Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 34


__ADS_3

Bab 34


 


 


Ziddan hari ini sudah berangkat kerja setelah beberapa hari izin dengan surat dokter. Langkah gontainya tiba-tiba terhenti sebentar melihat ke arah istrinya. Ia mendapati Tamara berjalan dengan kedua kaki sedikit mengangkang. Ingin rasanya Ziddan tertawa. Tapi takut kena marah.


 


“Kamu kenapa, sayang?”


“Sakit,” lirihnya menahan sesuatu dibawah sana.


“Sakit? Mana yang sakit? Ayo kita ke dokter.”


“Hah? Dokter?”


“Katanya sakit,” tanyanya mengernyitkan kening.


“Ya tapi kan ini bukan suatu penyakit, Mas.”


“Memang apanya yang sakit?”


“Sesuatu yang kamu gunakan tadi malam.”


Ziddan termenung agak lama. Kepolosannya mulai ia kikis.


“Jadi itu yang sakit,” ujarnya setelah ia tahu apa yang di maksud istrinya.


“Iya mas.”


“Aduh maafin aku sayang, aku terlalu kasar ya?”


“Iya. Semalam aku kaget kenapa kamu tiba-tiba seperti itu. Padahal aku baru mencoba beberapa baju pemberianmu. Kebetulan pas kamu masuk, aku sedang memakai baju lingerie itu. Apa mungkin karena bajunya yang terlalu seksi mas?”


“Bukan begitu. Aku sendiri tidak tahu, aku merasakan panas yang tiba-tiba menyerang tubuhku. Panas hasrat yang memaksaku untuk melakukan hubungan itu segera, sayang,” jelasnya.


“Memangnya sudah tidak bisa di tahan lagi?”


“Entah. Seperti terdorong begitu saja.”


“Tapi, aku merasakan itu setelah sesaat meminum air dalam botol yang ada di kulkas. Yang rasanya aneh itu.”

__ADS_1


“Ohya. Aku juga sempat meminum juga mas tapi hanya sedikit karena tumpah di bajuku.”


“Itu minuman dari siapa?”


“Tidak tahu. Aku kira punya kamu mas.”


“Sama. Aku mengira kamu yang menaruhnya.”


“Lalu punya siapa? Dan siapa yang menaruhnya?”


“Apa mungkin.... Meli? Dia bilang dia mau ngasih sesuatu kemarin.”


“Meli?”


“Iya mas, kemarin dia numpang ke toilet juga, aku hanya heran kenapa dia bawa tas ke dalam.”


“Coba kamu hubungi dia nanti. Jangan suudzon dulu ya sayang.”


“Hmm.. baiklah.”


“Kalau gitu aku berangkat dulu ya sayang. Jaga diri di rumah. Jangan banyak gerak nanti makin sakit. Assalamu’alaikum”


“Siap. Wa’alaikumsalam.” Tamara mencium tangan suaminya yang terlihat siap berangkat kerja. Ia mengantarnya hingga ke depan. Dan kembali masuk ketika mobil itu melaju.


 


 Panggilan terhubung..


“Halo Ra, ada apa?” suara nyaring bernada tinggi di ujung telepon itu terdengar mengusik kuping Tamara. Tetapi ia butuh jawaban dari pemilik suara itu, terpaksa harus menahan gendang telinganya untuk tetap mau mendengarkan.


“Mel, pasti kamu kan yang menaruh minuman itu di kulkas?”


“Minuman apa sih.. gue gak ngerti.”


“Sok-sok an gak tahu aja ni anak.”


“Eh emang bener gue gak tau. Emang ada apa, sayang?”


“Ziddan keracunan tuh semalem.”


“Hahahaha.. Keracunan gimana sih maksud Lo?” Meli tak kuat menahan tawa dan pura-pura tidak tahu.


“Dia kepanasan, Mel...”

__ADS_1


“Terus terus? Selanjutnya apa yang terjadi?”


“Tau ah. Pasti itu ulah kamu kan?”


“Hehe. Tapi Ziddan jadi unboxing Lo kan?”


“Hhmmm.. puas kamu!”


“Hahaha, jelas gue puas banget, Ra. Jangan marah dong sayang. Gue lakuin itu demi kebahagiaan Lo sama Ziddan. Kemarin tuh gue liat Reza di hotel tempat gue tinggal, Ra. Dia di gandeng terus sama cewek. Gue panggil gak nengok. Kesel banget dah gue.”


“Panjang ceritanya, Mel.”


Tamara kemudian menceritakan semua tentang Reza atas permintaan sahabatnya.


“Gilak sih parah temen Lo itu. Gimana kalo Lo sama Ziddan check in juga di hotel ini mumpung Reza sama komplotan itu masih disini, Ra. Kita nanti bisa cari tahu secara diam-diam. Kayak detektif gitu, Ra. Gimana?”


“Boleh juga ide kamu, Mel. Nanti aku sampein ke Ziddan. Moga dia setuju.”


 


Tamara mengakhiri panggilannya setelah mereka sepakat akan menjadi detektif seperti rencana Meli. Hanya tinggal menunggu persetujuan suaminya. Ziddan pun dulu pernah berjanji akan membantu Reza hingga sadar seperti semula.


 


***


Malam ketika Ziddan pulang, Tamara sudah di depan pintu menyambut kedatangan suaminya itu. Ia juga sudah menyiapkan air hangat dan makan malam.


 


Setelah keduanya selesai makan. Tamara menceritakan rencana Meli bersamanya tadi. Namun sayangnya Ziddan kurang setuju. Ia ingin langsung melakukan penangkapan saja dengan melapor polisi dan akan membawa Reza kepada Abi di pondok. Orang tua Reza mungkin sekarang juga sedang mencari keberadaannya. Jadi Ziddan tidak mau menunggu waktu yang lama lagi untuk menyelesaikan masalah ini.


 


Besok dia akan melapor ke kantor polisi mengenai kasus ini. Ada beberapa bukti yang bisa Ziddan dapatkan dengan mudah. Ia akan meminta rekaman kamera cctv yang terpasang di belakang mal saat dirinya di keroyok beberapa hari lalu.


 


 


Bersambung....


Terimakasih sudah setia membaca novel ini..

__ADS_1


Jangan lupa dukung terus dengan cara like, komentar, dan tekan favorit yaa.... 😍😍😘😘😘🥰🥰🥰


Lope lope sekebun 🥰🥰🥰❤❤❤❤🌷🌷


__ADS_2