Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 63


__ADS_3

 


Pagi-pagi sekali setelah sholat subuh rambut Tamara terlihat basah, begitu juga Ziddan, Akibat semalam dia harus bertanggung jawab seperti permintaan Ziddan kemarin.


“Sayang, terima kasih.”


“Untuk apa?”


“Untuk dua kalinya dalam sehari.” Ziddan terkekeh menggoda istrinya.


“Iya Mas, sama-sama.”


“Sayang, minggu depan Mas ada acara kantor di luar kota. Kamu ikut dengan Mas ya.”


“Luar kota?”


“Iya, pihak kantor sudah menyewakan Villa.”


“Villa? Tampaknya menyenangkan sekali berada di Villa. Memangnya acara itu di selenggarakan di daerah pegunungan, Mas?”


“Ya, betul sekali. Itu keinginan Bu Vera, istri bos.”


“Jadi bagaimana, kamu mau ikut kan?” tanyanya yang di ulang lagi.


“Mau banget, Mas tahu sendiri kan kalau aku suka daerah pegunungan.”


“Ya, oleh sebab itu Mas mengajakmu.” Ziddan mengecup bibir manis Tamara. Membuat wanita itu tak bisa berkata lagi. Ketampanan suaminya selalu berhasil membuat jantungnya tidak aman. Sekarang Tamara menyadari, bahwa suaminya ternyata lebih dari Reza. Semua yang ada pada Reza, ada juga pada diri Ziddan bahkan melebihinya.


“Aku mencintaimu, Mas.” Tamara membalas ciuman bibir Ziddan dengan penuh rasa cinta. Ziddan yang mendengar itu terlihat bahagia, ia kemudian memeluk tubuh istrinya yang hanya menggunakan baju transparan setelah mandi. Ciuman itu semakin menuntut, Ziddan memegang tengkuk Tamara agar ciuman itu semakin lama. Namun, Tamara melepaskannya.


“Mas, sudah jam berapa ini? Apa Mas tidak akan terlambat?”


“Mas selalu dibuat lupa waktu olehmu. Rasanya meninggalkanmu ke kantor saja tidak betah. Ingin cepat-cepat pulang.”


 “Kenapa cintamu selalu dalam untukku, Mas? Bahkan di saat kamu mencintaiku sendirian tanpa balasanku.” Tamara bertanya karena di saat ia melihat bola mata Ziddan terdapat tatapan yang tajam hingga sampai ke hatinya.


“Karena kamu cinta pertamaku, wanita pertama yang membuat hatiku bahagia.”


“Apa kamu akan terus mencintaiku tanpa rasa bosan, Mas? Jika suatu saat nanti kamu telah bosan terhadapku, bicaralah.”

__ADS_1


“Ada yang maha membolak-balikkan hati kita, Sayang. Oleh sebab itu memintalah kepada-Nya untuk selalu menjaga hati kita. Tundukkan pandangan dari lawan jenis. Dan satu lagi kalau kita mencintai seseorang karena-Nya, insya Allah cinta itu akan selalu hadir dan tidak cepat bosan.”


“Aku ingin mendengar penjelasanmu, Mas.”


“Ya, tanyakanlah. Mas masih ada waktu untuk ke kantor.”


“Apa menurut Mas tentang mencintai seseorang karena-Nya? Cinta yang seperti apa? Aku sendiri bahkan tidak tahu apakah aku masih salah atau sudah benar dalam mencintaimu.”


“Mencintai seseorang karena-Nya menurut Mas? Baiklah, Mas akan beri sedikit pengertian,” jawab Ziddan dengan membenarkan posisi duduknya. Lalu menatap wajah istrinya lekat.


“Karena-Nya.” Ziddan memulai dengan lembut, kalimat demi kalimat yang indah ia susun.


“Dalam kata itu, tentu semua karena Allah. Anna ukhibu khafillah yang artinya aku mencintaimu karena Allah.” Suara Ziddan terdengar meneduhi hati Tamara.


“Karena perintah-Nya, karena syariat-Nya, karena mencari ridho-Nya. Menikah adalah perintah-Nya, maka aku menikahmu, membahagiakan seorang istri juga merupakan sebuah perintah-Nya. Maka Mas berusaha untuk selalu membahagiakanmu. Kalau keluarga kita bahagia Mas berharap akan mendapatkan ridho-Nya. Begitulah seterusnya aku mencintaimu sesuai dengan perintah-Nya yang lain. Agar satu keinginan Mas terwujud.”


