
Pagi hari Ziddan sudah memanaskan mobilnya. Dia siap untuk mengantarkan Kakak iparnya ke rumah sakit. Tamara juga telah memberikan sarapan kepada Sanya dan Kak Ayu.
“Kak, mari kita ke rumah sakit,” ucap Ziddan, beranjak memapah kakak iparnya. Kak Ayu mengangguk hanya pasrah mengikuti perintahnya.
Tamara bersiap dengan Sanya. “Sanya sayang, Mama sedang sakit, kita bawa ke dokter yuk. Sanya ikut dengan Tante, ya.”
“Mama ....”
Sanya menangis ketika Mamanya berada di ruang IGD. Tamara tidak berhasil membuat tangisnya mereda, kemudian Ziddan mengambil alih anak itu. Ziddan membawanya ke taman kecil di tengah gedung. Di sana terdapat juga kolam ikan. Tempat favorit Ziddan.
“Sanya, lihatlah ikan itu.” Ziddan menunjuk salah satu ikan yang kecil di antara ikan yang besar lainnya.
Sanya kemudian menengok memperhatikan gerak ikan itu. Dia lalu tersenyum berhenti menangis.
“Coba perhatikan terus ya. Jangan berkedip dulu. Cantik kan? Sama seperti Sanya yang selalu cantik jika tidak menangis.”
“Sanya mau jajan?” Ziddan menunjuk salah satu ruangan yang terlihat dari tempat mereka mematung. Sanya yang belum bisa berbicara kemudian mengangguk girang.
“Mari kita ke sana. Tetapi kamu tidak boleh menangis saat ibu kamu di obati dokter, ya,” ucap Ziddan membuat Sanya tersenyum kembali. Ia mengerti maksud Omnya. Anak balita itu mengambil beberapa biskuit dan snack ringan. Setelah puas dengan jajanannya, Ziddan mengajak untuk kembali menemui ibunya. Sampai di IGD, ia mendapati istrinya menangis di depan ruangan itu.
“Kenapa, Sayang? Bagaimana dengan Kak Ayu?”
“Barusan dokter keluar, ia mengatakan tubuh Kak Ayu penuh lebam seperti bekas pukulan benda tumpul. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan Kak Ayu selama ini, Mas. Kenapa Kak Ayu bisa menyembunyikan semua ini dari kami, ia bahkan terlihat paling mesra dengan suaminya ketika kami berkumpul. Mas Hans membuat kami percaya bahwa dia bisa membuat Kak Ayu bahagia jika bersamanya. Namun, ternyata dibalik semua itu ada luka yang kak Ayu tutupi separah ini,” ungkap Tamara terisak. Ziddan yang masih menggendong Sanya kemudian memeluk erat anak balita itu dan duduk mendekati istrinya.
“Sayang, tahan dulu tangismu. Ada anaknya di sini. Dia akan tahu apa maksud perkataanmu, meskipun Sanya belum bisa berbicara tetapi dia bisa mencerna maksud perkataanmu dengan teliti. Jangan beri asupan kata menyakitkan. Kita simpan dulu sementara waktu hingga nanti dia tertidur.”
“Iya Mas, aku mengerti. Maafkan aku.”
Percakapan mereka berdua berhenti ketika Kak Ayu dibawa ke ruang rawat inap. Tentu saja Ziddan memilihkan perawatan terbaik juga untuk Kakak iparnya. Dia memilih kamar VIP.
“Mas, bagaimana dengan Sanya kalau nanti Kak Ayu di rawat inap di sini. Dia pasti akan menangis jika terpisah dari ibunya.”
“Tidak sayang, Sanya sudah melakukan janji dengan Mas.”
__ADS_1
“Lalu Mas yakin dia akan menepati janjinya? Dia belum mengerti soal janji kan, Mas ....” keluhnya.
“Kita lihat saja nanti. Kamu tidak usah khawatir.”
“Mas, apa kita tidak akan menghubungi Ayah dan Ibuku?”
“Tentu kita harus menghubunginya. Kita bukan orang yang bisa melindungi Kak Ayu sebenarnya. Kita hanya tempat untuknya menenangkan diri. Untuk masalah ini sebaiknya Ayah dan Ibu yang menyelesaikan dengan keluarga Mas Hans. Yang Mas heran, kenapa suaminya sampai sekarang pun tidak mencari tahu keberadaan anak dan istrinya di mana. Apa ia bisa tidur pulas tanpa mereka berdua? Apa memang cintanya sudah dibutakan dengan wanita lain. Sungguh Mas tak habis pikir.”
