa sebuah tas kecil untuk menyimpan minuman itu. Ia nanti akan sembunyi-sembunyi meletakkannya di kulkas dapur.


Karena dirasa begitu lama, dengan terpaksa Meli menyerobot masuk, memanggil-manggil nama keduanya bergantian.

__ADS_1


 


“Assalamu’alaikum,” ucapnya membunyikan salam.


“Ini udah kek bunyi klakson loh. Kenapa gak ada yang denger sih. Hallo... pada kemana ya?” teriaknya yang hanya terhenti di ruang tamu.


Meli mengurungkan niatnya masuk lebih dalam ke rumah megah itu. Ia kemudian duduk di sofa panjang berwarna oren. Beberapa menit kemudian Tamara muncul dari balik pintu kamarnya.


“Meli....” teriaknya berlari menghampiri Meli.


“Lama banget sih Lo bukain pintu. Marah gue. Udah niat mau balik ke hotel lagi barusan.”


“Aku tadi baru mandi, Mel.. nih basah kan,” ujarnya mengibaskan rambutnya yang basah.


“Aduh siang-siang keramas. Berapa kali sih Lo ngelakuin itu dalam sehari,” ledeknya.


“Apaan sih Mel. Aku belum pernah. Sumpah.”


“Kenapa sayang? Lo masih belum mau nerima suami Lo? Lo masih mikirin Reza? Udah... gausah mikirin cowok itu. Lo fokus bahagia aja sama Ziddan, lupain masa lalu Lo.”


“Dulu begitu, Mel. Sekarang insyaAllah aku dah nerima Ziddan.”


“Berarti nanti malem Lo bisa tuh jadiin malam pertama Lo yang ketunda dulu.”


“Hem.. semoga aja mentalku udah siap.”


“Nikmatin aja, Ra. Lo tu beruntung dapet Ziddan, coba kalo Lo dapetnya temen bokap Lo itu. Gimana?”


“Gatau lagi, Mel. Minggat paling.”


Meli terkekeh.


“Eh gue kebelet nih. Boleh numpang pipis kan?”


“Yaudah sana. Toilet umum ada di deket dapur.”


“Oke.”


Meli membawa tasnya yang berisikan ramuan itu ketika pergi ke toliet. Dengan cepat Meli memasukkan jamu kuat itu di kulkas. Ia sudah memanipulasi wadah botolnya dengan merk minuman ternama berwarna kuning. Kebetulan botolnya tidak transparan jadi tidak akan kelihatan isinya asli atau tidak.


 


“Rencana berjalan mulus. Yess. Tinggal tunggu mereka nanti meminumnya.”


Meli kembali lagi ke ruang tamu melanjutkan obrolannya dengan Tamara. Tak lama Ziddan datang ikut bergabung. Semua tampak nyambung bersenda gurau. Sesekali mereka tertawa terbahak-bahak. Tidak tahu apa yang sedang dibicarakan, semuanya random. Meli memang kocak orangnya jadi wajar semua orang cepat akrab dengannya.


 


“Gue pamit dulu ya, Ra.”


Meli menyalami sahabatnya lalu memeluk erat dan mencium kedua pipinya.


“Makasih ya Mel. Kapan-kapan mampir lagi.”


“Iya sama-sama. Lain waktu gue mampir, kalo Lo udah hamil,” ledek Meli lagi.


“Ustad Ziddan, aku pamit nih. Titip sahabatku, ya. Nanti malem tolong di arahin ya.” Meli kembali meledek Ziddan. Kemudian ia mengayunkan langkahnya cepat segera meninggalkan mereka.


 


 


Bersambung....

__ADS_1


Terimakasih sudah setia membaca novel ini..


Jangan lupa dukung terus dengan cara like, komentar, dan tekan favorit yaa.... 🥰🥰🥰🥰😘😘😘


__ADS_2