
“Nikah, Yuk,” bisik Reza.
“Bercanda?”
“Aku serius Mel,” ucap Reza seraya mencubit hidung mancung Meli.
“Nanti kamu PHP-in gue gak nih? Ya, kaya waktu dulu loe sama Tamara.” Meli berdiri mengitari meja dengan tangan bersedekap.
“Gimana biar itu gak terjadi lagi, mending kita nikahnya besok pagi. Sandra aja aku di gudang rumahmu. Hahaha.” Reza tertawa menggoda Meli.
“Yang ada nanti gue dikira hamil duluan! Emangnya enak jadi wanita? Sebuah pernikahan terkadang akan menjadi sorotan jika itu terjadi secara mendadak. Sana sini pada gosip. Bukan lakinya yang di gosipin, pasti perempuannya. Laki mah enak, mau hamilin anak orang atau enggak gak bakal keliatan, dan gak bakal kena gosip. Tetep yang kena si perempuannya. Maka dari itu, gue.... gak mau nikah dadakan. Atau pun gue gak pernah mau ngelakuin hubungan di luar nikah. Ngerti kan Lo?”
“Tumben bijak. Iya aku ngerti, bercanda kali Mel, masak mau nikah besok, aku aja belum persiapan apa pun. Kamu sih khawatir aku PHP-in. Musuh terberat semua wanita kan udah di penjara tuh. Jadi, gak akan ada yang berani ganggu aku lagi. Abi juga udah ruqiah aku, dan aku janji aku gak akan lagi terpengaruh begituan. Mentalku gak akan jatuh lagi meski perusahaanku bangkrut atau cobaan lainnya menerpaku. Abi sudah banyak memberiku nasihat dan beberapa ilmu yang bisa membuat aku lebih tenang dan yakin. Semua ketetapan hanya milik Allah. Kita hanya mengikuti alurnya, jika ada seorang pemeran pasti ada sutradaranya.”
“Jadi, Mel. Jika nanti kamu juga bukan jodohku meskipun aku sudah bertaruh nyawa memperjuangkanmu. Maka tetaplah akan ada selalu rintangan yang menginginkan kita untuk berpisah. Tapi, kalau boleh berharap sih. Aku maunya kamu jadi jodohku.” Reza menggenggam tangan Meli. Meli kemudian duduk di depan Reza. Mereka bertatapan cukup lama tanpa berkata.
Lalu Meli membuka suaranya yang nyaring.
“Itu kata-kata yang gue lontarin ke Tamara sewaktu dia akan menikah dengan Ziddan.”
“Iyakah? Berarti kamu hebat, bisa ngebuat Tamara akhirnya mau menerima suaminya,” ucap Reza dengan mengacak poni Meli.
“Siapa dulu. Meli gitu!” serunya.
“Jadi gimana kesimpulannya?”
“Lo beneran melamar gue, Za?”
“Masih aja gak percaya ni bocah ingusan. Hari ini juga aku akan ke rumahmu, aku akan bilang sama Mama dan Papamu jika aku ingin melamar putrinya.”
“Oke. Cuss, gue pengen lihat keberanian Lo dulu berhadapan sama Nyokap dan Bokap gue. Mereka ‘premannya’ lebih dari gue,” tantang Meli dengan yakin.
“Siap. Mari tuan putri aku antar pulang.” Gayanya dengan mempersilakan gadis itu berjalan lebih dulu ke mobil Reza.
Meli dan Reza berlalu meninggalkan cafe. Dengan mobil yang tak mewah, Reza mengantarkan Meli ke rumahnya. Sebenarnya Reza telah mengatakan hal ini kepada orang tua Meli secara diam-diam tanpa sepengetahuan gadis itu. Ia meminta Papa dan Mama Meli untuk merahasiakan dulu kedatangannya waktu itu. Papa dan Mama Meli sudah menerima Reza. Namun, justru Meli yang belum tahu jika Reza akan melamar dirinya.
Meli sudah lama meninggalkan kosnya ketika Tamara keluar juga dari kos itu. Orang tua Meli telah membelikan rumah untuk Meli di dekat kampusnya. Saat ini orang tuanya sedang berada di rumahnya satu bulan ini karena sedang ada pekerjaan di kota yang sama. Meli hanya tinggal sendirian jika orang tua mereka kembali ke rumah yang dulu.
__ADS_1
Perjalanan mereka akhirnya berakhir di sebuah perumahan elite. Reza menepikan mobil yang dibelinya dengan harga murah sesuai tabungannya.