“Mas, kenapa Mas berkata seperti itu di saat ada Sanya. Bukankah Mas tadi melarangku?”
“Sanya tertidur di bahuku. Lihatlah dia bahkan mendengkur.” Ziddan membalikkan badan dan memperlihatkan wajah keponakannya kepada Tamara.
“Iya Mas kamu benar, dia tertidur sangat nyaman dalam gendonganmu. Aku sampai iri, dia tidak senyaman itu denganku.”
“Mas juga tidak tahu, mungkin dia sangat merindukan sosok Ayah. Jadi dia menganggap Mas adalah Ayahnya.”
“Bisa saja seperti itu, Mas. Aku bangga padamu.”
Dokter mempersilakan masuk keduanya. Tampaknya Kak Ayu sudah siap untuk dikunjungi. Namun, Sanya tak diperbolehkan masuk. Ziddan mengerti keadaan itu. Mumpung Sanya sedang tidur jadi ia menuruti perintah dokter. Tetapi jika nanti Sanya terbangun ia akan meminta izin dokter untuk membawanya masuk menemui Mamanya.
“Terima kasih, Dok. Saya mengerti.”
Sementara ini Tamara saja yang masuk menemui Kak Ayu. Tamara mengatakan akan memberitahu kepada orang tua mereka secepatnya.
“Dek, tapi Kakak takut.”
“Takut apa, Kak? Kakak harus jadi wanita tangguh. Setangguh Mas Hans menyakiti Kakak. Jangan ada goyah dan lemah kak. Pengaduan kepada Ayah dan Ibu bukan bentuk dari kelemahan. Itulah yang sebenarnya harus Kakak lakukan. Kakak masih memiliki kedua orang tua yang siap melindungi anak-anaknya. Kakak tidak bisa menanggung beban ini sendiri, pikirkan Sanya juga. Biarkan dia ikut dengan Ibu untuk sementara waktu. Karena aku sedang hamil, maka dari itu aku tidak sanggup untuk menjaga Sanya jika ia sedang rewel.”
“Kamu hamil, Dek?”
“Iya Kak.”
“Maafkan Kakak, Dek. Seharusnya Kakak tidak memberatkanmu dan Ziddan. Kakak juga tidak tahu soal kehamilanmu. Maafkan Kakak, Dek.”
__ADS_1
“Kak, tidak ada yang perlu di persalahkan. Tamara tidak apa-apa. Aku senang, Kakak menganggapku orang yang penting di hidup Kakak.”
“Tamara ingin tanya, Kak.”
“Tanya apa, Dek?”
“Kenapa tubuh Kakak penuh lebam?”
Ayu tercekik atas pertanyaan adiknya. Selama ini dia telah rapat-rapat menutupi kekerasan yang dilakukan oleh suaminya.
“Kakak baik saja, tidak ada luka apa pun.”
“Dokter mengatakan hal itu, jadi Kakak tidak usah mengelak. Jangan Kakak tutupi tindakan tidak benar itu, Kak. Luruskan semua ini kepada Ayah dan Ibu, kalau Kakak ingin melaporkan Mas Hans, Tamara akan memintakan bukti visum. Jika Kakak mau saja.”
“Namun, Tamara sangat berharap Kakak bisa menjadi wanita yang memberi keadilan untuk dirinya sendiri. Andai tubuh Kakak bisa berbicara, dia kan protes atas diamnya Kakak selama tersakiti ini,” sambungnya lagi dengan sedikit emosi.
Bersambung.....
Hai Reader setia, terima kasih atas dukungan kalian semua 🥰🥰🥰
Author berharap kalian bisa memberikan komentar demi kemajuan novel ini..
Tekan love dan favoritkan yaa 😍😍😍
Lope lope sekebun buat kalian 😍😍❤❤❤😘😘😘
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Selamat Pagi, saya membawa lagi rekomendasi novel teman 💚 mampir baca ya...
Judulnya ada di gambar cover setelah sinopsis ini.
__ADS_1
Pertemuan pertama, ia di cela tapi pertemuan kedua ... ia di cari. Maysaroh Safir, anak seorang pedagang lontong sayur keliling. Tanpa sengaja, gerobak ayahnya menyenggol mobil mewah seorang CEO muda. Saat bertemu lagi untuk kedua kalinya dengan pemuda itu, ia menyelamatkan nyawanya. Pemuda itu kemudian mencari dan menjadikannya bodyguard. Petualangan pun di mulai hingga tanpa di sadari tumbuh bunga-bunga cinta di antara mereka.