Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 16


__ADS_3

Baru satu jam perjalanan wanita yang duduk di sebelahnya itu sudah tertidur lelap. Ziddan menepikan sebentar untuk membetulkan posisi istrinya agar lebih nyaman. Ia melepas jaket yang dikenakan untuk menutupi tubuh wanita itu. Kemudian ia melajukan mobilnya kembali dengan kecepatan sedang.


 


Beberapa saat kemudian mereka berhenti untuk makan dan rehat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Tamara mendahului langkah Ziddan, ia terlihat sangat lapar. Wanita itu memesan bakso lalu menyantapnya dengan lahap tanpa memedulikan Ziddan yang sedari tadi memperhatikan tingkahnya.


 


Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan, masih setengah perjalanan yang harus ditempuh. Mobil Ziddan kini melaju dengan cepat memecah rintik hujan di jalan tol.


 


Sore hari akhirnya sepasang pengantin baru itu sampai. Ziddan tak tega melihat istrinya yang baru saja tertidur pulas, ia kemudian memutuskan untuk menggendong tubuh ramping wanita itu menuju kamar. Saat Ziddan mulai mengangkat tubuhnya ke udara tiba-tiba Tamara bangun dan berteriak.


 


“Turunkan aku!” Memukul dada suaminya. Lalu dengan perlahan ia menurunkan badan yang beratnya mungkin hanya lima puluh lima kilo. Tentu tidak keberatan bagi Ziddan.


 


“Aku bisa jalan sendiri, tidak perlu kamu gendong aku lagi. Dan jangan pernah sentuh aku,” ucapnya kesal.


Tamara mengambil barang-barangnya lalu masuk ke dalam rumah yang Ziddan sebut ‘kecil’ di depan mertuanya tadi. Ziddan ingin sekali membawakan barang istrinya tapi pasti di tolak lagi. Jadi ia hanya mengikuti langkah kecil wanita itu.


 


“Kamar tamu ada di sebelah mana?”


 


“Kamu yakin tidak mau sekamar denganku? Aku janji akan tidur di sofa nanti.” Ziddan berharap istrinya mau menerima tawaran itu.


 


“Aku sudah bilang, aku tidak mau sekamar denganmu. Aku tidak mencintaimu.” Tatapan nanar ia pancarkan kepada suaminya. Entah Tamara justru takut dengan laki-laki itu. Ia takut suaminya akan meminta haknya atau bahkan memaksanya ketika ia tertidur nanti. Bagaimana bisa ia melakukan hal itu tanpa rasa cinta.


 


“Baiklah kalau itu mau mu. Besok aku sudah mulai bekerja, karena tidak ada yang bisa menggantikanku terlalu lama.”


 


“Itu lebih bagus. Aku akan lebih senang sendiri di rumah ini.”


 


“Segitu kah kamu membenciku Tamara?”


 

__ADS_1


“Mungkin.”


 


“Tak apa, aku akan terus mendoakan mu agar hatimu luluh,” gumamnya pelan.


 


Maafkan aku ustad, aku tidak bisa menyembunyikan kekecewaanku terhadap pernikahan kita ini.


Hati ini masih terasa sakit, aku masih ingin mencari cinta pertamaku, Reza.


Firasatku mengatakan Reza tidak seburuk itu, pasti ada sesuatu dibaliknya.


Aku masih ingin menyembuhkan luka, tapi ayah malah membuatku semakin terluka.


 Aku butuh waktu yang lama untuk bisa pulih.


 


 


“Beri aku waktu,” lirihnya.


 


 


“Izinkan aku tidur terpisah kamar denganmu.”


 


“Apa boleh buat. Aku bukannya suami yang tidak tegas. Tetapi ketulusanku mencintaimu telah mengalahkan itu.”


 


“Aku akan tetap menafkahimu secara lahir, jika kamu menolak nafkah batin. Bawalah kartu ATM ini, aku sudah mengisikan saldonya. Kamu beli saja apa yang kamu mau. Jika nanti sudah habis bicaralah atau hubungi aku. Ini nomor ponselku.” Menyodorkan sebuah kartu.


 


“Terimakasih atas pengertianmu,” ucapnya mengambil pemberian Ziddan.


 


“Aku masuk dulu, ingin tidur sebentar.”


 


“Met rehat sayang.” Senyum menggoda istrinya. Tamara mengacuhkan menutup pintu kamar dengan sedikit keras. Wanita itu membereskan pakaian ke dalam lemari kayu yang tersedia di kamar tamu. Kemudian ia membaringkan tubuhnya yang cukup tinggi itu ke kasur yang sudah terlihat rapi. Ziddan tinggal di rumah itu sendiri, tetapi setiap sudut rumahnya tampak rapi. Padahal rumah Ziddan cukup besar, pasti akan menyita waktu lama untuk membersihkan rumah itu, dan dia sibuk bekerja. Tentu saja pasti Ziddan pria yang sangat rajin.

__ADS_1


 


Tamara tertidur hingga magrib tiba. Pintu yang dikuncinya di ketuk lelaki itu berkali-kali hingga berhasil membangunkan tidurnya. Tamara gegas mandi lalu sholat magrib. Ia kemudian keluar hendak membuat makan malam. Tetapi ketika sampai di dapur ia melihat Ziddan sudah mendahuluinya memasak. Tamara membalikkan badan meninggalkan tempat itu, ia tidak enak tinggal makan saja.


Ziddan yang mengetahui keberadaan istrinya di belakangnya kemudian mengejar dan menangkap lambaian tangan Tamara.


 


“Ayo kita makan.”


 


“Aku nanti saja, kamu duluan.” Berusaha melepaskan genggaman tangan berotot yang melingkar kuat di lengannya.


 


“Duduklah. Akan aku siapkan makan malam untukmu, kali ini jangan menolak. Aku sudah capek-capek membuat makan malam spesial buat kita berdua.”


 


Tamara pasrah tangannya ditarik suaminya menuju meja makan hingga terduduk, Ziddan sedang menyiapkan sesuatu. Ia menunggu apa yang akan di hidangkan untuknya.


 


“Apa ini?”


 "Bukankah ini makanan kesukaan kamu?”


 “Darimana kamu tau?”


 “Ibu yang memberitahu.”


 “Sudah ku duga,” jawabnya sambil menyuapkan sop iga buatan suaminya.


 “Bagaimana rasanya?”


 “Lumayan.”


 


“Lumayan tapi habis ya.” Tamara baru menyadari makanan yang ada di hadapannya tinggal sesuap. Ziddan terkikik melihat wajah istrinya memerah karena malu yang kemudian berlalu meninggalkannya sendiri di dapur. Meski hanya begitu, Ziddan tampak bahagia karena Tamara terlihat tambah cantik dengan pipinya yang kemerahan membuat Ziddan gemas ingin mendekap wanita itu.


 


“Aku akan terus berusaha mendapatkan hatimu, bidadari tercantikku,” gumamnya.


***Simak terus perjuangan Ziddan ya 🥰🥰🥰🥰


Jangan lupa tekan favorit, berikan dukungan, like dan juga komentar.. Love You semuanyaaa 😘😘😘😘😘😘😘***

__ADS_1


__ADS_2