
Setelah semuanya duduk, Permana masuk ke kamar Tamara meminta istrinya yang sedang menenangkan anaknya itu untuk membuatkan minum sebentar. Permana mengusap kepala anaknya.
“Ada tamu untukmu, nak.”
“Siapa, Yah? Reza?”
“Lupakan Reza, Ayah sudah tidak akan menerimanya lagi jika ia datang meminta maaf. Ada guru mengajimu datang, ia ingin bertemu denganmu.”
“Nak, jika mereka kesini dengan maksud baik, tolong jangan dikecewakan. Ayah belum menanyakan apa keperluan mereka datang dan mencarimu.”
Tamara mengangguk kecil, gegas berdiri menuju wastafel membasuh wajahnya. Menghapus jejak air mata yang sudah cukup lama mengaliri pipi. Tubuhnya mencoba mengumpulkan sisa energi setelah ia habiskan untuk menangisi nasibnya yang tak tahu harus berlanjut seperti apa. Dengan mata yang sembab ia keluar menemui tamunya di bantu Ayahnya berjalan.
Tamara tersenyum datar dan menyalami semua tamunya. Setelah itu ibu datang dengan membawa minuman dan beberapa camilan di bantu Difa yang baru saja pulang dari rumah temannya. Difa saat ini sedang libur.
Ayah mengawali pembicaraan dengan sebuah pertanyaan.
“Ustad Ziddan, mohon maaf saya ingin bertanya sebenarnya ada keperluan apa jauh-jauh kemari bersama keluarga dan tanpa memberi kabar?”
“Sebelumnya saya meminta maaf tidak memberi tahu dulu tentang kedatangan kami. Pak, Bu, saya kesini bersama kedua orang tua saya bermaksud ingin melamar putri Bapak,” ucap laki-laki berkacamata itu.
Wajahnya manis dan teduh, namun ia sedikit lebih tua dari Reza.
Tamara sungguh terkejut mendengar ucapan guru mengajinya itu. Ia tidak menyangka selama ini ustad Ziddan telah memiliki hati untuknya.
Gadis itu tiba-tiba pergi meninggalkan ruang tamu dan berlari ke kamarnya. Ibu mengejar Tamara. Ayah meminta maaf dan memohon tamunya untuk menunggu sebentar.
__ADS_1
Setelah itu Permana menyusul Tamara ke kamarnya.
Ziddan dan keluarganya hanya mengiyakan, mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi pada keluarga ini.
Pintu kamar dibuka Permana dengan pelan. Terlihat anaknya sedang menangis sesenggukan di pangkuan istrinya. Disana ada Difa juga yang ikut menangis mendengar semua penjelasan dari ibu.
Permana masuk dan melangkah menghampiri Tamara.
“Tamara, ayah rasa kamu harus menerima lamaran itu,” ucap Ayah membuat Tamara mendongakkan wajahnya.
Ibu dan Difa memandangi Ayah dengan keheranan. Mereka tahu betul bagaimana perasaan Tamara yang seharusnya butuh waktu untuk menyembuhkan lukanya karena Reza. Luka itu belum kering, tetapi Ayah sudah memberikan paksaan.
“Ayah tidak mau tahu! Ayah tidak ingin acara ini batal hanya karena laki-laki pengec*t itu! Ayah malu. Apa yang akan Ayah katakan kepada para tamu undangan nanti?” Permana menggertak, wajahnya penuh amarah.
“Yah, jangan paksa Tamara. Dia sedang sangat terluka.” Ibu menyeka air mata gadis yang masih berada di pangkuannya.
“Yah, kasihan kakak..” Difa mencoba memelas.
“Diam kalian semua!”
__ADS_1
“Lihat Ayah, nak! Apa hanya kamu yang merasakan sakit? Apa hanya kamu yang terluka? Ayah, ibu dan semua keluarga kita juga ikut terluka. Ayah akan tetap menikahkanmu dengan ustad Ziddan. Mau tidak mau kamu harus terima.”
Ibu berdiri membela Tamara.
“Ayah jangan egois, disini Tamara hanya korban. Anak kita adalah korban, Yah. Tidakkah ayah bisa memberikan sedikit hati untuk anak kita sendiri? Cinta tidak bisa di paksakan, Yah.”
“Tamara bisa belajar mencintainya setelah menikah. Cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya, Bu. Ayah akan bilang kepada mereka kalau kamu menerimanya. Persiapkan dirimu, Tamara. Jangan membantah,” ucap Permana meninggalkan ruangan itu.
“Ayah egois.. Ayah egois..!!” Tamara bangun dari pangkuan lalu melemparkan barang-barang di sekitarnya. Ia mengambil bingkai foto tunangan bersama Reza dan memeluknya.
“Bu, aku hanya mencintai Reza. Tamara yakin Reza akan kembali untukku, tunggulah dia, Bu. Tamara tahu pasti Reza saat ini sedang dalam pengaruh obat wanita itu. Reza sudah berjanji tidak akan mengkhianatiku.” Gadis itu terduduk di lantai masih dengan memeluk bingkai foto tunangannya.
Sari tidak sanggup melihat anaknya seperti itu, begitu juga dengan Difa tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka berdua memeluk erat Tamara. Ketiganya menangis dalam pelukan. Hanya pasrah yang ada dalam benak mereka.
Tamara kembali memikirkan lamaran ustad Ziddan, ia tidak mungkin menerima lamaran laki-laki yang tidak ia cintai. Namun Ayahnya sudah menerima lamaran itu. Ziddan beserta orang tuanya juga sudah pulang. Ayah mengatakan pernikahan mereka tetap akan dilaksanakan pada tanggal yang sama, minggu depan. Ziddan menyanggupi, baginya lebih cepat akan lebih baik. Namun Ziddan masih belum mengetahui kalau Tamara sebenarnya menolak. Dia juga tidak tahu kalau Tamara akan menikah dengan Reza, Abi tidak memberitahunya.
***Apakah Tamara akan menerima lamaran Ziddan?
Terimakasih sudah setia membaca Novel ini 🥰🥰🥰🥰😘😘😘😘😘 Jangan lupa like komen dan berikan dukungan yaaa... Lopp uuuuu 🥰🥰🥰🥰🥰😘😘😘***
__ADS_1