“Maaf ya, Mel. Mobilku butut, kamu pasti malu ya naik mobil ini?”
“Kalo gue malu udah dari tadi gue gak mau naik. Buktinya, gue ninggalin mobil gue di kampus demi naik mobil ini kan? Yok turun! Kita udah sampai di rumah mungil gue.”
“Ini bukan mungil kali, Mel. Gede!”
“Masih besaran rumah Lo dulu kan?”
“Iya sih, tapi udah gak ada buat apa diingat?”
Mereka berdua melangkah masuk. Meli terkejut ketika membuka pintu rumahnya. Ruang tamu di rumahnya ternyata sudah berubah menjadi ruangan yang sangat indah. Ruangan itu telah di dekorasi sedemikian rupa seperti acara pertunangan pada umumnya. Terbaca olehnya tulisan di dekorasi bunga itu.
‘Happy Engagement’
Kemudian suara tepukan tangan hadir. Keluarlah dari balik dinding dekorasi itu kedua orang tuanya. Meli tambah terkejut. Ternyata semua ini telah Reza rencanakan dengan rapi dan berhasil membuat Papa Mamanya menerima Reza. Meli menggeleng tak percaya.
“Kok bisa sih?”
“Gue gak percaya.” Matanya berkaca-kaca. Meli sangat terharu ada pria yang begitu romantis melamarnya.
Reza menggandeng tangan Meli menuju orang tuanya. Kemudian Reza menyalami Papa dan Mama gadis yang telah di lamarnya itu.
Di hadapan Meli, Reza mengatakan kepada orang tua Meli, jika ia ingin meminang putrinya dan menjadikan Meli sebagai permaisuri rumah tangganya.
“Kami merestui hubungan kalian,” ucap Papa Meli.
Meli sangat bahagia dengan ungkapan orang tuanya itu. Selanjutnya Reza menghadap Meli. Dia kembali menggenggam tangan Meli.
“Maukah kamu menjadi istriku?”
Wajah Meli memerah sangat Malu. Tetapi bibirnya selalu tersenyum. Dia hanya memberikan isyarat menganggukkan kepala. Tanda di terimanya lamaran Reza.
“Gue.. mau, Za. Tapi jangan dalam waktu dekat ini ya.”
“Iya, Mel. Aku nurut aja kapan maunya kamu. Kamu yang akan tentuin tanggalnya. Jadi, sekarang kita beneran udah tunangan kan?”
__ADS_1
“Iyalah, Za.”
“Akhirnya, Mel. Aku bisa juga luluhin hati kamu yang kaya preman itu.” Ucapan Reza membuat semuanya tertawa. Papa dan Mama Meli juga ikut tertawa, mereka menyadari sifat anaknya.
Reza kemudian mencari sesuatu dari kantongnya. Namun, tak ditemukan benda itu. Reza meminta izin untuk kembali ke mobilnya sebentar.
“Dimana ya barang itu, aduh ngerusak suasana banget.”
Reza cukup lama mencari benda itu di dalam mobil. Ia menelusuri semua isi mobilnya. Meli akhirnya memutuskan untuk menyusul Reza ke mobilnya.
“Za, kamu nyari apa sih? Kok lama banget?”
“Nah, ini dia.” Reza langsung menyimpan benda itu ke kantongnya tanpa memberitahu Meli.
“Udak ketemu?”
“Udah, yuk masuk lagi.”
Mereka kembali pada tempat duduk yang tadi
“Sory Mel, tadi ada halangan pake ngilang segala.”
“Emang apaan sih, Za?”
Reza mengeluarkan kotak warna merah. Kemudian ia membukanya.
Bersambung.....
Hai Reader setia, terima kasih atas dukungan kalian semua 🥰🥰🥰
Author berharap kalian bisa memberikan komentar demi kemajuan novel ini..
Tekan love dan favoritkan yaa 😍😍😍
Lope lope sekebun buat kalian 😍😍❤❤❤😘😘😘
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Promo Novel teman.
Cinta saja tak pernah cukup, begitulah kata para pepatah. Binar dan Albiru tidak pernah menyangka ujian cinta mereka justru hadir setelah mereka menikah. Masalah bertubi-tubi menghampiri rumah tangga mereka. Ada mertua dan ipar Binar yang terus mengganggu kenyamanan Binar. Belum lagi masalah orang ketiga yang selalu mencari celah untuk masuk di kehidupan mereka. Saat batas kesabaran Binar sudah diambang batas namun tidak ada satupun yang memihaknya. Lantas salahkan Binar bila ingin menyerah?
__ADS_1