Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 19


__ADS_3

Ziddan mengajak Tamara keluar dari ruangan, jam kerjanya hari ini tak terasa sudah habis. Hari ini juga tidak ada lembur.


 


Dengan model pakaian ala tomboy-nya  ditambah kemeja Ziddan yang menempel pada tubuh Tamara tampak kebesaran justru membuatnya imut. Hal itu tidak mengurangi nilai cantik Tamara sedikit pun. Ia pantas saja menggunakan baju apa pun.


 


Saat akan membuka pintu mereka di kagetkan dengan banyaknya orang di depan ruangan. Ada beberapa karyawan yang membawa buket bunga bertuliskan ‘Happy wedding Ziddan dan Tamara’. Satu persatu mereka menyalami pasangan pengantin baru itu secara bergantian. Bahkan kaum wanita juga memberikan sambutan hangat kepada Tamara. Mereka ‘Cipika-cipiki’ dengan istri direktur itu. Tamara melebarkan senyumnya meski dengan keterpaksaan, pura-pura bahagia.


 


“Pak, kok berjauhan sih. Gandeng dong,” ujar karyawan memojokkan.


 


“Sudah halal, Pak. Gandeng saja jangan sungkan,” ucap yang lain. Suasana semakin gaduh memojokkan keduanya.


 


 


Ziddan mendaratkan tangan berototnya di pundak Tamara. Merengkuh wanita itu agar lebih dekat dan menempel pada tubuh tinggi Ziddan. Mungkin dengan cara itu keduanya akan terlihat serasi dan lebih harmonis. Namun, Tamara justru membelalakkan matanya memandang pria itu. Ia sangat tidak nyaman.


“Nah, begitu dong...” sorak semuanya.


“Terimakasih atas ucapan dan doa kalian semua.” Ziddan dibantu Tamara membawa buket bunga itu menuju mobil lalu pulang.


 


***********


Esok Hari di minggu kedua pernikahan mereka.


Aroma dari arah dapur yang begitu menusuk hidung membuat Ziddan penasaran sedang membuat hidangan apa istrinya hari ini. Ia yang tampaknya sudah berdandan rapi lebih pagi mengagetkan kefokusan Tamara yang sedang sibuk dengan perkakas dapurnya.


 


“Masak apa istriku?” Tangannya melingkar di pinggang istrinya dengan sentuhan perlahan. Tamara yang refleks karena kaget dan juga rasa geli yang menjalar membuat ia menumpahkan air panas. Air yang akan ia gunakan untuk membuatkan teh seketika membasahi ujung kakinya. Rasa panas ia rasakan dengan cepat.

__ADS_1


 


“Aaww panas,” lirih wanita itu dengan mengipas-ngipasi kakinya.


“Astagfirullah, maaf sayang, aku akan mengobatimu.”  


Ziddan panik sangat merasa bersalah. Ia mematikan kompor yang masih menyala lalu segera mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke ruang tengah. Pria itu mengambil kotak obat mencari salep, setelah ia dapatkan kemudian dengan hati-hati mengoleskan pada kaki putih Tamara.


“Aduh sakit,” rintih Tamara berulang ulang.


“Maaf sayang, aku tak bermaksud melukaimu. Kamu tahan sebentar ya. Aku akan mengoleskan salep ini lebih merata.” Ziddan mengoleskan kembali dengan wajah sedih. Khawatir luka bakar itu menjadi parah. Dan takut hal itu akan membuat Tamara semakin menjauh.


 


“Sayang, kenapa kamu tak menjawab maafku. Apa kamu tak akan memaafkan aku?”


 


“Aku udah maafin kamu. Lain kali jangan bercanda ketika aku memasak, ya.”


“Iya, aku akan mengingat.” Ziddan mencium tangan istrinya.


“Terimakasih.”


“Biarkan obat ini mengering. Kamu duduk disini dulu, aku ambilkan sarapan.”


“Iya.”


Ziddan kembali ke ruang tengah dengan membawa sepiring nasi lengkap dengan lauk dan membuatkan teh manis hangat.


“Kamu makan dulu, aku akan menyuapi.” Ziddan menyuapkan sedikit demi sedikit makanan ke mulut wanita itu.


“Aku tak akan memaafkan diriku sendiri jika kamu tak sembuh-sembuh.”


“Baru juga kamu obati, belum ada satu jam. Tentu aku belum sembuh.” Tamara sedikit geli.


“Nanti setelah makan aku bawa ke rumah sakit, ya.”


“Tidak perlu.”

__ADS_1


“Bagaimana kalau lukanya ternyata serius.”


“Tidak, aku pernah begini sewaktu di kos dulu.”


“Lalu siapa yang merawatmu?”


“Meli.”


“Reza?”


“Aku LDR selama kuliah, karena ayah mau aku fokus dulu sampai selesai.”


“Ku dengar kamu lulus lebih cepat.” Ziddan membetulkan posisi duduknya ingin mendengar cerita dari Tamara.


“Iya, aku lakukan semua itu demi pernikahanku dengan Reza.”


“Maksudnya?”


“Ayah menerima lamaran Reza dengan memberi syarat aku harus lulus kuliah dulu.”


“Kapan dia melamarmu? Waktu malam-malam Reza datang ke pondok?”


“Iya. Dia melamarku saat itu juga. Tapi setelah itu kami LDR empat tahun. Karena aku takut Reza tergoda wanita lain, jadi aku nekat berjuang lulus lebih cepat dengan syarat yang tak mudah tentunya. Aku tak ingin kehilangan Reza.” Tak terasa air mata Tamara menetes.


 


“Ketika perjuanganku membuahkan hasil. Aku memberikan kabar bahagia itu, kemudian ayah menentukan tanggal. Keluargaku dan keluarga Reza juga sudah mempersiapkan semuanya dengan matang.”


 


“Tapi setelah hari itu semakin dekat, aku mendapat kabar tak enak dari Reza. Dia mengkhianatiku. Bahkan dia telah melakukan hubungan terlarang dengan wanita lain. Dia mengatakan tak akan pernah menikahiku dan sudah tidak mencintaiku lagi.” Dadanya kini semakin sesak. Hatinya kembali sedih mengingat perjuangannya untuk bisa segera menikah dengan Reza. Namun perjuangan itu terbuang sia-sia.


Semua peluh yang selama ini menggunduk telah keluar dengan bebas melalui air mata. Ziddan memberikan dadanya untuk sandaran Tamara. Membiarkan air mata wanita itu membasahi kemejanya.


“Tak apa, menangislah jika itu membuatmu lega.”


Tamara merasakan ketenangan di pelukan Ziddan. Rasanya kini sudah ada yang melindunginya, mencintainya dengan tulus melebihi Reza. Tapi apakah itu artinya Tamara sudah membukakan hatinya untuk Ziddan. Dan siap untuk memberikan hak suaminya atas dirinya.


***Terimakasih yang sudah setia membaca novel ini 🥰🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


Jangan lupa komentar , like, dan tekan favorit. 🥰😍😍😍😍🥰🥰 Love u semuanya 😘😘😘***


__ADS_2