Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 36


__ADS_3

Setelah berjam-jam menunggu akhirnya dokter keluar dari ruang IGD. Sepasang suami istri yang tertidur di bangku ruang tunggu IGD di tatapnya dengan wajah muram. Pria berseragam serba putih itu mencoba membangunkan Ziddan dengan perlahan. Namun, ternyata Tamara juga ikut bangun, dan segera menghujani dokter itu dengan banyak pertanyaan.


 


“Dok, bagaimana keadaan Reza?”


“Maaf, Bu.”


“Maaf apa, dok? Jawab cepat!”


Tamara yang dipenuhi amarah karena dokter tak segera memberi jawaban akhirnya ia masuk ke ruangan dengan memaksa.


“Minggir, Dok.”


“Tunggu, Bu. Jangan masuk dulu!”


“Ra!” teriak Ziddan yang juga berusaha menghentikan langkah wanita itu.


Namun, tak berhenti juga. Ia bersikeras masuk dan mencari keberadaan Reza.


Tamara memegang tangan pria yang berwarna putih pucat itu, tubuhnya terbaring lemah dengan bantuan berbagai alat medis. Saat ini pria itu hanya bisa bergantung pada peralatan yang menempel pada tubuhnya saja. Nampaknya Reza kehabisan banyak sekali darah.


 


Di dalam ada beberapa perawat yang kemudian menyuruh wanita itu untuk keluar. Karena Reza akan segera dibawa ke ruang ICU. Ruangan khusus yang di sediakan rumah sakit untuk merawat pasien dengan keadaan yang membutuhkan pengawasan khusus.


 


Dokter dan Ziddan sedang berbicara di luar ruangan perihal keadaan Reza. Tamara kemudian bergabung. Dokter meminta agar mereka segera menghubungi keluarga Reza. Namun, baik Tamara atau Ziddan tidak punya satu pun kontak yang bisa mereka hubungi. Tiba-tiba Ziddan teringat seseorang.


“Abi,” gumamnya.


“Kenapa Abi?”


“Bukankah Abi mengenal orang tua Reza?”


“Iya, dulu rumahnya bertetangga dengan pesantren.”


“Kalau begitu aku hubungi Abi saja.”


Ziddan memencet nomor Abi yang tertera di layar telepon genggamnya. Setelah diangkat oleh Abi, Ziddan menceritakan kejadian ini dan meminta tolong agar Abi mau membantu menyampaikannya kepada orang tua Reza.

__ADS_1


 


“Sayang, Abi akan membawa keluarga Reza datang kemari secepatnya. Sembari menunggu Reza sadar sebaiknya kita pulang dulu, bajumu penuh noda darah. Aku juga harus ke kantor hari ini. Aku tidak enak sudah banyak izin kemarin, hari ini pun harusnya aku sudah berangkat jam sepuluh tadi.”


“Iya Mas. Badanku juga tidak enak akibat melihat darah yang banyak.”


“Kamu istirahat saja di rumah ya, besok kalau badanmu sudah fit kita kesini lagi.”


“Iya, Mas.”


Ziddan menatap dokter.


“Dok, titip teman kami. Kalau ada apa-apa bisa menghubungi nomor saya. Nanti keluarganya insyaAllah akan datang segera,” ucap Ziddan seraya memberikan kartu namanya. Ia tampak tergesa.


“Baik, Pak.”


“Terimakasih, Dok. Kami pamit.”


Dokter mengangguk mengiyakan. Pasangan itu berlalu meninggalkan rumah sakit. Ziddan lantas mengantarkan istrinya ke rumah dulu baru ia berangkat ke kantor.


 


Malam hari Meli menghubungi sahabatnya. Ia menanyakan permasalahan tadi. Kemudian dengan kembali terisak Tamara bercerita semuanya. Meli tercengang di seberang telepon dan terduduk lemas tidak habis pikir dengan tindakan keji Rista. Cinta Rista cinta yang buta segalanya. Menghalalkan segala cara demi mendapatkan satu keinginannya tanpa takut karma.


 


 


***


 


Sudah satu minggu lebih Reza belum juga sadar. Keadaannya kian memburuk. Selama ini Tamara hanya diperbolehkan Ziddan menjenguk dua kali saja, sebab Ziddan melihat Tamara masih belum begitu fit. Selain itu juga sudah ada keluarganya yang menjaga bergantian. Meli juga sering datang setelah tugasnya selesai ia sempatkan mampir. Saat ini sudah tampak akrab antara dia dan keluarga Reza.


 


Di minggu kedua kejadian itu, Reza akhirnya sadar. Ia membuka matanya pertama kali setelah lama terpejam. Menggerakkan jari-jarinya perlahan. Saat keadaan yang di tunggu-tunggu semua orang ini tiba, ternyata bukan Tamara yang Reza lihat pertama kali. Bukan juga keluarganya. Ayah dan ibu Reza menitipkannya kepada Meli untuk menjaga Reza hari ini penuh, karena ada perihal mendesak yang harus mereka hadiri.


“Tamara...” kata yang pertama kali ia ucapkan. Meli tertidur ketika menunggunya di luar ruangan. Suster yang berjaga di dalam memberitahu Meli kalau pasien raungan itu telah sadar. Tentu Meli sangat senang dan langsung menemui Reza di tempatnya terbaring lemah dengan bantuan alat medis.


“Alhamdulillah Za, kamu sudah sadar. Aku akan menelepon orang tuamu segera.”

__ADS_1


“Kamu siapa?”


“Aku Meli, Za. Sahabat Tamara ketika kuliah di Bandung.”


Reza terdiam mencoba menelusuri memori ingatannya yang tidak ia gunakan dua minggu ini. Terasa sedikit sakit.


“Sudahlah. Nanti saja mengingatnya. Kamu istirahat saja dulu sembari menunggu keluargamu datang.”


“Dimana Tamara?”


“Tamara sudah bersuami, Za. Tentu ia kini sedang di rumah suaminya.”


Reza terlihat sedih mendengar pertanyaan Meli. Namun, memang itu kenyataan yang harus diterima Reza.


“Za, sebaiknya kamu pikirkan dulu kesehatanmu ya. Jika keadaanmu cepat pulih pasti akan segera di pindah ke ruang rawat.”


“Iya, Mel. Makasih.”


“Sama-sama.”


 


***


Pagi hari di kompleks tempat tinggal Ziddan dan Tamara, tiba-tiba wanita itu berlari ke kamar mandi. Terdengar di telinga Ziddan istrinya sedang muntah-muntah. Padahal tadi malam keadaannya baik-baik saja, namun sekarang badannya sedikit demam. Ziddan tampak khawatir dengan kondisi Tamara saat ini. Tanpa pikir panjang ia bergegas membawa istrinya ke klinik terdekat.


 


Wajah Tamara sangat pucat. Selama di perjalanan menuju klinik dia hanya terduduk lemas di samping Ziddan, pria itu menggenggam terus tangannya. Tanpa mau melepaskan.


 


 


Bersambung....


Terimakasih sudah setia membaca novel ini..


Jangan lupa dukung terus dengan cara like, komentar, dan tekan favorit yaa.... 😍😍😍😘😘😘😘🥰🥰🥰


 

__ADS_1


 


__ADS_2