
Hari ini Ziddan kembali izin masuk siang. Ziddan dan Tamara berangkat ke kantor polisi pagi hari itu juga. Tamara juga sudah menghubungi Meli atas rencananya dan Ziddan. Meli di tugaskan Ziddan untuk mengawasi keberadaan target mereka.
Setelah laporan di terima polisi, mereka langsung menuju hotel tersebut. Namun Tamara dan Ziddan hanya menunggu di mobil karena takut jika keberadaannya akan di ketahui target dan membuat mereka curiga.
Langkah tegap polisi menelusuri koridor dimana kamar itu di pesan Rista. Terdapat Meli yang berjalan mondar-mandir di dekat lift untuk menahan jika mereka akan pergi, tetapi ternyata mereka hari ini belum keluar sama sekali.
Meli menunjukkan kamar itu kepada polisi. Kemudian terjadilah penggebrekkan. Polisi segera membawa Rista dan Reza. Mantan kekasih Tamara itu akan ikut dibawa juga, tetapi untuk di serahkan kepada Ziddan ketika di kantor nanti. Rista diminta menunjukkan ruangan anak buahnya berada. Karena mereka juga akan ikut di tangkap.
Setibanya di kantor Rista terkejut melihat ada Tamara dan suami Tamara yang merupakan musuh terbesarnya. Sedangkan Meli tidak ikut karena ada tugas yang harus segera di selesaikan.
Wanita yang sedang di pegang kuat polisi itu mengamuk, berteriak-teriak tidak bersalah. Apalagi ketika melihat Reza yang akan dibawa mereka pergi dari kantor itu.
“Pak, saya mohon izinkan saya sebentar untuk bicara satu kalimat kepada Reza. Satu kalimat saja,” pinta Rista dengan mengiba kepada polisi.
“Baiklah.”
Polisi memanggil kembali Reza. Beliau menyerahkan Reza pada Rista dan memberi waktu lima menit saja. Tentu dengan pengawasan ketat. Tangannya pun tetap di pegang kuat oleh satu polisi.
__ADS_1
Ternyata Rista berniat jahat kepada Reza. Rista menendang keras bagian sensitif polisi itu hingga ia terlepas dari pegangannya. Lalu dengan cepat mengambil pisau yang sangat kecil yang ia sembunyikan pada saku celananya, kemudian menancapkan pisau itu ke perut Reza dengan sempurna hingga membuat darah mengucur deras membasahi lantai keramik yang kontras sekali warnanya dengan warna darah itu.
Kemudian Rista melempar pisau itu jauh dari genggamannya. Dengan meneriakkan suatu kalimat.
“Tidak akan ada yang bisa milikimu selain aku, Za. Jika aku tidak bisa, maka tidak ada wanita lain yang akan memilikimu!”
“Rezaa.....” Tamara berlari menghampiri mantan kekasihnya itu dengan derai air mata. Hatinya sangat hancur berkeping melihat Reza yang penuh dengan darah di bajunya. Tamara tak henti menangis. Air matanya terus menetes membasahi pipi Reza, membuat Reza tersadar akan hadirnya Tamara disisinya. Reza menggenggam tangan Tamara lemah, genggaman itu makin melemah hingga terlepas.
Semua orang yang ada disana benar-benar terkejut.
Polisi segera membawa Rista masuk ke dalam sel memberinya waktu untuk tenang, lalu akan memproses segera kasus itu.
“Cepat tolong Reza! Cepat, Pak!” teriak panik Tamara.
Polisi sebenarnya sedang menyiapkan ambulans yang tersedia disana. Namun membuat Tamara tak sabar.
“Mas, cepat selamatkan Reza. Aku mohon,” lirihnya kepada Ziddan.
“Iya sayang, polisi akan segera menolong,” jawab Ziddan mendengar suara sirene ambulans itu semakin mendekat.
Mereka kemudian menggotong Reza dan membawa masuk ke dalam mobil darurat. Tamara tidak diizinkan satu mobil dengan Reza karena akan dilakukan penanganan kecil di dalam ambulans oleh tenaga medis dari kantor polisi. Karena kantor itu cukup besar di pusat kota tentu ada fasilitas kesehatan yang cukup memadai juga.
__ADS_1
Tamara terus menangis, tangisnya semakin pecah di dalam mobil selama perjalanan menuju rumah sakit. Ziddan masih terfokus mengemudikan mobilnya mengikuti kecepatan ambulans. Ia sebenarnya ingin mendekap istrinya. Tetapi tak bisa dalam suasana seperti ini. Pasti yang di inginkan Tamara sekarang hanyalah segera sampai rumah sakit.
Sampailah mereka di ruang IGD. Reza sedang dalam penanganan serius. Banyak darah yang telah dikeluarkannya. Tamara masih tetap dengan derai air matanya di depan ruangan itu dan terduduk di lantai.
Ziddan mencoba membangkitkan tubuh itu dengan lembut. Lalu mendekap erat istrinya. Wajah Tamara tenggelam di dada Ziddan dengan sesenggukan tangis. Ziddan juga ikut menangis melihat wanita yang ia cintai itu tersakiti lagi. Meski menangisi pria lain.
“Sayang, kamu harus kuat apa pun yang akan terjadi pada Reza nantinya. Reza bukan satu-satunya orang yang mencintaimu.”
Tamara tersentak dengan ucapan Ziddan. Ia baru tersadar jika ada hati suaminya yang tersakiti atas tangisannya itu. Segera ia menyeka air mata yang telah membuat seluruh wajahnya basah.
“Maaf mas, aku telah menyakitimu. Aku saat ini benar-benar sangat sedih. Aku takut Reza tidak selamat. Aku ingin Reza mengetahui bahwa Rista yang selama ini telah menghancurkan hubungan kami dulu. Dan aku ingin meminta maaf.”
Ziddan tanpa berucap. Hanya tetap menenangkan istrinya dengan mengusap punggungnya. Sesekali mencium kening itu.
Bersambung....
Akankah Reza selamat?
Terimakasih sudah setia membaca novel ini..
Jangan lupa dukung terus dengan cara like, komentar, dan tekan favorit yaa.... 🥰🥰🥰🥰🥰😘😘😘😘🌹🌷🌷
__ADS_1