Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 37


__ADS_3

Pada kursi berwarna silver berbahan besi yang juga banyak di duduki para pengunjung itu terdapat pria manis dengan wajah tegangnya menunggu dokter keluar. Akan tetapi justru perawatlah yang berjalan kearahnya.


 


“Bapak suaminya pasien atas nama Tamara ya?” tanya seorang perawat yang menghampirinya di ruang tunggu.


“Iya benar, Sus.”


“Dokter memanggil Anda untuk masuk ke ruang periksa. Ada hal yang ingin disampaikan.”


“Baik, saya akan menuju sekarang,” ucapnya seraya berdiri.


Pria yang tingginya hampir sama dengan pintu ruang periksa klinik itu duduk di hadapan meja dokter.


“Bagaimana dok keadaan istri saya?”


“Istri bapak masih sedikit lemas. Mungkin untuk beberapa bulan ke depan mualnya tidak bisa di sembuhkan, karena itu hal yang lumrah terjadi pada kehamilan mudanya.”


“Hamil?”


“Benar, Pak. Sebentar lagi bapak akan menjadi orang tua.”


“Alhamdulillah yaAllah,” ucap syukur Ziddan dengan wajah berbinar.


“Kehamilannya saat ini baru menginjak usia satu minggu, Pak. Jadi masih sangat rawan. Tolong dijaga ya Pak. Lebih baik jangan mengerjakan pekerjaan yang berat-berat dulu. Memanjakan istri di saat hamil itu akan membuatnya bahagia, berikan juga asupan makanan yang bergizi seimbang, buah dan juga sayur. Ditambah susu untuk ibu hamil juga bisa diberikan.


,” saran dokter.


“Saat kehamilan muda seperti ini alangkah baiknya mengonsumsi susu dikarenakan kandungan kalsium yang tinggi. Kalsium sangat diperlukan, karena itu akan membantu pertumbuhan tulang-tulang janin terbentuk dengan kuat dan sempurna,” imbuhnya.


 


“Baik, dok. Saya akan memberikan yang terbaik untuk istri dan calon anak saya.”


“Ini saya berikan buku untuk catatan kehamilan, buku ini wajib dibawa di mana pun ibu periksa. Untuk jadwal USG pertama kali bisa kita lakukan bulan depan ketika usianya sudah memasuki enam minggu ya, Pak.”


“Baik dok, ada lagi pesan untuk saya?”


“Saya rasa cukup. Untuk vitamin dan obat pereda mualnya nanti bisa di tebus di bagian apotek. Letaknya ada di samping lobby.”


“Terimakasih banyak dok.”

__ADS_1


“Sama-sama, Pak. Sekali lagi selamat atas kehamilan istrinya.”


Ziddan tersenyum manis. Kemudian bertanya. “Apa sudah boleh saya bawa pulang istri saya?”


“Tentu. Silakan,” ucap manis dokter berhijab itu.


Ziddan segera menemui istrinya yang terbaring di balik tirai ruang periksa.


“Sayang, terima kasih. Aku sangat bahagia.”


“Bahagia kenapa, Mas?”


“Apa dokter belum memberitahu kepadamu?”


“Belum. Tadi aku pusing sekali ditambah perutku yang terus-terusan mual, Mas.”


 


“Tidak apa sayang, kata dokter kamu wajar mengalami hal itu.”


“Wajar?”


Ziddan terus menciumi perut dan juga pipi Tamara. Sedangkan Tamara masih tercengang, kehamilannya ini sangat membuatnya bahagia.


“Alhamdulillah, Mas. Kita akan segera memiliki anak. Kita bisa membuktikan kepada orang tua kita juga, kalau semua masalah yang kita hadapi itu dapat kita lalui dengan baik. Aku bisa menerimamu, dan kini diberi hadiah terindah dari sang pencipta.”


“Iya sayang. Aku percaya kamu bisa menerimaku dengan baik. Karena kamu adalah wanita yang baik. Aku mencintaimu dan juga janin ini.”


“Aku juga mencintaimu, Mas.”


Ziddan memapah istrinya berjalan hingga masuk ke dalam mobil mewah Ziddan.


Ziddan akan segera menghubungi kedua orang tuanya tentang kabar bahagia itu. Dia yakin kabar ini akan membuat perjanjian yang dibuat orang tuanya akan di hapuskan. Apalagi ayah dan ibunya sudah lama menginginkan seorang cucu.


 


***


 


Di rumah sakit.

__ADS_1


Orang tua Reza kini sudah berada di rumah sakit setelah diberi kabar Meli bahwa anaknya telah melewati masa kritis dan sudah sadar. Sekarang Reza juga sudah dipindahkan di ruang rawat.


 


“Alhamdulillah nak, ayah dan ibu senang kamu sudah sadar.”


“Iya, Bu. Meli mana?”


“Meli pulang ke hotel. Dia besok sore sudah harus kembali ke Bandung.”


“Gadis itu sangat baik, Bu. Sama seperti Tamara.”


“Iya. Ibu tahu.”


“Lalu, kenapa Tamara tidak kunjung kemari menjengukku? Apa dia tidak peduli dengan keadaanku sekarang?”


“Tidak begitu, sayang. Tamara juga sedang tidak enak badan kata suaminya kemarin. Kamu jangan terus memikirkan istri orang, Za. Tutuplah hatimu untuk Tamara. Biarkan ia bahagia dengan suaminya sekarang. Ustad Ziddan orang yang sangat baik dan ramah. Bahkan dia yang menolongmu, membiayai perawatanmu selama disini.”


“Iyakah, Bu?”


“Ibu berkata jujur, Za.”


“Berarti selama ini aku telah bersikap jahat kepadanya. Aku membuat hatinya sakit dengan mencintai istrinya.”


“Maka dari itu, Za. Lupakanlah Tamara dan bukalah hatimu untuk wanita lain. Menurut ibu, Meli pilihan yang tepat untukmu.”


“Aku belum bisa untuk saat ini, Bu. Beri aku waktu.”


 


Bersambung....


Terimakasih sudah setia membaca novel ini..


Jangan lupa dukung terus dengan cara like, komentar, dan tekan favorit yaa.... 🥰🥰🥰🥰🥰🥰😍😍😍😍


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2