
“Suara yang indah,” gumam Ziddan terdengar dokter.
“Benar, Pak Ziddan. Suara detak jantung adalah suara terindah. Karena selama jantung itu masih berdetak kita masih bisa merasakan kehadiran seseorang.”
Ziddan dan Tamara tersenyum manis mendengar ucapan dokter.
“Usianya kini memasuki tiga bulan ya, Pak.”
“Wah, tak terasa cepat sekali dok.”
“Iya, memang waktu terasa begitu cepat jika di jalani dengan perasaan cinta.”
Keduanya kembali mengembangkan senyuman manis. Kata dokter itu menyejukkan hati.
“Benar dok, jika waktu di jalani dengan kepahitan maka akan terasa lama. Dan aku bersyukur hanya bahagia yang kini aku rasakan hingga membawa waktuku terasa begitu cepat,” sahut Tamara kepada dokter wanita itu.
“Iya, Bu. Sebaiknya Ibu hamil memang di sarankan untuk selalu bahagia dan jangan stres dulu. Jaga dulu moodnya ya, Pak,” pesan dokter yang beralih kepada Ziddan.
“Baik, Dok. Saya akan menjaga moodnya agar tetap baik. Oh iya, kalau dia meminta makanan yang aneh-aneh apa boleh, Dok? Terkadang saya khawatir jika berpengaruh dengan kandungannya. Tetapi kalau tidak saya turuti nanti moodnya buruk. Jadi saya harus bagaimana menentukan boleh atau tidaknya, Dok?”
“Saya apresiasi kekhawatiran Bapak Ziddan. Akan tetapi perlu Bapak ingat ya, ibu hamil sebenarnya boleh memakan makanan apa saja yang ia inginkan, kecuali yang mengandung soda tinggi, alkohol, dan obat sembarangan. Dan tidak boleh berlebihan.”
“Kalau makan pedas bagaimana, Dok? Istri saya ini ngeyel minta makanan pedas saat itu juga. Tapi saya tidak mau membelikannya karena takut. Akhirnya ngambek,” keluh Ziddan kepada dokter.
“Boleh, Pak. Cabai itu mengandung vitamin juga loh. Tetapi tidak boleh over. Ada dosisnya, ada takarannya. Hanya boleh makan sedikit saja untuk menghilangkan rasa keinginannya yang menggebu itu. Saya yakin ibu hamil tidak ingin makan banyak ketika ngidamnya itu sudah di turuti. Karena saya pun juga merasakan hal itu. Suami saya yang menghabiskan semua makanan aneh pilihan saya.”
“Dengerin tuh, Mas!” gerutu Tamara.
“Oh jadi seperti itu, Dok. Baiklah saya mengerti.” Ziddan menganggukkan kepalanya pertanda paham.
“Ada yang ingin ditanyakan lagi?”
“Sudah cukup sepertinya, Dok.”
“Nanti hasil USG bisa di ambil di bagian administrasi ya, Pak. Jangan lupa untuk selalu meminum vitaminnya secara rutin.”
__ADS_1
“Baik, Dok.”
“Terima kasih,” ucap pasangan itu bersamaan.
Usai mengambil vitamin dan hasil USG mereka kemudian pulang, di dalam mobil Ziddan, Tamara kembali membuka dokumen itu.
“Mas, aku tak sabar ingin segera bertemu dengannya. Lucu sekali pasti. Nak, kamu kenapa kecil sekali tak kunjung besar biar cepat lahir. Mama ingin cepat bertemu kamu,” oceh Tamara tanpa jeda. Memandangi gambar hitam putih.
Ziddan yang sedang menyetir kemudian menjawab. “Dokter bilang baru tiga bulan sayang, masih enam bulan lagi menunggunya lahir ke dunia ini. Jadi kita harus sabar dan terus berdoa.”
“Iya Mas, aku akan melakukannya.”
Drrtt drrt drttt ..
