
Ziddan mengambil duduk di barisan paling depan agar dapat melihat dengan jelas perfom band tersebut. Dua lagu tiga lagu dibawakan dengan indah membuat semua orang bertepuk tangan. Setelah selesai empat lagu vokalis itu menawarkan kepada siapa pun yang ingin memberikan sumbangan suaranya. Naiklah Ziddan ke atas panggung. Tamara terkejut. “Mas, kamu mau ke mana?” mulutnya ternganga tak percaya saat suaminya menaiki anak tangga panggung. Batinnya mengira bahwa suaminya itu akan mempersembahkan lagu untuk anak bosnya yang sedang ulang tahun. Karena Ziddan tak menjawab saat dirinya bertanya. Ziddan begitu saja berlalu meninggalkan Tamara tanpa memedulikan panggilannya yang terduduk sendiri di bangku.
“Mas ...!” panggilnya geram untuk ke sekian kali. Namun, percuma saja karena suaranya itu hanya di telan suara sound sistem yang lebih keras.
“Akh ...,” dengus Tamara kesal. Tangannya ia lipat di dada sambil memalingkan pandangan dari panggung. Jika tak berada di barisan depan mungkin saat ini ia akan melompat ke Villa daripada harus melihat perfom suaminya yang ia kira untuk si gadis itu.
Di sisi lain, Cherly, anak bos besar yang sedang ulang tahun itu tampak begitu senang melihat pria idolanya sekaligus guru mengajinya secara privat itu naik ke panggung. Cherly berjingkrak kegirangan, ia berpikir bahwa ustad tampan itu akan mempersembahkan lagu untuknya. “Kamu kenapa, Cher?” tanya Vera, Mamanya, yang heran melirik tingkah anak semata wayangnya itu tiba-tiba terlihat sangat bahagia.
“Tak apa, Mom,” jawabnya dengan senyum-senyum sendiri. Pandangan masih tetap pada sosok pria di atas panggung yang sedang melakukan cek mikrofon. “Tes ... tes ....” Suara Ziddan terdengar menggetarkan hatinya.
Ziddan menarik nafasnya kuat, ia sedang mencari titik vokal yang bagus dari kerongkongan. Setelah dilihat siap, Ziddan mulai mengeluarkan suaranya. Namun, ternyata baru ucapan dan sambutan. Membuat penonton menyoraki ustad tersebut. Ziddan hanya tersenyum manis tanpa memedulikan sorak penonton yang tak lain adalah rekan kerja, atasan serta anak buahnya.
“Teruntuk yang sedang berulang tahun, putri dari Bu Vera selaku pemilik perusahaan saya mengucapkan selamat ulang tahun di usianya yang genap, yang ke dua puluh tahun. Semoga apa yang di cita-citakan semuanya terwujud. Serta semoga bisa menjadi wanita yang lebih baik lagi. Namun, saya di sini bermaksud mempersembahkan sebuah lagu untuk--,” ucapannya terhenti sebentar, ia melirik istrinya yang menekuk wajah. Ziddan sudah tahu jika istrinya salah sangka.
Dari kejauhan, Cherly semakin bahagia, ia menunggu Ziddan melanjutkan kalimatnya. Dengan penuh harapan Cherly menginginkan kalimat itu akan menyebut dirinya lagi. Ziddan mendekatkan mikrofon lagi ke bibir merah nan tipis.
“Saya ingin mempersembahkan sebuah lagu untuk istri saya tercinta yang sedang hamil. Istri cantik saya, Tamara Adelia Permana,” ucap Ziddan menyambung kalimat yang ia tahan tadi. Tamara yang mendengar namanya di sebut, ia langsung mengerjap beberapa kali dengan bibir menganga. “Apa? Untukku? Aku harus bahagia atau harus malu?” gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Istri Alif yang berada dekat dengan Tamara kemudian menepuk tangan wanita itu. Membuatnya tersadar, apa yang di ucapkan suaminya itu ternyata benar. ‘Persembahan lagu untukku?’ Masih tanya dalam hati.
Ziddan meminjam gitar milik personil band tersebut untuk mengiringi suaranya sendiri. Di petiklah satu persatu senar alat musik. “Bidadari Tak Bersayap,” ucap Ziddan lalu menyanyikan sebuah lagu itu dengan merdu.
Satu, dua, tiga ...
.....
.....
....
Tuhan, kusayang sekali wanita ini
Tuhan, kusayang sekali wanita ini*'
...
__ADS_1
Jreng..
Gitar selesai di petik, tanda lagu yang Ziddan nyanyikan berakhir. Tepukan tangan yang sangat meriah diberikan atas perfom Ziddan. Namun, ia hanya menatap lekat istrinya yang tampak berkaca-kaca.
Ia mengucapkan terima kasih kepada pemilik acara atas waktunya. Bu Vera dan suaminya dari kejauhan memberikan senyuman hangat tanda berterima kasih kembali. Lalu ia menuruni anak tangga dan menghampiri wanita yang telah ia berikan persembahan lagu tadi dengan istimewa. Tamara berdiri langsung memeluk Ziddan di hadapan ratusan tamu.
Semua yang melihatnya ikut terharu. Bahkan mereka memeluk pasangan masing-masing menirukan dua insan yang sedang mereka saksikan sangat mesra di depan. Tetapi tidak untuk Cherly, dia justru kesal dengan pemandangan itu. Ia memilih untuk pergi dari tempatnya berdiri. Dan langsung meninggalkan pesta.
bersambung ...
Hai kesayanganku jangan lupa dukung novel ini dengan menekan love dan vote ya. Jika memiliki poin baca bisa juga memberikan bunga. Jika kalian berkenan Author sangat berterima kasih sekali 🥰🥰🥰🥰
follow IG Author @_mukamalah 🥰
💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛
Mampir Yuk ke novel temanku 🥰
Hanna, seorang gadis bertubuh besar dan berpenampilan tidak menarik, selalu tidak dianggap dan tersisihkan oleh ibu dan juga saudaranya, begitupun dengan orang-orang disekitarnya. Hingga keadaan berbalik, orang-orang yang dulu mencemoohnya kini mencoba mengambil hatinya, begitu juga dengan pria yang dulu sangat membencinya. "Kau harus menjadi duchess of Claymore, suka atau pun tidak!" - Alexander Davlin Claymore, Duke of Claymore - "Bukan kah kau tidak suka dengan gadis berlemak yang suka meneteskan air liurnya saat melihat makanan?" - Lady Hanna Jhonson - Tidak cukup dihina, Hanna pun menjadi taruhan oleh teman-temannya dan juga pria yang sangat dia sukai. Hingga suatu hari, Hanna tersedot masuk ke dalam novel yang sedang dia baca, dan menjadi pemeran utama yang hidupnya juga sama menyedihkannya. Merasa mendapat kesempatan kedua, Hanna mencoba mengubah takdir nya, dengan melawan siapa saja yang ingi menyingkirkan nya
__ADS_1