
“Maaf tapi itu tidak akan terjadi, ustad,” ucap Rista gemetar.
Ziddan menyuruh Tamara menepi saat dirinya akan berkelahi dengan anak buah Rista. Namun Tamara tak bisa diam melihat suaminya di keroyok. Dan juga tidak bisa diam melihat Reza yang benar-benar linglung berhasil di bawa Rista kembali.
Tamara berlari menuju Rista dan Reza. Dari arah belakang ia menarik kuat tangan Reza hingga dirinya dan laki-laki itu terjatuh terpisah dari Rista.
“Za, jangan pergi dengannya,” teriak Tamara berdengung di telinga Reza, namun masih belum sadar. Tamara memangku kepala Reza yang ternyata ada bekas luka dan lebam.
Reza terbangun. Ia senyum melihat Tamara di hadapannya saat ini. Bahkan memangku kepalanya.
“Ra, apa kamu mau menikah denganku? Kamu pasti mau kan? Kamu belum menikah dengan pria lain kan? Katakan, Ra,” tanya Reza bertubi-tubi.
Tamara menangis tak kuat menjawab pertanyaan Reza. Ia mengumpat dalam hati, semua ini terjadi karena Rista. Rista memang jahat dan lebih dari itu.
Rista mendekati Reza dan hendak mengambil Reza. Tetapi Tamara benar-benar marah, tidak bisa lagi ia kendalikan emosinya. Dua orang yang ia cintai sedang dalam bahaya. Dua orang? Ya. Reza dan juga suaminya. Bukankah Tamara saat ini mulai ada rasa kepada Ziddan atas ketulusan yang ia berikan? Dan perasaan untuk Reza yang akan mulai ia hapus, bukankah itu berarti Tamara masih mencintai Reza juga. Jadi dua laki-laki itu masih singgah di Hati Tamara, meski cintanya pada Reza lebih besar tetapi kenyataannya kini Ziddan lah yang menjadi suaminya.
Tamara berdiri menutupi Reza, berusaha melindungi agar tak dibawa Rista kembali. Reza yang baru saja sadar, dia bingung.
“Ra, ada apa ini.”
“Za, kamu bantulah ustad Ziddan melawan anak buah Rista,” ucap Tamara dengan isak tangisnya. Tak kuasa melihat suaminya di keroyok, darah sudah bercucuran dari mulut Ziddan.
“Cepat Za!” teriaknya.
“Jangan Za, biarkan!” Rista juga meneriaki Reza. Reza terhenti.
Tamara geram karena Rista dengan seenaknya mengendalikan Reza dengan mudah.
Saat Ziddan mulai tidak berdaya, ia jatuh lemas, mukanya lebam. Tamara berlari menghampiri suaminya, membawa dia dalam pangkuan dan akibatnya Tamara sendiri terkena baku hantam tak sengaja dari sekelompok anak buah Rista.
“Aaagh..” lirihnya ketika mendapat pukulan salah sasaran.
“Jangan lukai istriku! Pergi kalian dan bawalah Reza!” Ziddan menggertak.
“Ayo kita pergi. Mereka sudah tidak akan bisa mengejar kita.” Rista memberikan perintah. Dan Reza dibawanya.
Tamara sangat sedih melihat Reza berlalu dalam keadaan dirinya seperti itu. Tidak ada kesadaran dalam diri Reza seperti mendapat hipnotis. Rista dulu memang tinggal di desa yang sangat terpencil, jauh dari agama dan masih kental dengan aroma ilmu seperti itu. Kakek Rista bahkan mempunyai ilmu semacamnya. Tamara menduga Rista minta tolong kepada kakeknya.
__ADS_1
“Mas, ayo kita ke mobil. Aku akan memapahmu. Kamu bisa berdiri kan?”
“Bisa.”
Mereka berjalan mendekati mobil.
“Biar aku yang menyetir.”
“Memangnya kamu bisa?”
“Bisa, aku sempat belajar.”
“Hati-hati.”
“Tenang saja. Aku akan membawamu ke klinik dulu.”
Ziddan hanya mengangguk kecil merasakan sakit di wajahnya.
Setelah sampai di klinik, dokter segera memberi penanganan. Tamara tampak khawatir berjalan mondar-mandir di depan ruang penanganan. Berharap dan berdoa agar suaminya tak terluka parah. Lima belas menit kemudian dokter keluar dan mempersilakan Tamara masuk.
“Bagaimana, Dok?”
“Tidak ada luka serius, Bu. Hanya luka luar dan lebam. Saya sudah berikan resep obat nanti bisa di tebus.”
“Baik Dok, terima kasih.”
“Maafkan aku, mas. Aku telah melibatkanmu dalam masa laluku.”
“Tidak apa-apa. Aku juga kasihan sama Reza.”
“Sebenarnya apa yang terjadi sama Reza kalau aku boleh tau?”
“Sepertinya Reza dalam pengaruh gaib, sayang. Memang, kita sudah hidup di jaman yang lebih maju. Tetapi bukankah Rista dulu tinggal di daerah terpencil yang minim ilmu agama.”
“Iya benar, dia pernah bercerita tentang tempat tinggalnya juga keluarganya. Sebab itulah ibunya menyuruh dia mondok di pesantren. Ibunya ingin dia memiliki ilmu agama yang kuat. Tetapi tidak menutup kemungkinan saat dia kembali ke desanya dia terpengaruh lagi. Apalagi kakeknya.”