Ponsel Tamara bergetar. Ia memandangi layar yang menyala itu. Melihat notifikasi siapa yang mengirim pesan.
“Siapa, Sayang?”
“Meli, Mas.”
“Nah kebetulan ini orangnya sedang memberitahuku.”
“Coba baca keras. Mas ingin dengar.”
“Iya Mas. Baru mau aku bacakan.”
“Tamara Adelia Permana Sayang, pernikahanku dengan Reza akan di laksanakan tanggal 13 bulan depan. Kamu dan ustad Ziddan harus sudah datang sebelumnya yah. Nanti aku sewakan hotel berbintang di sini.” Tamara selesai membacakan isi pesan itu.
“Lebih cepat memang lebih baik, Sayang. Jadi bulan depan kita akan ke Bandung.”
“Iya Mas, dan minggu depan kita juga mau ke puncak. Jangan lupa mengajakku jalan-jalan loh. Aku sudah tidak sabar ingin merasakan udara dingin pegunungan.”
“Iya-iya. Mas tidak lupa kok,” ucap Ziddan seraya mengelus kepala istrinya yang duduk di samping kemudinya.
*
__ADS_1
*
*
Satu minggu kemudian, hari yang di tunggu-tunggu Tamara akhirnya tiba. Ziddan sudah siap memasukkan barang mereka. Dua koper cukup banyak untuk dua orang dewasa yang hanya pergi selama satu minggu.
“Barang kamu banyak sekali, Sayang. Kamu yakin akan membawa semuanya?” Ziddan menautkan kedua alisnya.
“Yakin, Mas. Kamu keberatan? Ya sudah aku di rumah saja kalau kamu keberatan!” Bibir Tamara mengerucut. Ziddan mendekatkan bibirnya ke bibir Tamara yang membentuk lancip itu. Ia menirukan bentuk bibir istrinya. Hingga membuat wanita itu tertawa terpingkal.
“Jelek sekali kau, Mas.”
“Mas hanya menirukan bentuk bibirmu yang sedemikian.”
“Apakah sejelek itu?”
“Kamu kira bagus? Eh tetap cantik kok.” Ziddan segera memperbaiki ucapannya karena takut istrinya ngambek untuk yang kedua kali. Lalu mengecup kening wanita hamil yang sangat cantik di hadapannya itu.
Bersambung.....
Hai Reader setia, terima kasih atas dukungan kalian semua 🥰🥰🥰
Author berharap kalian bisa memberikan komentar demi kemajuan novel ini..
Tekan love dan favoritkan yaa 😍😍😍
❤❤❤Lope lope sekebun buat kalian ❤❤❤
🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡🧡
Hai Kesayangan, selamat Pagi. Selamat berpuasa bagi yang menjalankan.. Sembari menunggu novel ini update yuk mampir ke novel temanku ini:
Ditengah Dunia yang dipenuhi menusia berkekuatan dewa (Exceed), Dion terlahir sebagai manusia biasa tanpa kekuatan (Seed) dan menjadi rakyat biasa yang nilai kehidupannya tak lebih hanya sekedar kerikil di tepi jalan bagi dunia. Ia hanya berharap bisa terus menikmati hidup damainya melakukan hal konyol bersama sahabatnya Vista dan mengejar cintanya kepada Artia, mereka bertiga adalah sahabat sedari kecil. Namun kehidupannya mulai berubah sejak Dion mendapat peringatan dari dirinya sendiri yang berasal dari masa depan. "Apapun yang terjadi, Lindungilah, Artia." Fisik dibawah rata-rata dan Tanpa kekuatan, dengan tanggup jawab menyelamatkan Artia dari kematian ia Bangkit berkali2 dari kegagalan dan bergerak dengan memutar otak menjadikannya Seed pertama yang setara dengan Exceed kelas S. Bagaimana Cara manusia menang melawan kekuatan dewa?
__ADS_1