
Ziddan kebingungan kenapa ada Rista dan juga Reza. Kenapa terjadi pertengkaran. Ia hanya melihat mencoba mencari tahu tanpa bertanya. Ziddan tau betul keadaan Tamara saat ini sedang lemah.
Tak lama security datang menghampiri suatu keributan di lantai satu itu. Banyak orang berkerumun ingin mengetahui permasalahan empat orang yang berdiri di tengah. Petugas keamanan membawa mereka keluar mal.
Tamara yang tampak masih dengan amarahnya dia menarik baju Rista kuat. Mereka menyelesaikan masalah itu ke tempat yang lebih sepi, di halaman belakang mal, jauh dari keramaian.
“Kenapa Lo lakuin ini sama gue dan Reza, Ta?” ucap Tamara dengan tatapan nanar yang berselimut amarah.
“Apa salah gue? Selama ini kita berteman baik, Ta. Gue anggap Lo sebagai saudara gue sendiri. Jahat banget Lo, Ta. Tega Lo!” Tamara berteriak. Ziddan berusaha menahan tubuh istrinya yang ingin mengamuk wanita itu. Wanita yang juga muridnya dulu semasa di pesantren.
Rista membalikkan badan menghadap Tamara namun masih tetap menggenggam tangan Reza.
“Lo pengen tau? Lo liat diri lo sendiri.” Rista memandangi Tamara dari ujung kakinya sampai kepala dengan tatapan sinis.
“Lo tu punya segalanya. Lo cantik, kaya, disukai banyak laki-laki. Lo selalu rebut orang yang gue dekati, Ra. Saat pertama Lo kenalan di sekolah, Anto menyukai Lo, dia deketin Lo terus kan? Gue nyerah dan melupakan Anto. Lalu ustad Ziddan. Santri mana yang gak tertarik dan naksir sama dia? Ustad yang baru masuk di pesantren dan langsung ngajarin Lo. Gue iri Lo bisa deket sama ustad Ziddan.”
__ADS_1
“Dan setelah itu Reza. Gue kira kalian cuman kenalan setelah kejadian malam itu. Gue udah lupain ustad Ziddan, Ra. Malam-malam gue ke pantai, gue teriak-teriak sendiri dan nangis, tiba-tiba ada Reza yang menenangkan gue saat malam itu. Gue mulai jatuh cinta dengan Reza sejak saat itu, tapi ternyata setelah gue ikuti Lo berkali-kali, Lo pacaran diam-diam sama Reza. Gue sakit hati banget sama Lo, Ra. Gue iri lihat Lo bahagia terus. Lo bisa dapetin cowok mana pun yang Lo mau. Termasuk orang yang udah gue taksir dari dulu. Sebelum ada Lo di pesantren. Untuk kali ini gue gak akan rela Reza jadi milik Lo. Gak akan pernah gue biarin siapa pun bisa memiliki Reza selain gue,” sinis Rista.
“Jadi Lo iri? Ternyata hati Lo bus*k! Jauh lebih bus*k dari sampah.” Tamara mengatakan dengan keras di depan Rista. Rasanya ia ingin menjambak wanita itu.
Ternyata pengkhianatan bukan murni dari Reza. Justru Reza adalah korban. Reza tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tetapi Tamara yakin suatu saat nanti karma itu berlaku untuk Rista.
“Jangan pernah kau sentuh istriku!”
“Maaf ustad, istri anda yang memulai.”
“Saya tidak buta dan tidak tuli. Apa yang istri saya lakukan itu wajar atas semua perbuatan keji mu.”
__ADS_1
“Apa ustad tidak cemburu? Dia terlihat masih begitu mencintai Reza bukan? Mana ada seorang suami yang rela istrinya masih mencintai laki-laki lain? Anda itu polos atau bo....”
“Cukup Rista! Mulutmu sungguh tidak mencerminkan pendidikanmu! Saya sangat malu pernah menjadi gurumu.”
“Dan untuk Reza, saya tahu apa yang kamu lakukan pada jiwa Reza. Saya akan menghubungi Abi untuk menyadarkan Reza secepatnya. Kamu bersiaplah dengan karma mu.” Ziddan menarik Reza berniat akan membawanya pada Abi. Namun ternyata Rista tidak sendiri. Ia memiliki anak buah yang siap untuk melindunginya.
Mereka semua ada di mobil yang berbeda. Rista memberikan kode untuk memanggil pasukannya. Ziddan nampaknya sudah siap dengan kedatangan sekelompok pria berbadan kekar dan bertato yang tentu akan segera menyerangnya. Bahkan terlihat ada yang membawa senjata tajam.
Bersambung....
Terimakasih sudah setia membaca novel ini..
Jangan lupa terus dukung dengan cara like, komentar, dan tekan favorit yaa.... 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰😘😘😘😘
__ADS_1