Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 17


__ADS_3

Hari ini hari pertama Ziddan berangkat kerja setelah ia menikah. Teman sekantornya sudah menunggu kedatangan Ziddan untuk memberi sambutan kecil dan ucapan. Ia menjabat sebagai manager atas apresiasi bosnya.


 


Tamara tadi pagi sudah memasak dan sudah sarapan juga mendahului Ziddan. Tetapi setelah itu dia cepat-cepat masuk ke kamarnya lagi sebelum Ziddan melihat dan menahannya seperti tadi malam.


 


Tamara tidak tahu suaminya berangkat kerja jam berapa. Ia hanya mengira-ngira jam delapan mungkin sudah tidak ada di rumah. Dia merasa bosan dikamarnya, ia berniat untuk jalan-jalan keluar kompleks siapa tahu dia bisa menemukan Reza di daerah tempat tinggal barunya itu.


 


Tamara keluar menggunakan celana panjangnya dan berjaket jeans lengkap dengan sepatu khasnya. Sepatu kets. Ia juga menggunakan masker agar tak terlalu di kenali orang sekitar. Tamara melihat sekelilingnya memastikan Ziddan sudah tak ada, baru ia mempercepat langkahnya keluar dari kompleks.


 


Saat keluar kebetulan security tidak melihat. Tamara berhasil lolos dari kompleks. Ia berjalan kearah kanan menuju jalan utama. Tamara mengedarkan pandangan melihat keadaan sekeliling yang di penuhi gedung bertingkat.


 


Langkah Tamara terhenti saat melewati sebuah tempat bekas karaoke. Ada sekelompok laki-laki yang mengepung satu wanita, seperti sedang menghakimi wanita tersebut. Ia mendekat mencoba mencari tahu apa yang sedang mereka lakukan. Tapi ternyata langkahnya yang diam-diam itu malah membunyikan suara ketika tak sengaja menginjak ranting.


 


Belum sempat Tamara menguping, mereka sudah mengejar Tamara. Salah satu pria itu berhasil menangkap Tamara. Mereka menyeret kuat tangannya. Wanita yang di hakimi tadi mencoba berteriak meminta pertolongan. Tamara sekuat tenaga melawan dengan ilmu bela dirinya yang dulu sempat Reza ajarkan. Tamara menendang serta memukul satu persatu pria itu, tetapi tetap tenaga mereka lebih kuat. Tidak ada bantuan yang segera datang hasil dari teriakan wanita tadi. Suasana kota tampak sedikit lengang karena sudah masuk jam bekerja, semua orang sibuk dengan pekerjaannya, termasuk Ziddan. Tamara berpikir Ziddan tidak akan bisa menolongnya. Ia juga pasti akan kena marah dan akan di adukan kepada ayahnya atas ke nekatannya ini.


 


Tamara bingung harus meminta tolong kepada siapa. Saat ia di sekap ke dalam ruangan kosong. Ia mendengar ada suara laki-laki yang tak asing di telinganya.


 


“Reza,” lirihnya. Ia meneteskan air mata mengingat kejadian sewaktu dirinya di tolong di pondok.


 


“Ya benar itu pasti Reza.” Tamara berteriak memanggil nama Reza berkali kali tetapi tidak ada respon. Justru suara itu semakin menghilang. Tamara semakin bergejolak ingin melepaskan tali tetapi usahanya gagal. Namun terdengar ada suara lain yang lebih ia kenal saat ini berteriak memanggil namanya. Panggilan itu terhenti seketika setelah ada yang mendobrak pintu ruangan tempatnya di sekap. Berganti suara perkelahian.


 


“Ziddan..” Ia yakin yang sedang berkelahi itu adalah suaminya.

__ADS_1


 


“Ziddan, aku disini. Tolong, aku di sekap.” Tamara berusaha menendang dengan kakinya yang terikat. Tak lama Ziddan kembali mendobrak pintu.


 


Suara sekelompok pria itu tidak ada lagi. Nampaknya Ziddan berhasil membuat mereka semua tergeletak.


Ziddan mendapati istrinya terduduk di lantai yang kotor, terikat tali tangan dan kakinya. Pria itu tampak sangat khawatir dengan keadaan istrinya, ia segera melepaskan semua tali yang mengikat lalu mendekapnya dalam pelukan. Tamara menangis terisak dalam dada suaminya.


 


“Jangan katakan pada ayahku, aku mohon.”


 


“Tak usah khawatir aku tak akan mengatakannya.” Ziddan membawa istrinya keluar bangunan itu.


 


Saat Ziddan mengajak Tamara masuk ke dalam mobil tiba-tiba ia kembali teringat suara Reza yang tadi di dengarnya dengan jelas.


 


 


“Za, Reza, dimana kamu? Za...!” Tamara berteriak memanggil nama Reza dengan berderai air mata. Namun tak ada Reza disana. Ziddan hanya memandangi istrinya dengan menyimpan pertanyaan.


 


“Tidak ada Reza disini, Ra. Hanya ada seorang wanita penuh luka tetapi dia sudah pergi. Ayo kita segera balik.”


 


Mereka berdua masuk ke dalam mobil Ziddan. Ziddan melajukan mobilnya, membawa Tamara ikut ke kantor karena tak tega meninggalkannya dirumah sendiri dalam keadaan ketakutan.


“Bagaimana kamu bisa tau keberadaanku?” tanya Tamara hati-hati.


 


“Aku mengikutimu.”

__ADS_1


 


“Bukannya kamu sudah berangkat?”


 


“Aku masuk agak siang dan mobilku sedang aku cucikan di sebelah kompleks.”


 


“Tapi aku menggunakan masker sekalipun kamu tetap mengenaliku?”


 


“Tentu saja aku sangat hafal meski kamu tutup bagaimanapun. Karena kamu istriku tercinta.” Tamara tertohok dengan ucapan suaminya. Dia rasa ia tidak perlu lagi bertanya.


 


“Kamu kenapa ada di tempat itu, pergi tanpa bilang ke suamimu. Kalau tadi aku tak melihatmu bagaimana?”


 


“Maaf. Aku ingin mencari angin saja. Tetapi tadi ada wanita yang sedang dihakimi, aku berniat ingin menolong dan mencari tahu apa masalahnya. Namun sayang, mereka berhasil menangkapku.”


 


 


“Bagaimana dengan Reza?”


 


“Saat aku di sekap aku mendengar suara Reza sedang melirih kesakitan. Tapi setelah itu menghilang.” Ziddan mengusap air mata istrinya. Ia merasa kasihan dibuat Reza tergila-gila lalu ditinggal begitu saja. Laki-laki macam apa. Ziddan semakin geram.


 


Setelah sampai di kantor, Ziddan memapah istrinya ke dalam ruang kerjanya. Semua karyawan tak jadi memberikan ucapan ketika melihat keadaan wanita yang dibawa Ziddan sedikit berantakan.


***Terimakasih yang sudah setia membaca novel ini 🥰🥰🥰🥰🥰😘😘😘😘


Jangan lupa dukung dengan cara tekan favorit, like dan komen yaa 😘😘😘😘 Lope lope buat semua 😍😍😍😍***

__ADS_1


__ADS_2