“Ya, kakeknya sumber permasalahan ini.”
“Dia bisa menghasut pikiran Reza. Apalagi disaat pikiran Reza sedang down. Mentalnya sedang jatuh-jatuhnya sangat mudah untuk dipengaruhi dengan hal semacam itu. Kekuatan imannya lemah. Aku pun hanya manusia biasa yang bisa saja imanku turun. Tetapi setidaknya kita selalu berusaha untuk selalu mendekat kepada-Nya agar kita di jauhkan dari bentuk kejahatan apapun,” ucap Ziddan dengan mengusap kepala istrinya.
Tamara merasa bisa lebih tenang setiap suaminya itu sedang memberi penjelasan atau menasihati.
“Lalu bagaimana dengan nasib Reza selanjutnya. Apa kita membiarkan dia selamanya seperti itu setelah kita tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
“Aku akan menghubungi Abi nanti, sayang. Jangan khawatir. Reza yang kamu cinta akan kembali seperti sedia kala.”
__ADS_1
Tamara membelalakkan matanya mendengar ucapan Ziddan. Dia tidak enak hati karena memang dirinya masih mencintai Reza. Apalagi setelah Tamara tahu kalau Reza tidak bersalah. Justru Tamara merasa bersalah, benar yang dikatakan Reza, kenapa dia tidak menunggunya datang. Kenapa dia tidak membujuk ayahnya. Kenapa dia tidak mencari tahu dulu kebenarannya. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul d benak Tamara. Tidak terasa ia kembali meneteskan air mata.
“Sayang, kenapa kamu menangis?”
“Apa kamu menyesali pernikahan ini?”
Pertanyaan itu seperti menohok leher Tamara sehingga membuatnya sesak, bahkan sulit hanya untuk sekadar menghela nafas saja. Jika pertanyaan itu diluncurkan Ziddan disaat Tamara belum bisa menerimanya mungkin ia akan menjawab dengan lantang bahwa ia memang menyesali pernikahan tersebut. Untuk saat ini tentu perasaan Tamara berbeda. Ia mulai bisa membuka hatinya untuk Ziddan atas ketulusan dan kesabaran laki-laki itu.
“Aku tidak tahu harus menjawab apa.” Tamara menunduk tak berani menatap suaminya.
“Kenapa? Bukankah kamu masih mencintai Reza, dan aku tidak akan pernah bisa menggantikan posisinya dihatimu?”
Kembali Ziddan meluncurkan pertanyaan yang membuat tangisnya menjadi terisak.
“Sudah ku katakan, aku tidak bisa menjawabnya.”
“Apa benar kamu sudah mencintaiku?”
“Sudah jangan banyak bertanya dulu, mas. Lebih baik kita sembuhkan dulu lukamu.”
“Tapi aku ingin mendengar hal itu.”
“Aku tidak tahu harus menjawab apa.” Tamara berdiri melangkah kecil mendekati jendela di ruangan itu sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Aku memang masih mencintai Reza, Mas. Apalagi Reza sebenarnya dia tidak berniat mengkhianatiku. Aku merasa bersalah atas tindakanku, karena tak sabar menunggunya. Tapi aku juga sudah berhasil dibuatmu jatuh cinta. Kamu begitu tulus menerimaku, kamu dengan sabar menghadapi keegoisanku. Kamu selalu ada untukku, selalu melindungiku juga menjagaku. Bahkan kamu mau menerima masa laluku dan membantu menyelesaikannya. Apa aku pantas mengatakan aku menyesal menikah denganmu? Rasanya aku adalah wanita yang tidak berperasaan.” Tangis Tamara pecah di depan jendela yang menyuguhkan pemandangan indah di kota besar itu.
Ziddan berusaha bangkit, mendekati istrinya. Membalikkan badan wanita itu lalu memeluknya.
“Terimakasih, kamu sudah mau belajar mencintaiku yang awalnya kamu membenciku, menjauhiku dan tak mau ku sentuh.”
“Aku mengerti perasaanmu. Sulit berada di posisimu. Cinta tidak pernah salah. Manusia yang salah menempatkan.”
“Maksudmu salah menempatkan bagaimana?”
“Ya. Cinta itu tumbuh dari hati, karena memang perasaan itu murni. Tetapi manusia dengan mudah menempatkan orang yang ia cintai untuk menetap dihatinya. Membiarkan perasaan itu tumbuh dengan subur. Seperti jika ada seorang laki-laki menyukai perempuan yang telah bersuami, bukan salah cintanya yang tumbuh. Namun salah orangnya kenapa membiarkan cinta itu terus tumbuh dan tidak segera membunuh perasaan itu. Padahal dia sudah tahu kalau cintanya itu salah.”
Lagi-lagi Ziddan membuat Tamara tertohok dengan ucapannya. Tamara merasa cintanya dengan Reza adalah sebuah kesalahan saat ini. Karena ia telah bersuami. Seharusnya sejak ia menikah, saat itu pula ia harus segera menghapus cintanya pada Reza.
Bersambung....
Terimakasih sudah setia membaca novel ini..
__ADS_1
Jangan lupa terus dukung dengan cara like, komentar, dan tekan favorit yaa.... LOPE LOPE SEKEBUN BUAT SEMUA 🥰🥰🥰🥰😘😘😘😘