
Permana memanaskan mobilnya sembari memasukkan barang bersama Ayu. Sari ikut bergabung dengan Tamara di taman. Setelah semuanya siap mereka berpamitan, peluk dan cium hangat membaur di antara mereka. Sanya diserahkan oleh Ziddan kepada kakak iparnya. Balita itu menangis tidak mau berpindah peluk. Tangannya berusaha untuk meraih tubuh Ziddan disertai rengekan polosnya yang tak mau berpisah.
“Pappa ...”
“Sanya Sayang, Papa Ziddan janji akan menemui Sanya lagi dan mengajak Sanya jalan-jalan. Sekarang Sanya ikut Mama Ayu dulu ya. Ada Opa muda dan Oma muda juga yang nanti akan mengajak Sanya bermain di sana. Nanti kalau Sanya sudah sampai rumah besar Opa muda, Sanya bisa video call Papa Ziddan dan Mama Tamara.” Rayu Ziddan kepada anak itu, meski Ziddan dan Tamara hanyalah Om dan Tante mereka, tetapi Sanya tidak mau memanggil Om dan Tante. Dia tetap memanggil Papa dan Mama, karena balita itu mendapat kehangatan kasih sayang dari keduanya seperti anaknya sendiri.
Setelah rayuannya berhasil Permana melajukan mobilnya perlahan, tidak lupa lambaian tangan mungil Sanya mengiri kepergian mobil itu. Mata yang sembab dan berkaca-kaca masih terlihat di manik mata Sanya. Begitu juga dengan Papa Ziddan. Hubungan di antara keduanya memang sangat dekat, tentu saja anak-anak akan menyukai pria itu. Karena Ziddan pun menyukai anak kecil, pria yang penyayang dan sangat sabar dalam mengasuh anak.
“Mas, kamu tu udah cocok banget punya anak. Kenapa nggak nikah dari dulu aja sama wanita lain. Kan pasti kamu udah punya anak sekarang,” oceh Tamara.
“Mas kan nunggu istri Mas yang cantik ini lulus kuliah dulu.”
“Ih sok tahu, emang Mas tahu kalau aku kuliah. Emang Mas tahu kalau aku lulus cepet? Hayo?”
“Tahu lah. Jangan meremehkan ya,” ledek Ziddan.
“Tahu dari mana? Orang aku nggak berhubungan dengan situ? Jangan-jangan Mas mengintai secara diam-diam ya. Waah berbahaya ini ...,” goda Tamara.
“Iya, Mas mengirim seribu mata-mata yang siap mengintaimu di mana pun kamu berada.”
“Di kamar mandi pun? Oh my God!” ejek Tamara, menutup mulutnya dengan mata terbelalak lalu berlari ingin di kejar.
“Awas kamu ya ... aku kejar kamu. Kalau sampai Mas berhasil mendapatkan tubuhmu Mas akan langsung melahapmu seperti singa kelaparan.” Ziddan berlari mengejar istrinya yang menuju kamar. Meski mereka hanya bermain kejar-kejaran sesederhana itu tetapi baginya hal ini sangat membahagiakan. Apalagi ketika Ziddan berhasil menangkap tubuh seksi istrinya. Pria itu segera membawanya ke ranjang lalu mengunci kamar dan menutup semua tirai.
Ziddan berada tepat di atas tubuh istrinya yang hamil. “Mas, masih jam segini, masak mau memangsaku siang-siang bolong begini kan nggak asyik,” ucap Tamara memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
“Kamu terlalu menggemaskan untuk dilewatkan sedetik pun, Sayang.”
“Serius sekarang—,” Belum sempat Tamara melanjutkan kalimatnya bibir pria yang manis itu tiba-tiba telah sampai di bibirnya. Rupanya mereka sampai lupa melakukan hubungan indah itu semenjak menyelesaikan masalah Ayu. Oleh karena itu Ziddan tidak kuat lagi menahannya lebih lama. Ziddan membawa istrinya dengan lembut hingga berujung mandi bersama.
Setelah sama-sama berada pada puncak kepuasan, mereka membersihkan diri. Lalu Ziddan mengajak ibu hamil itu jalan-jalan untuk merefreshkan kembali pikirannya yang beberapa hari ini sangat tegang. “Sudah siap, Sayang?”
“Sudah dong. Aku sudah cantik belum ya, Mas?”
“Dari dulu istriku selalu cantik. Sewaktu belum kenal make up saja sudah sangat cantik.”
“Kapan aku tanpa make up?”
“Ya, waktu kamu masih ingusan. Masih SMA tuh. Pake jilbab segi empat yang di majukan sampai hampir menutup mata kamu. Hahaha.” Ziddan tertawa terpingkal-pingkal kembali mengingat jaman manakala Tamara begitu cupu.
“Ah, biarpun begitu banyak orang yang menyukaiku kan, termasuk guru mengajiku sendiri. Yaah, aku rasa aku sangat cantik waktu itu,” timpal Tamara dengan bangga.
“He’em. Untung Mas bisa menahannya, kalau tidak, bisa-bisa kamu Mas culik malam-malam ketika semua terlelap. Dan ketika kamu bangun sudah berada dalam pelukan hangat ini di kamar Mas.”
“Tapi setelah kamu tahu indahnya bercinta dengan Mas pasti kamu tidak akan jadi melaporkannya pada polisi. Iya kan?” goda Ziddan dengan senyum termanisnya. Membuat sepasang bola mata Tamara tak ingin berpindah menatap pria yang sejak tadi terus menggodanya.
“Hhiihhhh ... rasakan ini!” Tamara mencubit pinggang suaminya dengan cubitan yang sangat kecil. Tentu itu justru sangat menyakitkan semakin cubitannya kecil.
“Aaaaaa ... aduuhh sakit, Sayang,” keluh Ziddan kesakitan mengusap pinggangnya.
“Rasakan itu!”
“Untung cinta. Jadi Mas bisa minta pertanggung jawabannya nanti malam. Dan tidak boleh menolak!”
__ADS_1
“Apa? Nanti malam minta lagi?”
Bersambung.....
Hai Reader setia, terima kasih atas dukungan kalian semua 🥰🥰🥰
Author berharap kalian bisa memberikan komentar demi kemajuan novel ini..
Tekan love dan favoritkan yaa 😍😍😍
❤❤❤❤Lope lope sekebun buat kalian❤❤❤❤
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Selamat Pagi kesayanganku 🥰 Aku kembali membawa novel rekomendasi hari ini. Tak kalah menarik dari novel ini loh, mampir yuk.
Hubungan jarak jauh tidaklah mudah. Apalagi jika keadaan yang sangat memaksa membuat mereka terpaksa menjalaninya. Walaupun Lily lebih muda tujuh tahun dari Zack Alexander. Lily dapat membuktikan bahwa dia dapat bertahan dengan ketulusan cintanya. Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat dalam menjalani hubungan jarak jauh. Pada tahun ke-lima, Zack menghilang. Lily kehilangan kontak dan semua akses terhadap Zack. Dua tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Namun Zack telah memiliki keluarga kecil. Akankah Lily menyerah tanpa menuntut penjelasan Zack?
Dan satu lagi novel dibawah ini karya teman baikku.. mampir dan baca yaa 🥰🥰
__ADS_1
Cuss langsung cari kedua judul novel diatas yaa 🥰🥰 semoga terhibur 😘😘😘😘