“Memangnya apa keinginan Mas?”


“Berjodoh denganmu hingga ke surga.” Saat Ziddan mengatakan itu manik mata Tamara berkaca-kaca. Begitu dalamnya cinta suaminya itu yang menginginkan cintanya sampai ke surga.


“Sebisa mungkin Mas menggali ilmu untuk menjadi suami yang baik. Agar Mas bisa menuntun istri Mas yang cantik ini hingga kita bisa bertemu lagi di surga. Ketika nanti maut memisahkan kita. Entah siapa yang akan lebih dulu di panggil oleh-Nya.”


“Jangan mengatakan perpisahan, Mas. Aku sungguh takut.”


“Sayang, Mas bukan bermaksud menakut-nakuti.” Ziddan menyeka air mata yang telah membasahi pipi istrinya.


“Tapi kematian pasti akan terjadi,” sambungnya menjelaskan.


Hati seorang ibu hamil memang sangat sensitif. Dia kembali menitikkan air matanya, yang kemudian kembali di seka oleh Ziddan.


“Entah, aku takut Mas.”


Ziddan memeluk erat istrinya lalu mengusap punggung itu dengan lembut.


“Sudah, sudah. Mas tidak akan melanjutkan lagi. Mas tahu perasaan ibu hamil sangat sensitif. Seharusnya mas tidak akan mengatakannya. Mas minta maaf.”


“Bukan kesalahanmu, Mas.” Tamara membalas pelukannya.


“Oh iya, besok jadwalku ke dokter kandungan, Mas. Apakah Mas bisa mengantarku?”

__ADS_1


“Tentu saja bisa, Mas akan mengajukan cuti besok. Mas ingin menengok baby kita. Sudah rindu rasanya.”


Setelah perbincangan yang cukup lama, mereka kemudian sarapan bersama. Ziddan menyeruput teh buatan istrinya dengan nikmat.


“Sayang, Mas berangkat dulu ya.”


“Iya Mas, hati-hati di jalan.”


Tamara tak mengantar Ziddan hingga ke depan karena sarapannya belum selesai ia habiskan. Setelah keberangkatan suaminya ia kemudian membersihkan sisa makanan yang ada di piring lalu mencucinya seperti kegiatannya setiap hari.


*


*


*


Klinik dokter kandungan.


“Bagaimana hasilnya, dok?” tanya Ziddan yang sudah tak sabar mendengar jawaban dokter itu ketika melakukan USG pada perut buncit istrinya.


“Janinnya sehat, Pak. Bapak bisa mendengarkan detak jantung ini,” ucap Dokter seraya menyentuh suatu alat.


Bersambung.....


Hai Reader setia, terima kasih atas dukungan kalian semua 🥰🥰🥰


Author berharap kalian bisa memberikan komentar demi kemajuan novel ini..


Tekan love dan favoritkan yaa 😍😍😍


Lope lope sekebun buat kalian 😍😍❤❤❤😘😘😘


 💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛💛


Selamat Siang 😍😍 Sembari menunggu novel ini update bisa mampir di novel temanku ya... 🥰🥰


Berniat memasang bubu Zena malah menemukan sesosok pria yang pingsan di tepi sungai, lantas ia dan neneknya menolong pemuda tersebut. Suatu hari pria yang bernama Satya itu ingin membalas kebaikan orang yang telah menyelamatkannya, namun siapa sangka yang dilakukannya malah berujung petaka. Membawa pada sebuah kesalahpahaman yang mengharuskan Zena dan Satya menikah hari itu juga. Setelah pernikahan, Satya memperlakukan Zena dengan sangat baik hingga hal itu perlahan membuat sang istri jatuh cinta. Namun suatu kebenaran membuat Zena harus menelan pil pahit, karena Satya ternyata sudah punya kekasih. Bagaimana kisah selanjutnya? Apakah perasaan Zena akan terbalas? atau dia hanya menjadi peran antagonis di kisah cinta suaminya?


__ADS_1


__ADS_2