Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 65


__ADS_3

 


“Sudah siap semuanya kan?” tanya Ziddan menatap istrinya. Pria itu tampak siap melajukan mobilnya.


“Sudah, Mas. Ayo kita berangkat ... Yeay!” ucap Tamara girang. Mengangkat kedua tangannya ke atas. Ziddan menggelengkan kepalanya dengan tersenyum melihat wanitanya itu begitu bahagia dia ajak pergi ke puncak.


“Jangan lupa berdoa, Sayang.”


“Iya, Sayang,” jawabnya gembira.


“Kamu manggil aku ‘Sayang’?”


“Iya. Why?”


“Tentu mas sangat bahagia mendengarnya, Sayang. Kamu belum pernah khusus memanggil mas dengan sebutan itu.” Ziddan meraih tangan putih itu lalu menciumnya dengan penuh rasa cinta. Sejak awal pernikahannya dengan wanita itu ia belum pernah dipanggil dengan sebutan ‘Sayang’. Rasa haru membingkai hatinya. Akhirnya cinta yang selama ini ia perjuangan via langit di kala sepertiga malam menjadi miliknya seutuhnya.


 


Saat tiba di Villa sore hari mereka di sambut ramah oleh pegawai villa lalu mengantarnya ke sebuah meja. Beberapa saat kemudian pelayan dengan seragam oren datang membawakan segelas minuman sambutan hangat yang biasa disebut dengan welcome drink. Minuman yang di racik dengan beberapa rempah pilihan menjadikan hangat tubuh yang terasa dingin kala menikmati udara puncak. Ziddan meneguknya perlahan, kepulan asap dari cangkir itu menutupi wajah tampannya dari pandangan Tamara. “Minuman apa ini namanya?” tanya Ziddan kemudian setelah meneguknya pertama kali. Tamara yang mendengar pertanyaan suaminya, meneliti minuman berwarna merah yang ada di tangannya dengan mata jeli. “Aku juga belum pernah meminum ini, Mas.”


Ziddan meneguk lagi untuk yang kedua kalinya. “Tetapi rasanya unik, menyenangkan.” Wanita yang duduk di hadapannya itu kemudian tersenyum manis melihat suaminya senang menikmati minuman itu. Saat pelayan lewat ia memanggil, hendak bertanya apa nama minuman yang diberikan tadi.


“Ada yang bisa saya bantu?”


“Mbak, ini namanya minuman apa ya?”


“Minuman ini namanya The Djuminten. Terbuat dari sere yang di padu dengan kayu secang. Sehingga warnanya menjadi cantik seperti ini. Tidak lupa ditambahkan sedikit jahe untuk membuat tubuh para tamu kami menjadi hangat. Apakah Ibu menikmatinya?”

__ADS_1


“Oh iya, saya dan suami saya menyukainya.”


“Bapak dan Ibu bisa menemukan berbagai minuman unik lainnya di resto kami. Resto kami ada di sebelah sana.” Tawaran pelayan dengan menunjuk sebuah bangunan klasik berseberangan dengan tempat mereka berada. Ziddan dan Tamara mengikuti arah jari pelayan.


“Wah, cantik sekali restonya. Kami akan berkunjung ke sana nanti.”


“Terima kasih, kami nantikan kunjungannya,” ucap pelayan sembari mengundurkan diri.


Setelah welcome drink keduanya habis, mereka memutuskan untuk menuju Villa. Tamara mengikuti langkah santai Ziddan di depannya, kedua tangan pria itu ia sembunyikan ke dalam saku celana jeansnya. *C*rew neck warna navy yang ia kenakan berhasil menambah ketampanannya.



Tamara dengan langkah kecil menapaki jalan yang hanya bisa dilewati sepasang kaki saja, oleh sebab itu Ziddan dan Tamara tidak berjalan berdampingan. Ziddan berada di depan karena memastikan jalan yang ia lewati aman untuk istrinya.


Saat melewati beberapa villa lainnya ia sempat terhenti meminta untuk di foto. Dengan gaya yang anggun jarinya membentuk huruf V dihiasi senyum merekah di bibirnya. Tamara sangat cantik menggunakan pakaian yang menutup rapat tubuhnya. Baju hadiah dari Ziddan beberapa waktu lalu. Tanpa di sadari dari kejauhan ada seseorang yang melihat kemesraan berdua.


“Bagus dong, modelnya saja cantik begini.”


“Gombal ah.”


“Mas nggak gombal, serius sayangku.”


“Mas, bagaimana kalau kita minta tolong sama tukang kebun itu untuk fotokan kita berdua.”


“Boleh. Mas akan menuju ke sana.”


Tiga kali foto mereka sudah puas dengan hasilnya. Ziddan memberikan uang tips untuk tukang kebun tersebut sebagai ucapan terima kasih. Menit berikutnya beberapa rombongan datang, mereka adalah teman kantor Ziddan. Ziddan menyalami teman-temannya dengan menggandeng Tamara. “Dan, apakah kamu tahu kalau acara ini ternyata perayaan ulang tahun putri Bu Vera? Wah, gila bakal meriah pasti selama tujuh hari.”

__ADS_1


“Aku bahkan baru mengetahuinya dari kamu saat ini. Sungguh,” jawab Ziddan datar. Ia tahu istrinya tidak menyukai wanita yang disebut temannya itu ‘Putri Bu Vera’ yang artinya gadis centil yang telah menggoda dirinya di dalam mobil malam itu. Bahkan Tamara sempat melihat sendiri. Raut wajah Tamara berubah menjadi sendu yang tadinya terlihat ceria.


Namun, Ziddan berusaha membuat wajah istrinya kembali ceria. Ia meyakinkan dengan segala cara bahwa semuanya akan baik-baik saja. Genggaman tangan Ziddan yang tiba-tiba erat memberikan isyarat.


 


 


 


 


bersambung.....


Hai Reader setia, terima kasih atas dukungan kalian semua 🥰🥰🥰


Author berharap kalian bisa memberikan komentar demi kemajuan novel ini..


Tekan love dan favoritkan yaa 😍😍😍


Lope lope sekebun buat kalian 😍😍❤❤❤


🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡


Selamat Siang kesayangan.. aku datang lagi dengan membawa rekomendasi novel yang bagus untuk kalian semua. Mampir yuk..


Seumur-umur dalam hidupnya, Lisa tidak akan menyangka bahwa dirinya akan dijodohkan oleh keluarganya sendiri, terlebih lagi oleh sang Kakak yang keberadaannya selalu ia sayangi dan kagumi. Tidak pernah dalam bayangan tergila nya bahwa pernikahan paksa akan menjadi salah satu moment hidupnya dan jalan kisah cintanya. Nalisa Rembulan Cakra Wijaya selalu menginginkan cerita layaknya dalam kisah novel romansa yang selalu dibacanya. Seseorang yang ditakdirkan khusus untuknya dalam pertemuan tiba-tiba yang romantis sehingga setidaknya dia bisa menceritakan kisah manis ini pada buah hatinya suatu hari kelak. Bukan ini, bukan perjodohan dengan seorang lelaki maniak aneh yang mengatakan bahwa Lisa adalah cinta pertamanya. Lelaki bernama Noren Agustion Giovano ini sungguh menguji dirinya sendiri.

__ADS_1



__ADS_2