
Saat mereka sudah selesai membersihkan diri, mereka keluar dari villa lalu menuju resto. Di sana terdapat beberapa rekan kerja Ziddan bersama keluarga kecilnya juga. Ziddan menggandeng tangan putih istrinya saat melewati jalan setapak yang sedikit licin bekas hujan semalam. “Ternyata semalam turun hujan. Begitu pun kita tak tahu,” ucap Tamara heran terhadap dirinya sendiri mau pun suaminya yang sama-sama tidak menyadari hujan itu.
“Iya, Sayang. Itu karena kamu.”
“Kok aku?”
“Tubuh kamu berhasil membuatku hangat sehingga turun hujan di puncak pun tidak terasa dingin.”
“Ah mungkin karena welcome drink mereka jadi kita hangat.” Tamara mengelak pendapat Ziddan, dan pria itu hanya terkekeh.
Benar saja, menurut Ziddan sebenarnya itu juga karena minumannya, tetapi memang sengaja dia menggoda istri tercintanya. Meski lemah lembut, Ziddan suka usil dengan Tamara karena gemas. Dia bahkan memperlakukan Tamara seperti anak kecil yang selalu ia sayang-sayang tanpa batas. Sebegitu cintanya Ziddan kepada wanitanya.
“Hay Ziddan kemari, bergabunglah,” panggil rekannya.
Ziddan dari kejauhan tersenyum lalu bergabung bersama Tamara.
“Semalam kalian ke mana saja, kok tidak terlihat ikut dinner?”
“Iya kami ketiduran, cuaca di puncak memang enak sekali buat tidur,” jawab Ziddan seraya mengambil duduk setelah menyeretkan kursi untuk istrinya.
“Betul, udaranya sangat enak. Kami pun hampir tertidur. Untung saja sebelum terlelap ada orang yang mengetuk Villa kami.”
“Siapa orang itu?”
“Pelayan. Kami lupa kalau memesan cemilan.”
“Oh, aku kira siapa.”
“Kamu mau pesan apa, Dan? Nyonya Ziddan juga. Biar aku yang traktir.”
__ADS_1
“Sungguh? Wah terima kasih banyak. Dalam rangka apa ini kamu mentraktir kami.” Ziddan merangkul istrinya.
“Tiga bulanan istriku,” seru Alif. Ia juga merangkul istrinya.
“Wah, jadi istri kita sama-sama lagi hamil ya.”
“Benar, Pak Ustad,” jawab Alif heboh. Mereka semua tertawa bahagia. Beberapa menit kemudian pelayan di panggilnya. Lalu Ziddan dan Tamara memesan makanan yang terlihat murah saja. Keduanya sungkan jika memilih makanan yang mahal.
“Sudah, jangan melihat harganya. Pilih saja sesuka kalian. Terutama nyonya Ziddan yang sedang hamil ini, tunjuk saja apa yang anda mau,” ucap Alif rekan Ziddan dengan nada senang.
“Ah, terima kasih. Saya takut mencetak angka kasir paling banyak,” candanya.
“Oh tenang saja, Bu Ziddan. Tidak masalah bagi saya. Karena membuat ibu hamil bahagia itu mendapat pahala besar.”
“Haha, bisa saja bapak ini. Kalau begitu saya akan menunjuk yang saya inginkan,” ucap Tamara girang. Karena ia melihat berbagai menu yang membuat lidahnya ingin segera mencicipi. Ditambah perutnya sudah berbunyi terus menerus akibat tidak makan semalaman. Tamara menunjuk empat jenis manakan mulai dari appetizer hingga dessert. Menu komplit. Ziddan yang melihatnya terkekeh dan heran. Dirinya saja hanya memesan satu makanan.
“Sayang, kamu yakin bisa menghabiskan semua makanan itu?”
Membuat semua yang berada di meja itu tertawa. Sembari menunggu pesanan datang mereka melanjutkan lagi sebuah obrolan yang diawali pertanyaan Ziddan.
“Lif, apa kita tidak boleh duduk di sebelah sana.” Jarinya menunjuk meja yang berada di halaman luas. “Sepertinya lebih asyik berada di sana,” sahutnya lagi.
“Halaman itu reservasi Bu Vera untuk acara nanti malam. Jadi hari ini akan di dekorasi.”
“Oh, pantas saja banyak buket bunga di sana.”
“Ya, semalam bos besar mengumumkan jadwal acara untuk lima hari ke depan.”
“Apa saja acara itu?”
__ADS_1
“Nanti malam ada live musik dari band ternama di kota ini. Terus malam berikutnya ada dinner bersama lagi. Malam ketiga malam puncak perayaan, sepertinya akan diadakan pesta dansa. Untuk selanjutnya dinner seperti biasanya.”
“Hmm, jadi begitu. Terima kasih infonya.”
Perbincangan terhenti ketika pelayan datang membawakan pesanan mereka.
“Waaah, ini menggoda sekali,” seru Tamara ketika beberapa plate di hidangkan di depannya.
“Mari, mari, silakan di nikmati,” ucap istri Alif.
*
*
*
Malam tiba. Semua orang sudah berkumpul di halaman resto. Malam ini akan ada live musik dari band ternama kota itu. Ziddan yang diam-diam pandai menyanyi tampaknya ingin mempersembahkan penampilannya untuk Tamara. Suara Ziddan tidak di ragukan lagi. Untuk mengaji saja suaranya sangat menyentuh hati. Jika ia menyanyi pasti akan membuat banyak orang terpesona.
Bersambung.....
Hai kesayanganku jangan lupa dukung novel ini dengan menekan love dan vote ya. Jika memiliki poin baca bisa juga memberikan bunga. Jika kalian berkenan Author sangat berterima kasih sekali 🥰🥰🥰🥰
follow IG Author @_mukamalah 🥰 akan ada banyak info tentang cerita lainnya disana.
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
Promo Novel temanku nih, mampir yaa 🥰🥰
Setelah tidak bertemu untuk waktu yang cukup lama, untuk pertama kalinya Arista bertemu dengan seseorang yang dulu pernah ia sukai dalam diam, laki-laki dulunya memiliki arti tersendiri di hatinya sekaligus menjadi cinta pertamanya di SMA kala itu. Tanpa Arista ketahui jika laki-laki itu juga menyukainya secara diam-diam, bahkan sejak pertama kali bertemu. Namun tidak ada dari keduanya yang mengungkapkan perasaan dan isi hati mereka, keduanya memilih diam dan memendam perasaan masing-masing. Sehingga keduanya tidak pernah mengetahui perasaan satu sama lain hingga saat ini. Disaat laki-laki itu ingin mendekati dan berusaha mendapatkan hati Arista, ternyata salah satu sahabatnya juga menyukainya dan berusaha ingin melindungi gadis itu dari orang-orang yang ingin menyakiti nya.
__ADS_1