
Pada sebuah meja makan restoran China itu terdapat pasangan sedang menikmati pesanannya. Ponsel yang di letakkan dekat minuman warna kuning itu berdering keras. Ponsel Reza lebih tepatnya
“Tamara,” gumam pemilik ponsel itu ketika melirik layar yang menyala.
“Kenapa, Za?”
“Sahabatmu telepon nih, pasti kamu belum kasih tahu nomormu yang baru ya?”
“Oh iya lupa, Za. Angkat cepet deh.”
Reza kemudian menekan tombol terima panggilan.
“Hallo ... kenapa, Ra?”
“ ....”
“Oh, iya. Meli ganti nomor telepon, handphone-nya sempat hilang.”
“ ....”
“Iya nih ada lagi sama aku.”
“ ....”
“Baiklah.”
Reza menjauhkan benda itu dari telinganya. Lalu memberikan kepada Meli.
“Sayang, ada telepon buat kamu.”
“Oke, oke.”
Meli menyerobot ponsel tunangannya dengan girang.
“Hallo, Ra. Sory gue lupa kasih tahu Lo.”
“Kayaknya kamu lagi bahagia deh, jadi kamu lupa sama aku. Iya kan?”
“Hahaha, iya. Gue inget Lo cuman pas lagi sedih aja. Canda, Ra.”
“Bentar, tadi aku denger Reza nyebut dengan panggilan ‘Sayang’ iya gak sih? Kuping aku masih waras soalnya.”
“Emmm, sepertinya begitu.”
“Hahaha, bener kan apa kataku. Kamu itu cocok sama dia. Jangan-jangan kalian pacaran ya sekarang?”
“Bukan. Kami tak pacaran. Tak level.”
“Masak sih? Terus kenapa manggil ‘Sayang’?”
“Karena, kami tunangan.”
__ADS_1
“Ehhhh. Serius?”
“Serius lah, nanti aku kirim fotonya kalau kamu tak percaya.”
“Oke, aku mau lihat buktinya dulu.”
Meli mengotak-atik ponsel Reza mencari foto tunangan mereka. Lalu ia mengirimnya ke Tamara.
Cling!
Bunyi pesan sukses terkirim.
“Gimana? Percaya kan?”
“Waaahhh, bener-bener kalian curang.”
“Curang kenapa?”
“Bisa-bisanya kalian tunangan tanpa mengundangku. Mentang-mentang perut lagi berisi terus aku tak di kasih tahu?”
“Iya nanti kamu muntah-muntah kan bikin repot.” Meli terkekeh.
“Baiklah. Selamat untuk pertunangan kalian ya. Semoga lancar sampai hari pernikahan tiba.”
“Aamiin ... Terima kasih.”
****
“Sayang, Mas berangkat dulu ya.”
“Iya Mas, hati-hati di jalan.”
Tamara mengantar suaminya hingga ke depan rumah megah berdesain Eropa itu. Seperti biasanya ia mencium tangan suaminya sebelum berangkat. Setelah mobil Ziddan tak terlihat lagi dari pandangan, ia berbalik badan hendak masuk rumah. Namun, ada mobil yang berhenti di depan rumahnya. Ia kembali membalikkan badan menghadap gerbang.
“Siapa yang datang?” gumamnya sambil melangkah mencari tahu.
“Assalamu’alaikum,” ucap salam seorang wanita bertubuh tinggi membawa koper dan menggendong balita yang tengah tertidur.
“Wa’alaikumsalam,” jawabnya tercengang menyadari wanita itu adalah kakaknya.
“Kak Ayu?”
“Iya, dek. Ini kakak.”
“Kenapa kakak membawa koper kemari?”
“Dek, bolehkah Kakak tinggal sementara waktu di sini, sampai kakak mendapat kontrakan.”
“Nanti Kakak ceritakan.”
__ADS_1
“Oh iya, baiklah. Mari masuk, Kak.”
“Terima kasih, Dek.”
“Kak, sebaiknya Sanya Kakak tidurkan saja dulu ke kamar tamu, kamar itu selalu aku bersihkan Kak, jadi tak perlu kakak bersih-bersih dulu. Mari aku antar, Kak.”
Setelah Sanya, anak dari Kak Ayu tertidur pulas di kamar tamu. Mereka kembali lagi ke ruang utama untuk berbicara serius.
“Ada apa sebenarnya, Kak?”
“Dek, suami Kakak, Mas Hans dia selingkuh,” lirih wanita itu dengan air mata yang mulai turun membasahi pipi.
“Dia membawa seorang wanita ke rumah yang kami tempati. Bahkan Mas Hans lebih memilih wanita itu dibandingkan kakak, istri sahnya. Kakak pergi dari rumah tanpa sepengetahuannya dengan membawa Sanya. Semalam kami sempat bertengkar hebat, Dek,” jelasnya dengan terisak.
“Kak, sungguh aku tidak menyangka kalau Mas Hans bisa setega itu. Selama ini attitude nya juga baik kepada kami semua saat kumpul di rumah Ayah. Kenapa bisa dia melakukan itu? Sejak kapan kak?”
“Sebenarnya sudah lama Kakak mengetahui hal itu, tetapi kali ini Mas Hans keterlaluan. Dia membawa pulang wanita murahan itu ke rumah. Bahkan di saat ada Sanya. Entah, Kakak sendiri tidak tahu seperti apa jalan berpikirnya. Hati Kakak saat ini benar-benar hancur, Dek. Kakak tidak tahu harus pergi ke mana. Kakak tidak punya keberanian untuk pulang ke rumah Ayah, izinkan Kakak di sini untuk sementara waktu, Kakak mohon.” Wanita itu menggenggam kedua tangan Tamara kuat. Ia ingin sekali adiknya memberikan izin untuk tinggal di rumahnya.
“Kak, tentu aku mengizinkan. Aku akan membantu Kakak. Tapi aku juga harus bilang dulu ke suamiku, Kak.”
“Iya, Dek. Kakak mengerti. Semoga suamimu mengizinkan Kakak berada di sini.”
“Sebentar kak, aku hubungi Mas Ziddan dulu.”
Tamara mengambil ponselnya di kamar. Ia kemudian menghubungi suaminya. Ketika Ziddan mengangkat telepon itu, Tamara menceritakan kejadian yang menimpa kakaknya.
Ziddan memberikan izin untuk kakak iparnya tinggal sementara waktu. Dia juga akan membantu permasalahannya. Setelah nanti pulang kerja, Ziddan akan membicarakan masalah itu bersama.
“Kak, Mas Ziddan sudah memberikan izin.”
“Alhamdulillah, terima kasih, Dek.”
“Kakak sudah makan belum? Aku akan menyiapkan makan siang untuk kita.”
“Tadi pagi Kakak sarapan di jalan bersama Sanya. Kakak belum lapar lagi, Dek. Bolehkah Kakak istirahat di kamar menyusul Sanya.”
“Boleh dong Kak, anggap saja rumah sendiri.”
Tamara mengantar Kak Ayu menuju kamar tamu. Saat ia memegang tangan Kakaknya, ia terkejut karena badannya panas.
“Loh Kak, Kakak demam? Aku ambilkan obat penurun demam dulu ya, Kak.”
Bersambung.....
Hai Reader setia, terima kasih atas dukungan kalian semua 🥰🥰🥰
Author berharap kalian bisa memberikan komentar demi kemajuan novel ini..
__ADS_1
Tekan love dan favoritkan yaa 😍😍😍
Lope lope sekebun buat kalian 😍😍❤❤❤😘😘😘